
...Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...Happy reading...
***
"Argghhh..." Zayden berteriak dengan kencang dengan menjambak rambutnya sendiri.
Sejak kejadian semalam dan sampai menjelang pagi Zayden sama sekali tidak tertidur, keadaannya sudah sangat berantakan sekali bahkan kamarnya sudah seperti kapal pecah.
Darah yang mengalir di tangannya karena meninju cermin di kamarnya sudah mengering. Zayden sama sekali tidak merasakan sakit pada tangannya bahkan lelaki itu tak merasakan ngantuk sama sekali, hatinya begitu kacau karena Cika yang tak kunjung datang bahkan saat di telepon gadis itu mematikan ponselnya sejak semalam.
"Ini semua karena wanita jal*ng itu!" teriak Zayden dengan keras.
"Gue gak akan membiarkan dia hidup tenang! GAK AKAN! DIA HARUS MENDERITA!" teriak Zayden melempar apa saja yang berada di dekatnya.
Bahkan Zayden meminum minuman keras. Lelaki itu sudah setengah sadar, ia terkekeh lalu menangis. Zayden terlalu mencintai Cika sejak dulu, sifat mendominasi dirinya untuk Cika karena tak ingin kehilangan gadis itu.
Zayden meneguk minuman keras yang berada di dalam botol. Rasa terbakar pada tenggorokannya tak membuat Zayden menyudahi kegiatannya. Ia semakin terhanyut dalam dunianya sendiri.
"Astaghfirullah, Ay!" teriak Cika merebut botol minuman keras dari tangan Zayden dengan paksa.
"Balikin!" ujar Zayden dengan pelan.
"Enggak!" ujar Cika dengan tajam.
"BALIKIN MINUMAN GUE!" teriak Zayden dengan marah.
Ia belum sadar jika yang datang adalah Cika. Zayden merasa Cika sudah mengganggu kesenangannya, padahal dengan begini ia bisa lupa dengan masalahnya. Namun, minuman itu direbut paksa oleh Cika sekarang.
Betapa kagetnya Cika saat melihat keberadaan Zayden yang sangat berantakan. Kamar lelaki itu sudah seperti kapal pecah, ia tidak menyangka jika akan seperti ini jadinya.
Zayden menarik tangan Cika dengan kasar. "BALIKIN ATAU GUE BUNUH LO SEKARANG JUGA! LO GAK TAU GUE KACAU SEKARANG! KEKASIH GUE SALAH PAHAM SAMA SI WANITA JAL*NG!" teriak Zayden di depan muka Cika.
Nyut...
Hati Cika begitu sakit melihat keadaan Zayden yang seperti ini. Cika tak mempedulikan genggaman tangan Zayden yang terasa sakit untuknya. Sekarang ini Zayden dalam pengaruh minuman beralkohol tinggi, semuanya tidak terkontrol apalagi ketika kepribadian ganda Zayden yabg sudah mengusai tubuh Zayden saat ini.
Brak...
Zayden mendorong Cika ke tembok, ia mencekik leher Cika dengan kuat saat Cika melempar minumannya hingga pecah di lantai. Dalam pandangan Zayden sekarang Cika adalah Widya yang menyebabkan dirinya dan Cika terjadi kesalahpahaman.
"Kamu harus mati wanita jal*ng! Gara-gara kamu semuanya berantakan!" desis Zayden dengan menyeringai.
"Uhuk...uhuk...Ay, i-ini a-aku C-cika!" ujar Cika dengan terbatuk dan wajah yang sudah memerah karena merasakan sakit pada lehernya.
"Hahaha... Sekarang lo mau ngaku-ngaku jadi Cika hmm? Dasar wanita sialan!" ujar Zayden dengan tajam dan semakin kencang mencekik leher Cika.
Ia begitu marah dengan dengan Widya hingga dirinya sampai berhalusinasi karena pengaruh minuman keras yang ia minum.
__ADS_1
Napas Cika sudah sesak bahkan kepalanya sudah sakit, ia merasa pasokan udaranya kian menipis. Cika berusaha menyadarkan Zayden dengan memukul lengan pria itu sebisa dirinya saat ini.
"Zayden! S-sadar, Ay!" ujar Cika dengan pelan.
"Sadar lo bilang?! Seharusnya lo yang sadar karena telah membuat gue hampir kehilangan Cika!" teriak Zayden di depan wajah Cika dengan penuh amarah.
"Uhuk...uhuk..."
Napas Cika terasa sudah habis perlahan gadis itu menutup matanya dengan meneteskan air matanya. Tubuh gadis itu melemah dan Zayden melepaskan kecikkannya.
Tubuh Cika terjatuh di lantai di saat itulah Zayden mendapatkan kesadarannya kembali.
"Ay!" gumam Zayden dengan meringis karena sakit pada bagian kepalanya.
Saat ini Zayden tak mengingat apapun. Seperti tak terjadi apapun Zayden mendekat ke arah Cika. "Kenapa kamu tidur di sini, Ay? Akhirnya kamu datang! Aku kangen banget sama kamu, Ay!" ujar Zayden dengan pelan.
Zayden tersenyum dan segera menggendong tubuh Cika. Gadis itu pingsan karena kehabisan pasokan oksigen karena cekikan Zayden yang sangat kuat.
Zayden membawa Cika ke kasurnya. Ia menidurkan Cika dengan perlahan dengan Zayden yang ikut berbaring di samping Cika. Zayden memeluk Cika dengan erat, ia tak ingin kehilangan Cika sama sekali. Bahkan Zayden terus memandang wajah Cika dengan penuh cinta.
"I miss you. Aku bisa mati kalau gak ada kamu, Ay!" gumam Zayden dengan tersenyum.
***
Pagi ini wajah Delisha terlihat sangat pucat sekali. Setelah Ikbal mengantarkan dirinya pulang gadis itu kembali teringat dengan Zayyen yang melupakan keberadaan dirinya di taman. Delisha menangis dalam diam hingga larut malam dan ia melupakan obatnya bahkan Delisha mengabaikan rasa sakitnya sendiri.
"Pi, Mi, Kak, Delisha berangkat ya!" ujar Delisha dengan tersenyum.
"Sarapan dulu, Sayang!" ujar Fiona dengan lembut.
"Bawa bekal aja ya, Mi! Delisha mau makan di sekolah," ujar Delisha dengan pelan.
"Kok buru-buru? Kenapa?" tanya Danish curiga.
"Buru-buru karena Delisha mau makan di sekolah, Kakak! Kayaknya enak bawa bekal!" ujar Delisha dengan tersenyum seakan dirinya ceria seperti biasa.
"Semalam bahagia sama Ikbal, kan?" tahu Daniel.
Delisha mengangguk dengan mantap. "Delisha dapat kartu hitam dari kak Ikbal! Kata kak Ikbal disuruh habiskan! Delisha mau beli kucing pakai uang kak Ikbal," ujar Delisha bahagia.
"Ck...Keluarga kita masih kaya, Dek. Kamu mau terima gitu aja," ujar Dareel.
"Delisha gak minta kok!" sahut Delisha dengan cemberut.
"Mi, bekal Delisha mana?" tanya Delisha menatap maminya dengan manja.
"Masih disiapkan sama pelayan! Tunggu sebentar ya," ujar Fiona yang diangguki oleh Delisha.
Delisha duduk di pangkuan Danish saat ia merasa tubuhnya tak kuat untuk berdiri terlalu lama.
__ADS_1
"Manja banget pagi ini hmm?" ucap Danish mengelus kepala adiknya dengan sayang.
"Kaki Delisha sakit padahal kak Ikbal udah gendong Delisha. Seharusnya kan kaki kak Ikbal yang sakit," ujar Delisha cemberut.
"Hari ini gak usah sekolah ya!" ujar Akbar secara tiba-tiba. Entah mengapa hatinya merasa tak enak pagi ini.
"Papi ihh! Nanti Delisha gak lulus kalau banyakan gak sekolah," ujar Delisha cemberut.
"Bisa homeschooling, Sayang!" ujar Akbar dengan pelan.
"Papi!" ujar Delisha dengan mata berkaca-kaca.
"Delisha kan udah bilang sama Papi kalau Delisha gak mau dianggap anak penyakitan!" ujar Delisha dengan menangis.
"Papi jahat hiks..."
Akbar merasak bersalah kepada anaknya sekarang. "Maafkan Papi, Nak!" ujar Akbar dengan sendu.
Akbar menghampiri anaknya dan memeluk Delisha dengan erat. Fiona, Danish, Daniel, dan Dareel hanya bisa diam ketika Delisha dalam fase seperti ini, jika mereka ikut berbicara Delisha akan bertambah nangis.
"Hiks...hiks...Delisha cuma mau hidup normal kayak anak yang lainnya," ujar Delisha memeluk Akbar dengan erat.
Fiona tak bisa menahan air matanya lagi, ia menangis karena ikut merasakan betapa tersiksanya anak bungsunya.
"P-papi...." Delisha memanggil Akbar dengan perlahan.
Napas Delisha sangat terasa sesak saat ini. Rasa sakit yang ia rasakan semalam semakin terasa sakit pagi ini.
"Iya, Nak!" ujar Akbar yang belum menyadari jika penyakit Delisha kambuh.
Napas Delisha mulai tak beraturan. Akbar yang mulai menyadari seketika langsung panik.
"DELISHA!" teriak semuanya dengan panik saat tubuh Delisha melemah.
Delisha tidak bisa bernapas, sesak yang menghimpit paru-parunya membuat Delisha kesakitan. Bahkan air mata gadis itu mulai mengalir di sudut matanya.
"B-bawa Delisha ke rumah sakit cepat!" teriak Akbar dengan panik.
Daniel menggendong adiknya dengan cepat. Delisha terus memegangi dadanya yang sangat sakit.
"K-kak..." Delisha berucap dengan sangat pelan.
"Jangan banyak bicara, Dek. Kita ke rumah sakit sekarang!" ujar Daniel dengan tegas berlari ke wrah mobil diikuti oleh yang lainnya dengan wajah yang begitu panik. Bahkan semua orang ikut menangis karena setelah sekian lama mereka kembali melihat Delisha kambuh dengan keadaan yang parah seperti ini.
"A-adek g-gak k-kuat l-lagi," gumam Delisha yang terus memegangi dadanya.
"Hiks...jangan ngomong seperti itu, Sayang. Mami mohon bertahan untuk Mami, Papi, kak Danish, kak Daniel, kak Dareel!" ujar Fiona dengan menangis.
"S-sakit, Mi!" ujar Delisha dengan lirih.
__ADS_1
"ARGH....."
"DELISHA!!!"