Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 48 (Dua Pilihan)


__ADS_3

...Part ini mengandung bawang. Wkwk siapkan tisu gengs. Jangan lupa ramaikan part ini ya....


...Happy reading...


****


Tiara merebahkan tubuhnya di kasur, ia tersenyum membayangkan kehangatan ayah Felix dan ibu Mila kepadanya. Dari dulu kedua orang tua Zidan selalu memanjakannya yang membuat Tiara lebih mudah tersenyum hari ini.


Lalu senyuman itu langsung lenyap ketika Tika datang di pikirannya.


"Tiara, Tiara... Kamu jangan terlalu senang dulu dengan perhatian kedua orang tua Zidan. Bisa saja saat ini mereka hanya berpura-pura agar kamu tidak menyalahkan mereka atas Sabrina yang mereka restui untuk menjadi menantu mereka," ejek Tika di dalam pikiran Tiara.


"A-apa maksudmu Tika?" tanya Tiara dengan terbata.


"Hahaha..... Kamu pikir kenapa orang tua Zidan merestui Zidan menikah dengan Sabrina? Pasti wanita itu lebih unggul dari pada kamu, di dunia ini baik saja tidak cukup Tiara! Dan kamu kalah dari Sabrina! Sabrina dari keluarga terpandang dan kedua orang tuanya pun sangat menyayangi dirinya. Sedangkan kamu tidak! Orang tua kamu tidak menyayangi kamu, Zidan yang meninggalkan kamu di saat kamu sedang hamil, Sabrina yang katanya sahabat kamu juga diam-diam menyukai Zidan. Apakah kamu tidak berpikir ini permainan dari mereka untuk menghancurkan kamu hmmm? Terus di saat Zidan kembali, mereka berpura-pura baik denganmu, seharusnya jika mereka memang betul menyayangimu bukankan dari awal mereka mencarimu dan menjelaskan semua yang terjadi. Sayang sekali hidupmu Tiara di kelilingi oleh orang-orang munafik yang hanya memanfaatkan kebaikanmu," ejek Tika yang semakin memprovokasi Tiara agar tidak menjadi lemah.


"Kenapa diam? Apa kamu baru menyadarinya hmm? Inilah yang aku tidak suka darimu, terlalu lemah dan gampang terpedaya dengan kebaikan orang padahal mereka hanya berpura-pura baik kepadamu," ejek Tika yang membuat Tiara semakin mengepalkam tangannya.


Apa yang dikatakan Tika di dalam pikirannya benar. Mereka hanya memanfaatkan kelemahan dan kebaikannya agar mereka tidak disalahkan dan bisa menghancurkan dirinya.


"Kamu benar seharusnya aku tidak secepat itu luluh atas perhatian yang mereka berikan," ucap Tiara dengan terkekeh sinis menertawakan hidupnya yang selalu di permainkan.


"Memang aku benar dan kamu yang terlalu bodoh!" ejek Tika dengan dingin.


"Fokuslah Tiara! Sebentar lagi kita akan membalaskan dendam kepada Sabrina dan kedua orang tuamu yang telah membohongi kamu tentang Zayden! Setelah itu kita akan membalaskan dendam kepada Zidan yang telah meninggalkanmu begitu saja lalu kita akan menikah dengan Fathan. Dan setelah itu terjadi aku jamin kehidupan kita akan bahagia tanpa orang-orang munafik. Jika kita bisa menikah dengan Fathan itu artinya kita bisa merebut semua yang dulu hanya dimiliki oleh Tika, kakakmu yang sudah mati itu!" ujar Tika dengan sinis.


Tiara yang sudah terhasut akan Tika yang berada di pikirannya mengangguk dengan mata yang amat memancarkan dendam. "Kalian harus membayar semua kesakitan yang aku rasakan! Harus!" ucap Tiara dengan kilat mata yang begitu dingin.


*****


Tri membaca pesan dari ibu mertuanya. Ada perasaan bimbang ketika mama Yesha ingin bertemu dengannya disebuah cafe.


"Bisa kita ketemu? Dan jangan sampai Fathan tahu jika kamu keluar bertemu dengan saya!"


Tri bimbang membalas pesan dari mertuanya entah mengapa hatinya merasa tidak tenang ketika ia mendapatkan pesan dari mama Yesha.


Ting...


"Cepat balas! Jangan membuat saya geram!"


Tri membaca pesan itu dengan menghembuskan napasnya dengan perlahan. "Iya, Nyonya bisa!"


Terkirim...

__ADS_1


"Oke... Saya tunggu jam 10 di cafe X!"


Tri menghela napasnya. Haruskah ia pergi menemui mertuanya? Tetapi jika Tri tidak pergi pasti mama Yesha semakin membencinya.


"Mama kenapa?" tanya Cika yang melihat raut wajah Tri yang sangat bimbang.


"Gak apa-apa, Sayang. Kamu di rumah dulu sama bi Sumi ya, Mama mau keluar dulu sebentar," ujar Tri dengan lembut.


"Mama mau pergi kemana? Ini kan hari libur, Cika sendirian dong di rumah," ujar Cika dengan sendu.


"Mama hanya sebentar, Sayang. Mama mau beli susu untuk adek kembar. Cika di rumah saja ya main sama bi Sumi nanti Mama belikan es krim untuk Cika," ucap Tri memberikan pengertian kepada Cika yang sepertinya enggan ditinggalkan.


Wajah yang tadinya tidak ceria karena mau ditinggalkan oleh mamanya berubah menjadi wajah yang amat cerah ketika sudah berhubungan dengan es krim.


"Iya deh, Ma. Mama jangan pergi lama-lama ya nanti papa marah loh. Kan Mama gak boleh capek-capek," ucap Cika yang membuat Tri tersenyum.


"Iya, Sayang!" ucap Tri mencium kening Cika, entah mengapa firasatnya menjadi tidak enak dan enggan meninggalkan Cika di rumah bersama dengan bi Sumi. Tetapi Tri sudah terlanjur janji dengan mama Yesha.


"Ya sudah Mama mau siap-siap dulu ya," ucap Tri dengan tersenyum.


***


Tri menatap sekeliling cafe untuk mencari Mama Yesha.


"Saya mencari ibu Yesha, Mbak," jawab Tri dengan tersenyum.


"Ooo Ibu Yesha ada di ruangan privat, Mbak. Mbak Tri ya? Mari saya antar karena ibu Yesha sudah menunggu," ucap pelayanan cafe dengan ramah.


privat? Kenapa mama Yesha ingin bertemu dengan sangat privat seperti ini? Apa yang akan mama Yesha katakan padanya?


Tri mengikuti langkah pelayan cafe hingga sampai di suatu ruangan privat di cafe ini.


"Ini ruangannya, Mbak. Silahkan masuk saja," ujar pelayan cafe yang memang sudah diberi pesan oleh mama Yesha.


Dengan jantung yang berdegup kencang Tri menggeser pintu tersebut hingga terbuka. Napasnya tercekat saat mengetahui mama mertuanya bersama dengan papa mertuanya sudah menunggu dirinya.


"Duduk!" ucap Mama Yesha dengan dingin.


Tri mengangguk patuh. Ia duduk di hadapan kedua orang yang menatapnya dengan tajam.


"Langsung saja, saya tidak ingin berbasa-basi denganmu!" ucap Mama Yesha dengan dingin.


"Tunggu, Ma. Biarkan Tri minum atau makan sebentar!" ucap Papa Handoko dengan tenang.

__ADS_1


"Baiklah..."


"A-apa yang mau Nyonya dan Tuan katakan kepada saya?" tanya Tri yang sudah tidak nyaman berada di dalam satu ruangan bersama dengan kedua mertuanya yang membenci dirinya.


"Kamu mencintai anak kami?" tanya Papa Handoko.


Tri mengangguk dengan mantap tanpa ada keraguan. "Iya saya mencintai mas Fathan, Tuan!" ucap Tri dengan tegas.


"Oke... kami ada dua pilihan untukmu, Tri!" ucap Mama Yesha menimpali.


Tri menatap kedua orang yang berada di depannya dengan bingung. Dua pilihan untuknya? Apa? Tri sama sekali tidak paham!


"Tetap berada di sisi anak saya tapi kamu harus menggugurkan kandungan kamu karena kami tidak sudi mempunyai cucu dari wanita miskin sepertimu atau tinggalkan Fathan dan kamu bisa merawat anak-anakmu dengan syarat kamu jangan memberitahukan jika Fathan adalah ayahnya kepada mereka," ucap Mama Yesha dengan tatapan begitu tajam.


Jeder....


Bagaikan tersambar petir di siang bolong tubuh Tri mematung dengan sangat hebat. "S-saya tidak bisa memilih keduanya, Nya! Maaf!" ucap Tri yang hendak pergi tetapi tangan mama Yesha mencegahnya.


"Siapa yang menyuruhmu untuk pergi, hah? Benar-benar tidak sopan! Kamu harus bisa memilih, Tri. Atau kedua orang tuamu yang akan menjadi taruhannya. Kamu pikir kami tidak tahu jika Fathan membangunkan rumah mewah untuk keluargamu?! Bisa saja kami menghancurkan rumah itu lagi dan mengusir kedua orang tuamu dari sana. Kamu tidak mempunyai pilihan Tri!" ucap Mama Yesha dengan sinis.


"Ini ada cek 2 miliyar dan pergi dari kehidupan anak saya. Karena saya tahu kamu akan mempertahankan anak-anakmu itu," ucap Mama Yesha dengan tajam.


"Hiksss... Kenapa kalian sangat jahat kepada saya? Apa salah saya, Nyonya, Tuan?" ucap Tri menangis.


Sungguh Tri dihadapkan dengan dua pilihan yang sangat sulit.


"Kamu hanya tinggal menjawab tidak perlu menangis di hadapan kami!" ujar Mama Yesha dengan dingin.


Tangan Tri terkepal dengan sangat erat. Ia tidak mungkin mau kehilangan semua orang yang ia sayang, tetapi keadaan harus membuatnya bisa memilih.


"Jawab!"


"B-baik saya akan pergi dari kehidupan mas Fathan!" ucap Tri dengan air mata yang terus mengalir dengan hati yang berdenyut sakit.


Mama Yesha dan papa Handoko tersenyum. Mereka puas telah bisa membuat Tri pergi dari kehidupan anaknya. "Pergi sekarang! Saya tidak mau anak saya curiga! Pergi yang jauh dari kehidupan Fathan dan jangan muncul lagi. Bawa uang ini anggap saja sebagai pesangon saat kamu bekerja melayani anak saya!"


Nyuttt....


Hati Tri berdenyut sakit mendapatkan penghinaan yang cukup rendah dari kedua orang tua Fathan. "Simpan saja uang itu saya tidak membutuhkannya. Saya pastikan anda menyesal!" ucap Tri berusaha tegar.


"PERGI! FATHAN TIDAK MEMBUTUHKAN WANITA SEPERTIMU! SEBENTAR LAGI FATHAN AKAN MENIKAH DENGAN TIARA!"


Ya Tuhan.... Apakah ini akhir dari pernikahannya?

__ADS_1


__ADS_2