
...📌Jangan lupa bom like dan komentar ya....
...Happy reading...
***
Dareel membawa Mikaela ke rumah kedua orang tuanya. Sejak tadi keduanya hanya diam apalagi Mikaela yang ada di dalam gendongan Dareel hanya diam memperhatikan wajah Dareel yang sangat tampan.
"Dareel itu..." Danish mengeryitkan kedua alisnya saat adiknya membawa gadis yang sangat kurus dengan kulit yang terlihat kusam bahkan wajahnya penuh dengan lebam dan lingkar mata yang sangat terlihat.
"Dia Mikaela, Kak! Gadis yang akan menjadi istri gue," ujar Dareel dengan tegas.
"Dia kenapa?" tanya Daniel merasa prihatin dengan keadaan gadis itu.
"Ceritanya panjang nanti gue ceritakan ke kalian," ujar Dareel yang di angguki oleh Danish dan Daniel.
Sedangkan Mikaela menatap Dareel, Danish, dan Daniel bergantian. "Tuan Dareel kok ada tiga?" tanya Mikaela dengan polosnya yang membuat Dareel dan kedua kembarannya terkekeh.
"Kami kembar, Mika! Jangan sampai kamu salah mengenali saya!" sahut Dareel menjelaskan.
"Kembar? S-saya tidak akan salah mengenali Tuan! Saya janji!" ujar Mikaela dengan pelan.
"Hai, salam kenal calon adik ipar! Gue Danish, anak pertama dari ketiga adek gue," ujar Danish dengan ramah.
"Gue Daniel, dan gue harap lo betah tinggal di sini," ujar Daniel dengan tersenyum.
"A-aku Mikaela, Tuan!" ujar Mikaela dengan gugup sekaligus takut dengan orang asing yang ada di hadapannya. Jika bersama dengan Dareel dia mulai merasa biasa saja karena pria itu sangat baik kepada dirinya.
"Tidak perlu gugup. panggil kami Kakak saja! Paham?!" ujar Danish dengan tegas.
"I-iya, Kak!" jawab Mikaela dengan takut.
Danish dan Daniel yang tahu jika Mikaela ketakutan pamit undur diri untuk pergi ke rumah sakit menjaga adik kesayangan mereka membiarkan Dareel mengurus calon istrinya.
"Gue pergi ke rumah sakit dulu. Lo bisa nyusul nanti," ujar Daniel yang diangguki oleh Dareel.
"Jangan takut lagi oke. Semua orang di rumah ini sangat baik, nanti saya akan kenalkan kamu dengan adik perempuan saya," ujar Dareel yang di angguki oleh Mikaela.
"Tapi sebelum itu kamu harus membersihkan diri terlebih dahulu," ujar Dareel dengan tegas.
Mikaela merasa malu karena ia sudah lama tidak mandi karena di pasung oleh ayah tirinya bahkan untuk berjalan saja Mikaela merasa susah. Mungkin sudah hampir sebulan lebih ia di pasung dan hanya diberikan makan selayaknya kucing, itulah yang membuat Mikaela merasa sangat takut akan dunia luar. Mikaela sudah sering di pasung tetapi itulah waktu yang paling lama yang Mikaela alami sampai dirinya tidak bisa berjalan, buang air kecil maupun besar barulah Mikaela diizinkan untuk keluar itu pun dengan bersusah payah karena kaki Mikaela tidak kuat untuk menopang tubuhnya sendiri.
"M-mika bau ya, Tuan?" tanya Mikaela dengan terbata.
Dareel hanya tersenyum. Ya, Dareel mengakui gadis yang akan menjadi istrinya sedikit bau tetapi Mikaela tetap cantik di balik itu semua.
Mikaela tak berani bersuara, karena ia sadar jika dirinya sangat kotor dan bau. Sampai Dareel membuka pintu kamarnya dan membawa Mikaela untuk masuk ke dalam.
"Tolong buka pintu kamar mandi itu," ucap Dareel dengan lembut.
Dengan sungkan Mikaela membuka kamar mandi milik Dareel. Ia sangat terpukau dengan semua yang ada di rumah ini. Apakah hidupnya akan bahagia setelah ini? Tapi sebentar lagi Mikaela akan kehilangan ibunya dan jika keluarga Mahendra menjadi jahat kepadanya Mikaela harus kemana lagi? Mikaela sangat takut dibuang oleh Dareel.
Dareel mendudukan Mikaela di pinggiran bathtub dengan perlahan. Ia mengisi bathtub dengan air hangat.
"Buka bajumu!" ucap Dareel dengan tegas.
"M-mika malu," gumam Mikaela dengan menunduk.
"Tidak apa-apa sebentar lagi kita akan menikah dan saya janji tidak akan macam-macam. Saya hanya ingin membantumu," ujar Dareel menatap Mikaela dengan lembut.
Awalnya Mikaela sangat ragu akhirnya gadis itu mau membuka bajunya di hadapan Dareel dengan takut. Setelah selesai Mikaela hanya bisa menunduk sedangkan Dareel menatap tubuh Mikaela dengan dalam, bukan karena terangs*ng, ia tidak akan sekotor itu walaupun dirinya normal. Tetapi Dareel terpaku dengan banyaknya luka di sekujur tubuh Mikaela bahkan ada yang sudah menghitam.
"Apakah ini sakit?" tanya Dareel dengan tercekat.
"Sssttt...S-sakit," gumam Mikaela yang hampir meneteskan air matanya.
Dareel mengepalkan kedua tangannya pertanda ia sedang emosi. "Berendamlah di sini nanti jika sudah selesai kamu panggil saya saja," ujar Dareel dengan lembut.
Cup...
Mikaela terpaku saat Dareel mengecup keningnya dengan lembut. Rasa hangat langsung menyusup di hati Mikaela saat ada yang memperlakukan dirinya selembut ini. Mikaela mengangguk dengan cepat, rasanya sangat segar bisa kembali mandi.
__ADS_1
"Tuan!" panggil Mikaela dengan pelan.
"Panggil saya Mas!" ujar Dareel dengan tegas.
"M-mas, terima kasih," gumam Mikaela dengan berkaca-kaca. "S-saya janji akan membalas kebaikan M-mas," ujar Mikaela dengan tersenyum tipis. Senyum yang mampu membuat tubuh Dareel mematung karena Mikaela terlalu manis.
"Kamu hanya boleh diam dan patuh kepada saya maka saya akan berbaik hati ke kamu," ujar Dareel mengacak rambut Mikaela.
"Cepat berendamnya saya akan obati semua luka kamu," ujar Dareel berlalu pergi dari kamar mandi.
Mikaela terpaku, ia tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Setelah itu ia menikmati mandinya walau tubuhnya terasa perih saat luka itu terkena air.
****
Delisha terpaku menatap wanita yang sangat pucat berada di samping dirinya. "Ibu siapa?" tanya Delisha dengan penasaran.
Lena tersenyum. "Nama ibu Lena, Nak. Ibu yang akan mendonorkan jantung dan paru-paru Ibu untuk kamu," ujar Lena dengan pelan karena saat ini ia sedang menahan rasa sakit pada perutnya.
"I-ibu yakin? Kenapa Ibu mau menjadi pendonor untuk Delisha?" tanya Delisha tak percaya.
Lena mengangguk. "Organ ibu akan berguna. Setidaknya Ibu masih hidup di diri kamu," sahut Lena dengan lirih.
Delisha berkaca-kaca, perlahan ia mengambil selang infusnya dan turun dari brankar berjalan mendekati Lena. "Ibu terima kasih," ucap Delisha dengan terharu.
"Apa yang harus Delisha lakukan untuk membalas kebaikan Ibu?" tanya Delisha dengan suara bergetar.
Lena menggenggam tangan Delisha dengan perlahan. "Cukup menjadi sahabat untuk anak Ibu ya. Jangan tinggalkan dia!" ujar Lena dengan penuh harap.
"Anak Ibu mana?" tanya Delisha.
"Ada bersama dengan Kakak kamu. Namanya Mikaela dan dia akan menikah dengan kakak kamu," ujar Lena yang membuat Delisha syok.
"Menikah? Dengan kakak Delisha yang mana? Jadi, Delisha mau punya kakak ipar?" tanya Delisha yang membuat Lena tersenyum.
"Jangan terus bertanya kepada Ibu Lena, Sayang! Kasihan dia!" ujar Akbar dengan lembut.
"Papi!" rengek Delisha dengan manja dan berhambur ke pelukan Akbar.
"Siapa yang akan menikah dengan kak Mikaela, Pi? Kak Danish, kak Daniel, atau kak Dareel?" tanya Delisha penasaran.
"Hihi akhirnya kak Dareel gak jomblo lagi ya, Pi!" ujar Delisha dengan senang.
Akbar mengangguk. "Kamu istirahat ya, Sayang! Besok setelah pernikahan kak Dareel kamu akan langsung melakukan operasi," ujar Akbar yang membuat Delisha tersenyum.
"Mau tidur sama Mami!" ujar Delisha yang membuat Fiona terkekeh.
"Ya sudah ayo!" ujar Fiona dengan lembut.
Lena tersenyum melihat kehangatan keluarga Mahendra. Seandainya dulu suaminya belum meninggal pasti hidupnya akan sama bahagianya tapi takdir siapa yang tahu? Sebentar lagi ia akan bertemu sang suami bukan?
"Anda juga harus istirahat, Bu!" ujar Akbar dengan tegas.
"Baik, Tuan!" gumam Ibu Lena dengan pelan.
***
"Mas pacar!" panggil Delisha dengan manja dengan memainkan kakinya.
Setelah bangun dari tidurnya ia sudah mendapati Ikbal yang berada di sampingnya bukan sang mami lagi. Ternyata maminya sedang menemani ibu Lena melakukan pemeriksaan.
"Iya cantik," jawab Ikbal dengan lembut.
"Mau ke taman sama Mas pacar. Delisha bosan di sini terus," ujar Delisha dengan merengek.
"Ya udah ayo!" ucap Ikbal dengan lembut.
"Gendong!" rengek Delisha yang membuat Ikba terkekeh.
"Depan atau belakang?" tanya Ikbal.
"Belakang aja deh. Kalau di depan malu di lihatin banyak orang," ujar Delisha menampilkan deretan giginya.
__ADS_1
"Ayo naik!" ujar Ikbal.
Dengan perlahan Delisha naik ke atas punggung Ikbal, ia meletakkan kepalanya dii bahu Ikbal.
"Mas pacar besok Delisha operasi," ujar Delisha dengan pelan.
"Iya, Sayang. Dan setelah itu kamu akan sehat kembali," ujar Ikbal dengan lembut.
"Tapi Delisha takut!" gumam Delisha yang membuat Ikbal menoleh ke arah Delisha.
"Delisha takut gagal! Delisha takut gak bisa buka mata," gumam Delisha dengan lirih.
"Hei, sudah berapa kali Mas bilang kamu gak boleh pesimis," ujar Ikbal dengan lembut. "Mas yakin kamu bangun," ujar Ikbal dengan tegas.
"Kalau Delisha bangun kita menikah ya Mas pacar! Delisha gak bisa jauh dari Mas pacar! Mas pacar adalah rumah untuk Delisha! Tapi nanti kalau Delisha lama bangunnya Mas pacar harus bangunin Delisha ya! Seperti pangeran yang membangunkan putri tidur," ujar Delisha yang membuat Ikbal tersenyum.
"Kamu pasti akan cepat bangun, Sayang!" ujar Ikbal dengan lirih.
Ikbal mendudukkan Delisha di kursi taman. Ia berjongkok di hadapan Delisha dan menatap gadis itu dengan dalam. Ikbal mengecup tangan Delisha dengan lembut.
"Berjuang demi Mas ya! Demi semua orang!" ujar Ikbal dengan memohon.
"Iya Delisha janji!" ujar Delisha dengan tersenyum.
"Karena Delisha gak rela Mas pacar menikah dengan orang lain!" ujar Delisha yang membuat Ikbal terkekeh.
"Posesif!" ujar Ikbal menarik hidung Delisha.
"Hehehe...Mas pacar mau punya anak berapa dari Delisha?" tanya Delisha yang membuat Ikbal terkejut tetapi setelah itu lelaki itu tersenyum bahagia.
"Tiga atau lima!" sahut Ikbal dengan pelan.
"Ya Delisha juga mau. Nanti pasti mereka akan ganteng dan cantik ya kan Mas pacar?!" ujar Delisha dengan cerewet.
"Iya, Sayang!"
"Delisha jadi gak sabar!" ujar Delisha dengan terkekeh.
"Gak sabar apa? Gak sabar ngerasain malam pertama?" tanya Ikbal dengan jahil.
"Ihh Mas pacar!" rengek Delisha dengan malu yang membuat Ikbal terbahak.
****
Mikaela dengan patuh berbaring di kasur. Di tangan Dareel sudah ada obat untuk mengobati luka Mikaela.
"Sakit hiks.." ucap Mikaela dengan menangis yang membuat Dareel tidak tega.
Sungguh sangat biadap Frengki lihat saja apa yang akan Dareel lakukan kepada pria itu nantinya.
"Tahan sebentar. Ini gak lama lagi selesai," ujar Dareel dengan pelan.
Dareel beralih pada pergelangan kaki Mikaela. Pantas saja gadis ini tidak bisa berjalan, kakinya bengkak dan kenapa Dareel baru sadar?
"Arrgghh...Ampun!" teriak Mikaela dengan menangis saat Dareel mengurut kakinya dengan perlahan.
Dareel harus tega melakukan itu agar Mikaela bisa berjalan dengan normal kembali. "Udah jangan nangis lagi," gumam Dareel memeluk Mikaela.
"Frengki sering melakukan kekerasan fisik?" tanya Dareel dengan pelan mengelus rambut Mikaela yang sudah wangi.
Mikaela mengangguk dengan sesegukan yang menyayat hati Dareel. "Dia ada memberikan kamu makan?" tanya Dareel.
Mikaela mengangguk.
"Teratur?" tanya Dareel.
"Dua hari sekali," gumam Mikaela.
"Astaga. Dasar brengsek!" umpat Dareel dengan dingin.
"Lihat apa yang akan aku lakukan kepada Frengki!" ujar Dareel di dalam hati.
__ADS_1
"Ayo kita makan! Nanti saya akan meminta vitamin kepada dokter," ujar Dareel dengan tegas.
"Benar-benar lelaki brengsek! Tidak akan aku biarkan hidupmu bahagia Frengki!"