Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 165 (Move On?)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


****


Cika melamun di kamarnya, ia tak menyangka jika hubungannya dengan Zayden akan jadi seperti ini. Cika memainkan cincin pertunangannya dengan Zayden yang masih tersemat di jarinya.


Bunyi ketukan pintu tak membuat Cika bersuara dan beranjak dari kasurnya, gadis itu semakin terhanyut dalam lamunan masa lalu bersama dengan Zayden. Dari masih kecil hingga mereka sampai dewasa seperti ini. Itu bukan waktu yang singkat mereka bersama dan Cika harus di hadapkan dengan sebuah perpisahan yang sangat menyakitkan, walaupun sementara tetapi entah mengapa Cika sangat takut jika Zayden akan melupakan dirinya.


Suara langkah kaki mendekat ke arah Cika. Di sana sudah ada Nessa yang membawa makan malam untuk kakaknya.


"Kak, kata Mama Kakak gak boleh telat makan!" ujar Nessa dengan pelan. Ia juga sakit melihat kakaknya menjadi pendiam seperti ini setelah kepulangannya dari rumah sakit tadi siang.


"Kak!!" panggil Nessa sekali lagi barulah Cika menatap adiknya dengan wajah yang amat sembab karena sejak tadi Cika menangis dalam diam.


Cika menatap tak berselera pada makanan yang Nessa bawa untuknya. "Bawa lagi aja ke bawah, Dek! Kakak gak lapar!" ujar Cika dengan pelan dan suara yang amat serak karena Cika terus menerus menangis.


Nessa duduk di pinggir ranjang dengan gerakan perlahan. "Kak, jangan buat papa dan mama serta adik-adik Kakak khawatir. Aku yakin jika nanti Kakak akan bersatu lagi dengan kak Zayden," ujar Nessa dengan pelan.


"Masih ada aku dan yang lainnya, Kak! Jangan seperti ini ya!" ujar Nessa dengan memegang pundak Cika.


"Bisa tinggalkan Kakak sendiri dulu, Nes? Kakak butuh waktu untuk sendiri," gumam Cika dengan pelan.


Nessa menghela napasnya dengan perlahan. "Ya sudah, Kak! Tapi ini di makan ya!" ujar Nessa dengan pelan.


"Bawa aja, Nes! Kalau Kakak lapar Kakak akan cari sendiri di dapur," gumam Cika dengan lirih.


"Kak..."


"Please, Nes!" ujar Cika dengan memohon yang membuat Nessa mengangguk tak ingin menganggu kakaknya lagi. Dengan perlahan Nessa keluar dari kamar kakaknya dengan membawa makanan yang ingin ia berikan kepada kakaknya.


Nessa berjalan menuruni tangga dan berbelok ke kanan untuk menuju ruang makan di mana kedua orang tua serta dua saudaranya yang sudah menunggu.


"Gimana, Sayang? Lo kok makanannya di bawa lagi ke sini?" tanya Tri dengan pelan.

__ADS_1


"Kak Cika gak mau makan, Ma! Kata Kakak kalau dia lapar akan mencari sendiri di dapur," jawab Nessa yang membuat semua anggota keluarga menghela napasnya dengan pelan.


"Biar Mama yang ke kamar," ucap Tri yang hendak berdiri dari duduknya tetapi Fathan menahan tangannya.


"Duduk lagi, Sayang! Cika butuh waktu sendiri! Biarkan dia seperti itu. Mas yakin dia akan seperti semula lagi setelah ini," ucap Fathan dengan tegas. Bukan dirinya tak sayang pada Cika tapi menurut Fathan anaknya butuh waktu sendiri untuk menenangkan hatinya.


Fathan tak ingin merestui hubungan Cika dan Zayden lagi setelah ini tetapi ia sadar apa yang dilakukan Zayden bukan karena kendali pria itu melainkan ada sosok lain yang membuat Zayden tak sadar telah menyakiti anaknya.


"T-tapi Mas, Cika bisa sakit kalau gak makan!" ujar Tri dengan cemas.


"Cika gak akan sakit, Sayang! Dia tahu yang terbaik untuk dirinya sendiri! Jika perasaannya udah tenang kamu bisa menemuinya," ujar Fathan dengan lembut.


"Iya, Mas!" gumam Tri dengan lirih.


Nayla, Nessa, dan Nevan hanya bisa menyimak percakapan kedua orang tuanya. Sejujurnya mereka sangat mengkhawatirkan keadaan Cika sekarang tetapi tidak ada yang bisa mereka lakukan selain menyemangati kakaknya untuk menyambut hari esok. Nayla yang biasanya ceria pun kini tampak lesu memakan makan malamnya.


****


Zayyen menjadi sangat gelisah sekarang bahkan lelaki itu tidak bisa tidur di saat anggota keluarganya sudah tertidur. Bayangan Delisha yang tersenyum pedih kepadanya membuat dada Zayyen sesak. Bahkan ketika semua orang menghibur dirinya tak ada yang bisa membuat bibirnya melengkungkan senyuman.


Barra terbangun dari tidurnya saat ia ingin ke kamar mandi untuk buang air kecil tetapi melihat sang anak gelisah Barra menjadi tak tega. Ia berniat menghampiri Zayyen setelah dari kamar mandi.


Lima menit sudah Barra di dalam kamar mandi dan lelaki paruh baya itu keluar berjalan menghampiri Zayyen yang tertidur di atas brankar.


"Kenapa?" tanya Barra dengan pelan.


"Papa ngagetin aja!" ujar Zayyen yang memang terkejut dengan kehadiran papanya di dekatnya.


"Papa lihat kamu belum tidur seakan memikirkan sesuatu. Ada apa? Kamu mikirin Zayden?" tanya Barra dengan tegas.


Zayyen menggelengkan kepalanya. "Bukan, Pa! Entah mengapa aku merasa bersalah telah membuat gadis seceria Delisha menangis karena aku," gumam Zayyen dengan pelan.


"Kamu mau tahu kisah cinta Papa sama Mama?" tanya Barra dengan pelan.


Zayyen mengangguk merasa tertarik dengan ucapan papa angkatnya tersebut.

__ADS_1


"Dulu Papa dan mama tidak saling mencintai karena papa mempunyai wanita yang papa cintai sendiri. Bahkan Papa mengajak mamamu menikah karena ingin membuat mantan papa cemburu tetapi papa tidak sadar jika semua yang papa lakukan membuat mama sakit. Mama berpura-pura tidak mengetahui apapun tentang masa lalu papa. Puncaknya mama kamu hamil, dia ingin mengajak papa jalan-jalan berdua untuk menikmati waktu yang memang papa jarang berikan untuknya waktu itu. Di perjalanan ternyata mobil yang papa kendarai kecelakaan hingga membuat mama kamu keguguran, setelah sadar mama ingin meminta bercerai dari papa. Semangat hidupnya sudah tidak ada karena dinyatakan lumpuh lalu harus kehilangan anak kami, waktu itu papa masih bertugas di negara lain. Bahkan Mama dengan sabar mengikuti papa kemanapun papa tugas, kehidupan kami memang terkesan bahagia seperti orang yang sangat mencintai satu sama lain nyatanya tidak seperti itu. Tetapi papa sadar, cinta mama yang bisa membuat papa bangkit. Doa mama yang membuat papa dalam puncak kejayaan menjadi dokter, hingga perlahan cinta itu tumbuh di hati papa untuk mama, papa menerima semua kekurangan mama yang tidak bisa kembali hamil hingga kamu hadir membuat mama kembali semangat untuk hidup," ujar Barra dengan membayangkan masa lalunya.


"Zayyen, Papa cerita seperti ini bukan semata-mata ingin mengenang masa lalu yang buruk. Tapi ingin membuat kamu sadar jika wanita jika benar-benar tulus akan membuat kamu bahagia. Belajarlah mencintai, selami hatinya dan kamu akan menemukan kesetiaan darinya. Tapi, jika wanita benar-benar terlanjur kecewa dan bahkan kekecewaannya tidak bisa membuat dia menoleh ke masa lalu, kita benar-benar sudah kehilangannya Zayyen! Lebih baik melihat dia marah dari pada diam seribu bahasa dengan wajah yang amat datar," ujar Barra yang membuat Zayyen terdiam.


"Semoga kamu belum terlambat, Nak!" ujar Barra menepuk punggung Zayyen dengan pelan.


****


Pagi harinya....


Delisha sudah diperbolehkan pulang asal jangan beraktivitas terlalu berat. Bersamaan dengan itu Zayyen keluar dari ruang perawatannya karena ingin menemui saudara kembarnya.


Keduanya saling menatap satu sama lain tetapi itu tak berlangsung lama karena Delisha langsung membuang muka dengan wajah datarnya seakan tak mengenal Zayyen.


"Cil, tunggu! Ya elah nih bocah jalannya cepat banget!" ujar Sandy mengejar Delisha karena memang ia dan Angga di tugaskan untuk menjaga Delisha sebentar, kedua orang tua Delisha sedang menemui dokter sebelum pulang.


"Kak, Delisha mau telur gulung! Kak Sandy sama kak Angga sudah janji kakau Delisha pulang hari kalian akan belikan Delisha telur gulung," ujar Delisha yang masih bisa di dengar oleh Zayyen karena jarak mereka tak terlalu jauh.


"Gue lagi bokek, Cil! Uang jajan gue di potong karena nilai ujian gue C!" keluh Angga.


"Lo kan punya black card. Kenapa gak pakek itu aja sih? Sekalian kita nongkrong di mall buat cari cowok baru buat lo! Lo harus move on, Cil!" ujar Sandy.


Delisha tampak berpikir. "Ih gimana sih masa laki gak modal banget! Delisha udah move on ya! Delisha udah capek mencintai seseorang yang nyatanya mencintai orang lain!" ujar Delisha dengan mencibik kesal.


Zayyen yang mendengar itu entah mengapa tangannya langsung terkepal. Melihat perubahan Delisha yang secepat ini membuat Zayyen benar-benar tak nyaman.


"Nah itu pawang lo yang ke lima datang!" ujar Sandy menunjuk ke arah Ikbal.


Mata Delisha langsung berbinar melihat ke arah Ikbal. "Kak Ikbal! Kak Ikbal kenapa mau sahabatan sama kak Sandy dan kak Angga? Mereka itu parasit ih!" ujar Delisha yang membuat Sandy dan Angga mencibik.


"Terpaksa! Kakak pungut mereka di tong sampah karena kasihan," ujar Ikbal yang menanggapi candaan Delisha.


"Dah lah! Kita yang hanya parasit diam aja!" ujar Angga yang membuat Delisha terkikik geli.


Zayyen seperti manusia tak kasat mata sekarang. Entah mengapa kakinya tak bisa melangkah, ia hanya diam menatap Delisha yang seakan tak mengenal dirinya.

__ADS_1


"Arggghh...Lo kenapa sih, Zayyen? Lo kan yang minta putus dari Delisha? Kenapa lo sekarang terlihat menyedihkan sekali melihat keakraban Delisha dengan pria lain," gumam Zayyen dengan kesal kepada dirinya sendiri.


__ADS_2