
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...📌 Dukung terus cerita baru author "Suami Bayaran Nona Rania"...
...*...
...*...
...Happy reading...
***
Nessa sedang bermanja dengan Andra bahkan ia memeluk Andra dengan kencang setelah Ayuna berangkat sekolah.
"Mas mau ke kampus, Sayang!" ujar Andra dengan lembut.
"Enggak boleh! Aku gak izinin Mas ke kampus," ujar Nessa dengan manja yang membuat Andra terkekeh.
Padahal ia sudah rapih dan sudah mengantarkan Ayuna ke sekolahnya saat hendak menuju ke kampus tempat Andra mengajar sang istri meneleponnya dan menyuruh dirinya untuk pulang, dan apa yang terjadi Nessa mengurungnya di dalam kamar bahkan kuncinya di lempar begitu saja.
Andra tentu saja senang melihat perubahan Nessa yang sangat manja kepada dirinya, padahal sebelum hamil mereka seperti kucing dan tikus yang tak pernah akur, hanya akur di saat malam saja selebihnya mereka berantem yang membuat orang gemas tetapi kalau salah satu dari mereka belum pulang maka mereka akan uring-uringan tidak jelas. Terlebih Nessa akan menggerutu sepanjang waktu jika Andra belum pulang ke rumah.
"Loh kenapa suaminya gak di bolehin kerja nih? Biasanya gak pernah gini," tanya Andra dengan bingung sekaligus gemas dengan tingkah istrinya sekarang.
"Jadi, ini maksud kamu menelepon Mas, Sayang? Padahal sebentar lagi Mas sampai kampus loh. Mas pikir ada apa-apa sama kamu gak tahunya Mas di kurung kayak tawanan gini tapi bedanya di kurung sama bidadarinya langsung," ujar Andra dengan terkekeh.
Nessa terkekeh dengan mencium pipi Andra dengan gemas yang membuat Andra terkekeh geli, ia jadi menang banyak jika Nessa seperti ini. Tiap tahun saja Andra buat Nessa hamil kalau begini reaksi Nessa.
"Gak usah berangkat ke kampus ya, Mas! Serahkan semuanya pada asisten, Mas! Ya, ya!" ujar Nessa dengan mengerjapkan kedua matanya dengan lucu.
Cup...
Andra mengecup bibir Nessa dengan gemas. "Iya, Sayang. Sebentar Mas telepon asisten Mas ya!" ujar Andra yang akhirnya mengalah walau bagaimanapun Nessa sedang hamil dan semua keinginan istrinya harus di penuhi kalau tidak mau anak mereka ileran nanti.
Nessa memainkan jakun suaminya saat suaminya sedang menelepon asisten dosen yang selalu membantu Andra jika Andra sedang sibuk. Andra menelan ludahnya dengan kasar, suaranya berubah menjadi serak tetapi untung saja asistennya adalah seorang lelaki jika perempuan mungkin akan merinding mendengar suaranya, merinding terpanah mungkin.
Andra meletakkan ponselnya ke atas nakas di samping kasur. "Sayang jangan suka main jakun Mas ini sangat berbahaya. Kamu tahu gak?" ujar Andra memperingati istrinya.
"Apa bahayanya?" tanya Nessa dengan entengnya tetapi tangannya tak mau berpindah dari jakun Andra hingga jakun Andra naik turun karena perbuatan Nessa, ia jadi terangsang sekarang.
__ADS_1
"Lihat ke bawa! Itu hasil perbuatan kamu yang memainkan jakun Mas!" ujar Andra dengan serak.
Nessa melihat ke bawah seperti yang Andra suruh, lalu ia mendengkus saat melihat tonjolan di bawah sana terlihat dengan jelas. "Burung kamu memang gak tahan godaan. Murahan banget itu burung," ujar Nessa dengan ketus.
"Sembarangan kamu! Dia mahal ya! Cuma pernah masuk ke dua goa!" ujar Andra dengan ketus.
"Mahal dari mana?" tanya Nessa dengan datar yang membuat Andra kesal.
"Mahal sekaligus bahaya. Lihat sekarang perut kamu sudah terkena semburan larva panas dari burung, Mas. Selama sembilan bulan nanti perut kamu bakal bengkak," ujar Andra dengan asal.
Nessa terkekeh melihat wajah suaminya yang terlihat kesal kepadanya. Membuat Andra kesal adalah hobinya sejak dulu, tangan Nessa sudah berpindah ke bawah dan membuka Ikat pinggang suaminya setelah itu dengan jahil Nessa memasukkan tangannya ke dalam celana suaminya.
"Arggh... Nessa!" teriak Andra tertahan dengan wajah memerah karena gairahnya datang dengan sangat besar saat Nessa menyentuh burungnya.
"Tanggungjawab Mas gak mau tahu!" ujar Andra dengan wajah memerah.
"Ehhh... Kata Papa kalau lagi hamil muda jangan melakukan itu dulu," ujar Nessa yang membuat Andra menggeram kesal.
"Kamu sengaja banget bikin Mas terangsang terus Mas gak boleh nyentuh kamu. Itu namanya menyiksa suami, Sayang! Tahu gitu Mas ke kampus sajalah!" ujar Andra dengan kesal.
"Iihhh jangan pergi. Iya boleh kok tapi pelan-pelan," rengek Nessa uang membuat Andra menyeringai.
"Makanya jangan gengsian kalau lagi pengin," ujar Andra dengan terkekeh.
"Tapi pelan-pelan ya, Mas!" ujar Nessa.
"Iya, Sayang. Mas gak mungkin nyakitin anak Mas sendiri," ujar Andra dengan tegas.
"Mau gaya apa?" tanya Nessa dengan mengerling nakal.
"Tuh kan mancing terus!" ujar Andra dengan gemas.
Andra menyambar bibir istrinya dengan gemas yang membuat Nessa membalas ciuman suaminya hingga berakhir dengan bermandi peluh bersama di pagi hari. Andra begitu sangat beruntung karena ia sangat menang banyak daripada iparnya Zayden karena Cika sama sekali tidak mau di dekati. Mungkin jika mereka bertemu Andra akan mengejek Zayden, ia ingin melihat bagaimana reaksi Zayden saat ia mengejek Zayden.
***
Andra mengeringkan rambut istrinya dengan hair dryer setelah mereka mandi bersama. Andra dengan gemas mengecup puncak kepala Nessa yang sangat wangi.
"Mumpung Mas di rumah kamu mau apa?" tanya Andra dengan lembut.
Nessa tampak berpikir sebentar. "Gimana kalau kita makan di luar, Mas? Sekalian jemput Ayuna dii sekolahnya," ujar Nessa dengan berbinar.
__ADS_1
"Boleh. Sebentar lagi kita berangkat biar pas dengan jam pulang Ayuna," sahut Andra dengan tersenyum.
Andra melihat wajah istrinya dari balik kaca rias. "Ternyata benar kata orang jika aura ibu hamil itu sangatlah berbeda," gumam Andra yang membuat Nessa bingung.
"Beda gimana, Mas?" tanya Nessa.
"Aura kecantikannya lebih keluar, Sayang. Ibu dokterku yang cantik sekaligus ibu dari anak-anakku," ujar Andra dengan terkekeh karena ia sangat jarang sekali memuji istrinya kalau tidak ada maunya tapi entah mengapa sekarang ia sangat ingin memuji kecantikkan Nessa yang terlihat lebih bersinar.
"Sok gombal kamu, Mas!" ujar Nessa dengan tertawa.
Andra juga tertawa. "Kok iya ya? Kayak bukan kita banget," ujar Andra dengan terkekeh.
"Haha... Ya sudah sana Mas ganti baju. Aku mau makan di tempat lesehan yang semua makanannya makanan kampung ya, Mas!"
"Kamu ngidam?" tanya Andra dengan senang.
"Iya, dong. Aku kayak mendapatkan bisikan kalau makan makanan kampung itu enak banget apalagi sambel terasinya. Aaa... Jadi gak sabar," ucap Nessa yang membuat Andra terkekeh.
"Ya sudah kita ke sana ya. Mas tahu dari teman kalau ada tempat yang sangat enak," ujar Andra yang membuat Nessa mengangguk setuju.
****
Setelah menjemput Ayuna akhirnya Andra dan Nessa menuju tempat yang Nessa inginkan.
"Kita mau kemana, Bun?" tanya Ayuna saat ia ganti di dalam mobil di bantu oleh Nessa.
"Kita makan-makan, Sayang. Mumpung uang ayah masih banyak kita habiskan saja," ujar Nessa yang membuat Andra menggelengkan kepalanya.
"Asyikk... Terus belanja ya, Bunda. Ayuna mau beli baju baru, tas baru, sepatu baru, dan mainan baru," ujar Ayuna dengan sangat senang.
"Tentu saja, Sayang. Kan semua ayah yang bayar tugas kita cuma habiskan uang ayah," ujar Nessa yang sangat kompak dengan Ayuna.
"Kalian anggap Ayah bank berjalan ya?" tanya Andra.
"Iya, Dong! Personil yang mau habiskan uang ayah masih di dalam perut Bunda. Jadi, kalau adek sudah lahir uang Ayah bakal habis banyak daripada ini," ujar Ayuna yang membuat Nessa terkekeh.
"Terserah kalian berdua saja lah. Yang penting kalian bahagia," ujar Andra dengan pasrah.
Dirinya bekerja toh juga untuk istri dan anaknya. Memanjakan mereka adalah sesuatu yang harus agar keduanya bahagia.
Nessa tak pernah menyangka jika pernikahannya dengan Andra sangat membahagiakan sekali seperti ini. Apalagi Ayuna selalu membelanya, ia dan Ayuna menjadi sekutu yang sangat kuat untuk membuat Andra pasrah dan hanya bisa menerima begitu saja. Dan Andra harus menyiapkan mental karena mungkin uangnya akan terkuras banyak hari ini untuk menyenangkan kedua bidadari dalam hidunya.
__ADS_1