Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 171 (Cika sakit)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


****


Ini baru sehari Cika di tinggal oleh Zayden tetapi rindunya kepada Zayden sudah sangat menggebu bahkan Cika merasa dirinya demam sekarang, tentu saja itu membuat kedua orang tua serta ketiga adiknya khawatir.


Fathan masuk ke kamar anaknya setelah di telepon sang istri jika Cika sakit, setelah itu Fathan yang masih berada di rumah sakit langsung pulang ke rumah. Dan benar saja ketika Fathan mengecek suhu tubuh anaknya sudah sangat panas padahal sang istri sudah mengompresnya.


"Z-zayden!" gumam Cika dalam tidurnya yang membuat Fathan menatap sendu ke arah Cika.


"Mas gimana?" tanya Tri dengan khawatir.


"40 derajat, Sayang! Mas rasa Cika terkena demam berdarah. Kita bawa ke rumah sakit aja biar langsung ditangani oleh dokter ahli," ujar Fathan dengan cemas.


"Zayden!" gumam Cika yang terus menggigil.


"Biar Nevan yang gendong Kakak, Pa!" ujar Nevan yang diangguki oleh Fathan.


"Pelan-pelan, Nevan!" ujar Tri dengan cemas.


Nevan mengangguk, perlahan ia mulai menggendong Cika dengan hati-hati. "Panas banget, Ma!" ujar Nevan yang merasa tubuhnya ikut terbakar saat tubuh kakaknya menempel di perut dan tangannya.


"Ayo jangan lama! Kakak kamu butuh penanganan secepatnya!" ucap Fathan dengan cemas.


Nessa dan Nayla mengikuti kakak serta kedua orang tuanya dari belakang, mereka yang hendak tidur langsung berlari ke kamar kakaknya ketika sang mama berteriak menyuruh mereka untuk menjaga Cika. Walaupun Tri adalah mama tiri Cika tetapi kasih sayangnya tidak pernah ia beda-bedakan untuk semua anaknya bahkan di saat ia tidak tahu jika Cika sakit, hatinya terus mendorong untuk melihat keadaan Cika di kamarnya hingga ia mendapati Cika terbaring di kasur dengan keadaan tubuh yang sudah sangat panas bahkan berulang kali Tri memanggil anaknya sama sekali tidak ada sautan.


"Pa, Kakak semakin menggigil!" ujar Nevan yang merasakan tubuh kakaknya gemetar dan sangat panas.


"Kak, bangun!" ujar Nevan menepuk pelan pipi Cika.


"Biar Papa yang bawa mobil kamu jaga Kakak!" ujar Fathan dengan tegas.


Semua orang masuk ke dalam mobil, Cika sudah disandarkan di dada Nevan agar kakaknya merasanya nyaman sedangkan Tri berada di depan. Nessa dan Nayla berada di belakang.


"Kak bangun!" gumam Nevan dengan pelan menyentuh pipi Cika dengan pelan.


Nessa memeriksa kakaknya. Sedikit banyaknya ia sudah tahu cara memeriksa pasien.


"Kak Cika pingsan, Kak!" ujar Nessa yang semakin membuat Tri cemas.


"Ya Allah, Sayang!" gumam Tri dengan cemas.


"Jangan panik ya! Cika akan baik-baik saja!" ujar Fathan yang berusaha untuk tenang padahal di dalam hatinya ia juga merasa amat cemas dengan keadaan anaknya, baru kali ini ia melihat Cika sakit seperti ini.


Fathan membawa mobilnya dengan cepat, ia tak mau Cika telat dalam mendapatkan penanganan. Anaknya harus baik-baik saja.


****


Cika sudah mendapatkan perawatan yang terbaik. Benar dugaan Fathan jika anaknya terkena demam berdarah, untung saja ia cepat membawa Cika ke rumah sakit kalau tidak nyawa anaknya akan terancam.


"Kakak kok bisa terkena demam berdarah?" tanya Nayla dengan pelan.


"Papa juga tidak tahu, Sayang! Padahal tidak ada air yang menggenang di rumah kita yang bisa menyebabkan nyamuk-nyamuk bersarang," sahut Fathan dengan pelan.

__ADS_1


"Kakak pasti memikirkan kak Zayden makanya jadi seperti ini," gumam Nessa dengan sendu.


Tri memijat tangan anaknya dengan pelan. Cika belum sadarkan diri sampai sekarang karena dokter pun memberikan obat tidur agar Cika tidur dengan nyenyak. Tetapi sebagai seorang ibu yang telah membesarkan Cika tetaplah merasa khawatir walau Cika sudah ditangani oleh dokter.


"Eughh..." Cika melenguh dengan pelan. Ia memegang kepalanya yang terasa sangat sakit.


"Ma..." gumam Cika dengan pelan.


"Iya, Sayang. Mana yang sakit, Nak?" tanya Tri dengan sendu.


Semua mendekat ke arah Cika, menunggu reaksi Cika setelah ditanya oleh tri.


"Apa yang sakit, Sayang? Bilang sama Papa!" ujar Fathan dengan pelan.


"Kepala aku pusing, Pa! Perut aku sakit hiks..." adu Cika dengan menangis. Selain sakit di tubuhnya, hatinya juga sakit karena kehilangan Zayden.


"iya, Sayang! Kamu makan dulu ya! sejak kemarin kamu belum ada makan! Setelah makan langsung minum obat biar bisa pulang ke rumah," ujar Tri dengan pelan.


Cika menggelengkan kepalanya, n*fsu makannya sama sekali tidak ada, Cika tidak berselera makan.


"Gak mau, Ma" rengek Cika.


"Ya udah Cika mau apa? Jus jambu biji ya! Biar Nevan belikan dulu," ujar Tri tidak ingin memaksa anaknya karena ia tahu pasti mulut Cika sangat terasa pahit sekarang.


Cika mengangguk dengan pelan. Memang mamanya yang terbaik sejak dulu.


"Aku ikut!" ujar Nessa dan Nayla bersamaan.


Nevan mengangguk, ia berjalan keluar untuk membelikan pesanan sang mama. Kini, tinggal mereka bertiga yang ada di ruangan Cika.


Tri mengambil sesuatu di dalam tasnya. Minyak kayu putih Tri keluarkan dan ia buka tutupnya, Tri mengoleskan minyak kayu putih di perut Cika.


"Nangis terus mata kamu jadi jelek, Kak!" ujar Fathan dengan pelan.


"Zayden, pasti akan kembali! Setelah itu kamu minta nikah Papa langsung nikahin kamu," ujar Fathan berusaha menghibur anaknya.


Mata Cika berkaca-kaca, air matanya tidak keluar lagi karena ia terus menangis hingga matanya terasa perih.


"Mas, jangan buat Cika sedih ingat sama Zayden!" ujar Tri dengan sinis.


Fathan meringis saat mendapatkan cubitan dari sang istri. "Mas menghibur Cika, Sayang!" ujar Fathan tak mau kalah.


Cika sedikit tersenyum saat melihat kelakuan papa dan mamanya yang berusaha untuk menghiburnya.


"Gitu dong kan cantik anak papa, mama!" ujar Fathan dengan lembut.


Cika terkekeh pelan. "Maaf!" gumam Cika kepada kedua orang tuanya.


"Untuk apa, Sayang?" tanya Tri dengan lembut.


"Karena buat papa, mama, dan semuanya khawatir," sahut Cika dengan pelan.


"Yang terpenting setelah ini kamu sehat, Sayang! Sekarang istirahat dulu ya sambil menunggu Nevan, Nessa, dan Nayla datang ke sini lagi," ujar Tri dengan lembut.


Cika mengangguk. "Boleh pijat tangan Cika gak Ma? Semua ngilu!" ujar Cika dengan pelan.

__ADS_1


"Iya, Sayang! Istirahat ya!" ujar Tri dengan pelan.


"Makasih, Ma! Mama yang terbaik!" gumam Cika.


Cika menutup matanya dengan perlahan. "Zayden, baru sehari kamu pergi tapi aku udah sekangen ini sama kamu," gumam Cika di dalam hati.


Fathan tersenyum dan ia mengecup puncak kepala istrinya. "Makasih ya udah jadi mama yang hebat untuk Cika!" gumam Cika memeluk Tri dari belakang.


"Iya, Mas! Cika anakku sampai kapanpun!" sahut Tri dengan tersenyum.


Fathan menatap Tri dengan penuh cinta. Ia tak menyangka jika wanita yang telah hidup bersamanya hampir dua puluh tahun itu masih sangat terlihat cantik, wanita yang sangat menyayangi anaknya dengan sangat tulus dan tidak membeda-bedakan kasih sayang antara anak kandung dan anak sambung.


Cup..


"I love you, Ma!" ujar Fathan dengan pelan.


"Apaan sih, Mas! Malu sama anak tahu!" ujar Tri dengan malu-malu takut Cika melihat aksi papanya yang mencium dirinya di hadapan Cika.


"Kenapa gak bales ucapan cinta, Mas? Udah gak cinta lagi sama, Mas?" tanya Fathan dengan sinis.


Tri terkekeh, suaminya ini semakin tua semakin cemburuan sekali.


"Kenapa tertawa? Benar udah gak cinta lagi sama Mas? Duda mana yang mendekati kamu, hah?" ujar Fathan dengan mencibik.


Tri menggelengkan kepalanya, ia berdiri setelah memastikan Cika kembali tidur. "Mendekat ke sini pak dokter!" ujar Tri dengan tegas.


Seperti terhipnotis Fathan mendekat ke arah istrinya. Tri mengalungkan tangannya di leher Fathan. "Duda yang mendekati aku adalah dokter duda yang sangat mesum!" ujar Tri yang membuat Fathan mendelik.


"Siapa orangnya yang buat istri Mas berpaling dari Mas, hah?" tanya Fathan dengan tajam. Ia sangat cemburu sekarang.


"Yakin mau tahu?" tanya Tri yang memancing kekesalan Fathan.


"Cepat katakan, Sayang!" ujar Fathan dengan kesal.


"Namanya..."


Tri mendekat ke wajah suaminya, ia melihat ke arah bibir suaminya.


Cup...


"Fathan Samudra!" gumam Tri setelah mencium bibir suaminya yang membuat Fathan mematung.


"Sudah tahu kan sekarang?! Mas mau apa hmm?"


"S-sayang..."


"Udah tua masih aja cemburuan, Mas! Udah punya anak 4 loh ini! Anaknya juga udah pada dewasa. Menghadapi kemesuman kamu aja aku kewalahan ini mau ngelirik duda lagi! Gak ada ya Mas!" ujar Tri dengan kesal.


"Y-ya kamu kenapa gak balas ungkapan cinta Mas?" ujar Fathan yang masih membela diri.


"I love you too, Mas Fathan!" ujar Tri dengan sabar yang membuat Fathan tersenyum senang.


"Gitu kan enak! Uluh-uluh istriku!" ujar Fathan memeluk Tri.


Sedangkan Cika berpura-pura tidur, ia tersenyum tetapi air matanya mengalir dengan sendirinya. Sepertinya air matanya tak bisa habis.

__ADS_1


"Hiks... Apa kita bisa seperti papa dan mama, Ay! Hiks...aku kangen!"


__ADS_2