Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 238 (Menginap)


__ADS_3

...📌Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


***


Mendapatkan kabar jika cucunya akan datang menginap di rumah Haidar membuat Diana langsung mengajak sang suami untuk ke rumah Haidar. Rumah yang dibeli Haidar untuk ia tempati bersama dengan Zevana jika wanita itu kembali dan Haidar sudah menjual apartemennya yang sudah meninggalkan luka yang mendalam untuk Zevana.


Haidar sadar jika KDRT yang ia lakukan sangat berdampak besar, tetapi ia sudah berjanji dengan dirinya sendiri untuk tidak berlaku kasar kepada Zevana karena sebenarnya Haidar bukan tipe lekaki yang tempramental, semua kekerasan yang ia lakukan karena amarah dan kecewanya dengan Zevana dulu dan sekarang ia sudah menyesal dengan apa yang ia lakukan hingga membuat Zevana pergi dari sisinya.


"Selamat datang di rumah Papa jagoan!" ujar Haidar dengan tersenyum yang membuat Raiden juga ikut tersenyum bahagia. Akhirnya ia bisa bersama dengan papanya tetapi tetap saja ada yang kurang karena mamanya tidak ikut menginap juga.


"Aaa.. Ini cucu Nenek dan Kakek ya? Ganteng sekali seperti papa kamu waktu kecil," ujar Diana dengan heboh.


"Sini sama Nenek, jagoan!" ujar Diana dengan bahagia.


Raiden yang memang sudah tahu Diana adalah neneknya juga langsung mau di gendong dengan Diana bahkan mata Diana sampai berkaca-kaca. Betapa bahagianya dirinya saat bisa melihat Raiden secara langsung.


Fahmi juga tak kala bahagianya bahkan lelaki itu menangis tanpa suara tetapi air matanya langsung ia hapus tak ingin terlihat menangis di depan cucunya.


"Nenek!"


"Kakek!"


Panggil Raiden dengan menatap kakek dan neneknya dari papanya secara bergantian.


"Iya, Sayang. Ini Nenek dan itu Kakek kamu! Nenek kangen banget sama kamu," ujar Diana memeluk Raiden dengan erat.


"Raiden juga, Nek!" ujar Raiden memeluk Diana.


"Nenek cantik," ujar Raiden yang membuat Fahmi dan Haidar tertawa.


"Siapa dulu istri Kakek," ujar Fahmi yang di angguki oleh Raiden.


"Raiden sudah makan?" ujar Diana.


"Sudah Nek. Raiden mau menginap di sini boleh, kan? Tapi Raiden sedih mama gak mau menginap juga," ujar Raiden dengan sendu.

__ADS_1


Diana dan Fahmi menatap Haidar yang membuat Haidar menghela napasnya dengan kasar. "Zevana butuh waktu, Ma. Kesalahan Haidar tidak bisa dimaafkan begitu saja. Jadi, kita tidak bisa memaksa Zevana untuk kembali ke Haidar," ujar Haidar dengan sendu.


"Ya sudah semuanya memang butuh waktu. Sekarang Raiden mau main sama Nenek dan Kakek gak? Atau mau langsung istirahat? Mau tidur sama Nenek?" tanya Diana.


"Mau main dulu tapi tidurnya sama Papa karena Raiden belum pernah merasakan tidur sama Papa. Dibacain dongeng sebelum tidur sama Papa, di peluk waktu tidur sama Papa. Raiden pengin rasain itu semua," ujar Raiden dengan santai tetapi membuat Haidar, Fahmi, dan Diana saling berpandangan dengan dada yang teramat sesak.


"Mulai malam ini dan seterusnya kalau Raiden mau menginap di sini Papa akan melakukan yang Raiden inginkan. Maafkan Papa yang tidak bersama kamu sampai Papa tidak melihat dan menyaksikan secara langsung perkembangan kamu," ujar Haidar dengan lirih.


"Papa dan Mama gak salah. Keadaanlah yang membuat kita berpisah. Benar kan, Pa?" tanya Raiden yang di angguki oleh Haidar.


"Dari pada kita bersedih terus bagaimana kalau kita bermain sebelum hari semakin malam," ujar Fahmi.


"Iya Raiden mau. Raiden punya mainan banyak dibelikan Papa," ujar Raiden dengan bahagia. Raiden tidak pernah sebahagia ini dan malam ini sungguh ia terlihat sangat bahagia. Bisakah kebahagiaan itu terus ada di diri Raiden?


Akhirnya mereka bermain menemani Raiden. Canda dan tawa terdengar begitu sangat membahagiakan. Haidar bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk bertemu Raiden dan menginap di rumahnya.


***


Zevana tidak bisa tertidur dengan nyenyak malam ini ia terus memikirkan Raiden yang berada di rumah Haidar sungguh hatinya sama sekali tidak tenang karena ia tidak pernah berpisah dengan Raiden.


"Ya Tuhan... Aku harus apa? Keputusan ini sungguh sangat berat. Mas Indra selalu mendesakku untuk menikah dengannya, dia selalu mengungkit kebaikannya dalam membesarkan Raiden dan membiayai Pendidikanku. Alasan itu yang membuat aku bimbang untuk kembali dengan kak Haidar," gumam Zevana dengan gusar.


Ting...


Zevana melihat ponselnya yang berbunyi ternyata ada pesan dari Indra.


[Zeva, saya tahu perkataan saya ini akan menyakiti kamu. Tapi kamu harus ingat biaya Raiden dan juga kamu itu saya yang memberikannya. Saya tidak meminta kamu mengembalikan uang saya tapi saya minta kamu membalas kebaikan saya dengan menikah dengan saya]


[Mas kenapa Mas jadi begini? Sebelum Zeva dan Raiden kembali ke Jakarta Mas tidak seperti ini. Zeva tahu Mas baik]


[Saya takut kehilangan kamu dan Raiden. Jadi, saya harus menekan kamu agar mau menikah dengan saya. Ceraikan Haidar!]


Zevana membuang ponselnya begitu saja. Saat seperti ini yang Zevana pikirkan adalah Raiden. Apakah nanti jika ia benar-benar bercerai dengan Haidar dirinya dan Raiden akan bahagia bersama dengan Indra? Mengingat sikap pria itu yang suka mengungkit pemberiannya akhir-akhir ini.


"Aku harus apa Ya Tuhan?" ujar Zevana dengan frustasi.


Ting...

__ADS_1


[Saya berikan kamu waktu seminggu untuk berpikir]


Zevana kembali frustasi saat melihat pesan Indra yang terus mendesak dirinya untuk memilih pria itu. Haruskah? Bahagia kah dirinya nanti? Hati Raiden bagaimana?


"Aarghhh...."


****


Zevana tersenyum saat melihat foto Raiden dan Haidar yang dikirimkan Haidar kepada dirinya.



[Zeva, pikirkan baik-baik. Apakah kamu tega membuat Raiden bersedih? Lihat semalam dia sangat bahagia saat aku membacakan buku dongeng untuknya. Tidak bisakah kita mewujudkan impian sederhananya?]


Zevana memejamkan matanya hingga bulir bening menjatuhi kedua pipinya.


[Berikan aku waktu seminggu untuk berpikir Kak. Dan apapun keputusan yang aku berikan, aku harap kamu menerimanya]


[Sudah berapa kali aku katakan. Ubahlah panggilan kamu ke papa dari anak kamu, Zeva! Aku akan berusaha menerima keputusan kamu karena aku tidak bisa memaksa kamu sekarang]


[Terima kasih Mas Haidar. Jam istirahat bisakah Mas membawa Raiden kepadaku kembali? Aku tidak bisa tidur semalam!]


[Sangat bisa. Tapi apakah Mas masih bisa membawa Raiden lagi kalau memang benar kita nanti berpisah?]


[Bagaimanapun Raiden adalah anak kandung kamu, Mas. Kamu bisa bertemu dengan Raiden kapan saja. Kita bisa bagi waktu nanti]


[Terima kasih Zevana. Mas berharap kita masih bisa kembali bersama]


"Sedang berkirim pesan dengan siapa?" tanya Indra yang membuat Zevana langsung meletakkan ponselnya kembali di saku jas dokternya.


"D-dengan kak Zayyen. Dia mengatakan akan pulang seminggu lagi," jawab Zevana dengan berbohong tetapi Zevana tidak bohong jika kakaknya emang akan pulang dalam seminggu ini.


"Zeva, saya tidak suka kamu berbohong. Saya benar-benar serius dengan ucapan saya semalam, saya beri waktu seminggu kamu untuk berpikir. Dan siang ini Raiden harus berada di sini, saya kecewa dengan sikap kamu yang membatalkan pertemuan kami," ujar Indra dengan dingin karena ia merasa Haidar adalah saingannya untuk mendapatkan hati Zevana.


"Maaf, Mas. Bagaimanapun Raiden butuh sosok papanya!" ujar Zevana dengan pelan.


"Raiden hanya membutuhkan saya untuk menjadi papanya! Tidak dengan lelaki itu! Ingat keputusan kamu jangan membangkitkan kemarahan saya! Saya sudah cukup bersabar selama ini!" ucap Indra dengan datar dan langsung pergi meninggalkan Zevana yang terlihat terdiam dengan pandangan yang amat kosong.

__ADS_1


__ADS_2