
...Jangan lupa ramaikan part ini....
...Happy reading...
*****
Akbar menatap rumah mewah yang tampak sepi dengan menyeringai, ia membuka pintu mobilnya dengan perlahan dan dengan langkah tegas Akbar berjalan ke arah pintu utama dimana ia akan bertemu dengan seseorang.
Tok...tok...
Akbar mengetuk pintu rumah mewah itu dengan tangan kekarnya, siapa pun pasti tidak akan menyangka jika Akbar adalah seorang duda yang sudah berusia sangat matang karena wajahnya yang sangat tampan dan tubuh yang sangat gagah karena Akbar selalu menjaga penampilannya.
"Iya sebentar!" ucap seseorang dari dalam rumah.
Bi Sumi membukakan pintu dengan perlahan. Ia merasa asing dengan orang yang berada di hadapannya sekarang. "Siapa ya?" tanya Bi Sumi dengan penasaran.
Akbar menatap bi Sumi dengan tersenyum tipis. "Saya Akbar. Saya ingin bertemu dengan dokter Fathan," ucap Akbar dengan tegas.
"Maaf, Pak. Pak Fathan tidak bisa diganggu karena..."
"Karena dia sedang merasa kehilangan Tri begitu? Saya ingin membahas soal istrinya, bisa Bibi membawa saya bertemu dengannya?" ucap Akbar dengan tegas.
Bi Sumi terlihat sangat syok orang tampan di depannya ini mengetahui tentang Tri. "Silahkan masuk, Pak!" ucap Bi Sumi dengan ramah karena ia merasa bahagia jika Tri akan kembali ke rumah ini dan membuat Fathan kembali sehat dan tak mengamuk seperti orang gila.
"Dimana Fathan?" tanya Akbar dengan suara beratnya yang membuat kaum hawa pasti terpesona.
"Ada di kamarnya, Pak! Sejak ibu pergi bapak tidak pernah keluar kamar," jawab Bi Sumi yang membuat Akbar mengangguk.
"Bisa Bibi tunjukkan di mana kamar Fathan?!" ucap Akbar menatap bi Sumi yang masih terlihat ragu namun setelah itu mengangguk setuju.
"Mari saya antar!" ujar Bi Sumi dengan sopan.
Akbar mengikuti langkah bi Sumi dengan wajah datar dan dinginnya.
__ADS_1
"Ini kamar pak Fathan, Pak. Tapi saya tidak berani masuk ke dalam karena pak Fathan akan mengamuk," jelas Bi Sumi merasa iba sekaligus takut dengan majikannya jika sedang mengamuk.
"Boleh saya masuk? Saya yakin setelah ini dokter Fathan tidak akan mengamuk," ucap Akbar sangat yakin.
"T-tapi....emmm boleh Pak! S-saya akan menunggu di sini," ucap Bi Sumi dengan ragu.
"Baiklah! Bibi Tenang saja ya!" ucap Akbar menenangkan wanita paruh baya itu.
Akbar dengan perlahan membuka pintu kamar Fathan. Ia menghela napasnya saat melihat Fathan seperti mayat hidup dan dengan kondisi ruangan yang sangat berantakan. Dengan gaya cool-nya Akbar memasukkan kedua tangannya di kamdung celananya dengan menatap Fathan tanpa rasa iba sedikit pun.
"Sampai kapan anda akan seperti ini terus Dokter Fathan?" tanya Akbar dengan suara dinginnya.
Fathan sama sekali tidak bergeming, ia juga menatap Akbar dengan datar karena ia sama sekali tak mau diganggu dengan siapa pun.
"Siapa yang menyuruh anda untuk masuk ke kamar saya?" tanya Fathan dengan dingin.
"Tidak perlu marah dengan kedatangan saya," ucap Akbar dengan santai dan langsung duduk di sebelah Fathan tanpa rasa risih karena barang-barang Fathan yang sudah sangat berantakan.
Akbar menatap bingkai foto yang dipegang oleh Fathan dengan senyum yang menyeringai. "Tri sangat cantik ya bahkan kecantikan berkali-kali lipat saat memakai baju pengantin itu!" ucap Akbar yang memang sengaja memancing kekesalan Fathan.
Akbar terkekeh. "Oo begitu ya? Sebagai seorang suami kenapa anda hanya duduk, diam, dan menatap foto Tri bukan mencari keberadaannya? Jika aku yang menemukan Tri dan menjadikan Tri sebagai istriku apakah anda marah? Karena saya rasa anda tidak becus menjadi seorang suami," ujar Akbar dengan tajam.
"Apa maksud anda?" tanya Fathan dengan marah.
"Tri bersama saya! Saya menemukannya dalam keadaan pingsan di emperan toko. Jika kamu masih ingin Tri kembali maka bersikaplah sebagai lelaki waras!" ucap Akbar dengan tajam yang sangat mengena di hati Fathan.
"Hanum bersamamu? D-dimana dia saya ingin bertemu dengan istri saya!" ucap Fathan dengan mata yang berkaca-kaca. Ia sangat merindukan sang istri sekarang karena Tri adalah belahan jiwanya yang tidak bisa digantikan dengan siapa pun termasuk Tiara, wanita yang selalu dijodohkan dengan dirinya.
"Masih ingin bertemu dengan istri dan anakmu? Saya pikir kamu memilih mati dari pada bertemu dengan mereka!" ejek Akbar yang membuat Fathan kesal.
"Tolong katakan di mana istri saya Akbar!" ucap Fathan dengan tajam. Ia merasa geram dengan Akbar yang sangat bertele-tele kepadanya.
"Oke... Saya akan katakan dimana Tri jika kamu tidak membantu kedua orang tuamu," ucap Akbar.
__ADS_1
"Apa maksudmu? Jangan bertele-tele Akbar!" ucap Fathan dengan kesal.
"Saya ada dua pilihan untukmu! Memilih Tri atau kedua orang tuamu? Memilih Tri artinya kamu tidak boleh membantu kedua orang tuamu sedikit pun. Memilih kedua orang tuamu berarti siap-siap kamu akan kehilangan Tri dan juga rumah sakit milikmu!" ucap Akbar dengan tegas.
"Tentu saja aku memilih istriku!" ucap Fathan tanpa pikir panjang.
"Pilihan yang bagus!" ucap Akbar dengan menyeringai, ia ingin melihat seberapa menderitanya kedua orang tua yang sangat sombong itu.
"Kamu bisa menemui Tri di rumah kak Alan dan kak Ulan. Saya pergi dulu!" ucap Akbar dengan cepat.
"Akhirnya aku bisa bertemu denganmu, Sayang!" gumam Fathan dengan perasaan yang campur aduk antara bahagia, sesak, dan lega bercampur menjadi satu.
*****
Akbar melihat ke arah jam tangannya. Setelah pulang dari rumah Fathan, Akbar jalan-jalan untuk menghirup udara segar. Melihat rumah tangga orang-orang yang bahagia walaupun ada permasalahan yang menghampiri mereka akan tetap bersama tidak seperti dirinya yang harus bercerai karena Akbar di vonis tidak bisa mempunyai anak walau hanya 35 persen nyatanya pernikahannya dengan sang istri sama sekali belum dikaruniai anak hingga mereka bercerai karena Akbar melihat sendiri bagaimana sang istri berkhianat di belakangnya.
Akbar menghentikan mobilnya sejenak. ia menutup matanya untuk menghilangkan rasa kesepiannya. Kapan dirinya akan hidup bahagia? Apakah dirinya masih bisa mempunyai anak?
Brak...
"Jalan, Pak!" ucap seseorang yang membuat Akbar membuka matanya.
"Siapa kamu? Kenapa kamu tiba-tiba masuk mobil saya?" tanya Akbar dengan tajam menatap kesal wajah polos gadis bak seperti anak kecil di sampingnya. Tetapi sialnya wajahnya sangat menggemaskan dengan mata yang sangat bulat menatap ke arahnya dengan sangat polos.
Gadis itu mengerjap, ia menatap sekelilingnya. "Om bukannya taxi online ya? Soalnya Om yang berhenti di depan Fio? Fio pikir taxi yang aku pesan sudah datang, Om!" ucap gadis itu dengan polosnya.
"Bukan! Cepat turun dari mobil saya!" ucap Akbar dengan geram.
Wajah Fiona tiba-tiba menjadi pucat. "Gak mau, Om! Fio di sini aja ya! Please om! Fio takut diculik soalnya kata ayah Fio itu cantik nanti banyak yang culik," ucap Fiona dengan memohon dan merengek seperti anak kecil kepada Akbar.
Akbar kesal, ia baru kali ini bertemu dengan gadis polos dan sangat pede sekali terlihat menyebalkan di matanya. "Turun gak?! Kamu gak takut saya culik terus saya apa-apain kamu, hah?" ucap Akbar dengan kesal.
Fiona menatap Akbar dengan polos. "Fio apa-apain sama Om gak pa-pa deh. Rela lahir batin Fio, Om. Soalnya Om itu tampan dan maco," ucap Fio dengan ceplas-ceplos.
__ADS_1
"Ajarin Fio buat anak ya, Om!"
"Aargghh...Gadis aneh!"