
...Jujur aku nangis ngetik part ini wkwk.....
...Jangan lupa siapkan tisu ya...
...Happy reading...
****
Ibu Mala masuk ke ruang ICU di mana Tiara dirawat. Hampir 7 bulan Tiara tak sadarkan diri akibat kecelakaan yang menimpa menantunya tersebut.
"Princess, di sana lebih indahnya makanya kamu betah banget tidurnya? Hampir tujuh bulan Sayang kamu tertidur kasihan suami kamu dan kedua anak kamu," gumam Ibu Mala dengan lirih.
"Hari ini kamu ibu bersihkan dulu ya. Biar badan kamu segar, Zidan belum sempat ke sini karena ada operasi sebentar lagi selesai dan dia pasti akan melihat kamu," ucap Ibu Mala dengan pelan.
Ibu Mala mulai membasahi handuk kecil dengan air dan mengelap rubuh Tiara dengan perlahan agar menantunya tidak merasakan sakit.
Awalnya tubuh Tiara tampak seperti biasa hingga suara alat pendeteksi jantung Tiara berbunyi nyaring.
"Tiara!"
"Kamu kenapa, Nak?"
Ibu Mala terlihat panik saat tubuh Tiara kejang-kejang. Ibu Mala dengan tangan gemetar memencet tombol darurat hingga tak lama dokter dan suster datang berlarian ke ruangan Tiara.
"Apa yang terjadi, Bu?" tanya dokter Ridwan yang menangani Tiara.
"Hiks... Tidak tau! Tubuh Tiara tiba-tiba kejang," ucap Ibu Mala dengan menangis.
"Sebaiknya Ibu keluar dulu biar saya dan tim akan memeriksa keadaan dokter Tiara," ucap dokter Ridwan yang di angguki oleh ibu Mala dengan enggan meninggalkan menantunya.
Ibu Mala keluar bersamaan dengan Zidan yang datang dengan wajah yang amat panik. Baru saja ia selesai melakukan operasi dan kini jantungnya berdetak dengan cepat karena panik yang ia rasakan saat melihat dokter Ridwan berlari ke ruangan Tiara.
"Ada apa, Bu? Kenapa dokter Ridwan dan yang lainnya berlarian ke ruangan Tiara? Tiara baik-baik saja kan, Bu?" tanya Zidan dengan bertubi-tubi.
"Hiks...hikss.. Tiara, Zid. D-dia.."
"Tiara kenapa, Bu?" tanya Zidan dengan khawatir bahkan dadanya sangat terasa sesak sekarang memikirkan kemungkinan yang akan terjadi pada istrinya saat ini.
"T-tiara tiba-tiba kejang, Zid. Ibu takut hiks.." ucap Ibu Mala yang membuat Zidan mematung.
__ADS_1
Deg...
Zidan berlari memasuki ruang ICU untuk melihat keadaan istrinya meninggalkan ibu Mala yang menangis karena takut dan khawatir sekaligus dengan keadaan menantu kesayangannya.
"Mala ada apa?" tanya Mama Erlin dengan bingung. Melihat besannya menangis mama Erlin jadi cemas sendiri.
"T-tiara kejang! S-saya takut!" ucap Ibu Mala dengan lirih.
"Ya Tuhan... Anakku!" ucap Mama Erlin histeris.
"Jangan ambil anakku Ya Tuhan aku belum bisa menebus kesalahanku padanya," doa Mama Erlin.
Papa Ezra tampak diam. Dari diamnya ia sangat terlihat khawatir dengan keadaan anaknya, jangan sampai ia kembali kehilangan anak. Kesalahannya belum ditebus untuk membahagiakan Tiara, jika bisa nyawanya saja yang diambil jangan Tiara. Anaknya berhak untuk bahagia.
Tak lama ayah Felix juga datang bersama dengan Zayyen dan dan juga Zayden. Ayah Felix tidak datang bersama dengan sang istri karena ia menjemput kedua cucunya yang masih berada di sekolah. Namun, baru saja sampai ketegangan sudah ia rasakan ketika melihat istri dan besannya menangis.
"Ada apa ini?" tanya Ayah Felix dengan tegas.
"Yah, Tiara,Yah! Tiba-tiba tubuh Tiara kejang dan alat pendeteksi jantungnya menampakkan garis lurus. Ibu takut Yah! Hiks..." ucap Ibu Mala dengan sesegukan.
Mendengar penuturan sang istri membuat ayah Felix terdiam, ia tidak tahu harus berkata apa yang jelas ia berharap jika keadaan Tiara baik-baik saja.
Mendengarkan penuturan neneknya membuat Zayyen dan Zayden terdiam. Mereka berdua langsung berlari ke depan jendela besar ruangan mamanya, keduanya menaiki kursi untuk bisa melihat mamanya dari luar.
"Mama!" gumam Zayyen dengan menyentuh kaca seakan ia bisa menyentuh wajah mamanya.
"Zayyen, semua ini gara-gara kamu! Aku tidak mempunyai mama lagi hiks..." ucap Zayden dengan tajam.
Zayyen yang dituduh kembarannya hanya diam dengan pandangan kosong menatap ranjang mamanya dengan perasaan yang sangat hampa. Hati kecilnya sangat sakit, haruskah ia kehilangan mamanya karena kesalahannya? Trauma yang ia rasakan membuat Zayyen memendam kesakitannya seorang diri
Sedangkan di dalam ruangan Tiara. Zidan menangis histeris.
"Dok, Saya mohon sekali lagi! Tolong selamatkan istri saya hiks.." ucap Zidan menangkupkan kedua tangannya memohon kepada dokter Ridwan.
"Dok, mohon maaf sebelumnya tubuh dokter Tiara sudah tidak menerima alat-alat medis yang terpasang di tubuhnya. Dengan berat hati saya katakan jika dokter Tiara sudah tidak ada, Ikhlaskan dokter Tiara, Dok! Selama ini dia sudah sangat tersiksa dipaksa untuk bertahan," ujar dokter Ridwan dengan pelan.
Zidan menangis sesugukkan tak peduli rekan kerjanya mengetahui jika dirinya sekarang lemah. Zidan bangun dengan perlahan, berjalan tertatih menghampiri istrinya yang sudah Tiada.
"A-ay...Aku ikhlas sekarang jika kamu pergi. Makasih sudah berjuang selama ini, maaf kalau keegoisan aku mempertahankan kamu membuat kamu tersiksa," gumam Zidan menahan tangisnya agar air matanya tidak terjatuh membasahi wajah cantik istrinya.
__ADS_1
Cup...
Zidan mengecup kening Tiara dengan lembut, ia membelai wajah cantik Tiara dengan perlahan. Menyimpan wajah Tiara di ingatannya untuk yang terakhir kalinya.
Kali ini Zidan harus ikhlas melepas kekasih hatinya. Bukan melepas seperti yang sebelumnya tetapi melepas Tiara tanpa bisa ia lihat raganya kembali.
"Ay, gimana aku tanpa kamu ya? 7 bulan tanpa mendengar suara kamu saja aku sudah seperti mayat hidup, apalagi jika kamu benar-benar pergi meninggalkan aku. Gimana kalau aku kangen, Ay? Gimana kalau aku mau peluk kamu? Cium kamu?" racau Zidan memeluk tubuh Tiara.
"Aku ikhlas, Ay! Bahkan rasa ikhlas ini sudah aku coba sejak lama tapi tetap saja rasanya sakit ketika mendengar dan menyaksikan kamu sudah tak bernyawa lagi. Rasa sakitnya sampai menusuk tubuhku, Ay. Bisa gak kalau aku kangen kamu kembali dulu sebentar saja! Ay, belum apa-apa aku sudah kangen sama kamu," bisik Zidan dengan bibir gemetar menahan tangis.
Dokter Ridwan dan yang lainnya menyaksikan bagaimana hancurnya Zidan tak kuasa untuk menahan tangisnya. Apalagi mendengar ucapan Zidan yang menyayat hati mereka.
"Dok, apa sudah bisa kami lepas alat yang berada di tubuh dokter Tiara?" tanya dokter Ridwan dengan hati-hati.
Zidan menyeka air matanya dengan perlahan. Ia mencoba melepaskan pelukannya pada Tiara. Menatap wajah pucat Tiara dengan perasaan yang begitu hampa. Mulai detik ini ia sudah kehilangan Tiara! Benar-benar kehilangan istrinya! Zidan belum bisa membahagiakan Tiara tapi kenapa Tiara meninggalkan dirinya?
"Biar aku saja!" ucap Zidan dengan pelan.
Dokter Ridwan mengangguk, memberikan ruang untuk dokter Zidan yang melepaskan alat medis di tubuh Tiara.
Sekali lagi Zidan mencoba mengikhlaskan istrinya, ia memejamkan matanya dengan perlahan. Bayangan Tiara yang tersenyum kepadanya terlihat saat ia memejamkan matanya membuat Zidan tersenyum tipis walau hatinya sangat sakit.
"Ay, apa kamu sudah bahagia?" gumam Zidan dengan perlahan.
Zidan membuka matanya dengan perlahan, dengan tangan gemetar ia melepaskan alat yang terpasang di tubuh istrinya. "Aku ikhlas, Ay! Jika kamu bahagia di sana, tunggu aku ya!" gumam Zidan.
Tit...tit..titt
"Ay! Dok alatnya kembali bekerja!" ucap Zidan dengan tegas.
Dokter Ridwan segera memeriksa Tiara. Ia menatap dokter Zidan dengan rasa yang tak bisa dijabarkan.
"Dok, jantung dokter Tiara kembali normal! Sungguh ini keajaiban! Dokter Tiara sudah melewati masa kritisnya," ucap Dokter Ridwan dengan takjub.
"A-ay, kamu kembali?!"
Zidan menangis bahagia hingga ia melihat mata Tiara perlahan terbuka.
"Ya Tuhan.... Terima kasih! Terima kasih!"
__ADS_1
Cup...
Zidan mengecup kening Tiara dengan lembut. Ia sangat bahagia! Bahagia sekali akhirnya istrinya kembali. Sedangkan Tiara masih terdiam, suaranya belum sama sekali bisa ia keluarkan tapi yang jelas ia merasa tubuhnya sangat ringan, seakan beban yang selama ini ia pikul hilang begitu saja. Apa yang terjadi? Tiara merasa dirinya terlahir kembali. Ia merasa bru saja bangun dari tidur yang sangat nyenyak sekali.