Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 167 (Menghibur Kak Ikbal)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


***


Ikbal memasuki rumah kedua orang tua Delisha seperti rumahnya sendiri. Akbar dan Fiona yang sedang bersantai di ruang keluarga bingung melihat Ikbal datang kembali dengan wajah yang sangat datar setelah mengucapkan salam.


"Ikbal, kenapa?" tanya Fiona saat Ikbal menyalami tangannya.


"Gak apa-apa, Mi! Ikbal boleh menginap di sini?" tanya Ikbal.


"Boleh. Mami sudah siapkan kamar untuk kamu, di atas masih ada kamar kosong bisa kamu tempati kalau kamu menginap di sini," ujar Fiona yang membuat Ikbal menghangat.


"Ada masalah?" tanya Akbar yang seakan mengerti jika pemuda di depannya ini mempunyai masalah.


"Sedikit, Pi! Dari pada berkeliaran di luar mending ke sini aja. Boleh kan, Pi?" tanya Ikbal yang membuat Akbar mengangguk.


"Besok libur kuliah, kan?" tanya Akbar memastikan.


"Iya, Pi!" jawab Ikbal dengan sopan.


"Oke. Kita liburan ke Bali!" ujar Akbar yang membuat Fiona berbinar.


"Beneran, Mas? Dalam rangka apa kita akan liburan?" tanya Fiona dengan tersenyum bahagia.


Akbar mengacak rambut istrinya. "Dalam rangka bersenang-senang, Sayang!" sahut Akbar.


"Mami mau siap-siapkan bawaan kita dulu!" ujar Fiona dengan semangat karena sudah lama mereka tak liburan apalagi waktu belakangan ini suasana keluarga mereka masih berkabung karena meninggalnya Alan.


Ikbal menatap Fiona. "Mami sama Delisha mirip banget ya, Pi!" ujar Ikbal dengan terkekeh.


"Memang dan kamu tidak boleh menyukai istri, Papi! Tapi kalau mau melamar anak bungsu Papi silahkan!" ujar Akbar dengan tegas.


Deg....


Ikbal tercekat. "Pi..."


"Kamu pikir Papi tidak tahu kalau kamu menyukai Delisha?! Papi kasih kesempatan buat kamu mengambil hati Delisha! Saat ini Delisha sudah tidak mempunyai pacar. Apa kamu tidak mau mengambil kesempatan itu? Oo ayolah Ikbal, Papi sudah tua dan Papi ingin mempunyai cucu dari anak-anak Papi. Menikah muda tak masalah bukan?" ucap Akbar yang membuat Ikbal terdiam.


"Kamu tidak mau?" tanya Akbar dengan menaikan satu alisnya.


"M-mau, Pi! Ikbal akan buktikan kalau Ikbal mampu mengambil hati Delisha!" ujar Ikbal dengan terbata karena ia masih syok dengan ucapan papi Delisha kepadanya dan ia tidak menyangka jika Akbar merestui dirinya untuk bersama dengan Delisha.


"Jangan sia-siakan kesempatan yang Papi berikan!" ucap Akbar menepuk punggung Ikbal dengan pelan.


"I-iya, Pi!" jawab Ikbal dengan hati yang berdebar bahagia.


"Ya udah Papi mau ke kamar! Kamu juga istirahat! Kalau mau temui Delisha, dia ada di kamarnya bersama dengan ketiga Kakaknya! Tahu kan mereka lebih posesif dari pada Papi? Tahu juga kan kamu akan susah merebut Delisha dari mereka bahkan mereka rela tidak mempunyai pacar agar Delisha bahagia. Dan Papi sangat berharap jika kamu yang akan membahagiakan anak Papi!" ujar Akbar dengan tegas.


"Tidak masalah, Pi! Itu bisa di atasi!" yuar Ikbal dengan tegas.

__ADS_1


"Baiklah! Papi menunggu hari bahagia itu tiba! Papi titip Delisha sama kamu!" ujar Akbar dengan tegas.


Ikbal mengangguk dengan mantap, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang Akbar berikan kepadanya. Sudah mendapatkan restu dari calon mertua kini tinggal mendapatkan cinta Delisha. Ikbal akan buktikan jika Ikbal bisa membuat Delisha melupakan Zayyen secepatnya.


***


Ikbal membuka pintu kamar Delisha dengan perlahan. Ia menggelengkan kepalanya saat melihat Danish, Daniel, dan Dareel rela tidur sempit-sempitan demi menjaga Delisha. Membayangkan jika dirinya menikah dengan Delisha tetapi ketiga sahabatnya akan seperti ini membuat Ikbal bergidik ngeri. Tidak! Ikbal tidak akan membiarkan itu terjadi nanti.


Bukan alasan Danish, Daniel, dan Dareel tidur di kamar sang adik. Alasan itu sangat kentara sekali yaitu tak mau adiknya bersedih karena mengingat Zayyen. Adiknya harus melupakan Zayyen secepatnya!


Delisha menggeliat dalam tidurnya. "Uhh..dasar posesif!" keluh Delisha tetapi Delisha sangat menyukai sifat kakak-kakaknya kelak jika mereka mempunyai kehidupan sendiri mungkin hal yang seperti ini tidak akan terulang lagi. Bahkan karena tiga kakaknya malam ini Delisha mampu tidak mengingat Zayyen, ia selalu dibuat tersenyum oleh ketiga kakaknya. Beruntung sekali yang akan menjadi pacar kakaknya bukan?


Cup...


Cup...


Cup...


Delisha mencium pipi kakaknya masing-masing. Lalu ia merasa ada yang memperhatikan sejak tadi, Delisha terkejut saat melihat Ikbal lah yang berada di depan pintunya. Bukankah lelaki itu sudah pulang tapi kok berada di depan kamarnya lagi?


"Kak Ikbal!" panggil Delisha dengan melambaikan tangannya. Delisha turun dari kasur dengan perlahan agar ketiga kakaknya tidak terbangun.


Ikbal tersenyum saat Delisha menghampirinya. Tak bisa menahan kerinduannya Ikbal memeluk Delisha dan mengecup kening Delisha dengan lembut padahal mereka baru saja berpisah.


"Kak Ikbal kok ke sini lagi?" tanya Delisha dengan menatap mata Ikbal.


"Kak Ikbal sedih ya?" tanya Delisha yang menyadari raut wajah Ikbal berbeda.


"Kakak bohong sama Delisha!" ujar Delisha dengan cemberut.


Ikbal terkekeh. Ia mengacak rambut Delisha dengan gemas. "Emang kamu tahu Kakak sedih karena apa?" tanya Ikbal dengan pelan.


"Emmm... Pasti karena papa kakak, kan?" tanya Delisha dengan menebak.


Ikbal sedikit syok tetapi ia langsung tersenyum. "Pintar!" ujar Ikbal.


"Kakak boleh cerita apapun ke Delisha agar beban Kakak berkurang! Mumpung Delisha belum ngantuk lagi hehe!" ujar Delisha dengan terkekeh.


"Ayo cerita ke Delisha!" ujar Delisha menarik tangan Ikbal masuk ke kamarnya.


Keduanya duduk di atas karpet di samping kasur Delisha yang sudah di tempati ketiga kakaknya.


"Boleh tidur di sini?" tunjuk Ikbal pada paha Delisha.


Delisha tampak ragu tapi melihat wajah Ikbal yang bersedih ia langsung menganggukkan kepalanya. Perlahan Ikbal merebahkan kepalanya di paha Delisha.


"Kakak udah bisa cerita sama Delisha?!" ucap Delisha dengan pelan.


Ikbal mengangguk. "Papa ke rumah mama bersama dengan selingkuhannya dan juga anaknya. Kamu tahu anaknya siapa?" ucap Ikbal yang membuat Delisha refleks menggelengkan kepalanya.


"Naura, sahabat kamu!" ujar Ikbal dengan pelan.

__ADS_1


"A-apa? G-gak mungkin, Kak!" ujar Delisha dengan terbata saat mengetahui fakta tentang sahabatnya yang ternyata adalah adik dari Ikbal.


"Itu benar Delisha! Dia datang ke rumah Mama! Perempuan itu telah menghancurkan kebahagiaan Kakak selama ini!" ujar Ikbal dengan dingin.


"Kak, ini bukan kesalahan Naura! B-bukan Delisha membela sahabat Delisha tapi Naura baik, Kak! Dia juga mungkin tidak mau seperti ini," ujar Delisha dengan sendu.


"Tapi melihat wajahnya Kakak tidak bisa menghentikan amarah Kakak! Melihat wajahnya seakan kesakitan itu kembali kepermukaan! Rasa sakit itu kembali menghantam Kakak, Delisha! Kakak baru saja ingin berdamai! Tapi kenapa mereka harus datang?" ujar Ikbal dengan dingin.


Delisha mengelus rambut Ikbal dengan pelan, ia melihat mata Ikbal berkaca-kaca. "Apapun yang Kakak rasakan, Delisha siap menjadi penghibur untuk Kak Ikbal!" ujar Delisha dengan perlahan.


Ikbal mengangkat kepalanya, ia meminta Delisha tidur di lengannya. "Iya, Sayang!" sahut Ikbal yang membuat Delisha mendelik.


"Kakak panggil Delisha sayang?" tanya Delisha dengan menatap mata Ikbal saat Delisha sudah merebahkan kepalanya di lengan Ikbal.


Ikbal terkekeh. Ia menyentuh Hidung Delisha dengan gemas. "He'em... Mulai sekarang Delisha jadi pacar Kak! Bukan-bukan tapi calon istri!" ujar Ikbal dengan tegas.


"Mana bisa begitu! Delisha baru aja putus dan masih sedih!" protes Delisha.


"Bisa! Coba aja dulu!" ujar Ikbal memiringkan tubuhnya menjadi menghadap ke arah Delisha.


Delisha tampak panik. "Kak Ikbal bercanda nih!" ujar Delisha dengan gusar. "Mana mungkin Kak Ikbal suka sama Delisha! Delisha kan bodoh! Delisha penyakitan! Delisha mundur dari kak Zayyen juga salah satu alasannya karena Delisha sadar Delisha bukan wanita yang sempurna mana mungkin kak Zayyen mau bertahan dengan Delisha yang sebentar lagi mening.."


"Sssttt...Kakak gak suka kamu ngomong gitu! Kalau ngomong gitu lagi Kakak akan nikahi kamu sekarang juga!" ujar Ikbal dengan tegas.


"Ihhh..mana bisa gitu!"


"Bisa, Sayang! Sekarang kamu pacar Kakak! Kita coba dulu! Kakak pastikan kamu gak bisa jauh-jauh dari Kakak!"


"Kalau Delisha begitu paling kakak pakai pelet!"


"Ehh... nakal ya!" ujar Ikbal menggelitik Delisha.


"Haha...Kakak ampun! Nanti kak Danish, kak Daniel, kak Dareel bangun!"


Ikbal menghentikan gelitikannya. Ia menatap Delisha dengan serius. "Sekarang kamu pacar Kakak!"


"Gak perlu ada jawaban karena tanpa jawaban pun Kakak akan tetap menjadikan kamu calon istri Kakak! Oke cantik! Selamat tidur!" ujar Ikbal dengan lembut.


Ikbal mengecup kening Delisha kembali. "Kakak mau ke kamar! Besok kita liburan ke Bali!"


"Ke Bali? Serius!"


Ikbal mengangguk. "Yaps! Papi yang mengajak kita semua!"


"Aaa senangnya!" ucap Delisha berbinar.


"Tidur, Sayang!"


"Ihh jangan panggil Delisha sayang mulu! Malu tahu!" ujar Delisha dengan malu-malu.


"Apakah ini saatnya Delisha membuka hati untuk Kak Ikbal?"

__ADS_1


__ADS_2