
...Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
****
Sudah 2 hari Zayyen dan Zayden tinggal di apartemen bersama dengan Tiara. Kedua anak kembar yang berbeda watak itu saat ini sedang di kamar mereka.
"Kakak kenapa marah sama Mama?" tanya Zayden dengan serius.
"Dia bukan mamaku!" ujar Zayyen dengan tajam.
"Dia itu mama kita! Kalau Kakak gak percaya lihat ini!" ujar Zayden dengan kesal. Anak kecil itu sangat kesal dengan kembarannya yang sangat keras kepala, padahal Zayden sangat suka tinggal bersama dengan mamanya.
"Nih!" Zayden memberikan foto Tiara dengan mereka berdua yang masih bayi.
Zayyen hanya melirik sekilas enggan menatap ke arah Zayden. Dalam 2 hari ini Zayyen enggan sama sekali bicara dengan siapa pun selain Zayden, ia masih membenci kedua orang yang mengaku sebagai kedua orang tua kandungnya.
Ceklek...
Pintu kamar keduanya terbuka. Di sana sudah ada Tiara yang tersenyum membawakan makan untuk kedua anaknya.
"Selamat malam jagoan-jagoan Mama! Kita makan malam bertiga di kamar ini ya," ujar Tiara dengan tersenyum.
"Mama, wah enaknya! Zayden mau di suapi Mama ya!" ujar Zayden dengan berbinar melihat nasi goreng beserta ayam goreng di sana.
"Iya, Sayang. Mama akan menyuapi kalian berdua," ujar Tiara dengan bahagia.a
Tiara duduk di bawah dengan beralasan karpet bulu bersama dengan Zayden, sedangkan Zayyen masih diam di atas kasurnya dengan perasaan yang tidak menentu.
"Zayyen ayo duduk di sini biar Mama suapi dari dua hari yang lalu kamu cuma makan sedikit pasti kamu lapar, kan?" ucap Tiara dengan lembut.
Zayyen tetap diam tak bergeming, ia tidak mau berlama-lama tinggal bersama dengan orang yang tak menginginkannya dulu.Terlalu menyakitkan jika mengingat ucapan Barra waktu itu, hati kecilnya merasa marah dengan wanita yang berperilaku lembut kepadanya sekarang.
__ADS_1
"Zayyen ayo Sayang kita makan bersama! Adek kamu sudah menunggu dari tadi loh," ucap Tiara dengan lembut, ia sangat sabar menghadapi Zayyen yang memang belum bisa menerimanya sebagai ibu kandung dari Zayyen dan juga Zayden.
"Kak turun! Gak sopan sama Mama!" ujar Zayden dengan kesal.
"Kalian makan sendiri! Aku mau pulang!" ujar Zayyen dengan dingin.
Tiara menghela napasnya. "Ini rumah kamu Zayyen! Rumah kita!" ujar Tiara dengan tegas.
"Bukan! Ini bukan rumahku! Antarkan aku pulang ke rumah papa Barra dan mama Rose! Kalian penjahat! Aku gak mau tinggal bersama dengan penjahat" ucap Zayyen dengan marah.
Napasnya memburu menahan kekesalannya kepada Tiara!
Tiara mencoba untuk terus bersabar. "Aaa Sayang!" ujar Tiara menyuapi Zayden. Anak lelaki itu menerima suapan mamanya dengan senang hati.
Dan kini giliran Zayyen yang di suapi oleh Tiara. Namun, Zayyen menepis tangan Tiara dengan kasar hingga sendok yang ada di tangan Tiara terjatuh di kasur dengan nasi yang sudah berhamburan di sana.
"Zayyen kalau marah sama Mama boleh tapi jangan buang makanan seperti ini. Mama sudah siapkam ini untuk kalian berdua dengan sepenuh hati Mama," ujar Tiara dengan lirih.
"Aku gak mau makan!" ujar Zayyen dengan ketus.
"GAK MAU! BIAR AJA AKU SAKIT! AKU GAK MAU TINGGAL BERSAMA DENGAN KALIAN! KEMBALIKAN AKU! AKU MAU PAPA BARRA DAN MAMA ROSE!" teriak Zayyen dengan keras.
"Zayyen!" ujar Tiara dengan tegas. "Ayo makan, Nak!"
Zayyen mengambil piring yang ada di tangan Tiara dan melemparnya ke lantai.
Prank...
Pecahan kaca tersebut mengenai tangan Zayden yang membuat Zayden meringis sakit.
Melihat itu Tiara menatap tajam ke arah Zayyen. "Zayyen kenapa kamu kasar sekali, hah? Ini yang diajarkan sama Barra dan Rose, iya?" ucap Tiara dengan tajam.
"Kamu tidak apa-apa Zayden? Mama obati ya!" ujar Tiara dengan cemas melihat sedikit darah yang mengalir dari tangan anaknya.
__ADS_1
"Lihat kembaran kamu jadi terluka! Kamu boleh marah dengan Mama tapi jangan kasar seperti ini! kamu gak tau betapa tersiksanya Mama saat harus berpisah dengan kalian!" ucap Tiara dengan keras yang membuat Zayyen terdiam takut.
"Minta maaf dengan Zayden sekarang!" ucap Tiara dengan tegas.
"Aku ingin pulang! Ini bukan rumahku!" ucap Zayyen dengan mata yang berkaca-kaca tetapi Zayyen sama sekali tidak mengeluarkan akr matanya.
"SUDAH BERAPA KALI MAMA BILANG INI RUMAHMU! RUMAH KITA! APA YANG TELAH BARRA DAN ROSE KATAKAN HINGGA KAMU SANGAT MEMBENCI MAMA? MAMA SANGAT MENYAYANGI KALIAN! APA HARUS MAMA MATI DULU BARU KAMU SADAR KALAU MAMA INI MAMA KANDUNG KAMU? JAWAB MAMA ZAYYEN!" teriak Tiara dengan marah.
Zidan yang baru saja datang mendengar keributan langsung berlari ke arah kamar anaknya.
"Apa kematian mama yang membuat kamu senang, hah? Mama sudah sangat menanti hari dimana kita bisa berkumpul kembali! Tetapi ini perlakuan kamu terhadap Mama? Mama emang tidak merawat kalian dari kecil karena sebuah alasan yang Mama sendiri sangat membencinya bukan karena Mama tidak sayang kalian! Kalian paham?" teriak Tiara lebih tepatnya alter ego Tiara yang tak sanggup melihat sikap pembangkang Zayyen kepada Tiara.
"Ada apa ini? Ay, Mas mohon tenangkan diri kamu!" ujar Zidan memelui Tiara dari belakang.
Zayyen menatap Tiara dan Zidan dengan tajam. "Kalau kalian orng tua kandungku kenapa kalian hidup terpisah tidak seperti papa Barra dan mama Rose? Aku lebih bahagia hidup bersama dengan mereka dari pada penjahat seperti kalian! AKU TIDAK MAU MEMILIKI ORANG TUA PENJAHAT SEPERTI KALIAN!" teriak Zayyen dengan tajam.
"Kamu belum cukup dewasa untuk mengerti semuanya Zayyen! Suatu saat kamu akan mengerti mengapa kita seperti ini. Tapi kamu tenang saja Papa dan Mama akan kembali bersama dan membesarkan kalian berdua," ujar Zidan dengan lembut.
"Hiks...Kenapa Zayyen gak mengerti perasaan aku, Mas! Di sini sakit sekali! Aku ingin Zayyen mengakuiku sebagai ibunya! Semua ini karena papa, mama dan Sabrina! Mereka harus membayar semuanya!" ujar Tiara dengan menangis di pelukan Zidan.
Zidan menghela napasnya dengan perlahan. "Kita keluar! Kita obati luka Zayden dulu. Biar Zayyen menenangkan dirinya di kamar ini, mungkin dengan begitu dia mau menerima kita sebagai orang tuanya.
Zidan menggendong Zayden dan merangkuk Tiara sebelum itu ia sudah mengelus kepala Zayyen yang tampak diam. anak kecil itu menunduk sedih. Apa benar mereka menyayanginya? Zayyen gak mau berada di sini! Bagaimanapun caranya ia harus bisa keluar dari apartemen ini!
"Zayyen gak mau di sini! Pa, Ma, tolong Zayyen!" gumam Zayyen dengan lirih. Zayyen tak menangis sedikit pun tetapi hatinya merasa sakit menerima kenyataan yang menghantam hati dan pikiran kecilnya. Apakah kebahagiaanmya harus direnggut dengan paksa?
****
Tiara memasuki kamarnya meninggalkan Zidan yang sedang mengobati luka anaknya. Ia menatap tajam ke arah foto-foto yang terpajang di kamarnya.
"Kalian semua harus mati!" ucap alter ego Tiara dengan dingin.
Tiara mengambil ponselnya dan mengirim pesan untuk seseorang. Kali ini Tika lah yang mengambil ahli tubuhnya, hingga membuat Tiara yang lembut begitu terlihat sangat dingin dan kejam.
__ADS_1
Setelah pesan itu terkirim. Senyum Tiara begitu terlihat sangat mengerikan.
"Permainan baru saja di mulai! Kalian harus merasakan kesakitan yang aku rasakan!" ucap Tiara dengan melemparkan anak panah ke arah foto tersebut dan mengenai foto tepat di bagian wajah mereka.