
...📌Bom like dan komentar ya. Part ini panjang banget loh!...
...Happy reading...
****
Dokter Ridwan menatap pemuda yang datang ke ruangannya dengan helaan napas panjang. Ia tak menyangka ada yang berani berbicara dengan tegas kepadanya seperti ini bahkan dokter Ridwan melihat tak ada keraguan dari raut wajah pemuda tersebut. Ini sudah dua orang yang mendatanginya dan dokter Ridwan masih belum bisa mengambil keputusan karena menyangkut nyawa seseorang.
"Saya ingin menjadi pendonor untuk Delisha, Dok! Tak peduli resikonya saya meninggal yang terpenting Delisha bisa sehat dan hidup dengan bahagia," ujar pemuda tersebut dengan tegas.
Dokter Ridwan membenarkan letak duduknya. Ia menatap pemuda tersebut dengan pandangan yang amat serius.
"Kamu tahu sendiri pendonor jantung harus dari orang yang baru saja meninggal. Saya tak mungkin melakukan operasi kepada kamu dengan tubuh kami yang sangat sehat seperti ini. Kamu orang kedua yang datang kepada saya untuk menjadi pendonor Delisha tetapi semua tak bisa di lakukan karena kalian sehat. Pikirkan lagi bagaimana nasib keluarga kamu jika kamu pergi begitu saja," ujar Dokter Ridwan dengan tegas.
"Tapi saya tidak bisa melihat orang yang saya cintai menderita seperti itu, Dok! Baiklah jika Dokter tidak mengizinkan maka saya akan mendaftarkan diri sebagai pendonor Delisha ketika saya sudah meninggal!" ujar pemuda tersebut dengan tegas yang membuat dokter Ridwan terkejut.
"Kamu tidak akan melakukan sesuatu yang akan mencelakai diri kamu sendiri, kan? Jika begitu maka saya tidak akan mau. Delisha juga tidak akan menerima pemberian kamu jika kamu mencelakai diri kamu sendiri," ujar Dokter Ridwan dengan tegas.
Pemuda tersebut tampak frustasi. "Saya mohon, Dok! Setidaknya saya masih hidup di diri Delisha!" ujar pemuda tersebut dengan memohon.
"Akan saya pikirkan!" ujar dokter Ridwan dengan pelan. "Tapi kamu jangan sampai melakukan sesuatu yang mencelakai diri kamu sendiri guna untuk mencapai apa yang kamu inginkan yaitu mendonorkan jantung dan paru-paru kamu untuk Delisha," ujar dokter Ridwan kembali.
Pemuda tersebut tersenyum. "Terima kasih, Dok! Dan jangan beritahu orang tua atau keluarga Delisha yang lainnya jika saya menemui Dokter," ujar pemuda tersebut dengan tersenyum.
Dokter Ridwan mengangguk, ia menatap pemuda tersebut dengan pandangan takjub. "Beruntung sekali Delisha di kelilingi orang-orang yang mencintainya bahkan rela menukarkan nyawanya demi kebahagiaan Delisha," ujar Dokter Ridwan dengan pelan karena baru kali ini ia mendapatkan pasien yang begitu sangat dicintai oleh keluarga dan orang-orang terdekatnya.
***
Delisha membuka matanya dengan perlahan, ia menatap sekelilingnya dan gadis itu sudah hapal dirinya berada di mana, Delisha merasakan ada sesuatu yang menggenggam tangannya, ia tersenyum saat Ikbal lah yang ternyata tertidur dengan menggenggam tangannya.
Di sofa juga ada kedua orang tua serta ketiga kakaknya yang juga tertidur, mungkin lelah karena menjaganya. Delisha menjadi merasa bersalah karena selalu merepotkan orang tua, ketiga kakaknya dan juga Ikbal.
Ikbal perlahan mulai mengangkat kepalanya karena merasa tangan Delisha bergerak. Dan benar saja tunangannya sudah membuka mata dan menatapnya dengan dalam.
"Delisha ganggu tidur mas pacar ya?" tanya Delisha dengan lirih.
Ikbal menggelengkan kepalanya. Ia tersenyum dengan manis dan mengecup tangan Delisha berulang kali menyampaikan rasa bahagianya karena Delisha sudah sadar. Pagi ini adalah pagi yang sangat indah bagi Ikbal karena bisa melihat Delisha membuka mata setelah semalam gadis yang ia cintai tak sadarkan diri.
"Ada yang sakit, Sayang?" tanya Ikbal dengan perhatian sekaligus takut jika Delisha kembali seperti semalam yang membuat semua orang ketakukan jika Delisha akan pergi meninggalkan mereka semua.
__ADS_1
"Gak ada, Mas pacar. Maaf ya semalam berantakan gara-gara Delisha sakit! Delisha sangat merepotkan sekali ya?!" ujar Delisha dengan lirih.
"Gak merepotkan sama sekali, cantik. Ini semua di luar kendali kita. Kamu sakit juga bukan kemauan kamu," ujar Ikbal dengan lembut.
Akbar, Fiona, Danish, Daniel, dan Dareel yang mendengar suara Delisha walau samar-samar langsung terbangun.
"Anak Papi, Mami udah sadar." Akbar berucap sambil menghampiri Delisha yang berada di brankar.
Semua memeluk Delisha dengan erat bahkan Delisha sampai tersenyum haru. Akbar mengecup kening anaknya dengan lembut dan penuh kerinduan. Bahkan Ikbal juga ikut tersenyum melihat keluarga Delisha yang sangat begitu menyayangi Delisha. Dan tidak ada alasan Ikbal membuat hati Delisha sakit, kan? Ikbal akan berusaha membahagiakan Delisha sebagaimana keluarga Delisha membahagiakan gadis itu.
"Kayak gak akan jumpa Delisha lagi ya?" ujar Delisha dengan terkekeh yang membuat semua orang terdiam.
"Gak boleh ngomong gitu ya, Nak!" ujar Fiona dengan sendu.
"Dek, stop ngomong seakan kamu akan meninggalkan kita semua! Kamu harus sembuh. Papi, Mami, dan kakak semua akan berusaha untuk mencari pendonor yang cocok untuk kamu," ujar Daniel dengan lirih.
"Delisha sangat berharap itu, Kak! Asal jangan kalian yang akan mendonorkan jantung dan paru-paru untuk Delisha. Delisha gak mau menerimanya, lebih baik Delisha yang pergi!" ujar Delisha dengan dalam.
"Delisha mau dari orang yang gak Delisha kenal. Itu pun orang yang memang sudah meninggal dan keluarganya setuju kalau tidak pun jangan dipaksa walau Papi memberikan uang yang sangat banyak untuk mereka. Delisha tahu rasanya pasti sangat menyakitkan," jelas Delisha yang membuat tubuh Ikbal mematung dengan sempurna. Tetapi setelah itu pria itu mencoba bersikap seperti biasa.
"Hei, jangan putus asa. Kamu pasti akan mendapatkan pendonor itu dengan segera cantik! Kamu akan sehat lagi!" ujar Ikbal yang membuat Delisha menatap Ikbal dengan dalam.
"Kamu kok bisa ngomong begitu, Dek? Kalian akan menikah dan Ikbal gak akan mungkin melakukan itu," ujar Dareel dengan tegas.
"Apa yang tidak mungkin? Dulu Mas pacar begitu juga sama almarhumah kak Erina. Mungkin juga dia akan melakukan hal yang sama kepada Delisha. Dan Delisha harap jantung Mas pacar tidak cocok dengan Delisha," ujar Delisha yang seakan mengetahui sesuatu.
"S-sayang, Mas..."
"Benarkan apa yang Delisha tebak? Mas pacar mau mendonorkan jantung dan paru-paru Mas pacar untuk Delisha? Delisha minta batalin semuanya! Atau Delisha akan mati!" ujar Delisha dengan dingin.
Akbar menatap Ikbal. "Benar begitu Ikbal?" tanya Akbar dengan tegas.
"Pi, I-ikbal gak mau Delisha terus-terusan menahan sakit seperti ini," ujar Ikbal dengan sendu.
"Tapi Delisha gak mau menerima pendonor dari orang terdekat Delisha! Delisha gak akan mau menerimanya! Jika kalian memaksa Delisha bersumpah tubuh Delisha gak akan menerima jantung dan paru-paru Mas pacar atau yang lainnya dan Delisha akan pergi untuk selama-lamanya," ujar Delisha membuang muka enggan menatap tunangan dan keluarganya.
Air mata Delisha mengalir begitu saja yang membuat semua orang panik. "Hiks...Delisha gak mau merenggut kehidupan kalian hanya demi membuat hidup Delisha lebih lama lagi. Kenapa kalian gak mengerti perasaan Delisha yang gak ingin kehilangan kalian semua. Ketika Delisha hidup nanti tetapi salah satu di antara kalian tidak ada sama saja hidup Delisha tidak sempurna! Delisha gak mau menerima pendonor dari orang yang Delisha kenal!" ujar Delisha dengan terisak.
"Kalau Mas pacar mau mendonorkan jantung dan paru-paru-nya untuk Delisha. Jadi, semua ini untuk apa? Semua rasa cinta, kasih sayang yang membuat Delisha melupakan kak Zayyen semuanya untuk apa? Cincin ini tidak ada gunanya melingkar di jari Delisha kalau Mas pacar pergi! Delisha gak mau ketemu Mas pacar kalau Mas pacar gak batalin semuanya!" ujar Delisha dengan dingin.
__ADS_1
"Dek, jangan emosi ya. Mungkin Ikbal melakukan semua ini karena sangat mencintai kamu. Dia gak mau kehilangan untuk kedua kalinya," ujar Danish memberikan pengertian untuk samg adik.
"Kalau Mas pacar saja gak mau kehilangan apa lagi Delisha, Kak? Delisha harus kehilangan orang yang Delisha cintai lagi? Begitu ya mau kak Ikbal? Kak Ikbal sudah buat Delisha terbang lalu di jatuhkan lagi ke atas jurang. Rasanya itu lebih sakit dari apapun Kak!" ujar Delisha dengan berlinang air mata.
Ikbal mematung. Ia memeluk Delisha dengan sangat erat.
"Lepaskan Delisha! Hiks...Kakak jahat!" ujar Delisha yang tak lagi memanggil Ikbal dengan panggilan kesayangannya. Sungguh Delisha lebih takut kehilangan orang-orang terdekatnya demi menyelamatkan hidupnya.
"Sayang..."
"Jangan temui Delisha kalau Kakak belum membatalkan semuanya!" ujar Delisha dengan tegas.
Ikbal memejam matanya lalu menghembuskan napasnya dengan perlahan. "Iya Mas janji!" ujar Ikbal dengan sendu.
"Ayo temui dokter Ridwan! Delisha mau mendengarkannya secara langsung serta mau bertanya ada pendonor lagi yang Delisha kenal atau tidak kalau ada Delisha menyuruh mereka untuk membatalkannya!" ujar Delisha bangun dari tidurnya bahkan melepaskan selang infusnya begitu saja.
"Sayang apa yang kamu lakukan?" ujar Ikbal dengan panik saat melihat darah mengalir dari tangan Delisha akibat gadis itu melepaskan infusnya secara paksa.
"Kakak akan lihat yang lebih parah kalau Kakak masih melanjutkan semuanya!" ujar Delisha tanpa merasa sakit pada tangannya.
"Oke...Kita akan bertemu dengan dokter Ridwan! Tapi Mas mohon kamu jangan nekat seperti ini," ujar Ikbal dengan gusar.
Akbar mengusap wajahnya dengan kasar. Delisha sangat menyayangi orang-orang sekelilingnya dan anaknya itu tidak akan mau menerima jantung orang terdekatnya yang membuat dirinya dan yang lainnya susah mendapatkan donor jantung dan paru-paru untuk Delisha.
"Hati-hati, Bal!" ujar Fiona dengan sendu saat melihat anaknya begitu keukeuh tidak mau menerima pendonor dari orang terdekatnya. Jika Delisha mau sudah Fiona lakukan dari dulu.
"Iya, Mi!" ujar Ikbal dengan pelan.
Delisha menatap wajah Ikbal yang seperti menahan amarah. Mungkin lelaki itu kesal karena tak bisa mendonorkan jantung dan paru-paru-nya untuk dirinya karena ia yang melarang.
"Delisha mencoba bertahan asal Kakak dan yang lainnya ada di samping Delisha," gumam Delisha dengan lirih saat dirinya di gendong menuju ruangan dokter Ridwan.
"Mas, Delisha! Mas pacar!" protes Ikbal dengan kesal.
"Mas tidak ingin apa yang terjadi pada Erina terjadi juga pada kamu. Kamu gak tahu betapa takutnya Mas saat melihat kamu tak sadarkan diri dengan banyaknya alat medis yang melekat di tubuh kamu. Pendeteksi jantung yang dipasang di tubuh kamu seperti kiamat buat Mas!" ujar Ikbal dengan tegas.
"Lalu jika Mas pacar yang pergi dimana lagi Delisha harus pulang dan bersandar? Delisha butuh Mas pacar!" ujar Delisha dengan tulus.
"Sayang..." Ikbal menatap dalam manik mata Delisha.
__ADS_1
"Maaf kalau keputusan Mas buat kamu takut!" ujar Ikbal dengan sendu.