Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 240 (Kembali Bersama)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya....


...Happy reading...


***


Zevana tampak diam saat Haidar membawanya ke rumah pria itu, baru kali pertama Zevana menginjakkan kakinya di rumah mewah milik Haidar. Tetapi ada yang menjadi fokusnya sekarang yaitu foto pernikahannya dengan Haidar di pasang di ruang keluarga dengan bingkai yang sangat besar.


Zevana menatap Haidar dengan tidak percaya. Dulu lelaki itu tidak mau memajang foto pernikahan mereka tetapi sekarang kenapa foto pernikahan mereka di pajang dengan sangat besar?


"Mas lapar. Kamu bisa masak makanan kesukaan Mas gak?" tanya Haidar dengan lembut.


"B-bisa. Tapi foto itu?" ucap Zevana dengan menunjukkan foto mereka berdua.


"Ada yang salah? Itu foto pernikahan kita!" sahut Haidar dengan tersenyum.


"Enggak salah tapi dulu Mas..."


"Enggak usah dibahas. Sekarang kamu masak ya, hari minggu pelayan di rumah libur," ujar Haidar yang di angguki oleh Zevana.


"D-dimana dapurnya?" tanya Zevana dengan canggung.


"Ayo ikut biar Mas beritahu dimana dapur," ujar Haidar.


Zevana mengikuti langkah Haidar dengan pelan, jantungnya berdetak dengan kuat yang membuat Zevana merasa deg-degan dan perasaan yang tidak karuan. Kenapa lelaki itu membawanya ke sini? Batin Zevana bertanya-tanya.


"Ini dapurnya, semua bahan masakan ada di dalam kulkas ya. Kalau masih bingung tanya saja sama Mas!" ujar Haidar dengan tegas.


"Iya, Mas!" sahut Zevana dengan canggung.


"Emmm.. Mas!" panggil Zevana dengan lirih.


"Iya, Zeva!"


"Mas masih suka nasi goreng, kan? Nanti kalau Zeva masak Mas gak akan buang makanannya ke lantai, kan?" tanya Zevana dengan takut-takut.


Deg....


Jantung Haidar seakan berhenti berdetak saat Zevana berkata seperti itu yang membuat Haidar mengingat kejahatannya di masalalu.


"Maaf! Semua akan Mas makan sampai habis nanti," gumam Haidar dengan sendu.


"Mas gak bohong, kan?" tanya Zevana memastikan.


"Enggak Zeva! Mas janji!" ujar Haidar dengan tegas.


"Nasinya ada rice cooker ya! Tadi Mas sudah masak sebelum ketemu kamu," ujar Haidar yang di angguki oleh Zevana.


Haidar mulai sedikit menjauh dari Zevana. "Mas ke kamar sebentar ya!" pamit Haidar dengan tersenyum.


"I-iya, Mas!" jawab Zevana dengan singkat.


Setelah kepergian Haidar, Zevana mulai menyibukkan diri untuk memasak makanan kesukaan Haidar. Entah mengapa ia sangat senang memasak untuk Haidar kali ini sampai ia tersenyum sendiri.


"Kok aku deg-degan ya?" gumam Zevana pada dirinya sendiri dengan memegang dadanya yang berdetak kencang. Zevana seperti baru merasakan cinta kembali, padahal sejak dulu ia sudah mencintai Haidar. Apakah ini efek dari 5 tahun tidak bertemu dengan Haidar?


****


"Enak!" puji Haidar saat memakan nasi goreng buatan Zevana.

__ADS_1


"Enak banget! Sudah lama gak makan nasi goreng seenak ini," ujar Haidar dengan bahagia yang membuat Zevana tersenyum.


"Kamu cobain deh! Nasi goreng buatan kamu itu emang yang paling terbaik. Aaa buka mulut kamu," ucap Haidar menyodorkan sendok berisi nasi goreng ke mulut Zevana.


Zevana dengan ragu menerima suapan dari Haidar. Rasa canggung masih menderanya sejak tadi tetapi berbeda dengan Haidar yang terlihat sangat santai seperti tidak terjadi apa-apa di antara mereka.


"Enakkan?" tanya Haidar menatap mata Zevana dengan dalam.


"I-iya," jawab Zevana dengan terbata yang membuat Haidar tersenyum tipis.


"Kita makan berdua ya!" ujar Haidar yang membuat Zevana terkejut.


"H-hah?"


"Gak usah canggung gitu, Zeva!" ujar Haidar dengan terkekeh.


"Kamu gak perlu khawatir semua uang yang diminta Indra, Mas yang akan membayarnya," ujar Haidar yang membuat Zevana tiba-tiba murung kembali.


"Uang itu tidak sedikit, Mas!" gumam Zevana dengan lirih.


"Lalu apa masalahnya? Mas mampu untuk membayarnya!" ujar Haidar dengan tegas.


"T-tapi seharusnya Mas tidak usah repot-repot membayar semuanya," gumam Zevana dengan lirih.


"Biar kamu menikah dengan Indra begitu? Mengorbankan kebahagian kamu dan Raiden demi membalas budi Indra?" tanya Haidar dengan dingin.


"B-bukan begitu, Mas. A-aku gak mau menghabiskan uang kamu," ujar Zevana dengan terbata.


"Nanti aku tidak bisa membayarnya!" gumam Zevana dengan pelan tapi masih bisa di dengar oleh Haidar.


Haidar sama sekali tidak menjawab, lelaki itu lebih menikmati nasi goreng buatan Zevana. Rasanya Haidar ingin waktu berjalan dengan lambat kali ini, menikmati kecantikan Zevana yang tidak ada obat. Kenapa sih semakin dewasa Zevana terlihat sangat cantik dan sangat menarik untuk terus di pandang? Rasanya Haidar tidak rela berbagi kecantikan Zevana untuk pria lain.


Sadar jika Haidar melihat dirinya sejak tadi Zevana tambah gugup kala mata Haidar tidak pernah lepas dari wajahnya.


"Cantik!" gumam Haidar yang membuat kedua pipi Zevana memerah dan memanas.


Haidar tanpa sadar mendekatkan wajahnya ke wajah Zevana yang membuat Zevana dengan refleks menutup matanya.


Cup...


Haidar tersenyum saat ia berhasil mancium bibir Zevana. Haidar hanya diam menunggu reaksi Zevana, tetapi sepertinya Zevana hanya diam tidak menolak ataupun membalas ciumannya yang membuat Haidar mulai menggerakkan bibirnya dengan perlahan.


Haidar menarik Zevana agar duduk di pangkuannya. Zevana sedikit terkejut tetapi tak lama setelah itu ia menikmati semua sentuhan Haidar. Zevana tidak sadar jika Haidar sudah menggendongnya dan berjalan ke arah kamar pria itu, seakan terhipnotis dengan ciuman Haidar, Zevana mulai membalasnya dengan gerakan perlahan dan dengan tangan yang di kalungkan di leher Haidar.


Haidar sudah membawa Zevana masuk ke dalam kamarnya. Sebenarnya kamar Zevana juga, kamar yang sangat luas fan kamar ini yang memang sangat di impikan oleh Zevana sejak dulu.


Haidar merebahkan Zevana dengan perlahan di kasur king size miliknya. Ia menindih tubuh Zevana dengan perlahan dengan ciuman yang tak lepas.


"Eummm..."


Napas keduanya tersengal-sengal. Haidar menatap Zevana dengan dalam seakan meminta persetujuan dan entah mengapa Zevana langsung mengangguk dengan pelan yang membuat Haidar tersenyum senang.


Haidar membuka seluruh pakaian Zevana dengan perlahan, wanita itu hanya pasrah saat Haidar kembali mencumbunya dengan mesra. Kini, keduanya sudah polos tidak memakai pakaian apapun.


"Ahhhh..."


Tanpa sadar Zevana mendes*h dengan lirih saat Haidar terus menyentuhnya dengan lembut. Bahkan Zevana sampai terhipnotis dengan sentuhan Haidar. Haidar kembali mencium bibir Zevana dengan mengarahkan junior miliknya ke milik Zevana.


Zevana sedikit tersentak saat junior Haidar kembali masuk setelah 5 tahun ia tidak rasakan.

__ADS_1


"M-mas..."


"Maaf Zeva, Mas tidak bisa berhenti!" gumam Haidar dengan lirih dan mulai menggerakkan tubuhnya dengan perlahan.


"Aahhh..."


"Ouhhh..."


Setelah 5 tahun berpisah akhirnya mereka kembali menyatu dengan rasa yang semakin kuat. Dengan Haidar yang sudah menjadi pria yang lembut dan bertanggungjawab. Inikah kesabaran Zevana yang sudah membuahkan hasil? Apakah dirinya tidak akan menyesal karena telah menyerahkan tubuhnya kembali ke Haidar? Bagaimana jika pria itu menceraikannya setelah ini?


Entah berapa kali Haidar dan Zevana melakukannya hingga tanpa sadar mereka tertidur karena kelelahan yang membuat Raiden merajuk karena telah menunggu lama kepulangan mamanya.


*****


Drttt...drtt....


Zevana dan Haidar merasa terganggu dengan bunyi ponsel milik Zevana yang terus menerus berbunyi. Tak mau menganggu tidur istrinya Haidar mengangkat telepon tersebut yang ternyata dari Zayyen.


[Halo!] sapa Haidar dengan suara yang serak.


Zayyen yang merasa hapal dengan suara Haidar langsung bertanya dengan tajam.


[Dimana Zevana? Kenapa ponselnya ada di lo?] tanya Zayyen dengan tajam.


Haidar terkekeh mendengar suara Zayyen yang tak bersahabat. [Tidur di sebelah gue. Kenapa?] tanya Haidar dengan santai.


[Brengsek! Apa yang lo lakuin ke adek gue?] tanya Zayyen dengan marah.


[Gak usah marah gitu, Zayyen! Zevana masih istri gue dan selamanya akan begitu. Jadi wajar saja kami melepas rindu setelah 5 tahun tidak bertemu]


[Jangan sakiti adek gue, brengsek! Lo gak lupa kan tentang kekerasan yang lo lakukan ke Zevana 5 tahun lalu]


[Gue gak lupa Zayyen dan gue berusaha memperbaiki itu semua! Karena gue mencintai Zevana. Lo gak usah munafik! Lo juga pernah menyakiti Delisha. Kita punya kesalahan masing-masing. Bedanya Zevana masih istri gue dan Delisha sudah menjadi istri orang] ujar Haidar dengan terkekeh menertawakan kemalangan sahabatnya.


[Brengsek!]


[Papa!! Kenapa Mama pulangnya lama sekali?] teriak Raiden yang membuat Haidar sedikit terkejut karena suara Zayyen berubah menjadi suara anaknya.


Ternyata Zayyen juga sudah kembali ke Jakarta!


[Hei jagoan maaf ya mamanya Papa pinjam sebentar. Raiden pasti senang karena sebentar lagi mama mau menginap di rumah Papa. Kita akan tinggal bersama jagoan]


[Yang benar, Pa? Horeee Raiden bahagia!]


[Tunggu Papa dan mama ke rumah kakek ya! 30 menit lagi Papa sampai]


[Iya, Pa. Bye, Papa!]


[Bye, jagoan!]


Haidar meletakkan ponsel Zevana ke tempatnya kembali. Ia memandang Zevana yang ternyata sudah bangun dan memperhatikan dirinya.


"Ayo mandi! Badan kita berdua sudah sangat lengket sekali. Raiden sudah menunggu di rumah papa," ujar Haidar mengelus pipi Zevana dengan lembut.


"Mas akan membawa kamu pulang ke rumah ini bersama dengan Raiden. Kamu tidak bisa menolaknya Sayang karena kita tadi sudah melakukan sesuatu yang mungkin saja adik Raiden akan tumbuh di rahim kamu. Mas akan mewujudkan pernikahan impian kamu setelah ini. Jadi, Nona Zevana bisakah kamu kembali ke rumah suamimu ini hmm? Suami kamu tidak menerima penolakan!"


"Haruskah Zeva menjawab sedang Mas saja tidak menerima penolakan Zeva," ujar Zevana dengan bingung.


Haidar terkekeh. "Itu artinya kita sudah resmi kembali! Ayo mandi bareng!"

__ADS_1


"KYAAA MAS HAIDAR!!"


Tak pernah Zevana sebahagia ini. Dan Zevana sudah yakin jika kebahagiaan dirinya adalah kembali bersama dengan Haidar. Semoga ini adalah keputusan yang tepat, karena Zevana yakin Haidar sudah berubah menjadi suami yang lembut.


__ADS_2