
...Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...Happy reading...
***
Akbar meletakkan ponselnya setelah mendapatkan telepon dari sekretarisnya. Jangan kalian kira jika sekretaris Akbar adalah seorang wanita yang berpakaian seksi tetapi sekretaris Akbar adalah seorang pria yang sangat kompeten.
Akbar sudah memakai pakaian kerjanya, ia menatap Fiona yang masih tertidur dengan nyenyak setelah semalam sudah mulai kesulitan untuk tidur.
Akbar naik ke atas kasur dengan perlahan. "Sayang bangun yuk!" ucap Akbar membangunkan Fiona dengan mesra bahkan tangan lelaki itu mengelus kepala Fiona dengan begitu sayang.
"Masih malam Mas Suami! Fio masih ngantuk," gumam Fiona dengan suara tidak jelas tetapi Akbar masih mampu mendengarnya dengan baik.
"Ini sudah pagi, Mi! Ya udah kalau masih mau tidur Mas pergi kerja dulu ya. Kalau butuh apa-apa langsung panggil pelayan, nanti biar Mas suruh koki masak setelah kamu bangun," ucap Akbar dengan tersenyum mengelus pipi Fiona yang sudah tampak lebih berisi dari sebelumnya.
"Cium dulu!" rengek Fiona dengan mata yang masih terpejam.
Akbar terkekeh, ia merasa bahagia saat istrinya merengek seperti ini. Akbar semakin bertambah semangat untuk kerja dan tidak sabaran untuk pulang ke rumah saat sudah di kantor.
Cup...
Cup...
Cup...
Akbar memberikan kecupan di kening, pipi dan bibir Fiona dengan sangat lembut. Fiona tersenyum manis walau matanya masih terpejam karena wanita hamil itu masih sangat mengantuk sekali.
"Selama Mas kerja jangan pergi kemana pun tanpa di temani pelayan ya. Ingat ucapan Mas!" ucap Akbar dengan tegas.
"Iya Papi cerewet. Anak kita masih mau bobok!" ucap Fiona dengan sedikit kesal saat suaminya menjadi sangat cerewet sekali.
Cup...
Sekali lagi Akbar memberikan kecupan di perut Fiona dengan gemas.
"Papi berangkat dulu, Sayang!" ucap Akbar dengan lembut.
Fiona mengangguk dan setelah itu kembali tertidur dengan nyenyak sambil memeluk guling dengan erat. Sebenarnya Fiona ingin ikut suaminya bekerja tetapi rasa kantuk mengalahkan keinginannya tersebut dan lebih memilih berbaring di atas kasur yang sudah sangat berantakan karena Fiona sama sekali tidak bisa diam jika tertidur bahkan Akbar selalu mengalah dan membetulkan posisi istrinya saat tidur.
Akbar menutup pintu kamarnya dengan perlahan agar tidak menganggu tidur istrinya. Setelah sampai di bawah Akbar mengumpulkan semua pelayan yang di khususkan untuk menjaga Fiona selama dirinya bekerja.
"Selama saya bekerja jaga istri saya dengan baik. Sampai terjadi sesuatu dengan istri saya nyawa kalian yang akan menjadi taruhannya. Mengerti?!" ucap Akbar dengan tegas.
"Baik, Pak. Kami mengerti!" ucap kepala pelayan dengan tegas.
Melihat aura tegas dan sangat menakutkan dari Akbar membuat para pelayan tak berani sedikit pun melihat ke arah Akbar. Berbeda jika sedang bersama dengan istri majikannya yang bisa berbaur bahkan membuat mereka tertawa, kesal, dan gemas secara bersamaan. Mereka sudah terbiasa menjaga Fiona, ratu di rumah ini yang tak boleh lecet sedikit pun. Selain menjaga Fiona, mereka juga menjaga tiga pewaris dari kekayaan yang Akbar punya, hasil kerja kerasnya seorang diri hingga bisa mencapai titik tertinggi tanpa bantuan dari keluarga Mahendra yang lainnya. Jadi, mereka begitu ekstra menjaga kesyangan Akbar tersebut.
"Dan kamu. Siapkan menu terbaik yang memiliki vitamin yang tinggi untuk kesehatan istri dan ketiga calon anak saya. Setelah istri saya bangun kamu langsung memasak untuknya," ucap Akbar kepada koki.
__ADS_1
"Baik, Pak!" ucap koki tersebut menunduk dengan hormat. Ia tahu harus memasak apa untuk istri majikannya, agar Fiona dn bayinya sehat. Toh kerja di rumah ini mereka sudah di bayar dengan gaji yang cukup besar jadi mereka tidak boleh asal-asalan dalam bekerja sampai membahayakan Fiona. Bisa mati mereka di penggal oleh Akbar nantinya.
Setelah memastikan istrinya aman ia tinggal, Akbar langsung melenggang pergi keluar dari rumah. Sebenarnya Akbar was-was meninggalkan Fiona tetapi pekerjaannya juga tidak bisa ia tinggal begitu saja ada banyak karyawan yang juga butuh sesuap nasi dengan bekerja bersamanya.
****
Sedangkan Fiona, wanita itu baru bangun setelah jam menunjukkan pukul 10 pagi. Wanita hamilitu merentangkan kedua tangannya dengan rambut yang sangat acak-acakan, bukannya membersihkan diri Fiona mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Hal.."
"Mas Suami, Fio kangennnn!" rengek Fiona dengan manja yang membuat Akbar tersenyum dan ingin segera pulang.
"Mas juga, Sayang. Udah mandi? Udah makan?" tanya Akbar dengan lembut.
"Belum hehehe....Fio baru bangun, soalnya ketiga anak kita ajak Fio tidur mulu. Ini Fio mau mandi terus makan. Bilangin sama koki ya Mas Suami, Fio mau makan nasi goreng dengan telur mata sapi di atasnya terus jangan lupa ada suwiran ayam gorengnya," ucap Fiona dengan manja.
Akbar tak langsung menjawab, lelaki otu terkekeh terlebih dahulu. "Setelah kamu mandi apa yang kamu mau sudah ada di meja makan, Sayang. Jangan cantik-cantik di rumah. Nanti kalau Mas udah pulang kamu boleh dandan yang cantik, oke!" ujar Akbar dengan posesif.
"Siap, Papi!"
"Papi!"
"Iya, Sayang."
"Fio boleh kan Jalan-jalan? Sebentar aja! Ketiga anak kita yang mau ini. Ya, ya,boleh ya?" rengek Fiona agar,suaminya mengizinkan dirinya untuk Jalan-jalan.
Akbar tampak diam. Lelaki di seberang telepon tersebut tampak ragu.
"Iya boleh. Nanti ada pelayan yang akan menemani kamu, Sayang. Mas kerja lagi ya, nanti Mas telepon kalau udah selesai," ucap Akbar dengan lembut.
"Siap, Bos. Makasih gantengnya Fio! Muach..."
Klik...
Fiona langsung mematikan ponselnya sebelum Akbar membalas ucapan Fiona. Wanita itu langsung bergegas ke kamar mandi tak peduli dengan suaminya yang uring-uringan di kantor.
***
Di sini lah Fiona sekarang di sebuah taman di temani 2 pelayan wanita yang menjaganya.
"Mbak mau itu dong!" ucap Fiona menunjuk ke arah tukang bubur ayam kepada 2 pelayannya.
"Sebentar saya belikan dulu ya, Bu!" ucap pelayan tersebut dengan sopan.
Fiona mengangguk dengan semangat. Satu pelayan lagi membereskan alas tikar yang di inginkan Fiona yang ingin duduk di bawah.
"Mbak aku haus! Beli es krim itu!" rengek Fiona seperti anak kecil.
pelayan tersebut nampak bingung karena rekannya sedang membeli bubur ayam dan lumayan ngantri. Ia takut meninggalkan Fiona sendiri.
__ADS_1
"Ihh Mbak.. Fio haus! Kalau gak Fio beli sendiri nih!" acam Fiona membuat pelayan itu takut.
"Jangan, Bu. Biar saya belikan. Ibu jangan ke mana-mana ya tetap di sini sampai kami kembali," ucap pelayan dengan was-was.
"Iya! Jangan lama! Beli yang banyak ya!" ucap Fiona dengan senang.
"Iya, Bu. Sebentar!" ucap pelayan tersebut yang seperti enggan meninggalkan Fiona.
Saat ini Fiona sudah sendiri. Matanya menatap sekeliling taman yang lumayan sepi karena taman ini akan ramai di hari libur sedangkan ini masih hari kerja dam sekolah.
Mata Fiona tampak berbinar saat ada badut yang melambai ke arahnya. Fiona bangun dan dengan senang mengikuti badut tersebut.
"Kalian senang ya lihat badut? Duh kok badutnya semakin jauh sih? Gak tau apa anak-anak Fio udah gak sabaran lihat badut!" ucap Fiona dengan mengelus perutnya.
"Nah itu dia!" ucap Fiona setelah berjalan lumayan jauh dari taman.
"Om Badut jangan jauh-jauh dong! Capek nih!" ucap Fiona dengan cemberut.
"Kamu mau lihat saya sulap?" tanya badut tersebut yang di angguki oleh Fiona dengan antusias.
"Mau!" ucap Fiona dengan berbinar.
Badut tersebut mulai melakukan atraksi. Fiona tampak senang melihatnya hingga ia tak sadar jika badut tersebut memberikan kode kepada seseorang hingga tanpa di sadari Fiona dari arah belakang mulutnya di bekap.
"Mmmptthhh..."
Badut tersebut tampak menyeringai puas. Fiona terus berusaha mengeluarkan suaranya tetapi tiba-tiba saja tubuhnya lemas hingga matanya tertutup, bius yang ada di sapu tangan untuk membekap mulutnya hingga membuat Fiona pingsan.
Sedangkan dua pelayan yang menjaga Fiona langsung panik dengan wajah pucat saat keduanya kembali Fiona sudah tidak ada di tempatnya.
"B-bagaimana ini? Kemana ibu Fiona? Matilah kita!" ucap salah satu pelayan tersebut dengan panik.
"A-ayo kita cari cepat!"
"Ibu Fiona!" teriak keduanya dengan kencang.
"Ibu dimana? Makanannya sudah datang, Bu!"
"Aduh gimana ini bu Fiona hilang! Pak Akbar bisa ngamuk dan membunuh kita!" ucapnys dengan ketakutan.
"Kita cari lagi. Kalau tidak ketemu kita langsung hubungi pak Akbar. Apapun yang terjadi kita harus tanggungjawab."
"Tapi aku takut!"
"Aku juga tapi kita gak boleh panik. Aku yakin bu Fiona masih di sini."
"Bu Fiona!"
"Bu kembali. Bubur dan es krimnya sudah ada," ucap salah satu dari mereka dengan muka yang sangat panik bahkan terlihat pucat.
__ADS_1
"Ibu Fiona hilang. Dia tidak ada di sini lagi. Bagaimana ini hiks... Seharusnya kita tidak usah keluar!"
Kedua pelayan tersebut nampak panik bahkan tubuh mereka sudah sangat gemetar. Salah satu dari mereka memberanikan diri untuk menelepon Akbar. Jantung keduanya seperti berhenti berdetak setelah mendengar kemarahan Akbar dari balik telepon. Bagaimana jika Akbar ada di hadapan mereka? Apakah mereka akan di bunuh? Memikirkan itu membuat wajah keduanya tambah pucat karena ketakutan.