Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 106 (Tangan Palsu)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya....


...Happy reading...


***


Tiara menatap tangan palsunya dengan tatapan kosong. Lalu ia tersenyum memegang tangan palsunya dengan perlahan.


"Cantik," gumam Tiara tersenyum samar. Walaupun tak bisa di pungkiri jika hatinya sakit melihat tangannya sudah di amputasi dan sudah digantikan dengan tangan palsu yang hampir mirip dengan tangan aslinya.


"Aku sudah gak bisa jadi dokter?" gumam Tiara dengan miris.


Dan ternyata ucapannya di dengar oleh Zidan yang baru saja masuk ke ruangan Tiara setelah berbicara dengan dokter Ridwan mengenai kesehatan Tiara dan kapan Tiara di perbolehkan pulang.


Zidan merasa hatinya sesak mendengar perkataan istrinya yang terdengar bergetar menahan tangis.


Zidan tak berani bersuara ia memperhatikan istrinya yang berjalan ke arah meja di samping tempat tidurnya. Tiara menatap gelas yang berisi minum dan berusaha menggerakkan tangan palsunya untuk mengambil gelas berisi air minum tersebut.


Pyarr....


Gelas yang Tiara coba genggam terjatuh di lantai dan pecah. Tubuh Tiara mundur ke belakang dengan mata yang berkaca-kaca. Bagaimana ia nanti melayani Zidan? Bahkan mengambil gelas pun tak bisa ia lakukan.


Zidan langsung berlari ke arah Tiara dan mengambil pecahan gelas tersebut agar tidak mengenai kaki istrinya. Sedangkan Tiara masih menatap kosong ke arah hhelas yang ia sudah pecahkan.


Setelah selesai mengumpulkan pecahan gelas, Zidan membuangnya di tong sampah. Ia kembali bangun menatap istrinya dengan dalam dan khawatir.


Tanpa kata Zidan memeluk tubuh Tiara dengan erat. "Gak apa-apa, Ay. Bagi aku, Zayyen, Zayden, kamu adalah wanita sempurna. Jangan merasa sedih ya, Ay. Kami selalu ada buat kamu," ucap Zidan dengan sesak bahkan lelaki itu menahan tangisnya agar tidak pecah di depan Tiara yang terlihat sedang terguncang.


"Hehehe...aku gak bisa pegang sesuatu lagi, Mas. Gimana ini? Aku bukan lagi wanita yang sempurna untuk kamu. Kamu kok mau sih menikahi wanita cacat ini hmm?" ucap Tiara dengan mata berkaca-kaca.


"Ay-"


Tangisan Tiara pecah saat Zidan memeluknya kembali bahkan lebih erat dari sebelumnya. Hatinya rapuh tapi ini sudah takdirnya, dan Tiara berusaha menerima kekurangannya. Tapi tetap saja hatinya sakit saat pergerakannya sekarang terbatas.


"Hiks...Kapan aku boleh pulang? Aku sudah tidak betah di rumah sakit! Aku mau pulang!" ucap Tiara dengan menangis.


Zidan juga mengeluarkan air matanya. Namun, cepat-cepat ia usap dengan jarinya. "Dua hari lagi kamu boleh pulang, Ay. Jangan nangis dong! Nanti dilihat anak kita bagaimana?" ucap Zidan berusaha menghibur istrinya.


Tak lama Tiara mulai bisa mengendalikan dirinya sendiri. Ia mulai bisa tersenyum mendengar kata jika kedua anaknya akan ke rumah sakit.

__ADS_1


"Ay!" panggil Zidan dengan menangkup wajah Tiara dengan kedua tangannya.


"Mas mau tanya sama kamu. Tapi kamu jangan marah ya!" ujar Zidan dengan pelan. Jemari Zidan mengusap air mata Tiara dengan lembut.


"Apa?" tanya Tiara dengan lirih.


"Alter ego kamu sudah tidak ada, kan? Maksud Mas dia tidak menguasai pikiran kamu lagi, kan?" tanya Zidan dengan hati-hati karena sejak saat Tiara sadar Zidan memang ingin menanyakan ini kepada Tiara.


"Alter ego? Mas apa-apaan sih nuduh aku punya alter ego?" ucap Tiara dengan kesal.


"Ay, t-tapi.. "


"Mama..."


"Mama..."


Perkataan Zidan terpotong saat Zayyen dan Zayden berteriak memanggil Tiara. Kedua anak itu berebut ingin segera sampai memeluk Tiara hingga Zayden dengan sengajs mendorong Zayyen hingga anak itu terjatuh.


Zidan dan Tiara membelalakkan matanya. Dengan cepat Zidan menghampiri Zayyen yang terjatuh dengan wajah yang amat dingin menatap ke arah Zayden.


"Zayyen gak apa-apa!" ucap Zayyen sebelum Zidan bertanya kepadanya. Rasanya sakit saat di musuhi kembaran sendiri sampai sekarang bahkan di saat mama mereka sudah baik-baik saja.


"Zayden, minta maaf sama kakak kamu sekarang juga! Papa gak suka kamu kasar kayak tadi," ucap Zidan dengan tegas.


"Zayden gak sengaja!" ucap Zayden memeluk Tiara.


"Zayden minta maaf sama kakak. Gak baik seperti itu," ucap Tiara dengan lembut mengelus kepala anaknya dengan perlahan.


Mau tidak mau Zayden mengulurkan tangannya di depan Zayyen. "Maaf!" ucap Zayden dengan singkat.


"Iya!" jawab Zayyen tak kalah singkat.


Ayah Felix dan ibu Mala yang baru saja masuk terlihat bingung dengan apa yang terjadi terhadap kedua cucu kembarnya.


Ibu Mala bertanya lewat isyarat kepada Zidan.


"Biasa, Bu. Berantem lagi," ujar Zidan dengan memijat pelipisnya yang membuat ibu Mala dan ayah Felix terlihat menghela napasnya dengan perlahan. Bagaimana caranya lagi mendamaikan keduanya?


"Dari pada berantem terus mending kita makan bersama ya. Mama kan udah sembuh dan kita sebentar lagi bisa kumpul di rumah," ucap Ibu Mala menengahi.

__ADS_1


"Kalau kalian berantem terus. Mama kalian kakek sita!" ujar ayah Felix yang membuat keduanya panik.


"Jangan!" teriak Zayyen dan Zayden bersamaan yang membuat ke-empat orang dewasa tersebut sedikit lega karena keduanya tak lagi memancarkan aura permusuhan.


Akhirnya mereka makan bersama dengan Zayden dan Zayyen berebut ingin menyuapi Tiara. Tetapi setidaknya itu bisa membuat hati Tiara tenang tidak memikirkan tangannya lagi.


****


"Anak-anak Papa sudah wangi! Atu-tu lucunya," ucap Fathan dengan gemas setelah memandikan keduanya.


Nevan dan Nessa tampak tenang saat Fathan sudah selesai memakai baju mereka. Sedangkan Tri dan Cika sedang berada di dalam kamar mandi untuk mandi bersama. Sejak kelahiran kedua adiknya Cika tampak lebih manja dengan Tri.


"Saatnya kita berjemur! Biarkan mama dan kakak kalian mandi dulu ya," ucap Fathan kepada kedua anaknya yang terlihat memasukkan tangan mereka ke dalam mulut.


Fathan sebisa mungkin membantu istrinya dalam mengurus ketiga anak mereka. Ia tak mau Tri stres karena menganggap dirinya kurang memberikan kasih sayang. Dan sebisa mungkin Fathan memiliki waktu berdua dengan istrinya saja.


Fathan membawa Nevan dan Nessa ke balkon karena cahaya matahari tepat bersinar di sana. Keduanya tampak merengek kecil lalu menutup matanya karena merasa silau.


Fathan terkekeh melihat betapa lucunya kedua anaknya. Sekarang ia merasa jika hidupnya telah sempurna.


"Tika, bukan maksud Mas melupakanmu. Kamu akan tetap ada di hati Mas sampai kapan pun! Kamu dan Tri adalah dua wanita spesial yang ada di hati Mas. Mas bahagia karena sekarang keluarga Mas sudah lengkap. Lihatlah Cika, sakarang dia sudah tumbuh menjadi anak yang sangat cantik dan lihat juga anak Mas bersama dengan Tri mereka tampan dan cantik, bukan?" gumam Fathan dengan lirih.


"Berjemur biar sehat ya, Nak!" ucap Fathan menciumi pipi kedua anaknya secara bergantian dan tak lama Fathan mendengar suara istri dan anaknya keluar dari dalam kamar mandi dengan tertawa lepas.


"Nevan sama Nessa di bawa kemana ya?" tanya Tri kepada Cika.


"Kami di sini, Mama!" ucap Fathan sedikit keras yang membuat Fathan dan Cika tersenyum.


"Itu Papa, Ma. Bawa adek berjemur di balkon," ucap Cika dengan tersenyum.


"Oo iya, Sayang. Lambaikan tangan ke arah Papa!" perintah Tri dan dengan senang hati Cika melakukannya.


"Hei dua wanita cantik cepatlah berganti pakaian dan bergabung bersama kami di sini!" ucap Fathan yang diangguki oleh Tri dan Cika.


"Tunggu sebentar, Pa!"


"Mama, aku mau rambutku di kepang!" pinta Cika.


"Iya, Sayang!"

__ADS_1


Tri tidak pernah berpikir jika menjadi ibu dari tiga orang anak sangatlah menyenangkan walau sangat melelahkan juga. Jam tidurnya menjadi berkurang saat kelahiran kedua anak kembarnya, belum lagi Cika yang rewel karena ingin di manja juga. Untung saja Fathan membantunya mungkin jika tidak Tri akan pusing dan berakhir stres.


"Keluargaku sudah sangat bahagia Ya Tuhan. Biarkan kami tetap seperti ini menyambut hari-hari ke depannya!" doa Tri dengan tulus.


__ADS_2