
...Jangan lupa ramainkan part ini ya. Tinggalkan bom like,komentar sebanyak-banyaknya....
...Happy reading...
*****
Tri masuk ke dalam kamar anaknya dengan membuka pintu kamar perlahan, ia tersenyum melihat Cika sedang duduk menghadap ke arah meja belajarnya.
"Anak Mama ngapain sih?" tanya Tri berjalan mendekati Cika yang sedang asik menggambar.
"Lagi gambar Ma!" jawab Cika dengan tersenyum melihat ke arah Tri.
"Coba Mama lihat!" ujar Tri dengan lembut.
Cika menyerahkan hasil gambarnya kepada sang mama. "Ini, Ma!" ucap Cika dengan tersenyum.
"Wah cantik banget gambar anak, Mama!" puji Tri yang membuat Cika merasa bahagia.
Tri menatap gambar yang buat oleh Cika, di gambar itu ada foto Fathan, dirinya, dan juga Cika yang sedang bergandengan tangan. Tetapi ada satu gambar yang membuat Tri penasaran.
"Ini siapa, Sayang?" tanya Tri menunjuk gambar yang dibuat oleh Cika.
"Ini mama Tika, Ma. Kata papa, mama Tika sudah ada di surga. Cika gambar deh gambar mama yang pakai sayap gini, Cika yakin mama lihat Cika bahagia di sini," ujar Cika yang membuat mata Tri berkaca-kaca memeluk Cika dengan erat.
"Pasti mama Tika bahagia dong melihat Cika tumbuh dengan sehat," ujar Tri dengan tersenyum.
"Iya dan Cika punya mama baik seperti mama Tri!" ujar Cika.
Tri mengelus rambut Cika dengan sayang. "Cika ada PR gak? Kalau gak ada langsung tidur biar besok gak bangun kesiangan," ujar Tri dengan pelan.
"Enggak ada, Ma!" ucap Cika.
"Ya sudah sebelum tidur Cika gosok gigi dan cuci kaki ya," ujar Tri yang diangguki oleh Cika.
Gadis kecil itu turun dari kursi dan berjalan ke kamar mandi. Sedangkan Tri membereskan buku-buku Cika yang berserakan di meja dan menatanya kembali dengan rapi di tempatnya.
Tak lama Cika keluar dari dalam kamar mandi dengan tersenyum. "Sudah, Ma!" ujar Cika.
"Dongengin Cika ya, Ma!" ujar Cika yang diangguki oleh Tri.
Cika merangkak menaiki kasur dan mencari posisi nyamannya untuk tidur sedangkan Tri menyelimuti anaknya, dirinya pun ikut berbaring di samping Cika karena Fathan juga belum pulang sampai sekarang. Suaminya itu mengabarkan jika terkena macet yang membuat Tri memaklumi karena Fathan juga seorang dokter yang sangat sibuk san sering pulang telat.
"Ma, Teman-teman Cika sudah punya adik semua hanya tinggal Cika dan Zayden yang belum," ujar Cika yang membuat Tri menatap anaknya.
__ADS_1
"Cika mau punya adik?" tanya Tri dengan mengelus rambut Cika dengan sayang.
Cika menangguk dengan semangat, membuat Tri tersenyum. "Sabar ya Mama sama papa lagi berusaha. Doakan adiknya segera hadir di perut Mama," ujar Tri dengan lembut.
"Iya, Ma." Cika mengangkat tangannya untuk berdoa. "Ya Allah... Cika mau punya adik, cepat berikan adik untuk Cika Ya Allah, aamiin." doa Cika yang membuat Tri terharu.
"Aamiin! Sekarang Cika tidur ya mama mau cerita tentang kancil dan buaya," ujar Tri yang diangguki oleh Cika dengan semangat.
Tri mulai mendongeng untuk anaknya hingga Cika terlelap dengan memeluknya, Tri menutupi buku cerita dongengnya dan mengelus rambut Cika dengan perlahan. Tri menjadi mengingat hasil pemeriksaan suaminya tadi, dirinya tak ada masalah dan bisa mempunyai anak mungkin karena faktor usia Tri tak kunjung hamil sampai sekarang tetapi ia sudah meminum vitamin yang Fathan berikan tadi.
Di rasa Cika sudah nyenyak dalam tidurnya, dengan hati-hati Tri bangun dan berjalan keluar dari kamar Cika. Dan hampir saja Tri berteriak dengan kencang saat melihat Fathan sudah berada di depan pintu.
"Hampir saja aku membangunkan Cika, Mas!" ujar Tri mengelus dadanya.
Tanpa rasa bersalah Fathan terkekeh menatap sang istri. Ia memeluk Tri dengan erat dan mencium kening serta bibir Tri dengan gemas. "Maaf ya Mas lama," ujar Fathan mengelus pipi Tri dengan lembut.
"Aku maklum, Mas!" ujar Tri dengan tersenyum.
"Wangi banget sih! Ke kamar yuk!" ucap Fathan yang diangguki oleh Tri.
Dengan merangkul Tri, keduanya berjalan ke arah kamar mereka. "Mas gak mau makan dulu?" tanya Tri kepada suaminya yang sekarang sedang ia bantu untuk melepaskan kemejanya.
Tri menelan ludahnya saat dada dan perut polos Fathan menjadi keindahan bagi matanya saat ini. Bagaimana tidak tubuh suaminya ini sangat disayangkan untuk dilewatkan, terkadang Tri sangat gemas hingga meninggalkan jejak gigitan di sana.
"Mas serius ih!" ujar Tri dengan pipi memerah.
"Mas juga serius tahu! Makan nasi sudah tinggal makan kamu yang belum!" ujar Fathan yang semakin membuat hati Tri tak karuan.
Fathan berjongkok di hadapan Tri hingga sejajar dengan perut istrinya tersebut. "Sudah minum vitamin yang Mas berikan tadi?" tanya Fathan mendongak menatap sang istri dengan penuh cinta.
"Sudah Mas!" jawab Tri dengan menyugar rambut suaminya lembut.
"Halo anak papa! Kapan hadir di perut mama nih? Papa, mama, dan kak Cika menunggu kehadiran kamu loh!" ujar Fathan mengelus perut Tri yang masih datar dan mengecupnya dengan perlahan.
Mata Tri berkaca-kaca mendengar ucapan suaminya. "Tadi Cika juga bilang ke aku kalau mau punya adik. Tapi aku takut tidak bisa memberikan apa yang kalian inginkan, Mas. Usia aku..."
"Ssttttt... Kamu subur, kamu baik-baik saja, tidak ada yang harus ditakutkan karena Mas yakin anak kita akan segera hadir. Walaupun kita harus menunggu berapa pun lamanya," ujar Fathan dengan lembut.
"Yang terpenting kamu jangan pesimis begini. Suami kamu ini dokter kandungan, kita masih mempunyai banyak waktu untuk membuat anak kita segera hadir di rahim kamu," ujar Fathan dengan menenangkan sang istri.
"Mas mandi dulu. Kamu pakai baju pilihan Mas malam ini, bentar Mas ambilkan dulu. Selesai Mas mandi kamu sudah memakai baju ini.
Tri memperhatikan suaminya yang sedang membuka lemari pakaian. Dan Tri hanya bisa menelan ludahnya dengan kasar kala Fathan memberikannya gaun hitam transparan. Haruskah Tri memakainya di hadapan Fathan?
__ADS_1
"Pakai ini, Hanum!" ujar Fathan dengan tersenyum.
"Tidak boleh menolak!" ujar Fathan dengan geli saat istrinya hendak melakukan protes.
"Dasar pak dokter mesum!" ujar Tri tetap menerima gaun tersebut.
"Yang penting kamu senang dan puas!" ujar Fathan dengan terkekeh.
*****
Pagi harinya...
Tiara sudah berada di rumah orang tuanya. Dengan wajah yang amat datar Tiara duduk di sofa bagaikan tamu di rumah orang tuanya sendiri.
Matanya menatap datar banyaknya foto Tika dan kedua orang tuanya sedangkan dirinya bisa di hitung dengan jari.
"Masih berani kamu ke rumah mama dan papa setelah mempermalukan kami berdua?" tanya Mama Erlin dengan dingin.
"Ada apa kamu ke sini?" tanya Papa Ezra dengan dingin.
"Kedatangan Tiara ke sini untuk terakhir kalinya. Tiara mau pinjam kartu keluarga karena Tiara ingin memiliki kartu keluarga sendiri," ujar Tiara dengan dingin.
Papa Ezra terkekeh. "Kamu mau sok hidup sendiri?" tanya Papa Ezra dengan mengejek. Tiara mengepalkan tangannya, ia bersumpah akan membuat kedua orang tuanya menyesal telah memperlakukannya seperti ini.
"Mana bisa kamu terlepas dari keluarga ini. Siapa yang mau memungut kamu di luar sana?" tanya Mama Erlin dengan pedas.
"Kalian tidak perlu khawatir. Bukankah aku sudah lama sendiri? Memang aku dulu tinggal di rumah megah ini tetapi aku sama sekali tidak mendapatkan kehangatan keluarga. Bukankah anak kebanggaan kalian hanya Tika? Jadi, tidak perlu sekhawatir itu jika aku keluar dar keluarga kalian, aku tidak meminta sepeser pun hakku pada kalian. Jadi, mana kartu keluarganya, aku akan segera memproses semuanya hingga kalian tidak merasa malu mempunyai anak sepertiku," ujar Tiara dengan tenang.
Hati kedua orang tua tersebut meras tersentil tetapi kedua hati mereka sudah tertutup, menurut mereka hanya Tika yang bisa membanggakan keduanya.
"Ambilkan di lemari, Ma! Kita lihat seberapa kuat anak lemah ini bertahan tanpa kuasa kita," ujar Papa Ezra.
Tiara ingin sekali marah. Namun, ia sangat muak berada di sini, ia ingin segera keluar dari rumah ini. Tak ada percakapan sama sekali antara anak dan papa tersebut. Tiara hanya diam dengan banyaknya sumpah yang ia lakukan pada dirinya.
"Ini!" ujar Mama Erlin memberikan kartu keluarga mereka pada Tiara.
"Setelah selesai ada orang yang akan mengantarkan kartu keluarga ini. Sebentar lagi aku bukan bagian dari keluarga ini! Aku harap kalian tidak menyesal telah menelantarkan anak bungsu kalian. Dan satu lagi aku pastikan aku akan tetap menikah dengan Fathan!" ujar Tiara dengan dingin.
"Permisi!" ujar Tiara.
Papa Ezra dan mama Erlin menatap kepergian Tiara dengan datar. Mereka yakin Tiara tak akan bertahan lama tanpa campur tangan keluarga mereka.
"Tidak punya sopan santun dengan orang tua!" ketus Mama Erlin."Lihat, Pa! Tiara sangat berbeda sekali dengan Tika! Kenapa Tuhan mengambil Tika begitu cepat? Mengapa Tuhan tidak mengambil Tiara saja? Jika begitu kita tidak perlu merasa kehilangan seperti ini!"
__ADS_1
Dan perkataan mama Erlin masih sangat didengar oleh Tiara yang membuat gadis itu semakin dendam dengan orang tuanya. "Aku bersumpah akan membuat kalian menyesal!"