
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya. Double up nih!!...
...Happy reading...
***
Ikbal dan Delisha merebahkan diri bersama setelah malam datang. Keduanya saling memandang satu sama lain hingga tersenyum bersama. Ikbal memiringkan tubuhnya hingga memudahkan dirinya menatap wajah Delisha sepuasnya.
"Masih gak nyangka kalau sekarang Mas sudah menjadi suami kamu," ujar Ikbal dengan mengelus pipi Delisha dengan lembut.
"Delisha juga masih gak nyangka Mas pacar eh maksudnya Mas suami kalau sudah jadi istri sekarang," ujar Delisha dengan terkekeh karena ucapannya yang salah memanggil suaminya sekarang.
Delisha terkejut karena tiba-tiba Ikbal menindih tubuhnya, ia menelan ludahnya dengan kasar saat menatap wajah tampan suaminya dari jarak yang begitu dekat apalagi posisi keduanya membuat panas dingin.
"Kok gugup?" tanya Ikbal dengan jahil.
"M-mas suami gak lagi ajak Delisha buat anak, kan?" tanya Delisha dengan polosnya yang membuat Ikbal terkekeh gemas.
"Itu nanti waktu kamu sudah lulus sekolah, Sayang. Sekarang cuma mau mencicipi sedikit. Boleh, kan?" ujar Ikbal menyentuh bibir Delisha dengan sensual.
"Mencicipi? Kayak makanan saja, Mas!" ujar Delisha dengan terkekeh.
"Iya kan kamu makanan lezat khusus buat Mas!" ujar Ikbal dengan jakun yang sudah naik turun.
Tak tahan lagi ketika melihat bibir Delisha yang membuat otak kotornya membayangkan sesuatu akhirnya Ikbal mencium bibir Delisha dengan perlahan dengan memejamkan matanya menikmati ciuman mereka begitu pun dengan Delisha yang sudah pandai membalas ciuman Ikbal.
"Eughh..." Delisha melenguh saat ciuman Ikbal turun ke lehernya yang membuat Delisha merasakan gelenyar aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Delisha sangat terkejut saat tangan Ikbal merem*s kedua dadanya dengan gemas. "M-mas jangan di pegang!" ujar Delisha dengan lirih.
Ikbal tak mengindahkan ucapan istrinya,ia malah menaikkan piyama Delisha ke atas hingga Ikbal dengan leluasa menguasai dada kenyal milik istrinya. bahkan Ikbal sudah membuang penutup kedua dada Delisha.
"Uhhhh.. K-kenapa Mas berubah jadi bayi?" ujar Delisha dengan terbata karena menahan suara des*hannya akibat ulah bibir Ikbal yang sekarang menguasai dadanya.
"Hassstt ewnak." Delisha tidak mengerti apa yang diucapkan suaminya karena saat berbicara Ikbal masih menghisap miliknya seperti bayi yang kehausan.
Setelah puas bermain di kedua dada Delisha yang membuat gadis itu blingsatan akhirnya Ikbal menyudahi kegiatannya.
"Enak, Sayang!" ujar Ikbal dengan tersenyum.
"Mas suami berubah jadi bayi!" ujar Delisha dengan napas yang terengah-engah, jujur Delisha juga terangsang dengan sentuhan Ikbal saat ini.
Ikbal jangan ditanya miliknya sudah berdiri sejak tadi. Tak ingin kebablasan Ikbal langsung berdiri dan menuju kamar mandi di kamar Delisha.
"Mas suami mau ngapain?" tanya Delisha.
"K-ke kamar mandi sebentar, Sayang!" ujar Ikbal dengan terbata.
Delisha melihat bagian bawah Ikbal, ia menelan ludahnya dengan kasar saat melihat ada yang menonjol di bawah sana. Seketika Delisha langsung meringis, pasti sangat sakit saat harus menahan semuanya. Delisha bangun dan menghampiri suaminya.
"Delisha bantuin, Mas!" ujar Delisha yang membuat Ikbal melotot.
"A-apa?" tanya Ikbal dengan terkejut.
"Mau dibantuin gak? Kalau enggak ya ke kamar mandi sana!" ujar Delisha dengan alis yang naik turun seakan Delisha sudah berpengalaman dalam membuat suami puas padahal Delisha sama sekali belum berpengalaman dan sekarang jantungnya berdetak tidak karuan karena ia memberanikan diri untuk membantu Ikbal tanpa harus mereka menyatu terlebih dahulu.
Ikbal menyeringai. "Belajar dari mana hmm?" tanya Ikbal dengan senyum yang sangat aneh.
"Ehh..."
__ADS_1
"Belajar dari mana?" ujar Ikbal semakin mendekat ke arah Delisha.
"I-itu browsing di google," sahut Delisha dengan terbata.
"Kamu yang nawarin jangan harap aku akan mundur, Sayang!" ujar Ikbal dengan menyeringai.
Delisha menelan ludahnya dengan kasar. "Delisha salah nawarin!" ujar Delisha dengan gugup.
"Ayo bantuin, Sayang! Sekalian kenalan dengan kesayangan Mas selain kamu yang akan buat kamu keenakan," ujar Ikbal yang membuat Delisha semakin gugup.
Ikbal menarik tangan Delisha dengan perlahan dan membawanya pada juniornya yang sedang menegang di bawah sana.
"Kyaaa...Mas suami mes*mmmm!"
***
Pagi harinya saat semua orang sudah terbangun dari tidurnya Mikaela sedang berada di dalam kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya tetapi yang keluar hanya cairan bening yang membuat Mikaela lemas dan juga pusing. Tak lupa Dareel menemani sang istri, Dareel selalu berada di samping istrinya dengan menatap Mikaela dengan khawatir.
Dareel memijat tengkuk Mikaela dengan perlahan. "Kita ke rumah sakit ya. Dari tadi kamu seperti ini Mas gak tega," ujar Dareel dengan cemas.
Mikaela menggelengkan kepalanya. "Gak mau, Mas! Mas kalau mau ke sekolah pergi saja Mika gak apa-apa," ujar Mikaela dengan lemas.
"Gak apa-apa gimana? Muka kamu pucat gini Mas gak tenang ninggalin kamu kalau kayak gini," ujar Dareel dengan wajah khawatirnya.
"Sudah mualnya? Ayo ke kasur lagi ya," ujar Dareel dengan lembut.
Dareel menggendong Mikaela dengan entengnya lalu merebahkan tubuh istrinya di kasur. Dareel mengambil minyak kayu putih yang berada di atas nakas karena akhir-akhir ini Mikaela suka mencium bau minyak kayu putih.
Dareel mengoleskan minyak kayu putih di perut Mikaela dan juga hidung istrinya agar rasa mualnya hilang. Mikaela memejamkan mata saat pijatan Dareel terasa enak untuknya. Tanpa sadar Mikaela memejamkan mata yang membuat Dareel merasa lega dan sedikit tenang. Setelah memastikan istrinya kembali tertidur Dareel menyelimuti Mikaela dan dengan perlahan ia keluar dari kamar.
***
"Kenapa, Kak? Wajah kamu kenapa tegang gitu," ujar Fiona dengan cemas.
"Mi, ayo ke kamar Dareel. Mika dari tadi muntah-muntah tapi gak ada yang di keluarin Mi. Wajah Mika pucat banget, Dareel mau bawa Mika ke rumah sakit tapi Mika gak mau," ujar Dareel dengan gusar.
Fiona menatap Dareel dengan tenang. "Tenang dulu Dareel. Kamu beli test pack ke apotek bentar terus telepon Pakde Fathan suruh ke sini sebelum ke rumah sakit," ujar Fiona dengan tenang.
"Test pack? Buat apa Mi?" tanya Dareel dengan bingung.
"Buat ngecek anak kecebong lo udah berhasil tumbuh di rahim Mika apa belum. Gitu saja gak tahu," ujar Danish dengan datar.
"Anak kecebong? Enak saja kalau ngomong! Bibit unggul Dareel gak boleh disebut kecebong," ujar Dareel dengan sewot.
"Berarti Mika hamil, Mi?" tanya Dareel dengan berbinar.
"makanya kita cek dulu. Kamu cepat beli test pack sana! Biar Mika Mami yang jaga," ujar Fiona.
"Iya, Mi! Tunggu ya! Jagain istri Dareel, Mi!" ujar Dareel dengan mata yang berbinar bahagia jika benar istrinya hamil maka Dareel akan menjadi papi di usia muda.
***
Fiona masuk ke dalam kamar Dareel dan Mikaela dengan membawa sarapan untuk menantunya. Semua anaknya sudah berangkat sekolah dan kuliah hanya Fiona dan Akbar yang berada di rumah serta para pelayan, Dareel belum pulang dari apotek mungkin anaknya itu sedang meminta izin terlambat sebentar ke sekolah penerbangannya.
Padahal Delisha ingin sekali melihat hasil test pack kakak iparnya tetapi ia harus berangkat sekolah.
"Mami!" panggil Mikaela dengan lirih.
"Mas Dareel mana, Mi?" tanya Mikaela yang tek melihat keberadaan suaminya.
__ADS_1
"Pergi sebentar ke apotek, Sayang. Kamu makan dulu ya!" ujar Fiona dengan lembut karena sudah menganggap Mikaela sebagai anak kandungnya sendiri.
Mikaela menatap makanan yang di bawa mertuanya seketika perut Mikaela langsung lapar.
"Mami suapi kamu ya!" ujar Fiona dengan perhatian.
"Mika sendiri saja, Mi!"
"Gak apa-apa biar Mami saja!"
Fiona menyuapi Mikaela dengan telaten. "Mami boleh tanya?" tanya Fiona menatap Mikaela.
"Tanya apa Mi?" tanya Mikaela penasaran.
"Kapan terakhir kamu haid, Sayang?" tanya Fiona yang membuat Mikaela terdiam dengan berpikir.
"Sebulan ini, Mi. Memangnya kenapa?" tanya Mikaela dengan bingung.
"Mami rasa kamu..."
"Mi, ini test pack-nya dan itu Pakde Fathan," ujar Dareel yang membuat Fiona tak jadi berbicara.
"Kak!" panggil Fiona dengan tersenyum dan langsung memeluk kakaknya dengan erat.
Fathan mencium kening adiknya. "Kakak pikir kamu yang hamil," ujar Fathan yang membuat Fiona terkekeh.
"Aku bukan Mbak Tri yang Kakak hamili terus. Mas Akbar juga sudah tua," ujar Fiona dengan terkekeh.
"Pakde cepat periksa istri Dareel! Kalau ketahuan papi Pakde peluk mami bisa habis," ujar Dareel dengan tak sabaran.
"Mami kamu adeknya Pakde. Berani papi kamu sama Pakde, Pakde bawa pulang Mami kamu terus Pakde umpetin," ujar Fathan dengan bercanda yang membuat Mikaela terkekeh.
Fathan menatap Mikaela. "Pakde periksa sebentar ya!" ujar Fathan yang di angguki oleh Mikaela.
Dareel menggenggam tangan istrinya dan mengusap dengan jempolnya perlahan.
"Telat haid kapan?"
"Sebulan ini Pakde," jawab Mikaela dengan lirih.
"Dareel ternyata pintar buat cucu untuk Pakde dan kedua orang tuanya. Untuk memastikan kamu test pack dulu ya!" ujar Fathan yang membuat Mikaela terdiam.
"Maksud Pakde, Mika hamil?" tanya Mikaela tak percaya.
"Dugaan Pakde sih iya. Tapi coba test pack dulu," jawab Fathan dengan tenang.
Mikaela mengangguk dengan di bantu oleh Dareel keduanya ke kamar mandi. "Sebentar ya Mas! Tunggu Mika! Mika masih lemas banget," ujar Mikaela.
"Iya, Moci!"
Dengan sabar Dareel menunggu istrinya. Sedangkan Mikaela berjalan ke arah Dareel setelah wanita itu buang air kecil yang sudah di tampung dengan wadah kecil di dalamnya sudah ada test pack yang Dareel beli.
"Mika gak berani lihat, Mas!" ujar Mikaela dengan gugup.
Dengan sigap Dareel mengambil test pack tersebut setelah beberapa menit sesuai dengan pentunjuk yang diberikan.
Mata Dareel membulat dengan sempurna. "Garis dua Moci. Itu artinya kamu hamil, kan?" ujar Dareel dengan penuh binar di wajahnya.
Dareel memeluk Mikaela dengan erat. Wanita itu masih diam mencerna semuanya.
__ADS_1
Hamil? Dirinya hamil? Dan tentu saja hamil anak Dareel!!