
...Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...Happy reading...
***
Zayyen sedang berada di rumah sakit. Tugasnya kali ini cukup banyak hingga dirinya tak memegang ponsel sama sekali sampai jam istrahat tiba barulah Zayyen melihat ponselnya, ada banyak pesan masuk dari Delisha bahkan panggilan masuk sudah terhitung 20 kali.
"Zayyen!" panggil Cika dengan senang saat melihat Zayyen di rumah sakit milik papanya.
Awalnya Cika hanya mampir untuk melihat papanya yang sedang bekerja sekaligus mengantarkan makan siang untuk papanya dari sang mama.
Zayyen menoleh, ia tersenyum sangat manis saat melihat Cika. Gadis itu berlari mendekat ke arah Zayyen.
"Hai pak dokter!" sapa Cika dengan terkekeh.
Zayyen ikut terkekeh. Dinding es-nya selalu mencair jika bersama dengan Cika. "Aku belum jadi dokter, Kak!" sahut Zayyen yang membuat Cika langsung cemberut.
"Jangan Kakak!" bantah Cika yang membuat Zayyen gemas.
"Haha aku tadi hanya bercanda. Mau makan siang bersamaku? Sudah lama kita tidak makan bareng," ujar Zayyen.
Cika menimang, lalu ia mengangguk setuju yang membuat Zayyen bahagia. "Ayo!" ajak Zayyen dengan semangat.
Cika tersenyum dan mengikuti langkah Zayyen. Ia memandang tubuh tegap Zayyen dengan pandangan yang amat dalam. Zayyen dan Zayden adalah anak kembar, wajah mereka juga sangat mirip sekali tetapi mengapa sikap keduanya berbanding terbalik? Terkadang Cika berpikir ingin meninggalkan Zayden dan ingin bersama Zayyen yang selalu bisa mengerti dirinya.
"Zayden tahu kamu di rumah sakit?" tanya Zayyen saat keduanya sudah duduk di kursi kantin rumah sakit.
"Iya! Udah minta izin juga kok. Dia lagi sibuk di perusahaan," sahut Cika dengan tersenyum tipis, ia merasa tak nyaman membicarakan Zayden saat sedang bersama dengan Zayyen.
Zayden lebih memilih mengurus perusahaan kakeknya dari pada menjadi dokter karena harus bertemu dengan Zayyen setiap hari. Ia tidak mau bertemu dengan Zayyen, bahkan di rumah pun ketika Zayyen pulang Zayden lebih baik menghindar dan menginap di apartemennya.
Zayyen tahu Cika tak nyaman membicarakan Zayden. Tetapi Zayyen harus mencari tahu tentang Zayden yang selama ini hanya ia dan Cika yang tahu.
"Dia masih kasar?" tanya Zayyen dengan pelan.
Mata Cika langsung berkaca-kaca dan mengangguk dengan perlahan. "A-aku gak tahu harus ngapain lagi untuk buat Zayden seperti dulu," gumam Cika dengan sendu.
__ADS_1
Zayyen menghela napasnya. Ia memberanikan diri untuk menggenggam tangan Cika. "Ada aku! Kalau Zayden kasar lagi sama kamu, bilang aku ya!" ujar Zayyen dengan lembut.
Cika mengangguk dengan tersenyum hangat. "Makasih ya kamu selalu ngerti aku dan selalu ada buat aku," gumam Cika dengan tersenyum.
"Ya itu arti sebuah saudara, kan?" gumam Zayyen yang sangat berbeda dengan perasaannya saat ini.
****
Delisha merasa kesal saat melihat pesannya hanya dibaca oleh Zayyen bahkan lelaki itu tak ada niatan untuk membalas pesannya atau meneleponnya balik. Setelah pulang sekolah, ia menyuruh supir yang menjemputnya untuk ke rumah sakit milik pakde-nya di mana Zayyen koas di sana.
"Pakde!" panggil Delisha dengan berlari ke arah Fathan.
Bruk...
Delisha memeluk Fathan dengan sangat erat yang membuat Fathan menyambut pelukan Delisha tak kalah eratnya.
"Ngapain Delisha ke sini hmm?" tanya Fathan mengusap kepala Delisha dengan sayang.
"Mau lihat pacar Delisha dong!" jawab Delisha dengan semangat.
"Pacar? Sejak kapan Delisha punya pacar?" tanya Fathan dengan terkekeh.
"Oo iya? Pacar Delisha kerja di sini?" tanya Fathan dengan penasaran.
"Masih koas Pakde! Tapi udah cocok jadi dokter kok nanti kalau Delisha sakit mau diperiksa sama dia biar cepat sembuh hehe," ujar Delisha.
Fathan menyentil hidung mancung Delisha. Ia seperti melihat Fiona di dalam diri Delisha tetapi keduanya memiliki perbedaan yang orang-orang tidak ketahui sama sekali. Hanya dirinya, istrinya, Akbar, Fiona dan ketiga kakak kembar Delisha yang mengetahui semuanya.
"Delisha gak boleh sakit oke! Nanti Pakde dan bukde akan sedih kalau Delisha sakit," ujar Fathan dengan serius.
"Siap komandan! Delisha mau cari pacar Delisha dulu ya!" ujar Delisha dengan bahagia.
Delisha mendekatkan bibirnya di telinga Fathan. "Pakde doain Delisha bisa nikah sama dia ya!" gumam Delisha dan langsung berlalu pergi meninggalkan Fathan yang terdiam.
Fathan lalu terkekeh saat mendengar permintaan Delisha. Delisha selalu ingin menikah muda karena ia ingin Akbar yang menikahinya bahkan setiap malam Delisha selalu ke kamar orang tuanya hanya untuk memeluk Akbar dan meminta kepada papinya agar tetap sehat sampai ia menikah dan mempunyai anak. Hanya harapan kecil dari Delisha yang bisa membuat Akbar menangis haru.
Delisha mematung saat menemukan Zayyen sedang tertawa bahagia dengan Cika. Hati Delisha mencolos saat tawa Zayyen diberikan untuk Cika bahkan dengan lembut lelaki mengusap kepala Cika dengan sayang.
__ADS_1
"Kak Zayyen, Kak Cika!" teriak Delisha dengan tersenyum menghampiri keduanya.
Zayyen menatap tajam ke arah Delisha yang menganggu dirinya bersama dengan Cika. Padahal ini kesempatan untuk dirinya bisa lebih dekat dengan Cika tanpa adanya Zayden sang pencemburu. Zayyen jarang sekali bertemu dengan Cika saat Zayden mengamuk kepadanya waktu itu, itu juga menjadi penyebab Zayyen jarang di rumah kedua orang tuanya.
"Dek, kamu ngapain ke sini?" tanya Cika dengan lembut. Walau ia merasa kehadiran Delisha akan mengganggu dirinya dan Zayyen tetapi Cika tetap tersenyum hangat kepada Delisha.
"Mau ketemu pacar Adek dong!" sahut Delisha dengan tersenyum.
Delisha duduk di samping Zayyen dan langsung memeluk lengan kekasihnya.
Cika menatap Zayyen dan Delisha secara bergantian. "K-kalian..."
"Adek udah jadi pacar kak Zayyen, Kak! Nanti kita bisa double date ya!" ujar Delisha dengan semangat.
Cika menelan ludahnya dengan kasar. Kenapa hatinya sangat sakit mendengar pernyataan Delisha, ia mencintai Zayden tetapi Cika juga mengharapkan Zayyen agar selalu ada untuknya.
"Zayyen kenapa kamu gak bilang kalau kalian pacaran?" tanya Cika dengan suara yang amat gamang.
Dalam hati Zayyen mengumpat kepada Delisha yang tidak bisa menjaga rahasia mereka. "Hampir tiga minggu kami pacaran, Cika!" ujar Zayyen berusaha tersenyum. Tetapi tatapannya begitu tajam untuk Delisha, gadis itu sama sekali tidak peduli dengan tatapan Zayyen untuknya.
Zayyen geram, ia ingin sekali membentak Delisha karena sudah mengganggu kebersamaannya dengan Cika tetapi Zayyen tak mungkin memarahi Delisha di sini.
Suasana di sekitar mereka menjadi hening dan sangat canggung tetapi tidak dengan Delisha yang lebih memilih memakan makanan Zayyen yang tak habis untuk menghilangkan rasa cemburu di hatinya.
****
Zayyen menyentak tangan Delisha dengan kuat saat keduanya berada di parkiran berdua.
"Ngapain lo ke rumah sakit?" tanya Zayyen dengan tajam.
"Ketemu kak Zayyen lah masa mau ketemu kak Haidar si tiang listrik yang selalu cari ribut sama Delisha sih," sahut Delisha dengan enteng.
"Arrghh.. lo ganggu tahu gak! Gue ingatin lo, Delisha. Kalau lo masih mau jadi pacar gue jangan pernah ke rumah sakit untuk menemui gue!" ujar Zayyen dengan keras hingga Delisha tersentak.
Delisha terdiam memainkan jarinya. "Delisha cuma mau ketemu kak Zayyen itu aja kok! Semakin kak Zayyen larang semakin Delisha akan terus ke sini. Ini adalah tantangan untuk Delisha," ujar Delisha dengan tersenyum yang membuat Zayyen kesal. Bagaimana caranya ia membuat Delisha sedikit menjauh darinya? Gadis ini terlalu bebal sekali!
Zayyen masuk ke mobilnya dengan hati yang sangat kesal. Delisha hanya tertawa cekikikan melihat ekspresi Zayyen yang sangat lucu menurutnya.
__ADS_1
"Kak Zayyen punya Delisha! Kalau Delisha mati baru boleh ada perempuan lain yang mendekati kak Zayyen. Kan gak lucu nanti kak Zayyen jadi duda muda haha," ujar Delisha dengan tertawa tetapi perkataan Delisha semakin membuat Zayyen kesal.
Lebih baik Zayyen diam dari pada meladeni perkataan Delisha yang membuatnya stres.