
...Jangan lupa ramaikan part ini....
...Happy reading...
****
Fathan belum mendapatkan baby sitter yang cocok untuk mengurus kedua anak kembarnya. Saat ini ia sedang mengurus ketiga anaknya karena sejak diketahui Tri hamil istrinya itu seringkali pusing bahkan pagi ini Tri sama sekali tidak bangun setelah memuntahkan seluruh isi perutnya.
Fathan sudah menghubungi kedua mertuanya untuk datang ke rumahnya sedangkan mama Yesha harus menjaga papanya.
"Itu sepertinya nenek sama kakek datang," ujar Fathan pada Cika.
Cika tersenyum dan langsung keluar kamarnya untuk menyambut kedatangan kakek dan neneknya. Fathan menggendong kedua anak kembarnya setelah ia mandikan dan gantikan bajunya.
"Nessa sama Nevan sama bibi dulu ya. Papa mau lihat mama," ucap Fathan dengan lembut.
Seakan tahu jika mamanya sedang sakit. Kedua anak kembarnya sama sekali tidak rewel saat tidak ada Tri di dekat mereka.
Fathan membawa Nevan dan Nessa menemui kakek dan neneknya.
"Ibu, Bapak. Gimana kabarnya sehat?" tanya Fathan dengan sopan kepada kedua mertuanya yang sudah bermain dengan Cika.
"Alhamdulillah kami sehat, Nak Fathan. Duh cucu nenek dan kakek sudah besar! Sini sama nenek, Sayang!" ujar Ibu Harni dengan senang.
Awalnya Nevan dan Nessa tak mau di gendong dengan kakek dan neneknya karena keduanya jarang berjumpa. Tetapi melihat sang kakak bermain dengan kakek san neneknya lama kelamaan keduanya mau di gendong juga.
"Ibu apa gak apa-apa kalau Nevan dan Nessa sama ibu dan bapak? Kedua bayi ini sangat aktif sekali," ujar Fathan tak enak hati.
"Gak apa-apa, Nak. Kami senang bisa bermain dengan cucu-cucu kami," sahut pak Bagus dengan tersenyum.
"Gimana keadaan Tri?" tanya Pak Bagus.
__ADS_1
"Masih dalam fase morning sickness, Pak. Hanum masih tidur, saya sangat khawatir sekali. Baby sitter Nevan dan Nessa juga belum dapat," ujar Fathan dengan sendu.
"Ini sudah takdir kalau Tri harus hamil lagi saat Nevan dan Nessa baru berusia 6 bulan. Ibu dan Bapak bisa saja di sini menjaga Tri dan anak-anak kalian ketika kamu bekerja," ujar ibu Harni dengt bijak.
"Maaf ya Bu, Pak, selalu merepotkan," ucap Fathan merasa tak enak hati.
"Tidak apa-apa, Nak. Ya sudah kamu temui Tri sekarang, Ibu takut dia kenapa-napa, biar anak-anak kamu Bapak dan ibu yang menjaga," ujar Pak Bagus.
"Iya, Pak. Fathan ke kamar dulu ya. Bi Sumi sudah menyiapkan makanan untuk ibu dan bapak," ujar Fathan dengan sopan.
Pak Bagus dan bu Harni mengangguk. Keduanya mulai mengajak ketiga cucu mereka bermain setelah Fathan pergi ke kamar untuk menemui Tri.
Fathan membuka pintu kamar dengan perlahan. Ia berjalan dengan cepat saat tak mendapati Tri dldi kasur mereka.
"Sayang!" panggil Fathan dengan cemas.
Hoekkk...hoekkk...
Mendengar suara istrinya kembali muntah Fathan berlari dengan cepat ke kamar mandi. Fathan memijat tengkuk istrinya dengan perlahan, ia menatap Tri dengan cemas saat melihat wajah Tri sangat pucat.
Tri mengangguk dengan pelan. Bahkan tubuhnya sangat lemas sekali, ia sudah tidak kuat untuk berjalan lagi.
Fathan menggendong Tri keluar dari kamar mandi, ia merebahkan Tri di kasur mereka. "Minum vitaminnya dulu," ujar Fathan dengan lembut.
Tri menerima vitamin dari suaminya. "Aku mendengar suara ibu dan bapak, Mas." Tri berucap dengan pelan.
"Iya, Sayang. Mas yang menghubungi mereka datang untuk ke sini," ucap Fathan dengan pelan.
"Sekarang bapak dan ibu di mana, Mas?" tanya Tri dengan lirih.
"Ada di bawah, Sayang. Sedang bermain dengan Cika, Nevan, dan Nessa," sahut Fathan dengan pelan.
__ADS_1
"Aku mau menemui mereka," ujar Tri yang hendak bangun tetapi Fathan mencegahnya. Ia menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Nanti saja. Mas takut kalau kamu pingsan," ucap Fathan dengan tegas.
"Tapi..."
"Di sini saja!" ucap Fathan dengan tegas.
Tri menghela napasnya dengan perlahan. "Mas gak kerja?" tanya Tri dengan pelan.
"Mana bisa Mas kerja dengan keadaan istri Mas yang seperti ini," sahut Fathan dengan mengelus pipi Tri dengan lembut.
Fathan merangkak menaiki kasur dan ikut bersandar di kepala ranjang. Ia membawa kepala Tri untuk bersandar di dadanya.
Tri memeluk perut Fathan dengan erat. "Kalau seperti ini terus aku gak bisa mengurus Cika dan kembar, Mas!" ujar Tri dengan sendu.
"Gak apa-apa, Sayang. Mas paham, nanti juga kamu kembali seperti semula. Mas masih bisa mengurus ketiga anak kita," sahut Fathan dengan lembut.
Tri mencubit gemas perut suaminya hingga Fathan meringis. "Sayang jangan nakal ih!" ujar Fathan meringis.
"Ini semua gara-gara kamu, Mas. Kamu kalau ngelakuin itu gak ingat waktu," dengus Tri dengan kesal.
"Aduh-aduh Sayang ampun! Ini kerja keras kita berdua loh," ucap Fathan dengan meringis.
"Tapi tetap saja ini semua rayuan kamu, Mas!" kesal Tri.
Fathan terkekeh dan memeluk Tri dengan gemas. "Kamu juga mau-maunya kena rayuan Mas!" ujar Fathan dengan menaik turunkan kedua alisnya.
Cup...
Cup...
__ADS_1
Fathan mencium kening dan bibir Tri secara bergantian. Ia menangkup wajah Tri dan menatapnya dengan dalam. "Kamu tahu, Sayang? Aku adalah pria yang bahagia karena mempunyai anak banyak dari kamu. Jangan kesal lagi ya, Mas janji gak akan pernah membedakan kasih sayang antara semua anak kita, mereka sudah mendapatkan porsinya masing-masing. Kehadiran anak kita di rahim kamu harus kita syukuri," ucap Fathan dengan lembut.
Tri tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya diam menikmati elusan tangan Fathan di perutnya yang membuat rasa mualnya itu berangsur-angsur menghilang.