Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 56 (Terungkap)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya....


...Happy reading...


****


"Kenapa kamu sembunyikan semuanya dari aku?" tanya Tiara dengan lirih.


"M-maksud kamu apa, Ay?" tanya Zidan dengan menelan ludahnya kasar.


"Aku sudah tahu semuanya, Mas! Kenapa mereka jahat sama aku? Kenapa, Mas? Kenapa kamu gak melawan? Kenapa kamu gak perjuangin aku? Apa karena kamu bosan sama aku? Sakit banget harus hidup sendiri, Mas! Sakit banget harus melahirkan anak-anak kita seorang diri! Aku harus menahan lapar agar susu buat anak kita terpenuhi tapi mereka mengambil kebahagiaan yang aku punya, mereka mengambil dua sosok yang sangat mirip dengan kamu! Dua sosok malaikat penguat dalam hidup aku," cerca Tiara dengan banyak pertanyaan kepada Zidan dengan berurai air mata.


"Sabrina mengambil anak aku dan kedua orang tua aku mendukung niat jahatnya. Kenapa orang tuaku tidak menyayangiku, Mas? Kenapa orang yang aku percaya semua mengkhianati aku? Menyakiti aku begitu sangat dalam? A-aku harus bagaimana? A-aku harus menjadi siapa agar kalian menyayangi aku?" ucap Tiara dengan terisak.


Zidan mendekap Tiara dengan sangat erat, ia membiarkan Tiara mengungkap isi hatinya. "Maafkan Mas, Ay!" gumam Zidan dengan lirih.


"Aku gak butuh maaf kamu, Mas! Aku cuma butuh kamu dulu! Cuma butuh kekuatan dari kamu!" ucap Tiara dengan lirih dadanya terasa sesak saat mengetahui semuanya.


"Aku gak kuat lagi, Mas! Aku gak kuat!" lirih Tiara dengan menangis.


"Kamu kuat, Ay! Buktinya sampai sekarang kamu kuat! Kita bangkit sama-sama ya!" ujar Zidan dengan lirih.


"Aku mau Zayyen!" gumam Tiara.


"Zayyen? kembaran Zayden?" tanya Zidan menangkup wajah Tiara.

__ADS_1


Tiara mengangguk dengan lirih. "Bawa Zayyen pulang, Mas!" pinta Tiara.


"Kita akan bawa Zayyen pulang, Ay! Kita akan bersama kembali!" ujar Zidan dengan senang.


****


Mama Yesha menatap suaminya dengan cemas. Ia baru saja ingin masuk ke ruangan Cika tetapi ia melihat suaminya di bawa oleh sekretaris dan karyawannya ke rumah sakit dalam keadaan tak sadarkan diri. Tentu saja melihat keadaan suaminya mama Yesha sangat di landa kekhawatiran yang sangat mendalam.


"Gimana keadaan suami saya, Dok?" tanya Mama Yesha dengan wajah yang sama sekali tidak tenang.


"Begini, Bu. Bapak Handoko terkena serangan jantung karena tekanan darahnya sangat tinggi. Jika saja beliau tidak di bawa cepat ke sini mungkin nyawanya tidak bisa diselamatkan," ucap dokter yang menangani papa Handoko dengan tegas.


Tubuh Mama Yesha hampir saja terhuyung ke belakang jika Sari tidak memegang lengannya. "Apa yang terjadi dengan suami saya Sari?" tanya Mama Yesha dengan lirih.


"Bapak tiba-tiba saja pingsan, Bu. Beliau marah karena dua perusahaan terbesar Mahendra Grup dan Brawijaya Grup tiba-tiba saja membatalkan kerja sama mereka dan menarik semua sahamnya di perusahaan HK Corp. Tuan Akbar juga tidak ingin menangani pembangunan proyek yang sudah berjalan 50% Bu," ucap Sari dengan pelan.


"Perusahaan Bapak bangkrut, Bu! Karena tak lama dua perusahaan raksasa membatalkan kerjasamanya semua investor juga menarik saham mereka dari perusahaan kita," ujar Sari tak enak hati.


"Gak mungkin! Itu gak mungkin!" ujar Mama Yesha dengan histeris.


"Ini kenyataannya, Bu! Semua karyawan harus diberhentikan secara paksa dan kita juga harus memberikan pesangon tetapi uang perusahaan sama sekali tidak cukup untuk membayar semua gaji karyawan," jelas Sari yang semakin membuat mama Yesha syok.


"Gak mungkin kami bangkrut! Enggak mungkin!" ucap Mama Yesha memegang dadanya.


"Dok, ini gimana?" tanya Sari dengan cemas.

__ADS_1


"Ibu yang tenang ya. Mbak bisa panggilkan dokter Fathan atau anak ibu Yesha dan bapak Handoko?" ucap dokter dengan tegas.


"Saya hanya punya nomor dokter Fathan, Dok. Dan ponselnya tidak bisa dihubungi sedangkan anak bungsu pak Handoko dan bu Yesha sedang berada di luar negeri, saya sama sekali tidak punya nomornya," ucap Sari dengan cemas. Ia terjepit oleh keadaan yang memaksanya untuk tetap tinggal padahal Sari ingin segera pergi.


"Sebaiknya Mbak bawa ibu Yesha istirahat saja. Dia sangat syok mendengar kabar yang Mbak sampaikan, saya takut ibu Yesha juga mengalami serangan jantung," ucap dokter yang membuat Sari mengangguk padahal ia sangat bingung sekarang.


"Sari, perusahaan tidak mungkin bangkrut! Kami tidak mungkin jatuh miskin!" ucap Mama Yesha syok.


"Sebaiknya ibu saya bawa pulang ya! Ibu perlu istirahat," ucap Sari dengan bijak.


"Enggak! Saya ingin bertemu dengan CEO dari Mahendra Grup dan Brawijaya Grup. Kita masih bisa mengajukan banding kepada mereka! Perusahaan gak akan bangkrut, Sari! Saya yakin itu!" ucap Mama Yesha dengan percaya diri.


"Enggak bisa, Bu! Keduanya sudah final ingin menarik saham mereka dan keputusan mereka tidak bisa diganggu gugat. Ibu tahu sendiri CEO dari perusahaan raksasa itu terkenal sangat dingin dan tegas apalagi Tuan Leon Brawijaya, sekali tidak ya tetap tidak!" ujar Sari yang semakin membuat mama Yesha lemas.


"Ya Tuhan.... Aku tidak ingin jatuh miskin! Aku tidak ingin miskin hiks..." ucap Mama Yesha dengan histeris.


"Fiona harus tahu ini semua. Dia harus bisa bantu mama dan papanya karena Fathan untuk saat ini tidak bisa diandalkan!" ucap Mama Yesha dengan sigap segera menghubungi anak bungsunya yang sedang berada di luar negeri, Fiona sangat betah tinggal di sana karena otaknya yang polos tidak suka di kekang oleh kedua orang tuanya yang sangat egois bahkan Fiona tidak dekat dengan kedua orang tuanya, ia hanya dekat dengan Fathan yang mengerti perasaannya dan juga adik dari mamanya yang sudah ia anggap sebagai orang tuanya sendiri dan Fiona sejak SMP memutuskan tinggal bersama om dan tantenya yang berada di luar negeri.


"Halo Ma...."


"Fio, kamu pulang sekarang Mama dan papa butuh bantuan kamu. Mama tidak mau dengar penolakan dari kamu, Fio. Ini sudah 12 tahun kamu tidak pulang sejak SMP kamu tidak mau pulang ke rumah. Saatnya kamu membantu Mama dan papa!" ujar Mama Yesha setelah anak bungsunya mengangkat teleponnya.


"......"


"Mama tidak mau dengar penolakan dari kamu, Fiona Rumaisha Alisya! Kamu harus pulang sekarang!" ucap Mama Yesha dengan tegas dan langsung kematian ponselnya tanpa mau mendengar penjelasan anaknya diseberang sana. Padahal Fiona hanya ingin menunggu mamanya mengucapkan kata rindu untuknya.

__ADS_1


Orang tua egois akankah tetap menjadi egois setelah kehilangan semuanya?


__ADS_2