
...📌Jangan lupa ramaikan part ini!!...
... Happy reading...
****
Danish, Daniel, Dareel, Akbar dan Adrian menuju ke rumah sakit di mana para korban kebakaran panti asuhan kasih ibu di rawat. Danish sudah tidak sabaran ingin bertemu dengan Keisya, gadis kecil yang mampu menggetarkan hatinya dengan pandangan pertama.
"Maaf, Sus. Saya mau bertanya korban kebakaran panti asuhan kasih ibu bernama Keisya Ayunindya berada di ruangan mana ya?" tanya Danish kepada suster di bagian administrasi.
"Sebentar ya Bli saya cari dulu," ujar suster tersebut dengan ramah.
"Baik, Sus!" ujar Danish tidak sabaran.
"Maaf Bli pasien bernama Keisya Ayunindya tidak ada di sini," ujar suster yang membuat Danish tidak percaya.
"Coba cek sekali lagi Sus!" ujar Danish yang tidak percaya sama sekali.
"Tidak ada Bli," ucap Suster tersebut yang membuat Danish menatap papi dan pakdenya dengan pandangan frustasi.
"Keisya gak ada di rumah sakit ini, Pi!" ujar Danish dengan sendu.
"Coba tanya ibu panti asuhan kasih ibu yang dirawat di sini. Mungkin beliau tahu di mana Keisya," ujar Akbar dengan tenang.
"Iya, Pi!"
"Sus, ibu panti kasih ibu apakah dirawat di sini?" tanya Danish sekali lagi.
"Oo ibu Maisarah ada di ruang perawatan di lantai 2, Bli. Ruang Mawar," ujar Suster yang memang sudah mengetahui ibu panti kasih ibu.
"Terima kasih, Sus!" ujar Danish dengan tersenyum.
"Ibu panti dirawat di ruang mawar berada di lantai 2, Pi!" ujar Danish tak sabaran ingin bertemu ibu pemilik panti agar ia mengetahui keberadaan Keisya.
"Ya sudah ayo kita ke sana!" ujar Akbar dengan tegas.
Danish dan yang lainnya mengangguk, dengan langkah tegas meraka berjalan ke arah lift menuju lantai dua.
Setelah sampai di lantai 2 Danish dan yang lainnya fokus mencari ruangan mawar di mana ibu panti dirawat.
"Kak itu ruangan mawar," ujar Daniel menunjuk ke ruangan mawar.
"Benar. Ayo kita ke sana!" ujar Danish tak sabaran.
Danish membuka pintu ruangan tersebut dengan perlahan, sepi dan hanya ada 3 pasien yang berada di dalam sana.
"Permisi!" ujar Danish dengan sopan.
Tiga pasien yang masih beristirahat langsung melihat ke arah Danish dan yang lainnya.
"Iya. Bli ini siapa ya?" tanya salah satunya dengan pelan.
"Maaf saya Danish. Apakah di sini ada ibu Maisarah pemilik panti asuhan kasih ibu?" tanya Danish dengan sopan.
"Saya sendiri. Ada apa ya mencari saya Bli?" tanya Ibu Maisarah dengan beberapa luka bakar di tangan dan di kakinya.
"Kami boleh masuk dulu, Bu?" tanya Danish.
"Ooo iya silahkan!"
__ADS_1
Danish dan yang lainnya masuk dan mendekati ibu Maisarah. "Kedatangan saya dan yang lainnya ke sini untuk mencari Keisya, Bu. Apakah Ibu tahu Keisya berada di mana?" tanya Danish langsung pada intinya.
"Bli ini siapanya Keisya ya?" tanya Ibu Maisarah penasaran.
"Saya temannya, Bu! Saya melihat berita jika panti asuhan di mana Keisya tinggal kebakaran jadi saya dari Jakarta langsung terbang ke sini untuk memastikan keadannya," ujar Danish dengan tegas.
"Anak saya ini menyukai Keisya, Bu! Jadi, dia sangat mengkhawatirkan keadaan Keisya bahkan dia rela terbang langsung ke sini untuk memastikan tambatan hatinya baik-baik saja. Apakah ibu tahu di mana Keisya sekarang? Karena kata suster tadi tidak ada pasien bernama Keisya di sini," ujar Akbar dengan tegas.
Ibu Maisarah tersenyum lalu tak lama ia terdiam dengan sendu. "Keisya sudah tidak ada di panti. Gadis baik itu sudah bertemu dengan keluarga kandungnya dan sekarang Keisya tinggal dengan kedua orang tuanya," ujar Ibu Maisarah dengan sendu.
"Ibu tahu di mana rumah kedua orang tua Keisya?" tanya Dareel.
Ibu Maisarah menggelengkan kepalanya. "Saya tidak tahu, Bli. Yang saya tahu informasi terakhir dari Keisya kedua orang tua Keisya membawa Keisya ke luar negeri," ujar Ibu Maisarah yang membuat Danish seketika lemas tak bertenaga.
Danish sudah kehilangan jejak Keisya sekarang. Sudah pupus harapannya untuk bertemu dengan tambatan hatinya.
"Di negara mana Keisya di bawa, Bu?" tsjya Adrian dengan penasaran.
"Saya tidak tahu, Bli!" ujar ibu Maisarah.
"Ya sudah, Bu! Kalau begitu kami permisi. Maaf telah menganggu istirahat Ibu," ujar Daniel mewakili yang lainnya. Sungguh Daniel dan Dareel merasa kasihan dengan kembarannya saat ini.
"Iya tidak apa-apa!"
"Kak jangan putus asa! Pasti Keisya nanti akan ketemu," ujar Dareel menepuk punggung kembarannya untuk memberikan semangat.
Danish tersenyum kecut. Hatinya sudah pesimis, ia takut tidak bisa bertemu dengan Keisya dan gadis itu menikah dengan lelaki lain.
"Kak jangan lemes gitu ah. Jagoan kok lemes sih!" ujar Adrian menepuk pundak Danish setelah mereka keluar dari ruangan ibu Maisarah.
"Pakde gak rasain patah hati sebelum berjuang sih!" ujar Danish dengan pelan yang membuat Adrian terkekeh.
"Ya sudah kita menginap di hotel dulu besok pagi baru kita pulang ke Jakarta kasihan Papi sama pakde sudah tua," ujar Dareel.
"Bilang saja kamu masih deg-degan mengemudi jet Pakde," ejek Adrian.
"Gak Pakde. Dareel gak deg-degan. Nanti Dareel pinjam ya buat bawa istri Dareel keliling Jakarta," ujar Dareel dengan tersenyum.
"Boleh saja asal kasih Pakde cucu," ujar Adrian yang membuat Dareel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Dalam proses Pakde!" ujar Dareel dengan malu.
"Dah lah kalah start," ujar Daniel yang membuat Dareel terkekeh dan Danish yang hanya tersenyum tipis tidak bersemangat.
"Makanya nikah!" ujar Dareel.
"Iya nanti!" ujar Daniel yang memang sudah ingin menikah tetapi Naura masih sekolah. Gadis itu juga ingin menikmati masa mudanya, Daniel juga tak mau menghilangkan masa muda Naura. Dan juga Naura butuh dukungan untuk bangkit dari keterpurukannya selama ini. Lagian usia mereka masih sama-sama muda. Tidak perlu terburu-buru menikah asal nanti mereka bahagia.
****
Pagi Harinya di kediaman Fathan. Tri sudah melakukan testpack dengan Fathan yang menunggu dengan tak sabaran tetapi ke-empat anak mereka sengaja belum mereka beritahu.
"Mas kamu kok buat aku hamil lagi sih hiks..." ujar Tri memegang testpack yang sudah bergaris dua.
"Kamu tuh gimana sih, Mas!" omel Tri yang membuat Fathan meringis.
"Sayang, ini diluar kuasaku. Ini semua kehendak yang di atas, Sayang. Bagaimana kita menolaknya tetap saja dia sudah tumbuh di rahim kamu," ujar Fathan menjelaskan dengan pellan agar istrinya ini tak mengamuk lagi.
"Mas pasti sengaja, kan?" tuding Tri dengan tajam.
__ADS_1
"Enggak Sayangku! Ya Allah... Kenapa ibu hamil satu ini sangat menggemaskan sekali hmmm," ujar Fathan dengan tersenyum dan memeluk istrinya.
Tri mencibik kesal tetapi setelah di peluk sang suami hatinya langsung luluh. "Sudah tua seharusnya punya cucu bukan anak. Mas gimana sih?" gumam Tri yang membuat Fathan gemas.
Fathan tak menyangka jika kehidupan rumah tangganya yang sudah berjalan hampir 20 tahun lamanya bersama dengan Tri dan di karunia anak 3 dari Tri yang sudah sama-sama dewasa akan memiliki adik kembali. Lucu sih karena mereka sudah sama-sama tua yang seharusnya sudah mendapatkan cucu dari Cika malah mendapatkan anak kembali, suatu rezeki yang tak terduga bukan?
Fathan menatap testpack yang sudah berada di tangannya. Ia terharu sekali pagi ini sampai dirinya meneteskan air mata.
"Gimana reaksi Cika dan yang lainnya kalau mereka mau mempunyai adik ya?" tanya Fathan yang membuat Tri geram.
"Ya pasti mereka kesal lah, Mas! Aku saja kesal! Iss memang duda satu ini buat aku hamil terus," ujar Tri dengan cemberut.
Bukannya kesal Fathan malah tertawa. "Ya sudah kita ke bawah sekarang! Mereka harus tahu berita bahagia ini," ujar Fathan yang membuat Tri cemberut.
Dengan langkah malas Tri mengikuti suaminya ke dapur. Bahkan Fathan sangat posesif sekali karena Tri hamil di usia yang sudah tua dan rentan sakit yang membuat Fathan harus waspada.
"Pagi anak-anak Papa!" ujar Fathan dengan tersenyum.
"Pagi Pa, Ma!" sahut Nevan, Nessa, dan Nayla secara bersamaan dan untuk Cika masih berada di Jerman dan belum bisa berkumpul dengan keluarganya.
"Papa kenapa senyum-senyum sendiri? Mama kenapa cemberut gitu?" tanya Nayla dengan bingung.
"Papa dan mama ada kejutan untuk kalian bertiga dan untuk kak Cika juga. Tapi berhubung kakak kalian masih ada di Jerman jadi kalian saja dulu," ujar Fathan dengan tersenyum tetapi wajah Tri malah terlihat cemas.
"Apa, Pa?" tanya Nessa tak sabaran.
"Nih lihat!" ujar Fathan memberikan testpack kepada Nessa.
Nessa dengan bingung menerimanya. "Testpack? Siapa yang hamil, Pa?" tanya Nessa yang di angguki oleh Nevan dan Nayla.
"Yang jelas bukan Papa!" ujar Fathan yang membuat Nevan mendengkus.
"Kami juga tahu, Pa! Mana ada lelaki hamil!" ujar Nevan dengan datar.
"Coba tebak siapa yang hamil?" ujar Fathan.
Nevan, Nessa, Nayla langsung menatap ke arah mamanya dengan pandangan yang sangat aneh. "Mama hamil?" tanya ketiganya dengan aneh.
Tri mengangguk dengan meringis melihat ekspresi anaknya yang tidak bisa terbaca.
"PAPA KENAPA BUAT MAMA HAMIL LAGI?" teriak ketiganya yang membuat Fathan meringis.
"NAYLA GAK JADI ANAK BUNGSU DONG??"
"MAMA KENAPA MAU DIHAMILI SAMA PAPA SIH?"
Mampus kamu Fathan!!! batin Fathan menjerit.
***
📌Setelah baca cerita ini perasaan kalian gimana?
📌Apa yang akan kalian sampaikan ke Danish?
📌Apa yang akan kalian sampaikan ke Fathan dan Tri?
Yang mau part Delisha dan Ikbal sabar ya!
Next part mau part siapa nih?
__ADS_1
Tulis di kolom komentar ya!!