Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 175 (Bertemu Mama Kak Ikbal)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


***


Hari ini adalah hari minggu di mana Ikbal dan Delisha libur kuliah maupun sekolah. Dan karena sebentar lagi juga akan diadakan ujian nasional maka kelas Delisha diliburkan. Siang ini Ikbal dan Delisha sudah memiliki janji dengan Claudia untuk bertemu di rumah dan tentu saja membuat Delisha deg-degan.


"Cie yang sebentar lagi mau naik kelas 12," ujar Ikbal dengan menyentil hidung Delisha dengan pelan.


"Hehehe...Delisha udah dewasa kan, Kak?" tanya Delisha dengan bahagia.


"Udah dong, Sayang! Setelah kamu tamat sekolah kita akan menikah," ujar Ikbal dengan tegas.


Hal sepenting ini juga sudah Ikbal bicarakan dengan Akbar dan yang lainnya mereka setuju saja asal Ikbal bisa membahagiakan Delisha. Kebahagiaan Delisha adalah hal yang sangat utama bagi keluarga Mahendra.


Tubuh Delisha mematung saat mendengar ucapan Ikbal yang sangat serius. "M-menikah? I-ini serius, Kak?" tanya Delisha dengan mengerjapkan matanya lucu.


"Menjadikan kamu istri Kakak bukan sebuah permainan Delisha Sayangku! Ayo sekarang masuk ke rumah mama. Mama bahagia banget tahu kamu mau ke sini," ujar Ikbal yang membuat Delisha tersenyum.


Menikah?


Dulu Delisha sangat ingin menikah muda dengan Zayyen tetapi harapan itu sekarang musnah. Dan sekarang Ikbal yang ingin menikah muda dengannya? Tuhan benar-benar sangat baik ya kepadanya? Namun, jika waktunya tiba tetapi nyawanya tidak bisa terselamatkan lagi bagaimana nasib Ikbal kedepannya? Delisha tak mau membuat Ikbal bersedih karenanya.


Dengan balutan baju yang sangat sederhana namun terkesan sangat mewah di tubuh Delisha. Gadis itu sangat terlihat cantik sekali, auranya sangat menawan bahkan Ikbal saja tak ingin berjauhan dengan Delisha. Pria itu selalu memeluk Delisha dari samping dengan erat saat keduanya berjalan masuk ke rumah mama Ikbal.


"Ma, lihat siapa yang Ikbal bawa!" ujar Ikbal dengan lembut saat melihat mamanya sedang menggantikan bunga mewar segar di dalam vas kaca yang berisi air.


Claudia langsung melihat ke arah anaknya. Senyuman Claudia mengembang dengan sempurna saat melihat Delisha yang sangat cantik di pelukan sang anak.


"Halo Tante cantik. Kenalin aku Delisha!" ujar Delisha dengan ceria dan langsung menyodorkan tangannya untuk meminta salam dengan Claudia.


Claudia menyambut uluran tangan Delisha dengan senang hati. "Halo juga calon menantu Mama yang sangat cantik. Ternyata ini ya yang buat anak bujang Mama uring-uringan setiap hari kalau gak ketemu cantiknya," ujar Claudia memeluk Delisha dengan erat.


"Eh emang iya, Tante? Delisha kok gak tahu kak Ikbal seperti itu?" tanya Delisha yang membuat Ikbal menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.

__ADS_1


"Panggil Mama saja, Sayang! Iya pacar kamu itu gak bisa tidur kalau gak dengar kabar kamu," sahut Claudia yang membuat Delisha menatap ke arah Ikbal. Jadi, ini alasannya yang membuat Ikbal selalu meminta video call dengannya? Bahkan sering sekali ponselnya sampai mati karena video call dirinya dan Ikbal tersambung hingga baterai mereka habis.


Bahkan sering kali Ikbal merengek kepadanya seperti anak kecil. Terkadang Delisha merasa jiwa mereka tertukar tetapi kenyataannya Ikbal adalah pria yang dingin hampir sama dengan Zayyen tetapi hati Ikbal lebih hangat dari pada Zayyen saat memperlakukan dirinya. Jadi, tidak salahkan jika Delisha sekarang memilih Ikbal?


Cup...


Ikbal mengecup kening Delisha dengan lembut. "Iya, Kakak gak bisa jauh dari kamu. Itu kan yang mau kamu dengar hmm?" ujar Ikbal yang membuat Delisha tersenyum malu-malu.


"Oo iya Mama sudah masak buat nyambut kedatangan calon menantu Mama. Kata Ikbal kamu paling suka telur gulung ya? Mama sudah buatkan banyak untuk kamu," ujar Claudia dengan antuasias dan Delisha juga sangat antuasias ketika mendengar telur gulung kesukaannya.


"Beneran Tante? Eh maksudnya Mama? Mama buat telur gulung untuk Delisha? Perut Delisha jadi laper, cacingnya udah bunyi minta makan hehe," ujar,Delisha dengan mengusap perutnya.


Claudia dan Ikbal terkekeh. "Haha.. ayo kita makan sekarang!" ujar Claudia dengan bahagia.


Delisha dengan Erina benar-benar sangat mirip sekali. Claudia takut Ikbal hanya menjadikan Delisha sebagai pengganti Erina. Tetapi melihat ketulusan di mata anaknya ketakutan itu sirna karena Claudia melihat kasih sayang yang sangat tulus yang Ikbal berikan untuk Delisha bukan karena Delisha mirip dengan Erina. Mungkin ini hanya kebetulan saja saat Ikbal kembali mendapatkan pacar yang sifatnya hampir sama dengan Erina, ceria dan sangat cantik sekali.


Rasa deg-degan ketika ingin bertemu mama Ikbal seakan hilang entah kemana di saat dirinya di sambut dengan sangat baik oleh Claudia. Bahkan, Delisha tertawa bahagia saat mengobrol dengan Claudia di sela-sela makan mereka dan itu juga yang membuat Ikbal tersenyum bahagia.


Setelah makan siang selesai ketiganya duduk di ruang keluarga. Bahkan sangking enaknya Delisha mengobrol dengan Claudia, gadis itu mulai merasa mengantuk. Delisha bersandar di dada bidang Ikbal dengan pelan, Ikbal melihat ke arah kekasihnya.


"Kenapa?" tanya Claudia dengan pelan.


"Lucunya. Kamu kok bisa ketemu gadis selucu dan secantik Delisha sih? Tapi, Mama lihat dia sangat mirip dengan Erina. wajahnya, sifat mereka hampir sangat mirip sekali. Kamu tidak menjadikan Delisha sebagai pengganti Erina, kan?" tanya Claudia dengan gusar.


"Astaga, Ma! Ikbal tidak pernah berpikir seperti itu! Ikbal tahu mereka sangat mirip tetapi Ikbal gak pernah berpikir menjadikan Delisha pengganti Erina! Walaupun mereka memiliki wajah dan sifat yang hampir sama tetap saja mereka berbeda," ujar Ikbal dengan tegas.


Claudia lega mendengar jawaban anaknya. "Syukurlah kalau kamu tidak seperti itu. Mama hanya takut saja kamu seperti itu, Nak!" ujar Claudia dengan pelan karena tak mau menggangu tidur Delisha.


Ikbal tersenyum dengan tipis. "Bahkan Delisha dan Erina mempunyai penyakit yang sama, Ma! Kali ini Ikbal boleh egois kan Ma untuk memiliki Delisha lebih lama lagi?" tanya Ikbal dengan suara yang berubah menjadi getar karena menahan tangisnya.


Tubuh Claudia mematung mendengar ucapan Ikbal. "Bal, Mama yakin kali ini kamu akan bahagia bersama dengan Delisha! Penyakit itu tidak akan memisahkan kamu lagi dengan gadis yang kamu cintai!" ujar Claudia memberikan kekuatan kepada anaknya.


"Semoga ya, Ma! Delisha selalu bahas kematian yang membuat Ikbal sangat takut. Mama restuin Ikbal untuk menikah dengan Delisha setelah Delisha tamat sekolah, kan?" tanya Ikbal.


Claudia tersenyum. "Apapun keputusan kamu akan Mama dukung. Ya udah bawa Delisha ke kamar kamu dulu, tapi jangan macam-macam dengan calon menantu Mama sebelum kalian halal ya!" ujar Claudia yang membuat Ikbal tersenyum.

__ADS_1


"Iya, Ma! Paling cuma satu macam. Cium pipinya yang sangat menggemaskan ini," ujar Ikbal dengan tersenyum.


"Nakal kamu!" ujar Claudia yang membuat Ikbal tergelak.


Ikbal mulai menggendong Delisha dengan perlahan agar tidak mengganggu tidur kekasihnya.


"Mama juga mau ke kamar dulu ya!" ujar Claudia dengan pelan.


"Iya, Ma!"


Ikbal membawa Delisha ke kamarnya dengan perlahan. Ikbal menidurkan Delisha dengan perlahan di kasurnya, ia menyelimuti Delisha dengan lembut.


Ikbal menatap wajah Delisha. Matanya menajam saat melihat bekas keunguan di lengan Delisha. Kuku gadis itu juga tampak membiru.


"Sayang, kamu lagi gak sembunyikan kesakitan kamu di hadapan Kakak, kan?" gumam Ikbal dengan pelan.


"Delisha!" panggil Ikbal dengan pelan. Bahkan sangking paniknya Ikbal sampai memeriksa napas Delisha, merasakan napas Delisha yang menerpa tangannya membuat Ikbal sedikit lega. Delisha-nya masih bernapas, kan?


"Kakak peluk Delisha!" uujar Delisha dengan serak.


"Sayang, kamu...."


"Delisha hanya mau di peluk Kak Ikbal. Bisa kan, Kak?" tanya Delisha dengan lirih.


"Bisa!" ucap Ikbal dengan cepat.


Ikbal langsung merebahkan tubuhnya di samping Delisha. Gadis itu langsung memeluk Ikbal dengan erat. Delisha menatap wajah Ikbal yang tertanya masih menatapnya dengan takut.


Delisha menyentuh pipi Ikbal. Gadis itu memberanikan diri untuk mendekatkan wajahnya ke wajah Ikbal.


Cup...


Delisha mencium bibir Ikbal tanpa pria itu duga. Ikbal menahan tengkuk Delisha hingga keduanya berciuman. Ciuman kali ini sangat panjang.


"Sepertinya Delisha sudah sayang sama Kak Ikbal," gumam Delisha dengan napas yang tak beraturan.

__ADS_1


"Hah?"


Otak Ikbal blank seketika dengan ucapan Delisha. Ini beneran? Kenapa seketika ada kupu-kupu yang beterbangan di perutnya?


__ADS_2