Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 25 (Alter Ego)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini. Tinggalkan jejak kalian dengan bom like dan komentar ya....


...Happy reading...


****


Tri menatap kesal ke arah suaminya saat melihat ranjangnya tidaklah sebaik sebelumnya karena sekarang kaki ranjangnya hampir saja patah. Tragedi ranjang semalam dirinya dengan Fathan membuat ranjangnya seperti ini.


Fathan hanya bisa meringis melihat ke arah kaki ranjang yang terbuat dari kayu tersebut sudah hampir patah karenanya, sedikit saja mereka membuat gerakan kaki ranjang tersebut sudah dipastikan patah. "Kayunya sudah rapuh, Hanum! Makanya jadi seperti ini, jangan cemberut terus nanti bapak dan ibu curiga. Baru pengantin baru masa sudah berantem sih," ucap Fathan merayu sang istri.


Bagaimana tidak kesal. Ranjang hampir patah, mandi pun harus sembunyi-sembunyi karena takut ketahuan kedua orang tuanya, Tri sangat merasa malu jika ibunya melihat ia mandi subuh-subuh bersama dengan Fathan.


Tri memaksakan senyumannya ke arah Fathan yang membuat Fathan merasa gemas dengan istrinya. Fathan mengarahkan wajahnya ke arah Tri dan tanpa diketahui oleh Tri, Fathan menggigit pipinya dengan gemas.


"Bakpao!" ucap Fathan dengan gemas.


"Massss!" pekik Tri dengan kesal.


Fathan berlari keluar kamar dengan terkekeh. "Hanum, Mas pergi sama Bapak ke rumah pak Rahmat. Kamu siapkan semua keperluan kita untuk pulang ke Jakarta siang ini juga ya," ucap Fathan dengan tegas. Fathan tidak jadi pulang keesokan harinya karena Fathan tidak mau kedua orang tuanya curiga dengan kepergiannya bersama dengan Tri karena sebelumnya Fathan tidak pernah mengajar baby sitter Cika untuk bepergian bersamanya, ia selalu menitipkan Cika kepada kedua orang tuanya.


"Iya, Mas!" jawab Tri dengan senyum-senyum sendiri menyentuh pipinya yang digigit gemas oleh Fathan.


"Ada-ada kelakuan duda satu itu," gumam Tri dengan lirih mengelus pipinya sendiri. "Memang pipiku seperti bakpao ya?" tanya Tri pada dirinya sendiri.


Tri menyiapkan seluruh pakaian yang akan mereka bawa pulang ke Jakarta selagi Cika bersama dengan ibunya sedang bermain di depan, Tri tahu ibunya mendengar suara berisik dirinya dan Fathan tadi malam, terlihat dari wajah ibunya yang tersenyum geli ke arahnya tanpa mengatakan apapun. Malu? Tentu saja Tri malu!


Tri melihat ke arah kamarnya, sebentar lagi rumah kedua orang tuanya akan di renovasi oleh suaminya. Ada rasa bahagia yang menghampiri hatinya saat ini karena Fathan sangat menyayangi keluarganya tetapi ada rasa was-was di hatinya karena Fathan tidak hanya memberikan rumah untuk kedua orang tuanya, tetapi memberikan motor, sawah, dan juga usaha kelontong untuk ibunya. Tri mendengar jika suaminya akan membeli sawah dua hektar untuk kedua orang tuanya, dan sawah tersebut sudah ada orang yang dipekerjakan nanti oleh suaminya hingga kedua orang tuanya hanya akan menikmati hasilnya saja. Sebanyak apa uang suaminya? Tri takut jika orang tua Fathan tahu dan menyuruhnya untuk membayar semua apa yang Fathan berikan. Bukan takut semua pemberian Fathan akan diambil, Tri takut jika dirinya di cap sebagai wanita matre.

__ADS_1


"Terima kasih semuanya Mas. Kamu telah mengangkat derajat kedua orang tuaku, aku semakin mencintaimu, Mas!" gumam Tri dengan haru menatap foto pernikahannya dengan Fathan dan mengusapnya dengan lembut.


*****


Hari ini adalah hari pertama Tiara bekerja di rumah sakit milik Fathan. Senyum tersungging di bibirnya kala banyak yang menyapanya dengan ramah, Tiara tidak tersentuh sedikit pun karena menurutnya keramahan mereka hanyalah sebuah kepalsuan hanya Tika (alter egonya) yang benar-benar ada untuknya selama ini.


"Tetaplah tersenyum Tiara! Kamu harus membuktikan jika bisa menjadi dokter yang profesional, dan setelah itu kita akan menguasai harta kedua orang tua kita, membuat mereka menderita karena sudah membuat kita seperti ini. Sendiri dan hanya sendiri tidak ada yang men-suport kita," ucap alter ego Tiara dengan egois.


"Kali ini aku membutuhkanmu, Tika! Kita akan membuat calon mertua kita semakin menyukai kita, kamu boleh mengambil ahli tubuhku sekarang," ujar Tiara dengan tenang.


Wajah yang tadinya tersenyum rumah kini berubah menjadi sangat dingin dan datar serta terlihat sangat tegas sekali. Tiara berjalan ke arah ruangannya yang sudah disiapkan pihak rumah sakit untuknya. Tetapi langkahnya langsung terhenti saat melihat bayangan Zidan.


"Dokter Zidan, selamat datang kembali di rumah sakit ini! Ini sudah 5 tahun anda memutuskan untuk dipindahkan kerja ke Singapura dan anda akhirnya kembali ke rumah sakit ini," ucap salah satu dokter yang Tiara dengar. Tiara semakin menajamkan pendengarannya.


"Ya terima kasih. Kepulangan saya ke Indonesia juga untuk mengurus sesuatu," ucap Zidan dengan datar karena Zidan adalah pria yang dingin tidak seperti Fathan.


"Anak? Benar kan jika Zidan sudah menikah! Tiara jangan lemah aku tidak suka suasana hatimu yang seperti ini. Biarkan aku yang seharian mengambil ahli," ucap Tika dengan tegas.


"Masuk ke ruangan Tika! Aku tidak ingin bertemu dengan Zidan!" gumam Tiara dengan lirih, hatinya merasa sakit mengatahui Zidan sudah menikah dan mempunyai anak.


Anak? Mendengar itu mengingatkan Tiara pada kejadian...


"Stop Tiara! Jangan mengingat kejadian menyakitkan itu lagi!" ucap Tik dengan dingin.


Tiara mengangguk, ia berjalan dengan tegas tanpa melihat ke arah Zidan dan dokter yang Tiara belum tahu siapa namanya.


"Dokter Tiara!" panggil dokter yang sedang berbicara dengan Zidan.

__ADS_1


Tiara yang saat ini dikuasai alter egonya hanya bisa mengumpat dengan kasar di dalam hatinya. Mau tidak mau Tiara melihat ke arah mereka.


Tubuh Zidan mematung menatap seseorang yang selama ini masih ia cintai menatap ke arahnya. "Ahh iya, Dok. Maaf saya tidak melihat anda tadi karena saya sedang terburu-buru," ucap Tiara dengan tersenyum ramah. Ekspresinya bisa dengan cepat berubah bahkan ia seperti tidak mengenali Zidan saat ini.


"Iya, tidak apa-apa, Dok. Oo iya selamat bergabung di rumah sakit ini dan perkenalkan juga ini dokter Zidan, dokter kandungan di rumah sakit ini," ucap dokter bernama Barra yang terlihat di nametag-nya.


"Dokter Zidan perkenalkan ini adalah dokter Tiara, dokter ahli beda yang baru saja bekerja di rumah sakit ini," ujar dokter Barra memperkenalkan keduanya. Dokter Barra adalah wakil direktur di rumah sakit ini, Fathan sangat percaya kepadanya hingga ia tahu Tiara karena Fathan sudah memberitahukan sebelumnya kepada dirinya, ia juga sudah melihat CV Tiara yang sangat memuaskan hingga Fathan menerimanya. Bisa saja Fathan tidak menerima Tiara tetapi ia tidak ingin berurusan dengan mamanya yang sangat cerewet tersebut.


Tiara mengulurkan tangannya ke arah Zidan. Zidan melihat ke arah tangan Tiara dan menerima uluran tangan tersebut dengan erat seakan menyampaikan rasa rindunya kepada Tiara.


"Tiara!" ucap Tiara alias Tika dengan suara dinginnya.


"Zidan!" balas Zidan dengan datar. Zidan ingin memeluk Tiara sekarang juga, ia tidak suka tatapan Tiara kepadanya, ini bukan seperti Tiara yang ia kenal. Tiara-nya adalah gadis yang sangat lembut dengan mata teduhnya. Bahkan jabatan tangan mereka langsung di lepas oleh Tiara.


"Saya permisi, Dok!" ucap Tiara dengan tersenyum tipis.


Zidan bisa melihat perubahan wajah Tiara yang berubah menjadi sendu, walau hanya sebentar Zidan menangkap itu.


"Ay!" gumam Zidan dengan lirih tetapi mampu membuat Tiara hampir goyah.


"Ay? Ay siapa, Dok?" tanya dokter Barra dengan bingung.


"Ahhh bukan siapa-siapa! Saya juga permisi, Dok. Saya sudah ada janji temu dengan pasien," ucap Zidan dengan tegas.


"Bukan siapa-siapa!" Tiara mengulang perkataan Zidan di dalam hatinya.


Ya dirinya bukan siapa-siapa Zidan sejak lima tahun lalu! Miris! Tiara semakin yakin hanya memiliki Tika di dalam hidupnya. Alter ego yang selama ini seperti nyata untuknya. Teman yang selalu bersama dirinya di saat Tiara sedang bersedih maupun bahagia.

__ADS_1


__ADS_2