Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 52 (Mulai Luluh?)


__ADS_3

...Jangan lupa like, vote dan komentar yang banyak ya....


...Happy reading...


*****


Sudah seminggu ini Fathan sama sekali tidak bekerja yang membuat Zidan dan dokter yang lain menjadi cemas dengan keadaan Fathan yang terus berdiam diri di kamar. Bahkan Fathan terus mengamuk seperti orang gila memanggil nama Tri.


"Zidan tolong cucu saya!" teriak Mama Yesha yang mengejutkan Zidan.


"Ya Allah... Ada apa dengan Cika, Tante?" tanya Zidan dengan panik melihat Cika di gendongan papa Handoko dan terlihat sangat lemas dengan memejamkan matanya.


"Badannya panas sekali, Zidan!" ucap Papa Handoko dengan cemas.


Zidan menggendong Cika dengan cepat. wajah anak kecil itu terlihat sangat pucat dengan tubuh yang sangat panas.


"Tante dan Om tunggu di sini. Biar Zidan periksa sebentar," ujar Zidan dengan tegas.


Tak tega rasanya melihat Cika yang biasanya sangat cerewet kini hanya terdiam tak berdaya. "Suster tolong panggilkan dokter anak cepat!" ucap Zidan dengan tegas.


"Baik, Dok!" ucap suster yang bersama dengan Zidan dengan cepat kala melihat wajah panik Zidan.


"Hiks...hiks...Cika, Pa!" ucap Mama Yesha dengan panik.


Sudah seminggu Cika tinggal bersama dengan mereka karena Fathan sama sekali tidak mau bertemu dengan siapa pun termasuk dengan anaknya sendiri, lelaki itu sangat terpukul atas kepergian Tri yang sama sekali ditemukan bahkan di saat itu Fathan sudah ke rumah mertuanya tetapi hasilnya tetap nihil, Tri tidak ada di sana. Dimana istrinya? Fathan sangat takut terjadi sesuatu dengan Tri dan kedua anaknya.


Bahkan Cika juga menjadi sangat pendiam dalam seminggu ini hingga Cika demam tinggi dan terus mengigau papa Fathan dan mama Tri.


"Tante sama Om kenapa ada di sini?" tanya Tiara yang baru saja keluar dari ruangan operasi.


"Cika demam Tiara! Hiks... Tante takut terjadi sesuatu dengan Cika!" ujar Mama Yesha dengan terisak.


Raut wajah papa Handoko terlihat sangat cemas dengan keadaan cucunya yang sedang diperiksa oleh Zidan dan dokter anak yang baru saja masuk. Ia mengusap wajahnya dengan kasar saat melihat dari kaca besar jika tangan mungil cucunya dipasang infus oleh dokter anak yang memeriksanya.


"Tante tenang ya! Cika pasti baik-baik saja!" ucap Tiara dengan tersenyum.

__ADS_1


Tak lama Tiara bicara seperti itu Zidan dan dokter anak keluar dari ruangan IGD dimana Cika di rawat.


"Bagaimana keadaan cucu saya, Dok?" tanya Papa Handoko dengan cemas.


"Begini, Pak, Bu, Cika terkena demam berdarah. Dia harus dirawat di sini, jika demamnya turun Cika boleh pulang tapi kalau belum kita akan periksa lebih lanjut. Saya tadi sudah memberikan obat penurun panas untuk Cika dan sekarang Cika sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat inap," ujar dokter tersebut dengan ramah.


"Astaga Cika! Pa, cucu kita?!" ucap Mama Yesha dengan menangis.


Zidan menatap Tiara dengan dalam, diam-diam ia mendekati Tiara yang hendak memeluk mama Yesha. Zidan menarik Tiara dengan lembut yang membuat wanita itu mau protes tetapi gerakan Zidan yang meletakkan jarinya di bibir Tiara membuat wanita itu terdiam.


"Dokter mau membawa saya kemana?" tanya Tiara dengan tajam.


"Diam dan ikuti saja Mas, Ay!" ucap Zidan dengan tegas.


Kedua orang itu meninggalkan mama Yesha dan papa Handoko begitu saja menunggu Cika yang sedang sakit di dalam sana.


"Kita mau kemana sih?" tanya Tiara dengan ketus.


Zidan tak menjawab, ia terus melangkah masuk ke dalam ruangannya dengan genggaman Zidan yang sangat erat di pergelangan tangan Tiara.


"Mas,Ay! Sudah berapa kali panggil aku dengan sebutan, Mas!" kesal Zidan.


Zidan memaksa Tiara agar duduk di pangkuannya setelah Zidan mengunci ruangannya. Posisi yang seperti ini membuat Zidan maupun Tiara saling terdiam satu sama lain.


Keterdiam Tiara membuat Zidan memberanikan diri memeluk perut Tiara dari belakang dengan erat yang membuat wanita itu tersentak.


"Jangan kurang ajar kamu, Dok!" ucap Tiara berontak tetapi semakin membuat pelukan Zidan mengencang.


"Jangan banyak bergerak, Ay! Kamu bisa membangunkannya dan berakhir Zayden dan kakak kembarnya memiliki adik," ujar Zidan dengan suara lirih dan beratnya.


Shitt...


Zidan bergairah hanya karena gerakan Tiara yang ingin melepaskan diri dari pelukannya.


Glukk...

__ADS_1


Tiara merasakan sesuatu yang mengeras di bawah sana yang membuat tubuhnya mematung seketika. Sedangkan Zidan tersenyum geli melihat wajah Tiara yang terdiam seperti patung.


"Kamu merasakannya kan, Ay! Mas sangat ingin menyentuhmu tapi Mas tidak akan mengulang kesalahan yang sama. Ketika kamu menjadi istri Mas nanti Mas pastikan kamu tidak bisa keluar dari kamar," ujar Zidan dengan suara yang masih berat.


Jujur saja Zidan masih sangat tersiksa, ia mencoba menenangkan dirinya agar juniornya tak lagi memberontak seperti tadi.


"Mas mengajak kamu ke sini karena ada yang akan Mas bicarakan sama kamu," ucap Zidan dengan lembut meletakkan dagunya di bahu Tiara dengan pelan.


"Apa?" tanya Tiara dengan penasaran. Ia sedikit melunak kepada Zidan saat ini karena sejujurnya Tiara masih nyaman dengan Zidan bahkan sangat nyaman. Apakah mungkin rasa itu masih ada?


"Fathan sudah menikah dengan Tri, pengasuh Cika. Dan Cika sakit seperti itu karena mama tirinya pergi entah kemana. Fathan ke rumah Mas seminggu yang lalu dan dia cerita semuanya ke Mas. Fathan sangat mencintai istrinya hingga lelaki itu terpuruk. Dan di sini Mas mau tanya sama kamu, kamu masih menginginkan menikah dengan Fathan setelah mengetahui fakta yang sebenarnya?" ucap Zidan dengan menatap wajah Tiara dengan lembut.


Tiara terdiam, lalu ia terkekeh sinis. "Kenapa tidak? Aku akan tetap menikah dengan Fathan!" ucap Tiara dengan sorot mata yang tidak terbaca.


"Mas tahu kamu bukan wanita seperti itu, Ay! Seberapa besar keinginan kamu untuk menikah dengan Fathan dan sebesar itu pula rasa Mas yang semakin ingin memiliki kamu kembali," ujar Zidan dengan tenang.


*Sejak dulu dan sampai sekarang kamu hanya akan menjadi milik Mas, Ay!" ujar Zidan dengan tegas.


Posisi Tiara yang duduk menyamping di pangkuannya memudahkan Zidan menatap wajah cantik Tiara hingga hembusan napas Zidan menerpa kulit wajah Tiara.


"Aku ingin Tri merasakan bagaimana menjadi sepertiku! Ditinggal menikah begitu saja saat kita sedang sayang-sayangnya dengan seseorang yang telah memberikan cinta!" ucap Tiara yang menohok hati Zidan.


"Suatu saat kamu pasti akan mengetahui semuanya, Ay!" ujar Zidan dengan sendu.


"Aku..."


Cup.....


Zidan mencium bibir Tiara dengan lembut, ia merebahkan Tiara di sofa dengan dirinya yang menindih tubuh Tiara.


"Emmhhh..." Tiara bergumam tidak jelas yang semakin memudahkan Zidan ******* bibirnya dengan mesra.


"Mas tidak akan melakukan hal yang membuat kamu semakin membenci Mas, Ay! Mas hanya merindukan kelembutan kamu! Balas ciuman Mas, Ay!" ucap Zidan dengan lembut.


Tatapan dalam Zidan di mata Tiara mampu membuat wanita itu merasakan ketulusan Zidan hingga tanpa sadar Tiara membalas ciuman Zidan. Keduanya bercium dengan sangat mesra untuk menyampaikan rasa rindu yang dulunya tak bisa tersampaikan.

__ADS_1


"Sekeras apapun kamu membenci Mas. Hati kamu yang lembut dan penuh kasih sayang tidak bisa melakukan itu, Ay! Mas yakin alter egomu juga dapat merasakan kasih sayang Mas!"


__ADS_2