Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 43 (Diary Part 3 )


__ADS_3

...Hei jangan lupa ramaikan part ini ya. Bom like dan komentarnya dongs....


...Happy reading...


****


Zidan tidak bisa fokus dengan pekerjaannya kali ini. Ia berulang kali salah memberikan obat kepada pasien hingga ditegur oleh suster yang bekerja dengannya. Zidan mengusap wajahnya dengan kasar, bayangan Tiara bahagia bersama dengan Barra membuat hatinya memanas. Zidan menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya. Ia membuka laci dan mengambil diary Tiara dengan perlahan, dan tanpa sengaja selembar kertas kecil jatuh dari sana.


"Apa itu?" tanya Zidan pada dirinya sendiri.


Zidan berjongkok untuk mengambil kertas tersebut di lantai.


"Foto USG? Kembar?" gumam Zidan dengan jantung berdetak sangat kencang.


"I-itu artinya anakku kembar?" tanya Zidan pada dirinya sendiri. Ada rasa bahagia yang menghampiri Zidan tetapi ia merasa menjadi lelaki pengecut dan tidak bertangungjawab atas kehamilan Tiara. Padahal Zidan adalah dokter kandungan yang sangat mengerti bagaimana susahnya seorang ibu hamil, Zidan semakin merutuki dirinya sendiri yang pergi begitu saja meninggalkan Tiara saat gadis itu sedang hamil anaknya, bahkan hamil kembar.


Zidan membuka diary Tiara dengan cepat, ia ingin mengetahui semuanya sekarang juga setelah ia tidak sempat untuk membacanya kemarin-kemarin.

__ADS_1


^^^Ditinggal kekasih saat sedang hamil dan diusir dari rumah karena ketahuan hamil di luar nikah, menambah sakit hati ini yang tidak bisa tertehan lagi. Aku tertekan dengan keadaan ini Ya Tuhan, hanya satu pilihanku saat ini kuliah di Paris dan meninggalkan anakku kelak karena paksaan kedua orang tuaku. Aku ibu pengecut yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk mempertahankan anakku sendiri. Mas Zidan kamu sangat tega memberikan luka yang begitu dalam padaku! Aku saja tidak tahu bagaimana caranya menyembuhkan luka yang terus kalian berikan. Aku harus percaya kepada siapa lagi sekarang setelah di patahkan oleh orang yang sangat aku percaya dalam hidupku?^^^


"Ya Tuhan, Ay... Mas tidak tahu jika kedua orang tuamu juga ikut berperan dalam hal ini. Maafkan Mas yang telah memberikan luka begitu dalam di hati kamu, Ay!" gumam Zidan dengan lirih.


^^^Paris, di negara ini aku akan memulai hidup baruku walau nanti setelah aku melahirkan akan kehilangan orang yang ku sayang kembali. Aku kesepian di sini, papa hanya memberikan uang sangat sedikit untukku bertahan hidup, apalagi aku harus membeli susu hamil untuk nutrisi anakku. Betapa kejamnya dunia ini padaku? Apakah memang aku tidak pantas bahagia?^^^


"Mas benar-benar bodoh, Ay!"


^^^Kembar? Anakku kembar? Ya Tuhan.... aku bahagia dengan kabar ini tetapi kebahagiaan itu hanya sementara ketika kedua orang tuaku datang bersama dengan Sabrina. Sabrina ingin mengasuh anakku karena dia tidak bisa hamil. Sabrina sudah menikah? Bahkan aku tidak tahu kapan sahabatku menikah! Aku yang tidak bisa melakukan apa-apa untuk menolak semua keputusan mama dan papa hanya bisa pasrah berharap Sabrina akan menjaga anakku dengan baik kelak. Kedua orang tuaku tidak tahu jika aku hamil kembar, aku masih punya harapan untuk mengasuh salah satu anakku. Ya, karena mereka penguat hidupku.^^^


Zidan terdiam mengetahui fakta yang sebenarnya. Tangannya terkepal dengan sangat erat ketika mantan istrinya telah membohonginya. "Shiitttt....Sabrina, aku tidak menyangka jika kamu membohongiku tentang Zayden! Zayden anakku dengan Tiara pantas saja Zayden langsung menyukai Tiara. Aku akan membuat pelajaran kepadamu setelah ini!" ucap Zidan dengan kilat mata penuh kemarahan.


"Tiara, kenapa kamu menghadirkan alter ego dalam pikiranmu. Dia bisa jahat sewaktu-waktu, Ay. Bisa saja pikiran kalian berbeda," gumam Zidan dengan lirih.


^^^Hari demi hari ku lewati dengan sangat berat. Aku sudah melahirkan dua jagoan tampanku, tetapi hari ini juga aku harus kehilangan salah satunya. Zayden Alfahri, itulah nama yang aku sematkan untuk anak keduaku, entah mengapa walaupun aku membenci mas Zidan nama mas Zidan masih tersemat di belakang nama anakku. Zayden, mama harap kamu hidup dengan baik tanpa mama, Sayang!^^^


"Zayden hidup dengan baik bersamaku, Ay! Tapi Zayden dan aku hidup dalam kebohongan," ujar Zidan dengan lirih.

__ADS_1


Ada rasa bahagia saat mengetahui jika Zayden anak dirinya dengan Tiara. Selama ini ia mengurus anaknya dengan Tiara, Zayden tidak jatuh ke tangan yang salah tetapi di mana anak mereka yang satunya?


"Kenapa hanya sampai sini tulisannya? Arggghh.. Dimana anak kita yang satu lagi Tiara? Kamu merobek lembar berikutnya?" ujar Zidan dengan frustasi. Satu masalah sudah ia tahu tetapi masih ada masalah yang berujung teka-teki di kepalanya.


"Kita harus bisa bersama secepatnya!" ujar Zidan dengan penuh tekad.


*****


Mama Yesha datang ke rumah Fathan. Ia mengeryit dahinya dengan bingung saat rumah Fathan tampak sepi. Seharusnya ada bi Sumi dan pengasuh kampungan itu sedang bermain bersama dengan Cika.


"Bi Sumi!" panggil Mama Yesha namun tak ada sautan dari bi Sumi karena saat ini bi Sumi sedang berbelanja kebutuhan dapur bersama dengan supir sekaligus suami bi Sumi.


"Kemana semua orang?" Mama Yesha bertanya pada dirinya sendiri. "Tri!" teriak Mama Yesha dengan kencang namun tak ada sautan juga dari Tri.


Dengan perasaan kesal mama Yesha berjalan ke lantai atas. Ia membuka kamar cucunya dengan perlahan, dan merasa lega ketika melihat Cika sedang tertidur di sana. Menutup kembali pintu dengan pelan, mama Yesha berjalan ke kamar Fathan. Sudah lama mama Yesha tidak melihat kamar anaknya yang dulu masih tersimpan rapi foto almarhum Tika, sepertinya mama Yesha juga merindukan menantunya tersebut.


Perlahan mama Yesha membuka pintu tersebut. Ia pikir pintu kamar Fathan di kunci karena anaknya itu sedang bekerja, tetapi tidak. Pintu kamar itu tidak terkunci dan mama Yesha bisa masuk ke dalam kamar anaknya.

__ADS_1


"APA YANG KAMU LAKUKAN DI KAMAR ANAK SAYA?"


__ADS_2