
...Jangan lupa ramaikan part ini ya...
...Happy reading...
****
Tri memeluk Fathan dari belakang dengan erat saat keduanya sudah kembali ke rumah dan Cika sudah masuk sekolah setelah selesai dengan pernikahan Akbar dan Fiona.
Saat ini Fathan sedang membuatkan susu untuk Tri. "Mas kok wangi banget sih!" ucap Tri dengan mengendus punggung Fathan.
Fathan menaikan kedua alisnya. Bukannya ini parfume yang biasa ia pakai? Kenapa istrinya ini sangat terlihat berbeda hari ini?
"Iya, Sayang. Ini kan parfume yang Mas sering pakai, itu pun yang kamu belikan," sahut Fathan dengan tersenyum.
Fathan membalikkan tubuhnya hingga menjadi menghadap ke arah Tri. "Mumpung hangat diminum susunya, Sayang!" ucap Fathan memberikan susu ibu hamil kepada Tri.
"Suapin!" rengek Tri dengan manja yang membuat Fathan terkekeh.
Fathan dengan perlahan membantu Tri minum susu yang sudah ia buatkan. Setelah selesai Tri tetap menatap suaminya seperti tak biasanya.
"Ada apa hmm?" tanya Fathan dengan lembut.
"Mas mau ke rumah sakit?" tanya Tri.
"Iya, Sayang! Sebentar lagi Mas harus ke rumah sakit udah ada janji dengan beberapa pasien," jawab Fathan dengan menyelipkan rambut Tri ke belakang.
"Dengan tubuh yang sangat wangi seperti ini?" tanya Tri memicingkan matanya ke arah Fathan.
Fathan mencium dirinya sendiri. "Ini Parfume yang biasa aku pakai, Sayang. Wanginya kayak biasa kok!" ucap Fathan dengan sabar.
__ADS_1
Tri menggeleng. "Wanginya gak biasa, Mas. Mas mau tebar pesona ya sama pasien-pasien, Mas? Semua kan ibu-ibu muda, pasti cantik-cantik kan sampai Mas pakai parfume wangi banget. Pakai kemeja Putih lagi," ucap Tri dengan kesal.
Mood Tri tiba-tiba memburuk. Ia sangat kesal dengan Fathan yang ingin tebar pesona dengan ketampanan yang dimiliki suaminya.
"Aku gak mungkin tebar pesona dengan pasienku sendiri, Sayang. Kemeja putih ini juga sudah biasa aku pakai loh, Yang! Kan kamu bilang kamu suka kalau aku pakai kemeja putih," ujar Fathan dengan heran.
Mata Tri berkaca-kaca. "Kalau gak tebar pesona kenapa hari ini Mas ganteng banget? Mas bohong sama aku ya? Aku udah gak cantik lagi ya sampai Mas mau tebar pesona di rumah sakit?" tanya Tri dengan sendu.
Fathan panik. Ia tahu mood Tri gampang sekali berubah sejak hamil, dengan perlahan Fathan menggendong Tri dan menaikkannya ke stas meja pantry. Fathan menatap Tri dengan dalam dan menghapus air mata Tri yang tiba-tiba saja menangis.
"Hiks...aku udah gendut ya, Mas? Pasti di mata Mas aku seperti ikan gumpal," ujar Tri dengan sendu.
Fathan menahan tawanya agar sang istri tidak semakin menangis.
"Tuh kan Mas ketawa! Hiks...aku gendut Mas udah gak cinta sama aku," ujar Tri dengan histeris.
"Ssttt... Gak begitu, bumilku! Sekarang gini, bumil mau apa hmm? Beneran Mas gak tebar pesona, bumil. cuma bumil cantik ini yang ada di hati Mas!" ucap Fathan menoel hidung Tri dengan perlahan.
"Cuma itu hmm?" tanya Fathan memastikan.
Tri mengangguk yang membuat Fathan gemas. "Siap laksanakan, bumil cantikku!" ujar Fathan dengan tegas.
"Jadi, Mas ganti baju sekarang nih?" tanya Fathan dengan jahil.
"He'em.. Jangan pakai kemeja warna hitam, putih, navy! Kemeja yang lain aja!" ujar Tri dengan suara yang amat manja.
Cup...
Cup...
__ADS_1
Sungguh Fathan dibuat gemas oleh tingkah istrinya saat ini, ia menciumi seluruh wajah Tri dengan gemas dan tak lupa pula mencium perut Tri dan mengelusnya.
"Ini yang posesif mamanya atau kalian sih? Kok lucu banget hmm. Kan Papa semakin cinta sama mama kalian," ujar Fathan dengan terkekeh.
Pipi Tri bersemu merah karena ucapan Fathan. Sungguh moodnya kembali membaik karena Fathan sangat bisa membuat hatinya bahagia.
"Ya udah sekarang ikut ke kamar yuk. Biar bumil yang pilihkan baju yang sesuai dengan hati kamu," ujar Fathan dengan mengalah.
"Tapi jangan pakai parfume!" ujar Tri dengan cemberut.
"Gak, Sayang. Buang aja parfume-nya kalau kamu gak suka!" ujar Fathan dengan lembut. Fathan tidak masalah jika harus kehilangan parfume-nya dengan harga jutaan dari pada membuat mood buruk bumil cantiknya datang, bisa gawat dunia perkasuran antara dirinya dan Tri jika mood istrinya memburuk seperti tadi.
Semenjak hamil Tri sangat manja dan entah mengapa Fathan sangat suka sifat istrinya yang seperti selalu bergantung kepadanya apalagi jika sedang posesif seperti ini. Fathan merasa sangat dicintai oleh Tri.
****
Zidan sedang mengelap tubuh Tiara dengan handuk basah perlahan.
"Sayang kapan kamu mau bangun? Ini udah sebulan," gumam Zidan.
"Zayyen dan Zayden sekarang seperti musuh bila sedang berkumpul. Mas gak tau lagi harus melakukan apa agar anak-anak kita kembali akur," gumam Zidan dengan lirih.
"Mas mohon buka mata kamu, Sayang. Semua orang sudah mendapatkan ganjaran atas perbuatannya ke kamu. Tante Erlin dan papa Ezra juga sudah menyesal, Sabrina juga sudah tak sadarkan diri sampai sekarang, Barra juga sudah di penjara. Apa kamu mau menghukum Mas lebih lama lagi karena melihat kamu yang seperti ini, Ay?" ujar Zidan dengan sendu.
"Mas ingin kita menikah secepatnya! Bolehkan Mas menjadikan kamu istri Mas dalam waktu dekat? Nanti setelah kamu sadar resepsi pernikahan kita akan dilakukan sesuai dengan apa yang kamu mau sejak dulu. Gimana kalau besok kita menikah? Kamu bahagia gak?" ucap Zidan yang terus bertanya kepada Tiara walau perempuan itu tidak merespon.
Zidan ingin seperti Akbar dan Fiona yang bisa menikah dan hidup bahagia. Zidan akan mewujudkan semua impian Tiara.
"Anak-anak kita sudah kumpul semua, Ay. Tinggal kita mewujudkan impian kita," ucap Zidan dengan sendu.
__ADS_1
"Tuan putri. Besok adalah hari pernikahan kita. Semoga ada kabar baik tentang kamu besok," ucap Zidan dengan tersenyum. Senyum yang ia paksakan agar ia kembali tegar menghadapi kenyataan jika ternyata Tiara belum sadarkan diri sampai sekarang.