Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 274 (End)


__ADS_3

...📌 Seperti judul bab ini berarti novel ini juga berakhir sampai di sini. Nantikan extra part-nya ya...


...📌Jangan lupa ramaikan part ini ya. Dukung novel terbaru author "Suami Bayaran Nona Rania"...



...*...


...*...


...Happy reading...


****


5 Tahun kemudian.....


5 tahun sudah berlalu kehidupan terus berjalan begitu pun dengan Delisha dan juga Ikbal, setelah meninggalnya Akbar mereka menata kembali hidup mereka bersama dengan keluarga yang lain, dan tentang Fiona terkadang ia di rumahnya sendiri atau menginap di rumah anak-anaknya secara bergantian.


Fiona dan yang lainnya memang sudah mengikhlaskan kepergian Akbar tetapi air mata mereka masih terjatuh ketika mengingat Akbar karena bagaimanapun Akbar tidak akan pernah terlupakan di kehidupan mereka.


"Papi!" rengek sebuah suara anak kecil yang sedang membangunkan sang papi yang masih tertidur.


"Papi bangun sebentar lagi ulang tahun adek dan kakak!" teriak anak kecil itu dengan keras yang membuat papinya mau tak mau membuka mata.


"Iya, Princess! Papi masih ngantuk," ujar Ikbal dengan tersenyum saat anak bungsunya yang bernama Devina Raisya Al-ghifari ikut kembali tertidur di sampingnya.


Devina cemberut saat papinya malah memeluknya dengan erat. "Papi nanti di marah mami loh!" ujar Devina dengan cemberut.


Ikbal terkekeh dan dengan gemas ia mengecup pipi anaknya. "Sudah besar saja sih princess, Papi! Umur berapa hmm?" tanya Ikbal sengaja untuk mengetes anaknya.


"Besok Devina sama kak Devano dan kak Davino sudah umur 5 tahun, Papi. Kita liburan ya, Papi! Bawa grandma juga biar gak sedih," ujar Devina dengan mata yang mengerjap lucu dan sangat mirip dengan Delisha.


"Papi!"


"Papi!"


Teriak kedua anak lelaki Ikbal dengan Delisha yang membuat Devina menutup telinganya. "Jangan berisik, Kak!" peringat Devina yang membuat kedua kakaknya terkekeh.


"Papi ayo bangun Mami sudah selesai masak katanya mau mengajak Papi pergi cari kado ulang tahun kami," ujar Devano anak sulung Ikbal.


"Emang Kakak sama adek mau dibeliin apa hmm?" tanya Ikbal dengan menatap ketiga anaknya secara bergantian.


"Mainan yang banyak, Papi!" ujar Davino dengan tersenyum menampilkan deretan giginya yang rapih.


"Ya sudah kalian keluar dulu Papi mau mandi. Devano, Davino jaga adeknya ya! Jangan berantem!" peringat Ikbal kepada kedua anak lelakinya.


"Siap, Papi!" ujar keduanya dengan menurut.


"Devina keluar dulu, Papi. Muach..." ujar Devina yang mencium pipi Ikbal. Tingkahnya sama persis seperti Delisha waktu kecil yang membuat Ikbal dan kakak-kakak Delisha sangat gemas.


Ikbal terkekeh saat dua anak lelakinya juga ikut mencium pipinya bergantian. Ia tak menyangka jika waktu akan cepat berlalu seperti ini, padahal Ikbal masih merasa jika ketiga anaknya masih bayi tapi ternyata anaknya sudah berumur 5 tahun saja. Dan besok adalah ulang tahun mereka berbeda sehari dengan meninggalnya grandpa ketiga anaknya.


"Lucu sekali kalian, Nak!" gumam Ikbal dengan tersenyum mengenang masa bayi anaknya.


***


"Selamat pagi istriku!" sapa Ikbal sambil memeluk Delisha dari belakang.


"Selamat pagi suamiku! Lihatlah ketiga anak kita sudah tidak sabaran ingin jalan ke mall," ujar Delisha dengan terkekeh.


"Benar begitu, Sayang?" tanya Ikbal kepada ketiga anaknya.


Padahal mereka hampir selalu pergi ke mall karena mall tersebut adalah milik Delisha dan juga Ikbal tetapi pagi ini terasa berbeda.


"Iya Papi lama banget sih!" ujar Devina dengan cemberut.


"Oke maafkan Papi, Sayang. Kita sarapan dulu setelah itu langsung pergi ke mall ya!" ujar Ikbal yang membuat ketiga anaknya langsung ceria kembali.


"Yeee... Iya Papi!" ujar ketiganya dengan serempak.


Delisha tersenyum dan mulai mengambilkan suami dan ketiga anaknya sarapan. Ada rasa bahagia karena besok adalah ulang tahun ketiga anaknya yang ke-5 tetapi hatinya juga merasa sedih karena sehari setelah ulang tahun ketiga anaknya adalah kepergian papi tercintanya.


Ikbal menggenggam tangan Delisha, ia sangat tahu bagaimana perasaan istrinya setiap mereka merayakan ulang tahun anak-anak mereka.

__ADS_1


"Jangan sedih!" bisik Ikbal di telinga Delisha yang membuat wanita itu tersenyum.


"Papi cium mami di depan adek dan kakak!" protes Devina yang membuat Ikbal tertawa karena sangat cemburu ketika ia mencium Delisha.


"Hahaha... mirip sekali dengan mami kalau sedang cemburu ya!" ujar Ikbal dengan geli.


"Pi, cepat cium Devina takutnya ngambek yang berkepanjangan," ujar Delisha dengan terkekeh.


"Iya, deh! Muach...muach..."


"Ayo kita sarapan! Karena besok adalah ulang tahun kalian bertiga maka hari ini kalian boleh membeli apa saja," ujar Ikbal yang membuat ketiganya langsung bersemangat.


***


Ikbal dan Delisha sudah membawa ketiga anak kembarnya ke mall. Padahal semua orang yang bekerja di mall ini sudah tahu anak pemilik mall ini tetapi ketiganya tetap ingin seperti anak-anak pada umumnya yang ingin membeli mainan yang mereka inginkan.


Devino, Davino, dan Devina asyik mengambil mainan yang mereka inginkan sedangkan kedua orang tua mereka mengawasi mereka dari belakang.


"Papi, Mami, ini boleh?" tanya Devino dengan menunjuk mainan yang harganya sama sekali tidak murah makanya Devino langsung bertanya karena takut tidak diperbolehkan.


"Kakak suka?" tanya Ikbal kepada anaknya.


"Suka, Papi. Kalau gak boleh juga gak apa-apa," ujar Davino.


"Kakak Davin suka gak?" tanya Ikbal pada anak keduanya.


"Suka, Papi. Tapi mahal kalau beli dua nanti uang Papi sama Mami habis," ujar Davino dengan polosnya.


"Ambil dua sesuai warna kesukaan kalian ya biar gak rebutan nantinya," ujar Ikbal dengan tegas.


"Serius, Papi?"


"Iya, Sayang. Ambil ya! Hari ini Papi sama Mami belikan apa yang kalian mau," ujar Delisha yang membuat keduanya sangat senang.


"Yeee... Terima kasih Papi, Mami!"


"Sama-sama, Sayang!"


"Adek juga mau ini!"


Orang-orang melihat Ikbal dan Delisha seperti pasangan yang sangat bahagia apalagi ketiga anak mereka sangat tampan dan juga cantik yang membuat mereka iri sekali karena rumah tangga keduanya sangatlah terlihat sempurna. Di karunia ketiga anak yang sangat lucu dan kekayaan yang begitu melimpah. Siapa yang tak tahu dengan kekayaan keluarga Al-ghifari dan keluarga Mahendra? Benar-benar keduanya sangat beruntung sekali.


****


"Delisha!"


"Delisha!"


Delisha yang namanya di panggil langsung melihat ke arah sumber suara. "Mbak manggil saya?" tanya Delisha dengan bingung karena ia tidak mengenal orang di depannya ini.


Wanita yang berada di hadapannya diam mematung karena ia sangat mengenal siapa wanita di hadapannya ini, wanita yang sampai sekarang masih dicintai oleh suaminya.


"Saya mencari anak saya yang bernama Delisha. Dia lepas dari pengawasan saya!" ujar Anggun dengan cemas.


"Nama anak Mbak sama dengan nama saya. Maaf jika saya sudah salah sangka, biar saya bantu untuk mencari anak Mbak di bagian informasi ya," ujar Delisha.


"Mami!" teriak Devino dengan kencang sambil menggandeng tangan anak perempuan.


"Delisha!" panggil Anggun dengan lega.


"Dia anak, Mbak?" tanya Delisha dengan sopan.


"Iya, Delisha. Dia anak saya dengan mas Zayyen," ujar Anggun yang membuat raut wajah Delisha berubah.


"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Anggun dengan serius.


"B-bisa, sebentar ya. Kakak, Papi sama kedua adek kamu mana?" tanya Delisha kepada anaknya.


"Ada di Timezone, Mami. Tadi Kakak lihat adek ini memperhatikan Kakak jadi Kakak bawa sini. Lucu kan Mami namanya sama seperti Mami," ujar Devino dengan tersenyum.


"Tante cantik akhirnya kita ketemu! Papa sering cerita soal tante cantik!" ujar Delisha kecil yang membuat Delisha tersenyum canggung.


"M-mbak..."

__ADS_1


"Benar Delisha. Bisakah kita bicara sebelum mas Zayyen menjemput saya dan anak saya?" tanya Anggun.


"Sebentar saja ya, Mbak!"


"Iya hanya sebentar!"


Delisha menelepon suaminya terlebih dahulu jika ia berada di cafe mall ini bersama Devian dan juga Anggun. Delisha menjelaskan secara singkat dan akhirnya Ikbal mengerti dan mengizinkan.


Delisha maupun Anggun sudah dii cafe bersama Davino dan Delisha kecil.


"Mbak coba jelaskan kenapa nama anak Mbak sama dengan nama saya dan juga Delisha kecil sangat mengenal saya," ujar Delisha dengan tak sabaran.


"Jawabannya cuma singkat Delisha karena mas Zayyen sampai detik ini masih mencintai kamu. Karena rasa cintanya yang begitu besar terhadap kamu, dia beri nama anak pertama kami dengan nama Delisha. Bahkan Delisha kecil sangat mengagumi kamu, jika di tanya dia menyayangi kamu atau tidak jawabannya adalah iya, Delisha kecil selalu ingin bertemu dengan kamu. Kebetulan hari ini kita bertemu dan sepertinya kedua anak kita sangat lengket walaupun baru pertama kali mengenal," ujar Anggun dengan tersenyum walaupun sebenarnya hatinya menjerit sakit.


"T-tapi enggak mungkin.... Masa lalu kami sudah sangat lama, lagi pula kak Zayyen yang memintaku untuk pergi dari kehidupannya," ujar Delisha dengan tercekat. Ua tahu rasa sakit hatinya Anggun saat ini.


Delisha menggenggam tangan Anggun. "Mbak maafkan aku! Aku gak tahu kalau kak Zayyen masih menyimpan rasa kepadaku tapi jujur aku sudah melupakan dirinya, saat ini aku hanya mencintai suamiku," ujar Delisha menjelaskan.


Anggun tersenyum. "Ini bukan kesalahan kamu. Ini adalah pilihan hidupku dan aku mampu bertahan dengan pernikahan ini. Kisah percintaanku mungkin seperti lady Diana yang tidak di cintai suaminya sendiri tapi bedanya mas Zayyen tidak berselingkuh, ia masih mencintai masa lalunya sampai detik ini. Aku akui dia sangat baik kepadaku tapi perlakuannya tidak mencerminkan jika dirinya mencintaiku, bahkan membuat anak kami sangat mencintai sosok kamu," ujar Anggun dengan tenang.


"Aku sama sekali tidak membencimu, Delisha. Aku yang memaksanya untuk menikahiku walaupun dia sudah memperingatiku sebelumnya tapi aku mengambil semua resikonya dan sampai detik ini aku mampu bertahan," gumam Anggun dengan lirih.


Delisha menatap Delisha kecil dengan dalam. Bagaimana mungkin Delisha kecil menyayangi dirinya hanya karena cerita dari Zayyen? Sungguh Delisha tidak bisa memahaminya.


"Delisha!"


"Papa!" teriak Delisha kecil saat ternyata Zayyen sudah berada di sana.


Tubuh Zayyen mematung dengan hebat karena sudah lama ia tidak bertemu dengan Delisha. Wanita itu semakin terlihat sangat cantik.


"Papa Delisha sudah bertemu dengan tante cantik," ujar Delisha kecil dengan bahagia yang membuat Zayyen tersenyum canggung.


"Papa, Kakak Devano sangat tampan dia mengajak Delisha berpacaran!"


"A-APA?" ucap Ikbal dengan terkejut. Bagaimana bisa anak berumur 5 tahun mengajak anak cewek berumur 4 tahun berpacaran.


Ikbal mendekati anak dan istrinya, ia menatap tajam ke arah Zayyen. Tetapi Delisha kecil tetap menatap papanya dengan pandangan bingung.


"Pacaran itu apa Papa?" tanya Delisha kecil dengan penasaran.


"Sayang, ayo kita pulang!" ujar Ikbal dengan sangat dingin.


"Pi, jangan pulang dulu Devano mau main sama Delisha!" ujar Devano dengan sendu.


"AYO PULANG!"


"Mas, jangan marah oke!" ujar Delisha dengan lembut.


"Om jangan marah! Delisha cuma mau main pacar-pacaran sama kak Devano," ujar Delisha kecil dengan polosnya yang membuat darah Ikbal kian mendidih.


"Didik anak kamu jangan racuni dengan perkataan yang seperti itu!" ujar Ikbal dengan dingin.


"Seharusnya kamu yang mendidik anak kamu karena sudah berani mengajak anak saya berpacaran di usianya yang masih sangat kecil!"


"Mas Zayyen!"


"Mas Ikbal!"


Anggun dan Delisha sama-sama memanggil suaminya dengan pelan karena mereka malu di lihat banyak orang.


"Delisha, Tante pulang dulu ya. Besok adalah ulang tahun kak Devano kamu bisa datang kalau mau bermain dengannya," ujar Delisha dengan tersenyum.


"Delisha mau datang, Tante!" ujar Delisha kecil dengan tersenyum yang membuat Ikbal semakin kesal.


"Sayang kamu..."


"Jangan marah, Mas! Delisha dan Devano masih kecil. Aku dan kak Zayyen sudah jadi masa lalu gak mungkin aku masih menyukainya. Jangan marah lagi ya," ujar Delisha dengan lembut yang membuat hati Zayyen sakit.


"Devano, Davino, Devina, ayo pulang Sayang!"


"Mbak aku pulang ya! Jika besok mbak dan Delisha ada waktu kalian bisa datang ke rumah kami," ujar Delisha dengan ramah.


Ikbal hanya bisa menahan amarahnya saat sang istri menariknya dengan pelan untuk pulang. Pikirannya benar-benar tidak tenang dengan perkataan Devano yang mengajak anak Zayyen berpacaran.

__ADS_1


Bagaimana jika nanti mereka berpacaran saat dewasa? Ikbal tidak bisa membiarkan itu terjadi. Tak mungkin ia dan Zayyen berbesanan, sesuatu yang berhubungan dengan Zayyen ia harus jauhkan! Ikbal tak mau Delisha kembali mencintai Zayyen! Ia tak mau kehilangan Delisha!


__ADS_2