Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 27 (Hanya Pengasuh)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya. Tinggalkan jejak kalian dengan bom like dan komentar sebanyak-banyaknya, alu tunggu loh....


...Happy reading...


*****


"Bi, Hanum itu sekarang istri saya. Jadi, dia juga nyonya di rumah ini, jangan biarin dia capek ya Bi," ucap Fathan kepada bi Sumi.


Bi Sumi mengangguk dengan patuh. "Iya, Pak. Tapi bagaimana kalau nyonya besar datang saya harus jawab apa kalau tanya yang aneh-aneh?" tanya Bi Sumi bingung.


Bi Sumi merasa bahagia ketika Fathan bisa menikah lagi dan menata hidup yang baru bersama dengan Tri, tetapi ia merasa takut dengan mama Yesha yang memang sangat galak. Bi Sumi taku keceplosan bicara dan membuat sang nyonya besar murka.


"Bi Sumi dilarang mengatakan kepada mama tentang pernikahan saya dan Hanum. Itu bisa gawat, jika waktunya telah tiba maka saya sendiri yang akan mengatakannya sendiri sama mama," ucap Fathan dengan tegas.


"Bibi paham, kan?" tanya Fathan memastikan.


"Paham, Pak!" jawab Bi Sumi dengan tersenyum.


Setelah Fathan selesai berbicara dengan bi Sumi. Tri datang dari atas dengan menggandeng tangan Cika.


"Hari ini pertama Cika masuk sekolah, Mas. Kita antarin berdua ya," ucap Tri dengan tersenyum.


"Iya, Hanum!" jawab Fathan dengan membalas senyuman Tri.


Fathan mengacak rambut Cika dengan gemas. "Cantik banget anak Papa wangi lagi," ucap Fathan dengan gemas.


"Anak mama juga, Pa!" protes Cika tidak terima membuat Tri dan Fathan terkekeh bersama.


"Iya anak Papa dan Mama. Senang gak sudah bisa sekolah?" tanya Fathan.


"Senang banget dong, Pa! Nanti Cika pasti punya teman baru," ucap Cika dengan semangat.


"Pasti, Dong. Sekarang ayo kita sarapan dulu," ucap Fathan.


Cika mengangguk dengan semangat, gadis kecil itu berlari ke meja makan meninggalkan kedua orang tuanya.

__ADS_1


Tri memandang Fathan dengan tersenyum, ia mendekat ke arah Fathan dan mengancingkan kemeja bagian atas suaminya dengan benar. Entah sengaja atau tidak, selama menikah Fathan tidak pernah becus memakai kemejanya sendiri pasti ada kancing yang terbuka seperti ini. Entahlah mungkin ini hanya akal-akalan Fathan untuk mendapatkan perhatian Tri.


"Pakai baju itu yang rapi, Mas! Malu sama pasien!" ujar Tri dengan pelan.


Fathan tidak menjawab, ia hanya memandang Tri dalam diam. Istrinya itu harus berjinjit agar bisa mengancingkan bajunya.


Tri yang tidak mendapat respon apapun akhirnya mendongakkan wajahnya menatap suaminya.


Blushh...


Tri merasa kedua pipinya memanas saat melihat Fathan menatap begitu dalam. "Apaan sih, Mas!" ucap Tri salting sendiri.


Fathan terkekeh, ia memeluk Tri dengan erat dan mencium kening istrinya dengan lembut yang membuat Tri menikmati ciuman suaminya dengan tersenyum malu. "Enaknya punya istri tuh gini kalau baju gak rapi ya di rapikan," ujar Fathan dengan tersenyum.


"Modus!" cibik Tri tetapi wajahnya memerah tomat.


"Bukan, Sayang!" Fathan jarang memanggilnya dengan sebutan 'sayang' jadi setiap Fathan memanggilnya begitu Tri selalu deg-degan, wanita itu baper!


"A-ayo kita sarapan, Mas!" ucap Tri mengalihkan pembicaraan agar Fathan tidak terus menerus membuat detak jantungnya menggila seperti sekarang.


Fathan mengangguk, ia merangkul sang istri menuju meja makan dan makam dengan tenang sesekali suara cerewet Cika yang menghiasi kesunyian di antara mereka.


****


Mama Yesha geram melihat Tri yang duduk di sofa dengan santai. "Jadi ini kelakuan kamu ketika anak saya kerja?!" ucap Mama Yesha dengan tajam.


Tri yang tidak tahu jika mertuanya itu datang langsung terkejut mendengar nada mama Yesha marah-marah kepadanya. Sadar akan kesalahannya Tri langsung bangun dari sofa dan menunduk takut.


"SUMI!" teriak Mama Yesha dengan kencang.


Bi Sumi yang dipanggil langsung berlari tergopoh-gopoh menghampiri nyonya besarnya.


"I-iya, Bu. A-ada yang bisa saya bantu?" tanya Bi Sumi dengan terbata karena takut.


"Di mana anak dan cucu saya? Kenapa membiarakan S-E-O-R-A-N-G P-E-N-G-A-S-U-H seperti dia duduk santai seperti ini?" ucap Mama Yesha dengan marah menunjuk ke arah Tri .

__ADS_1


Tri sangat takut dengan kemarahan mama Yesha sekarang bahkan tubuhnya sampai gemetar, tangisnya ingin mendesak keluar namun Tri menahannya sebisa mungkin.


"A-anu, Bu!" Bi Sumi tampak takut melihat kemarahan sang nyonya besar.


"ANU APA?" bentak Mama Yesha dengan keras.


Mama Yesha melihat ke arah Tri dengan tajam, ia mendorong kepala Tri sedikit kasar membuat Tri hampir terhuyung ke belakang. Tri tidak lagi bisa menahan tangisannya, akhirnya air matanya keluar seiring rasa sakit yang ia rasakan semakin menjadi di hatinya.


"Saya peringatkan ke kamu, Tri! Kamu itu hanya pengasuh Cika yang kapan saja bisa saya pecat! Sadar diri kamu! Di rumah ini kamu hanya pengasuh jangan sok bertingkah sebagai majikan! Jangan-jangan kamu selalu seperti ini ketika anak saya tidak ada di rumah ya?" desis Mama Yesha dengan tajam.


Tri menggeleng, ia tidak terima dituduh seperti itu tetapi dirinya tidak bisa melakukan apapun. "T-tidak Nyonya! S-saya tadi hanya duduk sebentar saja," ucap Tri membela diri.


"Alasan! Saya akan benar-benar akan memecat kamu nanti, Tri! Cucu saya bisa mencontoh hal buruk kepada kamu. Bisa-bisanya Fathan mempertahan kamu! Jika suasana hati saya tidak sedang bahagia karena malam ini pertunangan anak saya akan diadakan sudah habis kamu sama saya Tri!" bentak Mama Yesha dengan kejam.


"Cika mana?" tanya Mama Yesha kepada bi Sumi.


"Cika sekolah, Nya!" ucap Tri dengan lirih.


"Saya tidak bertanya sama kamu!" ucap Mama Yesha dengan ketus.


Mama Yesha melenggang pergi begitu saja saat sudah memarahi Tri dengan begitu kejam. Seharusnya tadi ia menunggu Cika di sekolahnya agar tidak bertemu dengan mama Fathan.


Tri duduk di sofa kembali dengan terisak lirih. Tangisnya tidak bisa lagi terbendung setelah mama Yesha benar-benar pergi dari rumah ini. Apalagi mendengar dari mulut mama Yesha secara langsung jika malam ini Fathan dan Tiara akan bertunangan membuat hati Tri terasa panas.


"I-ibu tidak apa-apa?" tanya Bi Sumi dengan iba.


Tri menghapus air matanya dengan cepat dan berusaha tersenyum di depan bi Sumi. "Saya tidak apa-apa, Bi! Tolong kejadian tadi bibi jangan mengatakannya dengan mas Fathan ya?! Saya tidak mau mas Fathan marah sama mamanya," ujar Tri dengan tersenyum walau hati Tri menjerit menangis sekarang.


"T-tapi, Bu..."


"Saya mohon, Bi!" ucap Tri dengan memohon.


Bi Sumi yang tidak tega melihat wajah Tri langsung mengangguk setuju.


"Terima kasih, Bi! Kalau gitu saya ke kamar dulu ya, Bi. Tiba-tiba kepala saya pusing, saya mau istirahat dulu ya, Bi. Nanti kalau sudah jam 10 tolong bangunkan saya, saya harus jemput Cika di sekolahnya," ucap Tri dengan pelan.

__ADS_1


"Iya, Bu."


Bi Sumi menatap kepergian Tri dengan sendu. "Maaf, Bu. Kali ini bibi harus mengatakan kepada pak Fathan bagaimana kelakuan nyonya besar memarahi ibu sampai ibu nangis seperti ini. Saya benar-benar tidak tega melihat ibu menangis padahal sekarang ibu adalah pemilik rumah ini tetapi diperlakukan seperti pembantu oleh mertua ibu sendiri," gumam Bi Sumi dengan pelan.


__ADS_2