Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 180 (Izin Menikah)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya....


...Happy reading...


****


Andra dan Nessa sama-sama diam di dalam mobil. Andra masih sangat dongkol dengan gadis yang duduk di sampingnya ini sedangkan Ayuna, anak kecil itu asyik bermain ponsel milik Nessa, ia melihat-lihat foto Nessa yang ada di galeri. Ayuna seperti sangat mengagumi Nessa yang sangat cantik sekali dan pastinya akan sangat cocok dengan ayahnya. Benarkan?


"Lain kali jangan meracuni anak saya dengan make up seperti itu!" ujar Andra dengan datar.


Nessa menatap Andra dengan mencibik. "Kok Bapak sewot banget sama saya sih? Ayuna saja tidak protes tuh! Anak Bapak saja malah suka dengan dandanan saya! Ini natural gak norak kok," ujar Nessa dengan kesal.


"Natural-natural. Natural itu gak pakai polesan apapun, kamu tahu itu?!" ujar Andra dengan sewot.


"Ssttt.... Ayah sama Bunda jangan berantem terus! Gak malu sama anak?" tanya Ayuna menatap ayah dan Nessa dengan pandangan yang sangat membuat keduanya gemas.


"Baikan sekarang!" perintah Ayuna dengan bersidekap dada.


"Gak mau!" ujar Nessa dengan membuang muka


"Malas!" ucap Andra dengan datar.


"Ihh... Baikan gak? Kalau gak Ayuna marah nih!" ujar Ayuna dengan cemberut.


Ayuna mengambil tangan ayahnya setelah itu mengambil tangan Nessa dan menempelkan kedua tangan itu yang membuat keduanya tersentak. Apa-apaan bocah cilik ini?.


"Nah sekarang Ayah dan Bunda sudah baikan!" ujar Ayuna dengan tersenyum.


Andra dan Nessa saling menatap satu sama lain. Lalu mereka tersenyum terpaksa, bahkan Nessa menatap dengan kesal kepada Andra.


Nessa mengelap tangannya yang terkena tangan Andra. Ia memilih fokus berfoto dengan Ayuna sekarang meninggalkan Andra yang menatap kesal dan menbatin ke arah Nessa.


"Sok jual mahal. Lihat saja nanti jika menyukai saya!" batin Andra dengan kesal.


"Ih sok ganteng!" ujar Nessa di dalam hati.


***


Delisha berada di gendongan Ikbal bahkan gadis itu lengket seperti perangko dengan kaki yang membelit pinggang Ikbal di depan.

__ADS_1


"Delisha, kak Ikbal-nya mau berangkat kuliah loh! Nanti kak Ikbal-nya telat gimana?" tanya Fiona yang melihat anak bungsunya akhir-akhir ini begitu sangat manja dengan Ikbal.


Ikbal mengusap puncak kepala Delisha dengan sayang. "Gak apa-apa, Mi!" ujar Ikbal membela sang kekasih.


"Delisha mau dekat terus sama Mas Ikbal, Mi! Delisha gak rela kalau ada cewek yang lihatin Mas pacar di kampusnya!" ujar Delisha dengan merengek manja yang membuat Fiona menggelengkan kepalanya.


Sedangkan Ikbal? Jangan ditanya lagi bagaimana reaksi pria itu, tentu saja sangat bahagia saat Delisha begitu posesif kepada dirinya.


"Mulai menebar virus kebucinan di rumah ini!" ujar Dareel dengan ketus.


Delisha melihat ke arah kakaknya. "Iri bilang bos! Cie yang jomblo," ucap Delisha mengejek kakaknya.


Danish dan Daniel menahan tawanya melihat wajah Dareel yang sangat mengenaskan. Memang di antara ketiganya, Dareel lah yang belum mendapatkan tambatan hati, pria itu masih fokus ke sekolah pilotnya. Tentu saja ia tidak ingin mengecewakan kedua orang tua serta pakde-nya yang seprofesi seperti dirinya. Siapa lagi kalau bukan Adrian, kakak kedua dari papinya tersebut.


Danish juga belum memiliki pacar tetapi ia sudah memiliki tambatan hati dan hanya ingin berpacaran dengan gadis itu saja jika mereka di pertemukan kembali. Kalian tentu masih ingat dengan gadis kecil yang Danish temui di pantai Bali, kan?


Akbar menggelengkan kepalanya melihat anaknya sangat begitu ceria dengan Ikbal. Apakah Delisha sudah mencintai Ikbal?


"Duduk, Bal! Maaf kalau anak Papi pagi ini sangat manja sekali," ujar Akbar dengan terkekeh.


"Ih Papi!" rengek Delisha dengan manja.


Delisha mengangguk dengan semangat. "Suapin!" ujar Delisha dengan manja.


"Pi, belikan Dareel tiket ke mars!" ujar Dareel kepada papinya.


"Mau ngapain Kakak ke Mars? Cari pacar Alien!" tanya Delisha dengan polosnya.


"Buahahaha...." Danish dan Daniel seakan puas menertawakan saudara kembarnya yang pagi ini sangat tertekan karena ulah Delisha yang mengejek Dareel.


"Lihat saja Kakak akan memperkenalkan perempuan yang akan menjadi kakak iparmu nanti," ujar Dareel dengan kesal.


"Delisha tunggu itu!" ujar Delisha dengan tersenyum karena di dalam hatinya ia juga ingin ketiga kakaknya mempunyai kekasih.


"Sudah-sudah ayo sarapan nanti kalian telat. Tumben Angga sama Sandy tidak ada?" tanya Akbar.


"Mereka udah di kampus, Pi!" jawab Danish yang diangguki oleh Akbar.


"Pi, Mi!" panggil Ikbal dengan pelan yang membuat kedua orang tua Delisha menatap ke arah Ikbal.

__ADS_1


"Kenapa Bal?" tanya Akbar dengan serius.


"Eemm... Ikbal boleh minta izin?" tanya Ikbal dengan pelan.


"Izin apa? Bawa Delisha jalan-jalan? Silahkan aja tapi asal jangan malam-malam pulangnya," ujar Akbar dengan santai.


"Bukan, Pi. Ikbal boleh minta izin menikahi Delisha setelah Delisha naik kelas 12? Hanya nikah saja dulu, Pi! Pestanya diadakan setelah Delisha lulus. Boleh ya, Pi!" ujar Ikbal menatap ke arah Akbar dan Fiona yang tampak terdiam.


Sedangkan Danish, Daniel, dan Dareel hampir tersedak dengan nasi yang sudah berada di dalam mulut mereka karena permintaan Ikbal yang mengejutkan ketiganya.


"Papi tidak masalah kalau kamu memang benar-benar mencintaimu Delisha. Tapi apa kamu tahu sanksi bagi siswa yang menikah sebelum lulus sekolah? Delisha bisa di keluarkan dari sekolah! Walaupun itu sekolah milik Papi tetapi tetap saja peraturan tetaplah peraturan," ujar Akbar dengan tegas.


"Pernikahan Ikbal dan Delisha bisa dirahasiakan terlebih dahulu, Pi. Jangan sampai pihak sekolah tahu kalau Delisha sudah menikah. Pernikahan ini hanya dihadiri oleh orang terdekat saja, gimana Pi? Rasanya Ikbal tidak bisa jauh-jauh dari Delisha! Ikbal ingin memantau Delisha setiap waktunya," ujar Ikbal dengan tegas.


"Bal, lo serius? Ini pernikahan bro! Bukan sesuatu yang bisa dipermainkan ketika lo bosan bisa meninggalkan begitu saja! Ini tentang kebersamaan kalian seumur hidup!" ujar Daniel dengan tegas. Bagaimana pun Daniel mau yang terbaik untuk adiknya dan jangan sampai Delisha telah tersakiti oleh Ikbal nantinya karena keduanya masih sangat muda.


"Benar apa yang dikatakan Daniel. Gue tahu lo mencintai Delisha, tetapi jangan karena n*fsu lo mau menikah dengan adek gue!" ujar Danish yang diangguki oleh Dareel.


"Sedikit pun gue gak ada niatan mempermainkan hati Delisha! Kalau gue mau sudah dari dulu gue begitu!" ujar Ikbal dengan tegas dan tak ada keraguan di setiap ucapannya.


Sedangkan Delisha hanya diam saja memandang Ikbal dengan takjub karena berani meminta izin menikah walau ia masih sekolah dan Ikbal masih kuliah. Pria itu baru saja semester 3. Tentu bisa kalian bayangkan Ikbal masih sangat muda untuk menikah bukan?


"Papi tunggu lamaran resmi kamu nanti malam!" ujar Akbar dengan tegas yang membuat Ikbal menyunggingkan senyumannya.


"Baik, Pi! Ikbal akan datang bersama dengan mama!" ujar Ikbal dengan bahagia.


"Jaga baik-baik anak Mami. Kamu sudah di kasih kepercayaan oleh keluarga Mahendra untuk menjaga Delisha. Sampai kamu menyakiti Delisha, Mami gak akan maafin kamu, Bal!" ujar Fiona dengan suara bergetar. Haruskah secepat ini melepaskan Delisha untuk menikah?


"Iya, Mi! Ikbal janji! Mami tenang aja. Delisha dan Ikbal akan tetap tinggal di sini sampai Delisha lulus sekolah kalau kalian mengizinkan karena bagaimanapun Delisha masih sangat membutuhkan kalian semua. Terlebih Ikbal masih sibuk dengan kuliah, Ikbal janji akan lulus secepatnya. Ikbal akan membuat Delisha bahagia bersama dengan Ikbal," ujar Ikbal dengan tegas.


"Mas pacar!" gumam Delisha dengan pelan.


"Iya, Sayang. Kenapa? Mas sudah berani meminta izin untuk menikahi kamu," ujar Ikbal menatap Delisha dengan dalam.


"Ini mimpi ya? Delisha bakal nikah sama Mas pacar? Delisha bisa tidur setiap hari di pelukan Mas pacar?" tanya Delisha dengan bergumam yang membuat Ikbal terkekeh bahkan Ikbal tak malu mencium pelipis Delisha di hadapan keluarga kekasihnya.


"Bukan mimpi, Sayang! Ini beneran! Ayo sarapan karena sebentar lagi waktunya kamu check up ke rumah sakit. Hari ini Mas gak bisa temani kamu karena kuliah tapi pemeriksaan selanjutnya Mas janji akan menemani kamu," ujar Ikbal dengan lembut.


"Iya. Delisha masih gak percaya bakal punya suami seganteng mas pacar," gumam Delisha memeluk Ikbal dengan erat.

__ADS_1


Tanpa sepengetahuan Ikbal dan yang lainnya Delisha meneteskan air matanya. "Seandainya Tuhan memberikan kesempatan untuk aku hidup lebih lama. Aku ingin mempunyai anak dari kamu Mas pacar. Kita akan menjadi keluarga yang sangat bahagia. Tapi apakah kesempatan itu ada?"


__ADS_2