Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 197 (Hancurnya Batin Naura)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya....


...Happy reading...


***


Prang...


Pyar....


"Aarghhh..."


Naura berteriak dengan kencang setelah berhasil menghancurkan kaca dan benda apa saja yang berada di kamarnya. Hati dan batin Naura benar-benar sakit sekarang, kenapa dunia ini tidak adil baginya? Orang yang ia anggap menjadi papa terbaik dan cinta pertamanya ternyata bukanlah papa kandungnya melainkan orang yang tak sengaja membunuh papa kandungnya. Lalu Naura harus apa sekarang? Ingin sekali membenci Tomi tetapi rasa sayangnya membuat Naura tidak bisa melakukan itu.


"Aaargh...Hiks..hiks..."


Tubuh Naura terjatuh di lantai dengan tubuh yang bergetar dan terus terisak. Hati Naura begitu sangat hancur, kenyataan yang membuat dadanya sangat sesak.


Tok...tok...


"Naura buka pintunya, Sayang! Mama mau masuk!" ujar Jesica dengan cemas.


"Sayang!" panggil Jesica dengan cemas saat tak ada sautan dari Naura.


Jesica mendengar tangisan Naura yang sangat menyayat hatinya sebagai seorang ibu. "Hiks...Naura maafkan Mama, Nak!" gumam Jesica bersandar di pintu kamar Naura.


Naura mendongakkan wajahnya, ia tersenyum miris menertawakan dirinya sendiri yang sangat hancur sekarang. Dengan tangan gemetar Naura mengambil foto dirinya bersama dengan mama dan papanya yang tersenyum bahagia.


"Papa dan mama berhasil buat hati Naura hancur! Hiks...Kenapa harus kalian? Kenapa harus Papa?" gumam Naura menyentuh wajah Tomi yang berada di foto.


"KENAPA KALIAN SANGAT JAHAT PADA NAURA? APA SALAH NAURA?" teriak Naura dengan keras.


Srekkk..


Naura merobek foto keluarganya yang terlihat bahagia. Kebahagiaan itu sudah hilang sekarang, yang ada hanya kehancuran seorang Naura!


"AARGHHH...."


Naura berteriak dengan keras menjambak rambutnya dengan kuat. Tak ada yang bisa menjabarkan bagaimana terlukanya batin Naura sekarang, orang yang ia anggap sebagai papa terbaik dan terhebatnya ternyata bukan papa kandungnya.


***


Ikbal menatap kaget ke arah kedua orang tuanya yang saling berpelukan.


"Pa, sudah berapa kali Ikbal bilang. Papa tidak perlu ke sini lagi dan memberikan kebahagiaan palsu untuk Mama! Biarkan Mama berbahagia dengan lelaki lain karena Ikbal lebih ikhlas Mama menikah dengan lelaki lain sekarang," ujar Ikbal dengan tajam.


"Bal, sudah seharusnya kamu tahu semuanya. Papa sama Mama sudah rujuk sejak sebulan yang lalu," ucap Tomi yang membuat Ikbal terkejut.


"K-kalian rujuk tanpa memberitahu, Ikbal?" tanya Ikbal dengan terkekeh sinis.


"Nak, Mama sudah mau memberitahu kamu sejak awal tapi kamu selalu menghindar saat Mama mau mengajak kamu bicara mengenai ini," ucap Claudia yang membuat Ikbal menatap tajam mamanya.


"Bal, ayo duduk sebentar. Kita harus berbicara! Jangan menghindar lagi!" ucap Tomi dengan tegas.


"Oke! Kali ini Ikbal dengarkan!" ujar Ikbal dengan datar walau sebenarnya ia sangat enggan untuk berbicara dengan papanya. Apalagi papa dan mamanya rujuk tanpa sepengetahuan dirinya. Kecewa? Ya, Ikbal sangat kecewa bahkan sangat terlihat jelas dari wajahnya sekarang.

__ADS_1


"Cepat katakan! Ikbal mau ke kamar!" ujar Ikbal dengan datar.


Tomi menghela napasnya. "Papa dan tante Jesica tidak selingkuh, Bal. 16 tahun yang lalu saat kamu berumur 2 tahun, Papa tidak sengaja menabrak mobil karyawan Papa sendiri karena Papa kelelahan bekerja dan segera ingin bertemu dengan mama dan juga kamu tapi di perjalanan Papa mengalami kecelakaan yang mengakibatkan Naura kehilangan Papa kandungnya," ujar Tomi dengan lirih.


"Terus kenapa kalian bisa menikah?" tanya Ikbal dengan dingin.


"Waktu itu karena sebuah rasa bersalah Papa kepada Naura dan Jesica. Papa sering mengunjungi mereka berdua hingga warga mengira Papa melakukan jina dan memaksa Papa harus menikahi tante Jesica. Maafkan Papa, Bal. Papa tidak memberitahu kalian dari awal karena takut kalian kecewa tapi apa yang Papa lakukan ternyata lebih membuat kalian terluka dan tidak memaafkan Papa," ujar Tomi dengan menyesal.


"Tapi mengapa Papa menyetujui perceraian papa dan Mama saat itu? Kenapa, Pa? Seharusnya Papa lebih memilih Mama bukan tante Jesica! Papa tidak tahu bagaimana hancurnya hati Ikbal dan Mama saat itu!" ujar Ikbal dengan tajam.


"Maafkan Papa, Bal. Papa kalut saat itu, Papa tidak bisa memilih karena Naura sakit dan ingin bersama Papa. Papa berpikir harus bertanggungjawab dan ternyata keputusan Papa malah menghancurkan Papa sendiri dan juga menghancurkan kalian berdua," gumam Tomi menyesal.


"GILA! PAPA MENJANDAKAN MAMA DEMI BERTANGGUNGJAWAB KEPADA JANDA ORANG LAIN? BENTUK TANGGUNGJAWAB TIDAK HARUS MENIKAHINYA. JIKA IKBAL JADI MAMA MAKA IKBAL TIDAK AKAN MAU KEMBALI PADA LELAKI YANG TAK MEMPUNYAI PENDIRIAN SEPERTI PAPA!" ucap Ikbal dengan keras.


"Bal! Papa tahu kesalahan Papa sangat dalam ke kamu dan juga Mama. Tapi tolong berikan kesempatan kedua untuk Papa memperbaiki semuanya. Papa dan tante Jesica sudah bercerai!" ujar Tomi dengan sendu.


Ikbal mengusap wajahnya. Ia tidak habis pikir dengan apa yang papanya lakukan, terbuat dari apa hati mamanya yang masih mau menerima papanya kembali?


"Bal, Mama sudah mencoba untuk berdamai pada masa lalu dan Mama harap kamu juga akan begitu. Kita akan menjadi keluarga yang utuh kembali. Bukankah itu yang kamu inginkan, Nak?" gumam Claudia dengan sendu.


"T-tapi, Ma.."


Claudia menarik tangannya ke depan agar Ikbal berhenti berbicara.


Claudia berlari ke arah dapur yang membuat Tomi dan Ikbal saling berpandangan satu sama lain.


Uwekk...uwekkk...


"Mama!" teriak Tomi dan Ikbal secara bersamaan dan mereka berlari menghampiri Claudia yang terus memuntahkan isi perutnya di wastafel dapur.


"Sayang, kamu salah makan ya? Kenapa bisa muntah seperti ini?" tanya Tomi dengan cemas.


Claudia menggelengkan kepalanya pertanda ia juga tidak tahu. Tiba-tiba saja perutnya bergejolak dengan hebat dan Claudia tidak bisa menahan rasa mualnya.


"Kita ke kamar ya!" ujar Tomi dengan khawatir.


Claudia mengangguk. "Mama mohon kalian harus berdamai ya!" gumam Claudia dengan lirih.


"Ma, Dalam keadaan seperti ini. Mama masih memikirkan Papa? Papa itu jahat, Ma!" ujar Ikbal dengan sengit.


"Bal..."


"Tolong kalian jangan berdebat. Perut Mama jadi mual lagi!" ucap Claudia dengan lirih dan kembali memuntahkan isi perutnya.


Ikbal menghela napasnya saat mamanya kembali muntah. Yang membuat Ikbal cemas adalah ketika melihat wajah mamanya yang sangat pucat.


Dengan sigap Tomi menggendong istrinya menuju kamar mereka. Sungguh Tomi sangat cemas melihat keadaan istrinya sekarang.


Tomi merebahkan Claudia di kasur dengan perlahan, setelah itu menyelimuti istrinya. Lalu Tomi menatap Ikbal dengan serius.


"Bal, kamu gak akan marah kan kalau kamu punya adik di usia 19 tahun sekarang? Papa rasa mama hamil," ujar Tomi yang membuat Ikbal melotot lebar.


"A-apa?"


Sungguh Ikbal sangat syok sekarang. Rasanya Ikbal ingin menghilang sekarang bagaimana bisa dia punya adik di saat usianya sudah 19 tahun?

__ADS_1


Sial!!!


Ini pasti rencana papanya agar dirinya tidak bisa berkutik dan mau menerima papanya kembali! Sungguh licik orang tuanya.


****


Cika dengan penuh kasih sayang membersihkan tubuh Zayden dengan perlahan.


"Kamu masih belum mau bangun ya, Ay?" gumam Cika dengan pelan.


"Tapi gak apa-apa, aku akan tetap menunggu kamu sampai kamu bangun, Ay!" ujar Cika dengan tersenyum.


"Aku sudah bahagia saat kedua orang tuamu mengizinkan aku untuk merawatmu seperti ini," gumam Cika dengan pelan.


"Ay, aku berharap setelah kamu bangun kita akan menikah dan hidup bahagia," ucap Cika dengan penuh pengharapan.


Cika menggenggam tangan Zayden dengan pelan dan meletakkan di pipi kanannya tak sadar Cika menjatuhkan air matanya mengenai tangan Zayden.


Cika menghapus air matanya dengan kasar saat ia merasa tangan Zayden bergerak.


"Ay, kamu sadar?! Ay, kamu dengar aku, kan?"


Cika memencet tombol yang ada di dekat Zayden hingga dokter datang ke ruangan Zayden.


"Dok, tangan kekasih saya tadi bergerak!" ujar Cika dengan cemas. (Menggunakan bahasa Inggris).


"Tolong Nona keluar dulu saya akan memeriksa pasien," ujar dokter dengan tegas.


Mau tak mau Cika harus keluar. Ia harus segera menghubungi kedua orang tua Zayden yang berada di apartemen karena Cika memaksa mereka untuk beristirahat.


****


"Mas, kenapa Zevana gak memperbolehkan aku pulang untuk melihat keadaannya? Aku khawatir, Mas!" ujar Tiara dengan sendu.


"Dia sangat mencemaskan keadaan Zayden, Sayang. Mungkin Zevana gak mau kamu meninggalkan Zayden. Kita harus berpikir posesif ya, Sayang!" ujar Zidan dengan mengelus rambut Tiara.


"Tapi..."


Drrtt..drtt...


"Siapa, Sayang?" tanya Zidan dengan penasaran.


"Cika, Mas!"


"Angkat, Sayang. Pasti itu penting!" ujar Zidan.


Tiara mengangguk. Ia mengangkat telepon dari Cika.


"Halo, Sayang. Ada apa? Apa terjadi sesuatu dengan Zayden?" tanya Tiara dengan cemas.


"T-tante, tangan Zayden tadi gerak. A-aku yakin Zayden sadar Tante! Sekarang masih di tangani oleh dokter.


"Tante dan Om segera ke sana!" ujar Tiara dengan haru.


"Kenapa, Sayang?" tanya Zidan dengan cemas.

__ADS_1


"Tangan Zayden gerak, Mas! Cika yakin anak kita sadar! Ayo ke rumah sakit sekarang, Mas!"


__ADS_2