
...Jangan lupa ramaikan part ini. Tinggalkan komentar kalian. Terima kasih yang sudah selalu mendukung cerita ini....
...Happy reading...
*****
Fathan, Tri, dan juga Cika sedang menikmati sarapan mereka dengan tenang. Namun, suara bel berbunyi yang membuat ketiganya menghentikan sarapan mereka dengan sejenak.
"Biar saya saja yang membuka pintu," ucap Bi Sumi dengan sopan.
Fathan mengangguk dan kembali melanjutkan makannya dengan tenang, sesekali ia menatap Tri dan Cika bergantian lalu ia tersenyum tipis. Bukankah mereka terlihat seperti keluarga yang sangat bahagia? Dan sebentar lagi Fathan akan menjadikan Tri istrinya walau ia harus menikah diam-diam tanpa mengatakan kepada keluarganya.
"Maaf, Pak. Ada Ibu dan Non Tiara datang," ucap Bi Sumi dengan sopan.
Fathan langsung meletakkan sendoknya ke piring. N*fsu makannya sudah hilang sekarang.
"Ada Tante Tiara, Bi? Yee.. Cika kangen tante Tiara," ucap Cika dengan senang.
"Cika sarapan dulu, Sayang!" ucap Tri saat melihat Cika berlari menghampiri Tiara yang dikatakan bi Sumi. Entah mengapa hatinya berdenyut sakit melihat tatapan bahagia yang terpancar dari wajah Cika ketika mendengar nama Tiara.
Fathan menggenggam tangan Tri dengan lembut Menenangkan perasaan Tri yang mungkin saja merasa sakit. "Tiara adik ipar saya," ujar Fathan dengan pelan.
Tri menatap Fathan dengan sendu. Jadi, Tiara adalah adik ipar Fathan sekaligus gadis yang dijodohkan dengan Fathan. Bibir Tri bergetar menahan tangis, ia langsung melepaskan tangannya dari genggaman Fathan saat ia mendengar suara langkah yang semakin mendekat ke arah mereka.
"Selamat pagi, Kak!" ucap Tiara dengan ramah dan Cika yang sudah berada di gendongannya.
"Pagi," jawab Fathan dengan datar.
"Fathan, yang ramah dong sama Tiara! Tiara itu calon istri kamu!" ucap Mama Yesha dengan tegas.
"Ma..."
__ADS_1
"Kamu juga ngapain duduk bareng majikan? Makan di meja makan yang sama dengan anak dan cucu saya?" protes Mama Yesha dengan tajam.
Tri langsung memundurkan kursinya dan berdiri dari sana. "M-maafkan saya, Bu!" ucap Tri dengan terbata dan menahan tangisnya.
"Maaf-maaf. Ingat kamu pengasuh baru Cika di sini. Jangan sok bergaya seperti pemilik rumah ini!" ucap Mama Yesha dengan tajam.
"Ma, jangan salahkan Tri! Dia tidak salah, aku yang menyuruhnya untuk makan bersama kami," ujar Fathan dengan tajam. Ia tidak tega melihat Tri dimarahi oleh mamanya seperti ini.
"Nenek jangan marahi Tante Tri. Dia sudah baik sama Cika, mengurus Cika," ucap Cika dengan marah. Gadis cilik itu ingin sekali mengatakan jika Tri adalah mamanya kepada sang nenek karena telah memarahi mamanya tetapi Cika tidak ingin membuat perintah Fathan kepadanya berantakan. Cika tidak ingin mamanya semakin dibenci oleh sang nenek, seakan mengerti apa yang telah terjadi sekarang Cika hanya bisa menahan ucapannya.
Mama Yesha hanya bisa diam dengan menatap Tri tajam. Ia merasa keberadaan Tri di rumah ini sangat mengancam Tiara yang notabennya adalah calon menantunya. Mama Yesha melihat Tri seperti memeliki Ciri-ciri menggoda anaknya dan mama Yesha tidak akan membiarkan itu terjadi.
"Sudah, Tan. Jangan marahi dia!" ujar Tiara dengan lembut menatap Tri dengan tersenyum.
Tri memaksakan senyumannya kepada gadis yang dijodohkan dengan kekasihnya.
Nyut...
Hatinya berdenyut sakit saat melihat wajah cantik dan ramah dari gadis yang menjadi calon istri dari Fathan. Tri sudah merasa kalah dengan wajah cantik itu.
Fathan menatap kepergian Tri dengan sendu. Lalu ia menatap mamanya dan Tiara dengan tajam. "Cika susul tante Tri dulu. Papa mau ngomong sama nenek dan tante," ucap Fathan dengan tegas.
"Iya, Pa," sahut Cika dengan lirih dan langsung meminta turun dari gendongan Tiara. Gadis kecil itu langsung berlari menyusul Tri yang berjalan ke arah taman belakang rumah Fathan.
"Ada keperluan apa mama dan Tiara ke sini?" tanya Fathan dengan datar.
"Ya ampun Fathan sudah berapa kali Mama bilang yang lembut kalau bicara sama Mama dan Tiara," ujar Mama Yesha dengan menahan kekesalannya tetapi sama sekali tidak digubris oleh Fathan.
"Dasar batu!" gumam Mama Yesha dengan tajam. "Mama ke sini sama Tiara untuk membicarakan pertunangan kalian," ucap Mama Yesha yang berhasil membuat Fathan menatap tajam ke arah mamanya.
"Fathan tidak akan bertunangan dengan Tiara apalagi sampai menikah dengan Tiara, Ma!" ucap Fathan dengan tegas.
__ADS_1
"Mama tidak mau tahu. Kalian akan tetap menikah!" ujar Mama Yesha dengan tajam.
"Tiara kamu juga menyetujui perjodohan ini, kan?" tanya Mama Yesha kepada Tiara.
Tiara menatap ke arah Fathan dengan tersenyum tipis. "Iya Tante!" jawab Tiara yang membuat Fathan semakin kesal dengan gadis ini. Apa yang sedang Tiara rencanakan?
"Bagus. Kamu tidak bisa menolak lagi perjodohan ini, Fathan. Secepatnya kita akan menentukan tanggal pernikahan kalian," ujar Mama Yesha dengan senang membuat Fathan mengepalkan tangannya, secepatnya Fathan harus menggagalkan perjodohan ini.
"Mama bisa tinggalkan kami berdua? Fathan ingin bicara dengan Tiara," ucap Fathan dengan menatap Tiara dengan tajam sedangkan Tiara hanya biasa saja dengan ekspresi santainya.
"Sangat boleh, Sayang. Ya sudah Mama susul Cika dulu. Siapa tahu gadis kampung itu tidak becus menjaga Cika," ucap Mama Yesha melenggang pergi.
Fathan menatap Tiara dengan tajam setelah kepergian mamanya. "Kakak tahu kamu sedang merencanakan sesuatu dengan menerima perjodohan ini," ujar Fathan dengan tajam. "Katakan apa tujuanmu?" tanya Fathan dengan dingin.
Tiara terkekeh sinis. "Kakak tidak tahu apapun tentang aku. Kenapa bisa langsung menuduhku seperti itu?" tanya Tiara dengan santai.
"Kakak tahu kamu. Kamu bukan wanita seperti itu," jawab Fathan menahan kekesalannya.
"Kalau aku katakan aku mencintai kakak bagaimana?" tanya Tiara dengan menatap Fathan tersenyum seakan mempermainkan emosi Fathan saat ini.
Fathan menatap Tiara dengan sinis. "Kakak juga tahu sejak dulu kamu sangat mencintai Zidan. Pantas saja Zidan meninggalkanmu karena kamu tidak tegas dengan hubungan kalian. Coba dari awal kamu bisa tegas maka Zidan tidak akan meninggalkan kamu dengan perempuan la..."
"CUKUP!" teriak Tiara dengan kilatan penuh luka.
"Bisa marah juga? Kenapa?" tanya Fathan dengan terkekeh.
Tiara mengepalkan kedua tangannya menatap tajam ke arah Fathan. "Jangan sebut-sebut lagi nama dia di hadapanku!" ujar Tiara dengan tajam.
"Kelihatan sekali jika kamu gagal move on dari Zidan. Kamu menerima pernikahan ini untuk memanas-manasi Zidan begitu? Ingat Tiara Zidan sudah mempunyai istri dan dia sudah bahagia dengan keluarga kecilnya," ujar Fathan dengan sengaja memanas-manasi Tiara yang sudah menahan tangisnya.
"Aku tidak akan kemakan dengan ucapan Kakak. Yang jelas bukan dia alasan utama aku menerima perjodohan ini," ucap Tiara dengan tajam tanpa menatap ke arah Fathan. Tiara tidak mau Fathan melihat sisi rapuhnya karena Zidan. Ya, Tiara akui semua ini ia lakukan agar Zidan merasa cemburu. Tetapi apakah mungkin setelah ia mendengar pengakuan dari kakak iparnya jika Zidan sudah menikah? Kenapa rasanya sakit sekali?
__ADS_1
Fathan terkekeh. "Kita tidak akan pernah menikah, Tiara! Jika begini caramu membuat Zidan cemburu itu sama saja kamu mengumpankan dirimu untuk menjadi bahan olok-olokan Zidan karena kamu gagal move on darinya sedangkan Zidan sudah bahagia bahkan bisa melupakan cintanya kepada kamu," ujar Fathan dengan santai.
"Hahaha... Aku sudah tidak peduli lagi dengan Zidan! Terserah Kakak mau mengatakan apa yang jelas aku sudah tidak peduli. Dan aku akan memastikan jika kita akan tetap menikah!"