
...Jangan lupa ramaikan partai ini ya! ...
...Happy reading...
***
Sudah seminggu Delisha dirawat di rumah sakit dan hari ini Delisha sudah diperbolehkan pulang ke rumahnya kembali. Gadis itu sudah sangat merindukan dua kucing kesayangannya yang selama seminggu ini tidak boleh bertemu dengannya. Sangking senangnya Delisha tak sabaran sekali bahkan sejak tadi ia menyuruh kakaknya untuk mempercepat laju mobilnya.
Fiona mengelus rambut anaknya dengan sayang. "Sabar, Sayang! Jimmy dan Kimmy diurus dengan baik sama pelayan di rumah," ujar Fiona dengan lembut.
"Delisha udah gak sabaran, Mi! Anak-anak Delisha udah besar belum ya?" tanya Delisha dengan mengerucut bibirnya.
"Udah, Sayang! Mereka udah gendut kok! Setiap hari Ikbal datang juga buat cek kondisi mereka bahkan bawa makanan banyak buat mereka," sahut Fiona yang membuat Delisha berbinar.
"Emang Kak Ikbal papi siaga," puji Delisha yang membuat ketiga kakaknya mual.
"Kenapa kamu gak jadian aja sama Ikbal? Kakak dan papi sudah melarang kamu bersama dengan Zayyen," ujar Danish dengan dingin.
"Kak, Delisha gak mau putus sama kak Zayyen!" ujar Delisha dengan berkaca-kaca.
Danish, Daniel, Dareel, dan Akbar menatap ke arah Delisha dengan serius. Tetapi Danish hanya menatap sekilas karena ia sedang menyetir.
"Zayyen gak baik buat kamu, Dek! Dia bahkan meninggalkan kamu begitu saja saat di taman, kan? Apa yang harus dipertahankan dari lelaki seperti itu? Coba jawab pertanyaan Kakak!" ucap Daniel dengan datar.
"Karena Delisha cinta sama kak Zayyen!" ujar Delisha dengan tegas.
__ADS_1
"Cinta saja gak akan cukup kalau gak buat hati kamu bahagia, damai dan merasa menjadi prioritas! Lebih baik dicintai dari pada mencintai!" ujar Akbar yang membuat Delisha semakin menatap semua keluarganya dengan mata memohonnya.
"Beri Delisha waktu, Pi! Jika waktunya Delisha lelah, maka Delisha akan melepaskan kak Zayyen! Saat ini Delisha masih sangat bahagia jika bersama dirinya. Kak Zayyen sudah berubah, Pi! Dia sudah baik sama Delisha," ujar Delisha dengan pelan.
"Kenapa kamu masih keras kepala banget sih, Dek? Awas saja kalau Zayyen buat kamu nangis Kakak akan menghajar lelaki itu lagi!" ucap Dareel dengan mendengkus kesal ke arah adiknya yang memang sangat keras kepala. Terbiasa semua dituruti oleh keluarga membuat Delisha seperti ini atau karena sudah dibutakan oleh cinta kepada Zayyen walau tak terbalas?
Delisha hanya menunduk saat ketiga kakak serta kedua orang tuanya menghela napas mereka dengan kasar. Delisha hanya ingin bertahan sekali lagi karena Zayyen sudah berubah, pria itu menjadi sangat perhatian kepadanya dan cepat atau lambat Zayyen pasti akan mencintainya dengan dalam. Apa yang Delisha lakukan memang terlihat bodoh tetapi ini cara dirinya untuk mempertahankan hubungannya, tetapi nanti setelah perjuangan dirinya sia-sia maka Delisha akan melepaskan Zayyen dengan Ikhlas dan merelakan pria itu kepada gadis yang Zayyen cintai.
"Udah jangan nangis! Kakak gak marah cuma kesal saja sedikit!" ujar Danish yang diangguki oleh Delisha dengan pelan.
Delisha memeluk maminya dengan erat bahkan menenggelamkan wajahnya di perut maminya karena saat ini dirinya sedang merasakan kesedihan akibat semua orang menyuruhnya untuk melepaskan Zayyen.
"Kak Zayyen, Delisha yakin kakak sudah benar-benar berubah. Buat Delisha percaya jika mempertahankan kakak bukanlah sesuatu kesalahan yang akan Delisha sesali di kemudian hari," gumam Delisha di dalam hati.
Fiona menatap suami dan ketiga anaknya. "Jangan memaksa Delisha! Jika dia kembali drop mami hukum kalian semua," ucap Fiona dengan tajam karena merasa tak tega dengan anaknya yang sudah menangis di pelukannya karena Fiona merasakan tubuh Delisha gemetar karena menangis.
Ke-empat lelaki itu menelan ludahnya dengan kasar saat Fiona sudah mengucapkan ultimatumnya dengan tegas. Apalagi Akbar yang sangat takut jika Fiona menyuruhnya tidur di luar, selama menikah Akbar tidak pernah melepaskan pelukannya kepada Fiona dan itu sudah menjadi kebiasaan yang membuat Akbar tidak bisa tidur jika tidak memeluk Fiona.
"I-iya, Mami! Kami mohon ampun! Habisnya Delisha keras kepala sih," ujar Daniel dengan pelan.
"Jangan buat adik kalian tertekan dulu! Jika waktunya tiba Mami yakin Delisha akan paham dengan perasaannya sendiri," ucap Fiona dengan tegas yang diangguki ketiganya.
****
Cika saat ini berada di rumah sakit dimana om dan tantenya mengajak dirinya untuk bertemu. Pertemuan kali ini entah membahas apa, Cika juga tidak tahu karena pertunangannya dengan Zayden sudah dilakukan tanpa pesta mewah karena Zayden yang meminta karena lelaki itu tidak ingin banyak lelaki yang menatap tunangannya dengan pandangan memuja.
__ADS_1
Cika tampak sangat gugup ketika dirinya memasuki ruangan omnya sekaligus calon mertuanya.
"Selamat pagi Om, Tante!" sapa Cika dengan ramah karena dirinya belum terbiasa memanggil kedua orang tua Zayden dengan sebutan mama dan papa.
"Selamat pagi, Sayang! Silahkan duduk!" sahut Tiara dengan tersenyum sedangkan Zidan hanya tersenyum ramah ke arah Cika karena di kepalanya banyak pikiran yang rasanya hampir membuat kepalanya meledak.
Cika duduk di sebelah Tiara. "Tante dan om mengajak Cika ketemuan di sini tanpa boleh memberitahu Zayden ada apa ya, Om?" tanya Cika dengan bingung.
Zidan menghela napasnya dengan berat. "Om gak sengaja mendengar percakapan kamu dan Zayden minggu lalu di apartemen," ujar Zidan tanpa basa-basi.
"M-maksud, Om?" ucap Cika dengan gugup bahkan saat ini kedua tangannya sudah berkeringat menanti Zidan berbicara kembali.
"Om mendengar semua ucapan Zayden. Om sudah tahu kalau Zayden mempunyai kepribadian ganda. Cika, Om dan Tante meminta kamu ke sini untuk bekerja sama membuat Zayden sembuh. Om takut Zayden berbuat nekat dan mengancam keselamatan semua orang," ucap Zidan dengan serius.
"O-om dan Tante sudah tahu semuanya?" tanya Cika dengan mata berkac-kaca.
Zidan dan Tiara mengangguk. "Kamu gak perlu takut. Om hanya ingin kamu bekerjasama membuat Zayden sembuh," ujar Zidan.
"Apa yang kamu rasain selama Zayden kambuh?" tanya Tiara dengan serius.
"A-aku takut, Tan! Sangat takut tapi aku berusaha bersikap biasa saja. Dulu aku pernah ingin memberitahu om dan tante tapi dia ngancam aku dengan bunuh diri," gumam Cika yang membuat Zidan dan Tiara sangat syok.
"Separah itu? Kita harus menyadarkan Zidan sebelum semuanya terlambat! Kamu bisa cerita ke kami tentang Zayden sekarang ya! Tante mohon kamu jangan takut dengan ancaman Zayden kalau dia sudah ngancam kamu tolong segera hubungi tante dan om ya!" ujar Tiara dengan menahan tangisnya.
Cika mengangguk dengan pelan. Ia juga menangis memeluk Tiara, Cika mengungkapkan semua yang mengganjal di hatinya tentang Zayden yang sangat kasar, arogan kepada dirinya. Dan Tiara maupun Zidan hanya bisa menyesali perbuatan Zayden yang bisa saja kehilangan Cika karena sikap anak anaknya itu.
__ADS_1
"Ya Tuhan... Nak, Mama mohon jangan berbuat nekat seperti ini. Kamu bisa kehilangan Cika nantinya," gumam Tiara memeluk dan menenangkan Cika.