
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya. ...
...📌 Dukung terus cerita baru author 'Suami Bayaran Nona Rania'...
...*...
...*...
...Happy reading...
***
Tak berselang lama dengan pernikahan Zayyen dan Anggun. Kini kedua anak Akbar juga melangsungkan pernikahan mereka dengan megah, selang sehari saja mereka melakukan ijab kabul. Namun, untuk pesta di adakan di hari yang sama.
Tampak mereka sangat bahagia dengan pernikahan mereka apalagi dengan wanita yang memang sudah mereka cintai sejak dulu. Danish menggandeng tangan Keisya, bahkan tangan itu tak pernah lepas sejak acara di mulai. Begitupun dengan Daniel yang terus menggandeng tangan Naura dengan erat.
Naura sebenarnya masih menginginkan mamanya datang ke acara pernikahannya tapi harapan itu ia harus kubur dengan dalam karena tak mungkin mamanya itu datang ke pernikahannya dengan Daniel hari ini.
Tampak wajah bahagia Akbar dan Fiona yang duduk di kursi khusus keluarga. Wajah tua Akbar tampak berbinar dengan bahagia karena semua anaknya sudah menikah, rasanya Akbar sangat bangga dengan ke-empat anaknya karena sudah sukses di usia muda dan mendapatkan pendamping yang sangat baik, rasanya Akbar sangat lega sekali jika sewaktu ia meninggal istrinya pasti akan diurus dengan baik.
Fathan dan juga Tri sangat bangga dengan keponakan mereka, apalagi mereka juga sedang bahagia karena Cika dan Nessa sedang hamil sekarang. Keluarga mereka seakan sudah lengkap dengan kebahagiaan dalam keluarga mereka.
"Rasanya tenang banget bisa melihat kebahagiaan anak-anak kita seperti ini ya! Rasanya lega sekali seakan tugas kita sudah selesai untuk membahagiakan mereka, kini tinggal mereka yang membahagiakan keluarga mereka masing-masing," ujar Akbar yang membuat Fathan melihat ke arah adik iparnya. Walaupun usia Akbar lebih tua darinya tetapi tetap saja Akbar adalah adik iparnya.
"Ya emang terasa sangat membahagiakan karena anak-anak kita sudah bahagia masing-masing. Tapi kalau saya masih ada tanggungan banyak nih. Yang paling bungsu dan masih sangat menggemaskan juga masih kecil," ujar Fathan dengan terkekeh kala menatap anak bungsunya sedang bermain dengan Nevan.
"Hahaha.... Hobi banget buat anak sih," ejek Akbar yang membuat Fathan dan Tri terkekeh malu.
"Istri saya saja yang terlalu subur, sekali tembak langsung bengkak perutnya. Untung saja ini sudah steril kalau tidak mungkin adiknya Nadine akan hadir juga," ujar Fathan dengan terkekeh yang membuat Tri mencubit perut Fathan dengan gemas karena suaminya ini asal ceplos saja kalau berbicara.
"Aduh ampun, Ma!" ujar Fathan dengan meringis yang membuat Fiona dan Akbar tertawa.
"Selamat malam!" sapa Zidan bersama dengan Tiara.
"Selamat malam Zidan. Silahkan duduk, maaf sekali sewaktu pernikahan Zayyen dengan Anggun kami sekeluarga tidak bisa hadir," ujar Akbar tak enak hati.
__ADS_1
"Tidak masalah, Mas. Kami paham kesibukan keluarga Mahendra," ujar Zidan dengan tersenyum.
"Terima kasih," ujar Akbar pada akhirnya.
"Pesta pernikahan Danish dan Daniel sama mewahnya dengan pernikahan Dareel dan Delisha. Sangat memukau sekali," ujar Zidan dengan takjub.
Fiona tersenyum. "Kebahagiaan anak adalah yang paling utama. Lagi pula semua anak kami sudah menikah, jadi tak masalah jika menyiapkan pesta pernikahan yang seperti ini. Kelak di kemudian hari tidak ada yang iri dengan saudaranya masing-masing," jawab Fiona dengan lembut.
"Iya benar. Itu Delisha ya? Wah lucunya, perutnya semakin besar. Sudah berapa bulan sekarang?" tanya Tiara dengan mata berbinar.
"Iya itu Delisha. Sudah mau memasuki 7 bulan makanya kakinya mulai bengkak dan susah tidur," jawab Fiona dengan tersenyum.
"Seperti 9 bulan ya. Wajahnya juga semakin awet muda. Pasti ketiga anaknya sangat menggemaskan sekali," ujar Tiara yang masih menganggap jika Delisha adalah anaknya walaupun Delisha tak menikah dengan Zayyen.
Akbar dan Fiona tersenyum. "Itu juga peran suaminya yang selalu menyenangkan hatinya, Mbak. Apapun keinginan Delisha, Ikbal selalu menurutinya," ujar Fiona yang membuat Tiara terdiam. Tiara merasa bersalah dengan sikap Zayyen dulu kepada Delisha.
"Mami!" rengek Delisha menghampiri kedua orang tuanya.
"Kenapa, Sayang?"
"Oo halo Om dan Tante. Apa kabar? Maaf ya Delisha tidak hadir ke pernikahan kak Zayyen dan istrinya, soalnya Delisha suka engap kalau jalan bentar saja sekarang," ujar Delisha dengan tersenyum.
"Alhamdulillah baik, Delisha. Iya gak apa-apa kami memaklumi jika kamu sedang hamil," jawab Tiara dengan tersenyum.
"Boleh Tante elus perut kamu?" tanya Tiara meminta izin.
"Boleh, Tante. Tapi anak-anak Delisha jarang respon kalau bukan papinya yang elus. Anak Papi banget kan, Tante?" ujar Delisha dengan terkekeh.
"Kalau sama Papinya mereka adu kekuatan sampai Delisha meringis kesakitan," ujar Delisha dengan berbinar ketika menceritakan bagaimana aktifnya ketiga anaknya ketika di sapa papinya.
"Oo iya? Wah jadi penasaran bagaimana aktifnya anak-anak kamu," ujar Tiara tidak sabaran ingin mengelus perut Delisha, tetapi benar kata Delisha mereka tidak menyapa dengan gerakan sama sekali.
"Hehe maaf ya, Tante. Mereka memang begitu," ujar Delisha yang membuat Tiara terkekeh.
"Gak apa-apa haha..."
"Sayang, ini strawberry-nya. Mau di suapi atau makan sendiri?" tanya Ikbal dengan lembut.
__ADS_1
"Suapi. Tangan Delisha pegel," ujar Delisha dengan manja yang membuat para orang tua di samping mereka menggelengkan kepalanya.
"Kurang-kurangi makan yang berat-berat dan juga yang manis ya, Nak. Ketiga bayi kamu sudah besar," ujar Fathan dengan lembut.
"Kalau buah boleh kan, Pakde? Strawberry enak banget di mulut Delisha. Jangan larang ya, Pakde!" ujar Delisha dengan memelas.
"Kalau buah boleh. Kalau makan yang berat-berat jangan terlalu banyak. Napas kamu juga sudah mulai susah, kan? Kita harus menjaga mereka juga," ujar Fathan dengan lembut.
"Iya, Pakde. Gak banyak kok! Serius deh! Tapi tiap tengah malam lapar hehehe," ujar Delisha dengan jujur.
Fathan tersenyum. "Dasar bumil!" ujar Fathan yang tak bisa berkata-kata lagi.
***
Potret keluarga bahagia mereka sudah diabadikan dengan sangat cantik, apalagi pakaian yang keluarga Mahendra, Samudera, Al-ghifari tak lupa keluarga Thompson dari pihak Keisya pakai senada menambah kesan cantik dan elegan sekali.
Danish memandang Keisya dengan dalam dan mencium tangan Keisya dengan lembut. "Love you!" ucap Danish dengan lembut saat sesi pemotretan keluarga mereka selesai.
"Ihhh malu, Mas!" gumam Keisya dengan malu-malu yang membuat Danish terkekeh.
"Pasti sekarang pipinya merah banget nih tapi sayang di tutup sama make up. Cantik banget sih istri Danish," ujar Danish mencolek dagu Keisya yang lancip dengan gemas.
Ada rasa iri di hati Naura ketika melihat kedua orang tua kakak iparnya datang dengan bahagia, sedangkan dirinya mamanya saja sudah tidak peduli lagi dengan Naura hanya ada kedua orang tua angkatnya yang masih peduli tetapi walaupun begitu Naura sangat bersyukur.
Daniel yang menyadari kesedihan istrinya memeluk Naura dari samping dengan erat, Naura belum tahu jika papa tirinya bangkrut dan mamanya di perlakukan seperti bak pembantu di rumah milik Iwan. Seandainya Naura tahu akan bersikap seperti apa Naura mendengar kabar itu?
"Hei, jangan buat papa Tomi dan mama Claudia gagal membuat kamu bahagia, Sayang. Dan jangan buat suamimu ini juga merasa gagal karena di saat pesta pernikahan kita pun kamu masih sedih seperti ini," ujar Daniel dengan lembut.
Naura menatap suaminya dengan pandangan lembutnya. "Aku hanya iri melihat kedua orang tua kak Keisya bisa menyaksikan kak Keisya menikah dan bersanding di pelaminan, Mas. Sedangkan aku mama kandungku sendiri tidak datang," gumam Naura dengan lirih.
"Masih ada kedua orang tua kamu, Sayang. Walaupun mereka bukan kedua orang tua kandung tapi kasih sayang mereka sangat tulus," ujar Daniel yang membuat Naura tersenyum.
"Kamu benar, Mas. Seharusnya aku bahagia bukan merasa bersedih seperti ini. Maafkan aku ya, Mas!"
"Iya istriku!" jawaban Daniel sungguh membuat Naura malu dengan wajah memanas.
Kebahagiaan tidak bisa di beli dengan apapun, seperti halnya cinta sejati. Hari ini senyum bahagia mereka tak luntur, karena merasa sangat bahagia dengan apa yang terlaksana hari ini. Perjalanan mereka masih sangat panjang, namuun rancangan masa depan untuk bahagia bersama sudah terancang dengan sangat baik walaupun mereka tahu perjalanan takdir mereka tak selamanya mulus.
__ADS_1