Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 46 (Katakan Yang Sejujurnya)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya. Tinggalkan jejak kalian biar aku semakin semangat untuk update....


...Lemes bastie gak di kasih semangat sama pembaca!🤣...


...Happy reading...


*****


"Kita perlu bicara!" ujar Zidan menarik Tiara agar masuk ke mobilnya.


Tiara yang kaget mencoba melepaskan tangannya dari Zidan tetapi tenaga pria itu lebih besar darinya, Tiara meringis saat Zidan mendorongnya dengan sedikit kasar untuk masuk ke dalam mobil milik pria itu.


"Buka!" teriak Tiara saat Zidan mengunci mobilnya.


"Gak akan, Ay!" ucap Zidan dengan tegas.


Zidan melajukan mobilnya dengan kencang tanpa melihat ke arah Tiara yang terus berusaha membuka pintu mobilnya.


"Turunkan aku di sini dokter Zidan!" ucap Tiara dengan tajam.


Zidan menyeringai. "Bersama dengan Barra kamu terlihat happy saja padahal Barra sudah punya istri sedangkan denganku kamu terlihat marah. Kamu menyukai Barra hmmm?" ucap Zidan dengan sarkas, cemburu menguasai jiwa dan raganya saat ini.


Tiara menatap Zidan dengan datar. "Jika aku menyukai Barra. Apa urusannya denganmu? Tidak ada sama sekali Zidan!" ujar Tiara dengan dingin.


"Ada! Tentu ada!" ujar Zidan dengan geram.


"Tidak ada!" teriak Tiara tak mau kalah.


"Ada Tiara! Zayden anak kita dan itu menjadi urusanku karena tak ingin melihat ibunya Zayden menjadi pelakor di hubungan orang lain!" ujar Zidan dengan tajam.


Deg...


Tiara terdiam, ia menatap Zidan dengan tajam. "Ulangi sekali lagi!" ujar Tiara dengan dingin

__ADS_1


"Yang mana? Zayden anak kita? Atau kamu yang menjadi pelakor?" tanya Zidan memancing kekesalan Tiara.


"Turunkan aku di sini!" ucap Tiara memegang stir mobil yang sedang di pegang oleh Zidan.


"Stop Tiara! Kita bisa celaka!" ucap Zidan dengan cemas.


"Aku tidak ingin satu mobil bersamamu! Brengs*k!" umpat Tiara dengan tajam.


Tiara terus berusaha mengendalikan stir mobil itu agar mobil yang dikendarai oleh Zidan berhenti. Tak ingin membuat mereka celaka Zidan menginjak rem hingga mobilnya berhenti tetapi kepala Tiara membentur stir mobil.


"Awww..." pekik Tiara memegang keningnya yang terasa sakit karena benturannya lumayan kencang.


"Ay, kamu tidak apa-apa?" tanya Zidan dengan cemas.


Zidan memeriksa kepala Tiara, melihat memar yang berada di kening Tiara pria itu menjadi merasa bersalah. Zidan mengusap kening itu dengan lembut dan meniupnya dengan perlahan.


"Maaf, Ay!" ujar Zidan dengan lirih.


"Kamu brengs*k Zidan! Kamu Aaakkhhh...." ucapan Tiara tertahan saat dadanya terasa sesak.


"S-sakit ssttt.. O-obat!" ucap Tiara menepuk-nepuk dadanya. Napasnya terasa sesak sekali.


Zidan mengambil tas Tiara dengan cepat mencari benda yang mungkin saja bisa mengurangi sesak yang dialami Tiara.


Setelah dapat Zidan langsung memberikannya kepada Tiara. Tiara dengan cepat menghirup inhaler yang baru beberapa minggu ia pakai.


"Sejak kapan kamu punya asma, Ay?" tanya Zidan dengan lirih saat merasa Tiara sudah mulai tenang.


Zidan membenarkan rambut Tiara yang berantakan. Wanita itu memejamkan matanya dengan napas yang mulai teratur. Tiara akan merasa sesak saat ada yang menekan hatinya seperti apa yang dilakukan Zidan kepadanya. Tiara syok mengetahui jika Zidan mengetahui Zayden adalah anak mereka.


"Kamu jahat, Mas!" gumam Tiara yang mulai terisak lirih. "Kamu jahat membiarkan aku menderita seorang diri! Kenapa Tuhan tidak mengambil nyawaku saja? Hiks... Ini sangat menyakitkan Mas!" ujar Tiara dengan pilu.


Zidan membawa Tiara kepelukannya, ia mencium kening Tiara dengan lembut. Baru kali ini Zidan melihat Tiara tidak memberontak dengan tatapan penuh kebenciannya kepadanya. "Iya Mas jahat, Ay! Mas brengs*k! Mas pria tidak pertanggungjawab!" timpal Zidan membenarkan ucapan Tiara.

__ADS_1


Zidan menangkup wajah Tiara setelah melepaskan pelukannya. "Katakan yang sejujurnya jika Zayden anak kita kan, Ay? Anak kita kembar! Zayden punya kembaran!" ujar Zidan dengan mata berkaca-kaca.


Bukannya menjawab Tiara malah menangis yang membuat Zidan paham jika hati wanita yang sangat ia cintai benar-benar terluka karenanya. "Bagaimana cara Mas menebus lukamu, Ay?" tanya Zidan dengan lirih, sungguh ia juga terluka saat melihat Tiara menangis pilu di hadapannya.


"Hiks... Jangan pernah usik aku lagi, Mas!Anggap saja kita tidak pernah kenal. Dan masalah Zayden memang dia anak kita, jaga Zayden dengan baik Mas karena aku bukan ibu yang baik untuknya. Aku tidak bisa mempertahankan anakku sendiri, aku ibu yang gagal!" ujar Tiara mengeluarkan segala yang mengganjal di hatinya.


"Kamu bukan ibu yang gagal, Ay! Keadaan yang memaksa kita untuk berpisah! Maafkan Mas Ay, Mas akan menebus semuanya tetapi tidak untuk menjauh dari kamu. Kita akan bersama kembali, demi cinta kita, demi anak-anak kita!" ujar Zidan dengan tulus.


"Aku gak bisa!" ujar Tiara dengan datar.


"Ay, please! Jangan seperti ini! Kita akan bersama kembali, Ay! Mas yakin itu! Dimana kembaran Zayden, Ay? Aku mau ketemu anak kita! Siapa namanya Ay?" ucap Zidan menyerbu Tiara dengan banyak pertanyaan.


"Jangan paksa aku, Mas. Aku berkata jujur bukan berarti aku ingin kembali kepadamu. Untuk kembaran Zayden aku tidak bisa memberitahukanmu, Mas!" ucap Tiara dengan tajam.


Tiara ingin keluar dari mobil ketika Zidan lengah tetapi Zidan langsung memeluk Tiara dari belakang. Ia menangis tanpa suara hingga membasahi baju Tiara.


"Hiks... Mas mohon jangan pergi, Ay!" pinta Zidan dengan sendu.


Lama keduanya terdiam hingga Zidan membalikkan tubuh Tiara menjadi menghadap ke arahnya. Mata Zidan memandang wajah Tiara dalam hingga ia memberanikan diri untuk mendekat, dan entah apa yang merasuki Tiara, wanita itu pasrah saat Zidan mencium bibirnya.


Cup...


Tak ada n*fsu di ciuman mereka yang ada hanya sebuah kerinduan yang amat besar dari keduanya. Sadar jika Tiara sudah kehabisan napas karena ciumannya yang terkesan tergesa-gesa karena takut Tiara akan memberontak Zidan melepaskan tautan bibir mereka.


Zidan menyatukan keningnya dengan kening Tiara. "Tunggu Mas dan Mas akan memperbaiki semua yang telah Mas rusak. Terutama kepercayaan kamu untuk Mas " ujar Zidan dengan tulus.


Tiara sama sekali tidak menjawab. Batinnya sedang berperang dengan Tika sekarang, Tika ingin mengambil ahli tubuhnya tetapi Tiara mencegahnya dengan kuat. Entah mengapa Tiara tidak ingin moment ini menjadi berantakan karena kemunculan Tika.


"Perempuan lemah! Biarkan aku mengambil ahli tubuhmu!" ucap Tika dengan tajam.


Tiara menggeleng, ia mengepalkan tangannya dengan kuat. "Kali ini biarkan aku mengikuti naluri hatiku, Tika!"


"Ay!" panggil Zidan dengan menatap wajah tampan Tiara dari jarak sedekat ini bahkan hidung mereka masih bersentuhan.

__ADS_1


Tiara membuka matanya dengan perlahan, ia menatap Zidan dengan pandangan yang sama sekali tidak bisa diartikan.


"I love you!"


__ADS_2