
...📌Jangan lupa ramaikan part ini ya karena author akan double up hari ini....
...Happy reading...
****
Zayyen yang pulang lumayan larut malam tidak kepikiran jika sang adik tidak ada di rumah karena tak ada yang mencurigakan dari Zevana karena mobil gadis itu ada di rumah seperti biasa. Pembantu di rumah kedua orang tuanya emang tidak menginap di rumah kedua orang tuanya. Mereka akan datang pagi dan pulang sore harinya setelah pekerjaan mereka selesai. Dan mungkin kebetulan atau apa pembantu mereka sudah pulang sebelum Zevana pergi. Alhasil Zayyen tidak menyadari jika sang adik tidak ada di rumah.
Pagi harinya Zayyen keluar dari kamar, setelah kemarin sibuk dengan tugas kampusnya Zayyen memutuskan untuk melihat Zevana di kamarnya, memang Zayyen setiap hari memastikan adiknya baik-baik saja. Ia harus berperan sebagai orang tua untuk adiknya, Zayyen masih merasa penat dan pusing setelah kemarin ia juga bertemu dengan Delisha dan Ikbal.
"Kedatangan Delisha dan Mas Ikbal menemui Kakak untuk menyampaikan sesuatu," ujar Delisha yang menatap Zayyen dengan pandangan yang berbeda sehingga membuat Zayyen merasa sesak pada hatinya, ternyata Delisha lebih bahagia bersama dengan Ikbal dari pada dirinya. Ya jelaslah! Sewaktu mereka masih bersama apakah Zayyen pernah membuat Delisha bahagia? Perbedaan itu jelas terasa sehingga Zayyen tak menampik jika Delisha lebih bahagia bersama dengan Ikbal. Toh sebentar lagi dirinya akan pergi bukan?
"Apa?" tanya Zayyen dengan pelan karena lelaki itu sedang menahan rasa sakit saat melihat Delisha menggenggam tangan Ikbal. Apakah seperti ini yang dirasakan Delisha saat ia bertemu dengan Cika dulu?
"Kakak tidak perlu mendonorkan jantung dan paru-paru Kakak untuk Delisha. Apa Kakak gak mikir kalau Kakak itu egois? Dulu sewaktu Delisha menginginkan cinta dari Kakak, Kakak seakan gak peduli dan sekarang sewaktu Delisha sudah bahagia dengan Mas Ikbal kenapa Kakak seperti ini? Seakan Kakak yang paling tersakiti dan kini berkorban untuk Delisha. Seharusnya Kakak pikirkan lagi bagaimana perasaan tante Tiara, om Zidan dan kak Zevana nantinya kalau Kakak pergi hanya karena mendonorkan jantung dan paru-parunya demi kesembuhan Delisha. Jadi, Delisha tidak mau menerima jantung dan paru-paru Kakak walau Kakak memaksa!" ujar Delisha dengan tegas.
"Gue harap lo ngerti apa yang diucapkan oleh tunangan gue! Lo gak perlu berkorban terlalu jauh hanya karena sebuah rasa penyesalan karena telah membuat Delisha sakit akibat perbuatan lo. Dan terima kasih lo udah melepaskan Delisha berkat lo, gue udah bisa memiliki Delisha," ujar Ikbal dengan tegas.
"Gue tulus mau menjadi pendonor untuk Delisha," ujar Zayyen dengan tegas.
"Sha, tolong terima jantung dan paru-paru Kakak ya!" ucap Zayyen dengan tulus.
Delisha menggelengkan kepalanya. "Kalau Kakak akan tetap mendonorkan jantung dan paru-paru Kakak untuk Delisha, Delisha akan membenci Kakak seumur hidup Delisha," ujar Delisha dengan dingin.
"T-tapi Delisha, Kakak..."
"Stop, Kak! Delisha sudah menolaknya dengan tegas! Delisha harap Kakak tidak akan melakukan sesuatu yang membuat keluarga kakak kembali bersedih," ujar Delisha dengan tegas.
"Mas pacar ayo pergi!" ujar Delisha dengan tegas.
Zayyen mengusap wajahnya dengan kasar saat mengingat kembali percakapannya dengan Delisha maupun Ikbal. Zayyen menghela napasnya dengan kasar saat sesak menghimpit dadanya. Dirinya sudah tidak akan di terima oleh Delisha akibat perbuatannya sendiri.
Ceklek....
Zayyen membuka pintu kamar sang adik dengan perlahan. "Dek, ayo bang..." Zayyen langsung terdiam saat tak melihat keberadaan sang adik di kamarnya apalagi kamar Zevana sudah rapi apa gadis itu sudah bangun sejak tadi? karena ujian Zevana juga sudah selesai kemarin.
"Zeva!" panggil Zayyen memeriksa kamar mandi sang adik tetapi Zevana juga tidak ada di dalam.
Zayyen berusaha tenang, ia keluar dari kamar Zevana dan mungkin adiknya itu sudah ada di dapur karena Zevana suka memasak.
__ADS_1
"Bi, Zeva mana?" tanya Zayyen kepada pembantunya.
"Loh bukannya masih di kamarnya, Tuan? Nona belum ada turun sejak bibi datang," ujar bibi dengan sopan.
"Zeva gak ada di kamarnya, Bi. Astaga anak itu kemana sih?" gumam Zayyen dengan khawatir.
"Bibi juga gak tahu Tuan karena kemarin sewaktu saya pulang nona Zeva masih ada di rumah," sahut bibi dengan cemas juga.
Zayyen mengangguk. Ia mencoba mencari Zevana di rumahnya setelah tidak mendapatkan adiknya di rumah Zayyen bertambah cemas seharusnya semalam ia mengecek Zevana di kamarnya terlebih dahulu untuk memastikan keberadaan adiknya ada di kamar. Jika seperti ini Zayyen menjadi khawatir dan merasa bersalah.
Zayyen mulai menelepon Zevana. Panggilan pertama tidak diangkat oleh gadis itu, baru panggilan kedua Zevana mengangkat teleponnya.
"Dek, kamu di mana? Kakak khawatir sama kamu! Kenapa kamu tidak ada di rumah," ucap Zayyen setelah telepon diangkat oleh adiknya tetapi bukannya menjawab isakan Zevana lah yang terdengar dari seberang telepon.
"Hiks...hikss..."
"Dek kamu kenapa? Jangan buat Kakak khawatir!" ujar Zayyen dengan gusar.
"K-kak...hiks..."
"Jawab Zeva! Kamu ada di mana sekarang biar Kakak jemput ya! Kenapa kamu menangis, Dek?" ujar Zayyen dengan khawatir.
"Hiks...Hiks...A-aku ada di apartemen kak Haidar, Kak! Hiks...d-dia jahat sama aku," ujar Zevana dengan terisak yang membuat pikiran Zayyen kalut.
Pikiran Zayyen sudah sangat kalut, ia melajukan mobilnya dengan cepat. "Haidar apa yang lo lakukan sama adek gue? Lihat aja gue akan hajar lo!" ujar Zayyen dengan gusar bahkan bunyi ponsel saat mamanya menelepon pun Zayyen tak mengangkatnya karena sangking kalutnya, ia harus memastikan keadaan adiknya baik-baik saja.
***
Haidar merasa terganggu dengan suara isak tangis di sampingnya, ia mencoba membuka matanya walau kepalanya terasa pusing.
Haidar langsung terkejut saat melihat Zevana ada di sampingnya. "A-apa yang terjadi?" tanya Haidar dengan tergagap, ia melihat dirinya sendiri yang tanpa busana.
"Hiks...hiks...K-kenapa Kakak lakukan ini sama Zeva?" tanya Zevana dengan terbata. Gadis itu sangat pandai sekali berakting di hadapan Haidar.
"A-apa yang kita lakukan? G-gak mungkin gue..." Haidar memegang kepalanya yang terasa pusing, ia tidak mengingat apapun.
"K-kakak jahat hiks..."
Haidar melihat Zevana yang menangis, gadis itu menutup tubuhnya dengan selimut. "Lo jebak gue, Zeva?" tanya Haidar dengan tajam.
__ADS_1
"J-jebak? Kenapa pikiran Kakak picik sekali? Jelas-jelas kakak sudah memperk*sa Zeva hiks..." ucap Zevana dengan wajah yang penuh sirat akan luka.
BRAK...
"APA YANG LO LAKUKAN SAMA ADEK GUE, HAIDAR? LO BRENGSEK!" teriak Zayyen dengan emosi.
Ia memukul wajah Haidar dengan menbabi buta. Haidar yang tidak siap langsung meringis saat terkena bogem mentah dari sahabatnya.
"Gue gak tahu apa yang gue lakuin! Gue rasa Zeva menjebak gue!" ujar Haidar dengan tajam.
"Hiks...Kak Haidar jahat! Zeva sudah kehilangan mahkota berharga Zeva karena Kakak yang memaksa Zeva dalam keadaan mabuk hiks..." ujar Zevana dengan menangis yang membuat Haidar terdiam.
Apa ia dia melakukan hal sekeji itu? Tapi melihat mereka tidak menggunakan apapun Haidar menelan ludahnya dengan kasar.
"Lo harus tanggungjawab brengsek!" umpat Zayyen dengan kasar.
Buk....buk....
Haidar mencoba melawan. "Gue gak sadar melakukan itu, Zayyen! Gue emang di bar waktu itu dan gue gak tahu kalau Zevana yang jemput gue!" ujar Haidar membela diri.
Haidar berdecih menatap Zevana. Entah mengapa ia sangat yakin Zevana menjebaknya, dengan tangan mengepal erat Haidar menahan emosinya.
"Lo harus tanggungjawab! Adek gue kehilangan kesuciannya karena lo! Gue gak nyangka lo seberengsek ini!" ujar Zayyen dengan tajam setelah puas memukul sahabatnya.
Haidar menyeka sudut bibirnya yang berdarah akibat pukulan Zayyen. "Gue merasa terjadi karena jebakan. Tapi tenang aja gue gak seberengsek itu! Gue akan tanggungjawab menikahi adek lo!" ujar Haidar dengan tajam.
"Perempuan licik! Nyesel gue baik sama lo Zeva! Gue tahu ini rencana lo karena lo suka sama gue! Gue benci lo, Zeva! Bersiaplah pernikahan ini akan membuat lo sadar kalau lo gak bisa main-main sama gue! Gue akan buat lo menderita, Zevana!" umpat Haidar di dalam hati.
Zevana terus terisak agar Zayyen merasa kasihan kepadanya. "Pakai baju kamu, Dek! Kita pulang!" ujar Zayyen dengan iba, ia merasa gagal menjaga adiknya.
"Hiks...aku udah gak suci lagi, Kak! A-aku..."
Haidar mengusap wajahnya dengan kasar. "Dasar perempuan bermuka dua!" umpat Haidar dengan kesal di dalam hati.
"Hari ini gue akan hubungi orang tua gue! Dan kita akan menikah! Lo gak usah nangis seakan korban yang sangat terluka," ujar Haidar dengan sengit.
"Brengsek lo! Adek gue emang korban! Korban dari otak kotor lo! Gue tunggu lo dan kedua orang tua lo ke rumah! Gue tunggu etikat baik lo!" ujar Zayyen menggendong adiknya setelah Zevana memakai pakaiannya.
"Gue gak akan kabur gitu aja, Zayyen!" ujar Haidar dengan tajam.
__ADS_1
Haidar menatap Zevana dengan tajam. "Brengsek! Jal*ng murahan! Gak nyangka gue sama lo, Zeva! Tunggu gue akan buat lo menderita," ujar Haidar dengan tajam.
"Arghhhhhh....Kenapa gue bisa melakukan itu sama Zeva? Dasar wanita murah*n!"