
...Maaf gengs lama karena dua hari kemarin sedang jalan-jalan bersama keluarga dan ini baru pulang langsung aku sempatkan nulis walau sedikit. ...
...Lanjut besok lagi ya. ...
...Happy reading...
******
"Ajarin Fio buat anak ya, Om!"
"Aargghh...Gadis aneh!" batin Akbar berteriak ingin sekali ia menendang gadis yang berada di sampingnya ini hingga keluar dari mobilnya. Kena karma apa hingga ia bertemu dengan gadis berwajah polos namun otaknya... Ahh.. entahlah otaknya seperti apa yang jelas perkataan Fiona mampu membuat Akbar sakit kepala.
"Kamu mau ke mana?" tanya Akbar pada akhirnya.
"Pulang, Om!" jawab Fiona dengan polosnya.
"Rumah kamu di mana? Biar saya antarkan kamu pulang!" ujar Akbar mengalah karena tidak ingin berlama-lama bersama Fiona yang akan membuatnya darah tinggi.
Fiona tampak berpikir, 12 tahun tidak pulang ke rumahnya membuat Fiona sepertinya lupa dengan alamat rumah kedua orang tuanya karena memang Fiona tidak ada niatan untuk pulang kembali tetapi karena mamanya yang mendesaknya harus segera pulang akhirnya Fiona pulang ke Indonesia.
"Kenapa diam? Saya mau pulang. Dimana rumahmu biar saya antar atau kamu mau saya turunkan di sini?" ucap Akbar dengan datar.
Fiona terkejut, ia memegang lengan kekar Akbar dengan kuat dan dengan mata yang amat memelas menatap Akbar. "Fio lupa di mana alamat rumah mama sama papa, Om! Mama cuma menyuruh Fio pulang, setelah itu Mama gak ada kabar lagi bahkan untuk menjemput Fio di bandara saja enggak," ucap Fio dengan lirih.
__ADS_1
Akbar mendadak blank, otaknya sama sekali tidak berfungsi dengan baik saat Fio mengatakan jika gadis itu lupa alamat rumahnya sendiri. Astaga, gadis itu dari mana sampai lupa rumahnya sendiri? Amnesia kah?
"Astaga!! Terus kamu mau kemana, hah? Oke...gini saja kamu saya antar ke hotel!" ucap Akbar dengan tegas, ia tak mau ambil pusing dengan memikirkan dimana rumah gadis yang berada di sampingnya ini.
"J-jangan, Om! Aku takut harus tinggal sendiri di hotel. B-bentar aku telepon Mama dulu," ucap Fio dengan panik.
Fiona menelepon mamanya tapi tak kunjung diangkat yang membuat Fiona ingin sekali menangis. Ini tempat kelahirannya tetapi Fiona merasa asing karena dari dulu Fiona cepat sekali lupa dengan jalan, ia tak gampang mengingat nama suatu tempat. Pernah Fiona tersesat karena lupa jalan pulang hingga dirinya menangis sesugukan dan dari situ lah Fiona tak berani jalan sendiri.
"Gak diangkat Om!" ucap Fiona dengan wajah sedihnya.
"Ih mama gimana sih? Tahu gini Fio gak mau pulang!" ucap Fiona dengan mencibikkan bibirnya kesal.
"Kakak juga ponselnya gak aktif. Kemana mereka?" gumam Fiona dengan kesal.
"J-jangan, Om! Bisa gak Fio ikut Om saja? Fio benar-benar takut, Om!" ucap Fiona dengan memelas.
"Gak bisa? Saya ini... "
"Please Om!" ucap Fiona dengan cepat. "Ya Om?! Boleh ya?" ucap Fiona sekali lagi dengan memohon.
Akbar menghela napasnya dengan kasar. Pasalnya Akbar hanya tinggal sendiri di rumahnya, ada pembantu tetapi tidak menginap di rumahnya yang membuat Akbar merasa enggan membawa gadis di sampingnya.
"Om... Please!!"
__ADS_1
"Oke... Baiklah tapi hanya untuk malam ini besok pagi kamu saya antar ke rumah kedua orang tuamu!" final Akbar yang merasa kasihan dengan Fiona akhirnya.
Wajah Fiona langsung tampak berbinar dengan refleks ia memeluk Akbar. "Makasih Om tampan!"
Tubuh Akbar mematung dengan jantung yang berdebar kencang saat Fiona memeluknya. Tidak mungkinkan kalau dirinya sedang....
*****
Tri tampak gelisah dalam tidurnya, ia sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Bergerak ke kanan dan ke kiri guna untuk mendapatkan tempat ternyamannya tetapi tetap saja tempat ternyamannya adalah pelukan Fathan.
Ini masih jam 8 malam tetapi Tri memutuskan beristirahat di kamar karena tak ingin mengangguk pemilih rumah yang juga sedang bermesraan. Tri sangat merindukan suaminya apalagi sudah tak bertemu Fathan selama beberapa hari yang seperti setahun baginya.
Merasa haus Tri memutuskan untuk ke dapur. Ia mendengar suara ribut-ribut dari depan yang membuat Tri penasaran. Dengan langkah perlahan Tri berjalan ke arah pintu utama dan tubuhnya mematung saat mrlihat seseorang yang ia rindukan sedang berada di sana sedang berbicara dengan Alan.
"Mas Fathan!" gumam Tri dengan lirih.
Seakan bisa memdengar ucapan Tri yang sangat kecil. Fathan menatap ke arah dimana Tri berada, ia langsung berjalan mendekat ke arah Tri walau Alan dan Ulan mencegahnya.
"H-hanum!" gumam Fathan menatal Tri dengan dalam.
Grepp.....
"I miss you!"
__ADS_1
Rasa rindu yang menggebu membuat keduanya berpelukan dengan sangat erat bahkan keduanya menangis bersama.