Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 253 (Calon Istri)


__ADS_3

📌 Hallo semua jangan lupa ramaikan part ini ya.


📌Oo iya novel baru sudah update. Jangan lupa mampir dan berikan bintang lima serta ulasan, komen, dan like. Hehe jangan lupa hadiahnya juga.


Kalian harus ramaikan novel terbaru author yang berjudul 'Suami Bayaran Nona Rania' yang pastinya tidak kalah seru dan lebih seru.



*


*


...Happy reading...


***


"A-APA?" teriak Felix dengan terkejut. Ia tidak menyangka seorang Danish Mahendra yang terkenal baik meminta imbalan seperti itu kepadanya. Jika anaknya hanya untuk dipermainkan maka Felix lebih memilih arsitek lain saja.


"Apa maksud anda? Anda mau melecehkan anak saya? Saya tidak akan menjual anak saya kepada pria seperti anda! Lebih baik saya memilih arsitek lain daripada arsitek seperti anda! Saya pikir anda adalah pria baik sama seperti ayah anda," ujar Felix dengan tajam.


Danish tampak tenang ketika Felix memarahi dirinya. Ia menatap Felix dengan tatapan dinginnya.


"Menurut anda saya adalah lelaki yang kurang ajar meminta anak anda tanpa saya nikahi? Menjual anak? Saya tidak mengatakan jika Keisya adalah bentuk bayarannya. Sepertinya anda salah mengartikan maksud saya Tuan Felix Thompson!" ujar Danish dengan tenang.


"Apa kata Papa saya benar, Tuan. Anda menginginkan saya berarti saya adalah bentuk bayaran dari pembuatan sebuah vila. Saya tidak mau! Lebih baik saya tidak dibuatkan vila dari pada saya dijual dengan pria seperti anda. Cabul!" ujar Keisya dengan marah.


Danish terkekeh, ia tidak merasa tersinggung dengan ucapan Keisya. "Saya menginginkan kamu untuk jadi istri saya bukan wanita pemuas n*fsu saya!" ujar Danish dengan tegas yang membuat Keisya dan Felix terbata.


"I-istri? Bagaimana bisa? Kita baru bertemu!" ujar Keisya dengan terbata.


"Jangan mempermainkan kami Tuan Danish. Jika anda tidak mau membuatkan desain vila lebih baik kami pergi saja dari sini," ujar Felix dengan tajam.

__ADS_1


"Apa saya terlihat mempermainkan anda dan nona Keisya? Nona Keisya coba anda ingat kembali dimana kita bertemu," ujar Danish dengan tenang menatap Keisya yang terlihat kesal kepada dirinya.


Keisya memicingkan matanya berusaha mengingat Danish. "K-kamu lelaki yang ada di pantai dengan membawa kamera dan datang menemui saya?!" ucap Keisya dengan terbata.


"Hmmm ternyata ingatan kamu masih bagus," ujar Danish dengan tersenyum tipis.


"Tuan Felix. Sekali lagi saya bukan ingin melecehkan anak anda. Tapi dia adalah gadis yang saya cari selama ini. Dan gadis itu sudah tumbuh dewasa dengan sangat cantik jadi saya ingin menikah dengannya. Sebagai pria sejati saya langsung meminta izin pada anda," ujar Danish dengan tegas yang membuat Felix melotot tak percaya niat hati ke perusahaan Danish ingin dibuatkan desain vila malah berujung anaknya dilamar secepat ini.


"Anda serius?" tanya Felix dengan masih tak percaya.


"Saya tidak pernah bercanda dengan ucapan saya Tuan Felix. Jika saya menginginkan sesuatu maka saya ingin sesuatu itu menjadi milik saya seutuhnya. Katakan saja mahar yang anda inginkan berapa agar saya bisa menikahi putri anda," sahut Danish dengan tenang.


"Kapar pesiar, mobil mewah, uang, berlian. Apakah anda sanggup? Saya tidak ingin hidup anak saya tidak terjamin setelah menikah," ujar Felix yang membuat Keisya melotot ke papanya. Itu sama saja ia dijual bukan?


"Pa, kenapa Papa mau saja seperti ini? Itu sama saja Papa menjual Keisya," ujar Keisya dengan mata berkaca-kaca.


"Saya tidak merasa membeli kamu Keisya. Itu adalah sesuatu yang sangat pantas kamu dapatkan dari saya! Saya akan menyetujui permintaan anda Tuan Felix. Malam ini saya akan langsung datang ke rumah anda untuk melamar anak anda dengan formal," ujar Danish yang membuat Felix dan Keisya lagi dan lagi terkejut.


Segitu gampangnya Danish memberikan mahar untuk anaknya tanpa menolak ataupun keberatan? Oke... Felix lupa jika kekayaan keluarga Mahendra tidak bisa dibilang karena banyak bisnis yang mereka jalankan tanpa ada musuh sedikit pun malah semua orang sangat menyegani keluarga Mahendra. Bukankah itu adalah hal yang sangat bagus jika anaknya akan menjadi bagian dari keluarga Mahendra?


"Papa!" Keisya memanggil papanya dengan penuh penekanan karena dirinya sangat kesal.


"Tuan Danish adalah pria yang baik, Sayang. Kamu tidak akan menyesal menikah dengannya," ujar Felix dengan tersenyum.


Felix yang tadinya terlihat marah kini terkesan sangat setuju jika anaknya menikah dengan Danish. Plinplan memang tetapi kebahagiaan Keisya akan terjamin jika menikah dengan Danish, dan Felix yakin itu.


"Sebaiknya saya pulang saja. Tuan Danish anda bisa mengantarkan Keisya pulang nanti, kan? Sepertinya kalian butuh waktu untuk berbicara berdua," ujar Felix yang ingin memberikan ruang untuk Danish dan Keisya berbicara.


"P-papa, Keisya juga mau pulang!" ujar Keisya dengan cepat tak ingin ditinggal hanya berdua dengan Danish di ruangan pria ini.


"Kita perlu berbicara Keisya. Nanti saya yang akan mengantarkan kamu pulang, tidak perlu takut saya akan mengantarkan kamu dengan selamat sampai rumah," ujar Danish dengan tegas lalu berdiri dari duduknya dan memegang pergelangan tangan Keisya agar tidak bisa lari darinya.

__ADS_1


"Papa pulang dulu ya Keisya. Bicara yang baik-baik sama calon suami kamu," ujar Felix berdiri dari duduknya.


Felix bersalaman dengan Danish yang sebentar lagi akan menjadi menantunya. "Jaga anak saya dengan baik Danish. Sekali lagi saya tunggu kamu di rumah," ujar Felix dengan tegas.


"Baik, Pa. Papa tidak perlu takut akan hal itu," ujar Danish dengan tersenyum yang membuat Felix terkekeh saat Danish memanggilnya dengan sebutan 'papa'.


"Ahh punya menantu sultan," ujar Felix dengan bercanda yang membuat Danish tersenyum geli tetapi tidak dengan Keisya yang merasa tidak nyaman dengan ucapan papanya saat ini.


"Papa pulang dulu!" ujar Felix dan langsung melangkah meninggalkan ruangan Danish.


"Papa, Keisya ikut!" ujar Keisya yang ingin melangkah namun tangannya ditarik oleh Danish hingga Keisya jatuh di pangkuan Danish.


Kedua mata mereka memandang dengan sangat dalam.


Deg....


Jantung Keisya berdetak dengan sangat cepat kala tatapan Danish begitu berbeda dengan dirinya.


"L-lepas!" ucap Keisya dengan pelan saat Danish malah memeluk pinggangnya dengan sangat erat.


"Saya tidak akan melepaskan kamu lagi Keisya! 5 tahun lebih bahkan hampir 6 tahun saya menunggu kedatangan kamu. Kamu tahu tidak betapa cemasnya saya saat melihat panti asuhan kasih ibu kebakaran, saya langsung terbang ke Bali saat itu juga tapi sayang kamu sudah di bawa pergi oleh kedua orang tua kamu entah kemana," ujar Danish dengan jujur.


Keisya menyelami mata Danish. Jujur saat bertemu dengan Danish waktu itu Keisya juga merasa tertarik dengan Danish tapi ia tidak pernah berpikir jika akan menjadi kekasih Danish. Keisya hanya sebatas mengagumi ketampanan Danish tetapi siapa sangka takdir malah membawanya kepada Danish dan malah menjadi calon istri Danish, rasanya Keisya masih bermimpi akan hal ini.


"Kamu benar ingin melamar saya dengan mahar sebanyak itu? Kamu tidak takut jika uangmu akan habis karena memberikan saya mahar sebanyak itu?" tanya Keisya dengan pelan.


Tantu saja Danish terkekeh pelan mendengar pertanyaan Keisya. "Itu belum seberapa, Sayang. Kamu akan mendapatkan lebih dari itu jika kamu sudah menjadi istri saya!" ujar Danish dengan tegas.


"Oke... Sepertinya pembicaraan kita sudah selesai. Apakah kamu bisa menemani saya bekerja? Satelah itu saya akan membawa kamu bertemu dengan kedua orang tua saya untuk mengatakan niat baik saya untuk menikah dengan kamu," ujar Danish dengan tegas.


"K-kalau begitu saya duduk di sini saja!"

__ADS_1


"No! Kamu tetap duduk di sini!" ujar Danish dengan tegas yang membuat Keisya menelan ludah.


"Ya Tuhan... Jantungku tidak aman apalagi duduk di pangkuannya dengan sesuatu yang menonjol di bawah sana. Tolong aku Ya Tuhan!"


__ADS_2