Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 40 (Pemeriksaan)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya. Tinggalkan jejak kalian guys....


...Happy reading...


****


Fathan menatap Tri yang sedang tertidur dengan nyenyak, tumben sekali wanita itu belum bangun sampai sekarang bahkan Fathan sampai menyiapkan keperluannya sendiri. Tak masalah bagi Fathan karena ia sedang bahagia karena kemungkinan besar Tri sedang hamil anaknya.


Fathan duduk di pinggir kasur dengan pakaian yang sudah rapi. "Hanum, bangun Sayang!" ucap Fathan lembut dengan mengusap rambut istrinya dengan sayang.


Tri yang mendengar suara suaminya mencoba membuka matanya yang sangat terasa lengket. "Kenapa Mas rapi banget? Ini masih malam Mas. Apa ada pasien yang akan melahirkan?" tanya Tri yang belum sadar sepenuhnya.


Fathan terkekeh gemas, ia menggigit pipi cabi Tri. "Sadar Hanum. Ini sudah pagi," ujar Fathan masih terkekeh.


Mendengar kata pagi Tri langsung terbangun. Ia menatap jam dinding di kamarnya dengan wajah yang amat bingung. Fathan terbahak dan memeluk Tri dengan erat. "Sudah pagi, Sayang!" ucap Fathan dengan gemas.


"Kok cepat banget? Kayaknya aku baru tidur," ujar Tri.


"Mas juga sudah rapi. Maafkan aku ya Mas, aku gak tahu kenapa ngantuk banget," ujar Tri dengan wajah memelas.


"Gak apa-apa, Hanum! Sekarang bangun, mandi, Mas tunggu kita akan ke rumah sakit bersama," ujar Fathan dengan lembut.


"Ke rumah sakit?" ulang Tri menatap wajah tampan suaminya dengan bingung.


Fathan mengangguk dengan gemas. "Gak perlu banyak tanya. Ayo sekarang mandi, biar Cika Mas yang urus," ujar Fathan menggendong istrinya menuju kamar mandi.


Dengan perasaan yang masih bingung Tri menurut saja saat Fathan membawanya ke dalam kamar mandi. "Mau mandi sendiri atau Mas mandikan?" tanya Fathan dengan jahil.


"Mandi sendiri!" jawab Tri dengan cepat yang membuat Fathan terkekeh.


"Ya sudah cepat mandinya. Mas mau melihat Cika dulu," ujar Fathan mengusap rambut sang istri dengan lembut tak lupa meninggalkan ciuman di bibir Tri dengan gemas.


Setelah mencium istrinya Fathan keluar dari kamar mandi dan menutup pintunya kembali.


"Mas Fathan kenapa pagi ini sangat terlihat bahagia?" gumam Tri yang masih merasa bingung dengan wajah bahagia suaminya. Tidak ingin membuat suaminya menunggu Tri segera menanggalkan pakaiannya dan mandi di bawah guyuran air shower.


*****


Fathan membukakan pintu Tri saat mereka sampai di rumah sakit setelah mengantarkan Cika ke sekolahnya. Keadaan Cika sudah sangat membaik hingga anak itu ingin segera sekolah setelah sehari libur dan tidak bisa bertemu dengan Zayden. Pria kecil yang sudah mengklaim dirinya sebagai milik Zayden sampai kapan pun.


Saat Fathan ingin menggenggam tangan Tri tetapi wanita itu langsung melepaskan tangannya, Fathan menatap Tri dengan menaikan satu alisnya merasa tak setuju dengan tindakan Tri yang menolaknya saat ini Fathan tidak suka saat Tri menolak genggaman tangannya.

__ADS_1


"Kenapa di lepas?" protes Fathan tak terima.


"Ini rumah sakit Mas. Aku takut mama ada di sini dan berpikir yang macam-macam tentang kita. Apalagi ada Tiara juga bekerja di sini. Jika ada Cika aku bisa beralasan masuk ke ruangan Mas tapi kalau tidak ada Cika, Mas bisa menjadi gunjingan rekan kerja Mas nantinya," ujar Tri dengan raut wajah takutnya.


Fathan menghela napasnya dengan berat. Benar apa yang dikatakan Tri barusan. Kenapa Fathan tidak berpikir sampai sejauh itu. Di rumah sakit ini yang tahu dirinya sudah menikah adalah Zidan dan suster Pipit. Kedua orang itu juga sudah Fathan peringatkan agar tidak berbicara kepada yang lain terutama suster Pipit. Fathan akan memecat suster Pipit jika gadis itu sampai bocor kepada orang lain, bukan tanpa alasan Fathan mengatakan yang sejujurnya kepada suster Pipit karena suster tersebut bekerja dengannya dan tentu saja tahu data pasiennya. Fathan tidak ingin suster Pipit berpikir yang macam-macam tentang Tri atau pun dirinya.


"Mau gandeng tangan istri saja susah," dumel Fathan tidak terima yang membuat Tri tersenyum geli.


" Silahkan jalan duluan, Dok!"


"Hih...." Merasa geram dengan tingkah istrinya Fathan berjalan mendahului Tri terlebih dahulu. "Tetap di belakang Mas berjarak satu meter lebih dari itu Mas gendong kamu gak peduli semua orang di rumah sakit ini mengetahui hubungan kita," ucap Fathan dengan kesal.


"Iya, Mas!" jawab Tri mengulum senyumnya merasa lucu dengan tingkah suaminya yang sedang kesal.


Tiara tidak sengaja melihat Fathan dengan Tri berjalan bersama walau tidak beriringan tetapi sangat membuat Tiara curiga. Kenapa Tri berada di rumah sakit tanpa membawa Cika?


Sial!


Jika tidak ada pasien yang sudah menunggunya Tiara akan menghampiri keduanya. Entah mengapa Tiara merasa tidak suka dengan kedekatan Tri pada Fathan. Tepatnya bukan Tiara tetapi alter ego Tiara lah yang menatap keduanya dengan tidak suka. Apakah alter ego Tiara merasa cemburu?


"Wanita itu!" geram Tiara dengan mengepalkan tangannya. "Fathan hanya milikku! Dia adalah aset untuk membalaskan dendam kepada semua orang yang telah melukaiku! Aku tidak akan membiarkan mereka semakin dekat!" gumam Tiara dengan sinis.


****


Fathan mengangguk. "Fokuslah suster Pipit! Jika di dalam kepalamu masih banyak pertanyaan tentang kami. Simpan saja karena saya tidak akan memberitahu semuanya. Tri istri saya dan kamu tidak perlu tahu kapan kami menikah!" ujar Fathan dengan tajam.


"I-iya, Dok! Maafkan atas kelancangan saya, Dok!" ucap suster Pipit dengan gugup.


"Mas kenapa aku diperiksa lagi?" tanya Tri dengan bingung. Ia merasa canggung memanggil Fathan dengan sebutan 'mas' di hadapan suster Pipit.


"Lihat saja Hanum Nanti kamu akan tahu," ujar Fathan dengan misterius.


"Maaf, Bu!" ujar suster Pipit tersenyum membantu Tri menaikan bajunya ke atas.


Tri mengangguk dengan tersenyum. Ia memperhatikan suaminya yang sedang mengoleskan gel perutnya, setelah itu memeriksa dirinya dengan alat USG.


"Yeah ternyata benar dia sudah tumbuh di sini!" ujar Fathan dengan senang.


"T-tumbuh?" tanya Tri dengan tergagap menatap suaminya dan layar monitor yang menampilkan gambar rahimnya dan ada sebuah titik hitam di sana.


Fathan menatap istrinya dengan tersenyum. "Yah, dia sudah tumbuh Hanum. Dia sudah di rahim kamu, tidak bukan dia tapi mereka!" ujar Fathan dengan takjub.

__ADS_1


"Hah?"


"Kamu hamil, Hanum. Hamil anakku!" ujar Fathan dengan terharu.


"H-hamil? M-mas tidak bohong, kan?" tanya Tri memastikan.


Fathan menggeleng, ia menatap Tri penuh haru. Fathan memeluk Tri dan mencium wajah Tri bertubi-tubi tidak mempedulikan kehadiran suster Pipit yang menatap mereka dengan tersenyum.


"Selamat Dok, Bu. Akhirnya akan ada generasi dokter Fathan yang kedua bahkan kembar," ujar suster Pipit dengan tulus.


"K-kembar? A-aku hamil anak kembar?" tanya Tri dengan menatao suaminya.


Mendapatkan anggukan dari Fathan membuat Tri menangis haru bersama Fathan. "A-aku hamil Mas?!"


"Iya, Sayang!"


*****


"Dokter Barra!" panggil Tiara yang membuat Zidan berada tak jauh dari Tiara merasa cemburu.


Dokter Barra menghentikan langkahnya, ia menatap Tiara dengan tersenyum. "Kenapa? Bukannya kamu yang mengatakan kita berpura-pura tidak kenal?" ujar Dokter Barra penasaran.


Tiara terdiam. Ia ingin mengatakan sesuatu kepada dokter Barra tetapi ucapannya tertahan di tenggorokan.


"Kamu merindukannya?" tanya Barra yang mengerti tatapan penuh kerinduan di sana.


Tiara mengangguk dengan pelan. "Bisa aku meminta videonya? Aktivitas dia setiap hari?" tanya Tiara dengan sesak.


"Kenapa baru sekarang?" tanya Barra dengan pelan.


"Jangan bertanya kepadaku, Dok. Aku hanya ingin melihat wajahnya," ujar Tiara.


Dokter Barra mengangguk. "Dari awal sudah ku katakan jika kamu boleh menjenguknya. Tetapi kamu yang menolak," ujar Dokter Barra dengan dingin.


"Tidak usah mengungkit masa lalu. Aku memanggilmu hanya untuk meminta kamu mengirimkan video dia!" ujar Tiara dengan tajam.


"Baiklah aku...."


"Video dia? Dia siapa?"


"Dokter Zidan!"

__ADS_1


__ADS_2