Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 134 (Papi & Mami Kucing)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya....


...Happy reading...


****


Akbar mendekati anaknya, setelah dibujuk oleh Fathan akhirnya Delisha mau kembali dirawat dengan syarat besok harus sudah pulang ke rumahnya.


"Maafin Papi ya!" gumam Akbar dengan memelas.


Didiamkan oleh Delisha membuat Akbar sangat tersiksa, ia tidak bisa berlama-lama dalam situasi yang seperti ini.


"Janji Papi gak nakal lagi sama Delisha!" ujar Akbar dengan memohon.


"Ayo dong maafin Papi!" rengek Akbar kepada anaknya itu.


"Janji?" ucap Delisha memberikan kelingking mungilnya. Akbar tersenyum dan menautkan kelingkingnya pada kelingking Delisha.


"Janji Princess!" ujar Akbar dengan bahagia.


"Kalau gitu Mami sama ketiga kakak kamu dimaafkan juga, kan?" tanya Akbar dengan hati-hati.


Delisha tampak berpikir. "Dimaafkan asal mami gak donorin jantungnya buat Adek!" ucap Delisha dengan sungguh-sungguh.


"Maafin Mami, Sayang!" ujar Fiona memeluk anaknya.


"Janji dulu Mami gak akan donorin jantung Mami buat Adek!" ucap Delisha dengan tegas.


"Janji, Sayang!" sahut Fiona dengan lirih.


"Kalau gitu semuanya udah Delisha maafin!" ucap Delisha dengan tersebut bahagia.


Semuanya tampak lega kala Delisha sudah memaafkan mereka. Kini, mereka sudah tampak tenang ketika Delisha kembali bisa tertawa.


Tok...tok...


"Masuk!" ujar Akbar dengan tegas.


Ikbal masuk bersama dengan Sandy dan juga Angga. Sandy dan Angga dengan ramahnya tersenyum sedangkan Ikbal hanya tersenyum tipis nyaris tak terlihat sama sekali.


"Kucing!" teriak Delisha dengan heboh saat ternyata Ikbal membawa kucing yang selama ini ia inginkan.


Delisha sudah pernah memintanya pada Zayyen. Namun, pria itu sama sekali tak mau menuruti kemauannya dengan alasan Zayyen tak suka kucing.


Meong...


"Kak siniin kucingnya!" rengek Delisha kepada Ikbal.


Ikbal langsung memberikan kucing cantik itu kepada Delisha. Kucing yang masih berada di dalam kandang itu tampak tenang, Ikbal baru saja membeli kucing tersebut, dengan bahagia Delisha mengeluarkan kucing tersebut dari dalam kandangnya, ia langsung menggendong kucing itu dengan gemas.

__ADS_1


Meong...


Meong...


Kucing lucu berwarna abu-abu dan putih itu tampak terlihat senang bahkan ia tampak sudah nyaman dengan Delisha.


"Uluh-uluh anak Mami Delisha. Hahaha Delisha punya anak lucu banget," ujar Delisha dengan gemas.



Fiona, Akbar, Danish, Daniel, dan Dareel tampak bahagia melihat senyuman Delisha. Ikbal juga sangat bahagia tetapi ia sama sekali tak memperlihatkannya pada Delisha maupun yang lainnya.


"Jaga yang bener!" ujar Ikbal dengan tegas.


"He'em... Makasih Kak Ikbal!" ujar Delisha dengan bahagia. Ikbal mampu membahagiakannya, lelaki itu mempunyai sejuta cara untuk membuatnya tersenyum.


"Kartu hitamnya gak jadi dipakai dong!" ujar Delisha kepada Ikbal.


"Simpan aja!"


"Kartu hitam? Maksud lo, Cil? Black card gitu?" tanya Sandy dan Angga secara bersamaan. Tampak dua lelaki tampan itu terlihat sangat syok dengan perkataan Delisha sekarang.


"Iya, kenapa Kak?" tanya Delisha dengan polosnya. "Mau juga ya black card dari kak Ikbal?" tanya Delisha dengan mata yang masih fokus ke kucing barunya tersebut.


Meong....


Kucing tersebut seperti mengejek ke arah Sandy dan Angga yang membuat dua lelaki itu seketika kesal.


"Sayangnya black cardnya cuma untuk Delisha, wlekk..." ujar Delisha memeletkan lidahnya.


"Bocil ngejek mulu deh! Heran gue! Enak banget lo banyak uang masih bocil juga! Bagi-bagi Cil gak boleh pelit harus sedekah kepada orang yang membutuhkan termasuk gue gitu!" ujar Sandy dengan memelas.


"Enak aja! Uangnya untuk biaya hidup anak Delisha sama kak Ikbal tahu!"


Deg...


Ikbal langsung menatap Delisha dengan dalam. Tanpa sadar gadis itu sudah membuat detak jantungnya menggila.


"Uhuk..uhukk... Cie-cie anak uhuy!" ujar Angga sengaja batuk untuk menjahili Delisha.


"Dek kamu ngomong apa tadi?" tanya Daniel tak percaya, ia juga sangat syok mendengar ucapan Delisha barusan. Apa adiknya sudah berpaling dari Zayyen?


"Ih kalian ini kenapa sih? Anak yang Delisha maksud itu Kimmy! Kimmy itu nama kucing Delisha! Karena kak Ikbal yang beliin Delisha kucing jadi dia jadi Papi Kimmy! Iya kan, Kim?" jelas Delisha.


Meong!!!


"Tuh Kimmy setuju!" ucap Delisha dengan tersenyum bahagia. Padahal sekarang ia sedang menahan rasa sakit pada jantungnya, tetapi karena kehadiran Kimmy, Delisha bahagia sekali hari ini.


Walau tadinya Ikbal terkejut tetapi ia sudah menduga akan jadi seperti ini. Tak masalah bagi Ikbal karena dirinya juga pencinta kucing.

__ADS_1


Papi?


Kata itu seperti menggelitik perutnya sekarang, panggilan baru yang disematkan Delisha untuknya entah mengapa Ikbal merasa senang sekali.


"Bagi dikit kenapa, Cil!" ujar Angga dengan memelas terkesan bercanda kepada Delisha.


"Boleh! Mau yang gambar pedang, kan?" tanya Delisha dengan cekikikan.


"Gambar pak soekarno 10 lembar, Cil!" ujar Sandy.


"Kak Sandy anaknya juragan sapi kenapa jadi minta-minta uang sama Delisha? Kak Angga juga anaknya juragan ayam!" ujar Delisha dengan kesal.


Memang benar Sandy adalah anak juragan sapi. Tetapi sapi yang diternak oleh papanya bukan sembarangan sapi bahkan papanya Sandy memiliki peternakan di Australia. Hampir sama dengan Sandy, Angga juga sama. Ribuan ayam terjual setiap harinya. Keduanya juga termasuk anak orang kaya tetapi kerjaan mereka meminta gratisan kepada Ikbal kalau tidak kepada ketiga kakak kembali Delisha. Hemat pangkal kaya itulah terapan yang dilakukan mereka selama ini.


"Pelit banget lo, Cil!" ujar Sandy dengan kesal.


"Biarin! Wlekk!"


Sandy dan Angga memang terkesan konyol di mata para sahabatnya dan juga Delisha. Itulah cara mereka untuk membahagiakan yang lainnya terutama Delisha. Bagi mereka Delisha sudah mereka anggap sebagai adik kandung mereka sendiri, sama halnya dengan si kembar kedua pria itu akan mengusahakan apa saja untuk membuat Delisha tersenyum.


Delisha sangat bahagia berada di tengah-tengah sahabat kakaknya. Stres, sedih, dan ingin menyerah untuk tetap hidup terasa teralihkan jika ada sahabat kakaknya. Makanya sebisa mungkin Angga dan Sandy selalu bermain ke rumah orang tua Delisha, selain untuk membuat Delisha tersenyum mereka juga ada maksud lain yaitu makanan gratis hehe...


****


"Lo gak mau cari tahu gitu Delisha sakit apa sampai dirawat di rumah sakit?" tanya Haidar kepada sahabatnya.


Tadinya emang Haidar merasa kesal dengan Zayyen tetapi keduanya cepat baikan tanpa ada kata maaf hanya sekedar bertanya mereka akan seperti semula lagi.


"Enggak! Palingan demam karena gue tinggal di taman!" jawab Zayyen bodo amat.


"Gila lo ya! Lo ninggalin Delisha sendirian di taman?" teriak Haidar mencekeram baju Zayyen dengan kuat.


"Apa maksud ini semua, Hah? Lo berniat mainin Delisha?" ujar Haidar dengan tajam.


"Gue gak sengaja! Gue ngobrol sama cika sampai lupa kalau gue ke taman bareng Delisha," ujar Zayyen dengan santai.


"Anj*ng lo! Demi Cika lo ninggalin Delisha di taman sendirian? Kalau Delisha kenapa-napa lo mau tanggungjawab?" ucap Haidar dengan marah.


"Gue gak sengaja! Lo gak tuli, kan?" ujar Zayyen dengan dingin.


Haidar tersenyum remeh. "Gak sengaja? Lo sakit, Zayyen! Cika udah punya Zayden! Jangan sampai Zayden tahu dan persaudaraan kalian semakin hancur!" peringat Haidar dengan tajam.


"Lo memberikan cela buat gue untuk mendekati Delisha! Selama ini gue diem aja saat lo udah jadian sama Delisha! Tapi kali ini gue gak akan biarkan itu terjadi, Yen!" ujar Haidar dengan tersenyum sinis.


"Apa maksud lo, hah?" ujar Zayyen dengan tajam.


Haidar terkekeh sinis. "Seperti lo udah tahu maksud gue Zayyen! Kita emang sahabat tapi soal cinta kita adalah saingan! Gue peringatkan sekali lagi ke lo! Jangan sampai sikap acuh lo buat Delisha menjauh dari lo dan berpaling dari lo! Saat ini lo boleh merasa bangga karena Delisha masih ngejar-ngejar lo tapi nanti gue jamin Delisha akan membenci lo sampai dia gak mau melihat wajah lo!" ujar Haidar dengan tajam.


Zayyen sangat bodoh! Dan Haidar tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk masuk ke kehidupan Delisha.

__ADS_1


Zayyen mengepalkan kedua tangannya. Haidar sudah berani kepadanya! Dan Zayyen yakin Delisha tidak akan pernah pergi dari sisinya, wanita polos itu hanya mencintainya.


__ADS_2