
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...📌 Dukung terus novel terbaru author ya "Suami Bayaran Nona Rania" Ceritanya seru loh!...
...*...
...*...
...Happy reading...
***
Acara ulang tahun si kembar sudah di mulai. Banyak sepupu dari Devano, Davino, dan Devina yang datang meramaikan ulang tahun dari anak Delisha dan juga Ikbal tersebut. Menyusun tema princess dan superman membuat suasana ulang tahun si kembar terlihat sangat ramai.
Delisha dan Ikbal terlihat masih marahan, telebih Ikbal yang masih menahan kekesalannya kemarin dan Delisha bukannya membujuk dirinya malah asyik bersama dengan si kembar membuat Ikbal semakin jengkel dengan istrinya, ia menganggap jika Delisha kali ini tidak peka terhadap perasaannya. Tetapi Ikbal mencoba biasa saja karena tak mau merusak ulang tahun anaknya.
Perasaan Ikbal semakin jengkel saat Zayyen berserta istri dan anaknya datang ke rumahnya dengan membawa kado. Bahkan yang membuat Ikbal kesal adalah nama anak Zayyen yang sama dengan istrinya, itu berarti Zayyen memang belum bisa melupakan Delisha. Ikbal percaya dengan Delisha tetapi tidak dengan Zayyen, bisa saja setelah pertemuan ini ada pertemuan-pertemuan selanjutnya yang akan Zayyen lakukan beralasan jika anaknya Zayyen yang memintanya.Bisa jadi, kan?
Anggun menemani anaknya untuk memberikan kado pada Devano, Davino, dan Devina.
"Kak Devano, kak Davino, dan kak Devina, ini ada kado dari Delisha terima ya," ujar Delisha kecil dengan tersenyum.
"Terima kasih Delisha kecil," ujar Devano dengan tersenyum.
"Terima kasih Delisha!" ujar Davino dan Devina yang merasa aneh memanggil nama Delisha karena itu adalah nama mami mereka.
"Sama-sama!" sahut Delisha dengan tersenyum.
Danish yang sedang menggendong anak perempuannya pun merasa bingung. Zayyen memberikan nama anaknya dengan nama Delisha? Benar-benar tidak bisa move on?
Tak mau membuat acara semakin canggung Delisha bersuara. "Ayo kita potong kuenya, Sayang!" ujar Delisha dengan lembut.
"Iya, Mami!" jawab ketiga anaknya dengan bahagia.
Fiona melihat cucu-cucunya satu persatu. Di mulai dari anaknya Danish, Daniel, Dareel, dan juga Delisha dengan tersenyum bahagia walaupun hatinya merasa hampa karena besok juga tepat 5 tahun kepergian suaminya.
"Mas, Fio rindu!" gumam Fiona dengan lirih.
"Sekarang cucu kita sudah 7, Mas. Mereka sangat tampan-tampan dan cantik-cantik," gumam Fiona di dalam hati.
Suasana ulang tahun kali ini sangat penuh haru. Dan acara sudah selesai dengan rasa yang amat menggembirakan bagi si kembar. Ikbal menuju kamarnya tanpa berpamitan dengan para keluarganya dan juga istrinya, ia masih sangat kesal dengan kedatangan Zayyen di rumahnya.
__ADS_1
Delisha melihat kepergian suaminya dengan menghela napasnya pelan, baru kali ini ia melihat Ikbal semarah ini.
"Kalian ada masalah?" tanya Fiona kepada anaknya.
"Kenapa dengan Ikbal, Sayang?" tanya Claudia pada menantunya.
Delisha tersenyum. "Ada kesalahpahaman sedikit, Mi, Ma! Delisha ke kamar dulu ya tolong ya, Mami, Mama, tamu-tamu diajak ngobrol. Delisha mau bujuk mas Ikbal dulu," ujar Delisha dengan pelan.
"Iya, Sayang. Bujuk Ikbal secepatnya ya," ujar Claudia.
"Iya, Ma!"
Delisha berjalan menaiki tangga untuk menuju kamar dirinya dan juga Ikbal. Baru kali ini Ikbal terlihat benar-benar marah dengannya bahkan semalam Ikbal tertidur memunggunginya tanpa memeluk dirinya padahal biasanya Ikbal tak bisa tanpa memeluk dirinya.
Delisha membuka pintu kamarnya dengan perlahan, ia menghela napasnya dengan perlahan saat melihat Ikbal lebih fokus ke laptop tanpa menghiraukan suara bunyi pintu terbuka.
"Mas!" panggil Delisha dengan pelan.
"Mas Ikbal!" panggil Delisha sekali lagi karena panggilan pertamanya sama sekali tidak di respon oleh Ikbal.
Delisha mendekati suaminya dan ia menatap wajah Ikbal yang sangat terlihat datar. "Mas masih marah ya?" tanya Delisha dengan pelan.
"Mas lihat Delisha dong!" ujar Delisha dengan merengek.
"Mas marah sama Delisha? Delisha gak mungkin suka lagi sama kak Zayyen, Mas! Kita sudah hampir 11 tahun menikah. Mas belum percaya kalau Delisha sudah melupakan kak Zayyen? Delisha hanya mencintai Mas Ikbal. Tak terbesit di benak Delisha sekali pun kalau Delisha ingin kembali ke kak Zayyen," ujar Delisha menjelaskan.
"Mas ngomong dong sama Delisha! Delisha salah apa? Biar Delisha perbaiki. Kalau masalah Devano yang tiba-tiba saja menjadi dekat dengan anaknya kak Zayyen itu bukan kehendak Delisha, Mas. Mereka masih kecil dan wajar saja mereka berteman," ujar Delisha dengan pelan.
"Berteman? Sampai kapanpun aku tidak akan mengizinkan Devano, Davino, dan Devina berteman dengan anak dari Zayyen!" ujar Ikbal dengan kesal.
"Kamu lupa bagaimana Zayyen memperlakukan kamu dulu? Kamu lupa jika kamu dulu sangat mencintai Zayyen? Dan sekarang anak kita berteman dengan anak Zayyen, itu artinya pertemuan kamu dengan Zayyen semakin sering! Tambah gak bisa move on Zayyen dari kamu! Zayyen memberikan nama anaknya dengan nama Delisha itu juga sudah membuktikan jika dia masih mencintai kamu!'" ujar Ikbal dengan tajam.
"Mas kok gitu sama Delisha?! Delisha kan gak bicara dengan kak Zayyen, Mas! Mas gak percaya sama Delisha?!" ucap Delisha dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa kamu mengundang mereka ke sini? Itu artinya kamu pun ingin melihat Zayyen, kan?" ujar Ikbal dengan tegas.
"Mas..."
"Jangan ganggu dulu!" ujar Ikbal untuk meredakan amarahnya agar ia tidak menyakiti istrinya.
"Mas jahat! Mas sudah gak percaya lagi sama Delisha!" ujar Delisha dengan mata berkaca-kaca.
Delisha melihat suaminya seakan tak percaya lagi kepadanya dan itu benar-benar menyakitkan untuk dirinya. Delisha memegang dadanya.
__ADS_1
"Akhh..."
Ikbal melirik ke arah Delisha. "Gak usah berpura-pura! Aku tahu kamu cuma berpura-pura sakit," ujar Ikbal dengan datar padahal di dalam hatinya ia benar-benar khawatir dengan Delisha.
Delisha semakin memegang dadanya dengan kuat, ia menduduk dengan mendesis lirih.
"Aargghh...."
Ikbal langsung melemparkan laptop mahal miliknya begitu saja saat melihat Delisha hampir terjatuh dari kasur.
"Sayang kamu kenapa? Jangan buat Mas khawatir," ujar Ikbal memegang Delisha.
"S-sakit..."
"Apa yang sakit, Sayang? Maafkan Mas! Mas salah! Mas hanya kesal dengan Zayyen, jujur Mas juga kesal dengan kamu karena mengundang mereka ke ulang tahun anak kita. Sungguh Mas sangat memikirkan jika Devano benar-benar menyukai Delisha saat dewasa! Mas gak mau jadi besan dengan Zayyen, Sayang! Mas cemburu! Mas terlalu takut kamu kembali ke Zayyen," ujar Ikbal dengan panik.
Delisha mendongakkan wajahnya menatap Ikbal. Dapat ia lihat wajah penuh kekhawatiran dari Ikbal kepadanya.
"Dada kamu sakit lagi? Penyakit kamu gak kambuh kan, Sayang? Jantung kamu baik-baik saja, kan?" tanya Ikbal dengan cemas.
"A-aku..."
"Sayang jangan buat aku khawatir!" ujar Ikbal dengan panik.
Delisha tersenyum.
Cup...
"Aku bohong!" ujar Delisha terkekeh yang membuat Ikbal mendelik kesal.
"Bisa-bisanya kamu buat Mas khawatir! Mas benar-benar panik Delisha! Kamu cuma bercanda!" ujar Ikbal dengan kesal tetapi hatinya sangat merasa lega saat istrinya baik-baik saja.
Ikbal memeluk Delisha dengan erat yang membuat Delisha tersenyum dan memeluk suaminya juga. "Maaf!" gumam Delisha dengan sungguh-sungguh.
"Nakal! Mas sudah sangat takut tadi," gumam Ikbal dengan menangis.
"Maaf suamiku! Aku cuma gak mau Mas mengabaikan aku," ujar Delisha dengan manja.
"Biar gak marah lagi bagaimana kalau kita berc*nta saja?" tanya Delisha dengan mengerling nakal ke arah Ikbal.
"Menantang suami kamu hmmm? Sepertinya si kembar sudah cocok diberikan adik," ujar Ikbal menggendong istrinya ke arah kasur.
Ikbal benar-benar sangat mencintai Delisha. Ia tidak bisa kehilangan Delisha. Bagi Ikbal Delisha adalah jiwanya dan juga nyawanya. Sampai kapanpun Delisha akan menjadi miliknya.
__ADS_1
"I love you cantikku!"
"I love you too gantengku!"