
...๐ Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...Happy reading...
***
5 tahun sudah berlalu kehidupan keluarga Mahendra sudah banyak berubah. Danish dan Daniel menjadi lelaki yang sangat dingin jika bersama dengan orang lain tetapi mereka tetap hangat dengan keluarga. 4 tahun lalu Ulan dan Adrian sudah meninggal hanya berselang satu bulan yang membuat semua keluarga Mahendra berduka dengan kepergian mereka.
Ikbal dan Delisha juga bertambah bahagia walau sampai sekarang mereka belum diberi kepercayaan untuk mendapatkan anak tetapi mereka tetap bahagia karena usia keduanya juga masih sangat muda jika Delisha hamil di saat mereka baru saja menikah. Jadi, keduanya masih menikmati waktu berdua sebelum keduanya di karuniakan seorang anak.
Tentang Dareel dan Mikaela, keduanya adalah pasangan yang sangat bahagia karena sudah dii karuniakan seorang anak lelaki yang sangat tampan sekali, kesibukan Dareel menjadi pilot membuat dirinya jarang berkumpul dengan keluarga tetapi Dareel masih bisa menyempatkan waktu untuk quality time bersama istri dan anaknya jangan lupakan dengan kedua orang tua dan saudaranya
Mikaela menatap foto suami dan anaknya yang masih berusia beberapa bulan 5 tahun lalu dengan tersenyum, ia masih tak menyangka jika pernikahannya dengan Dareel sudah berjalan 6 tahun. Pernikahan mereka tak selamanya selalu indah ada kalanya mereka berantem walau hanya karena hal sepele dan yang paling sering karena mereka jarang bertemu, Mikaela terlalu takut Dareel menyukai wanita lain karena suaminya itu sering bepergian dan bertemu banyak wanita cantik di luar sana, apalagi rekan kerja suaminya cantik-cantik karena mereka adalah seorang pramugari.
Deon Mahendra, anak pertama dari Dareel Mahendra dan Mikaela. Cucu pertama dari Akbar dan Fiona, cucu kesayangan mereka yang sangat menggemaskan sekali dan keponakan pertama dari Danish, Daniel dan Delisha.
"Mami!" teriak Deon dengan menarik koper kecilnya serta memakai pakaian kapten pilotnya seperti papinya yang berjalan di belakang Deon.
"Iya, Sayang!" ujar Mikaela menutup album foto yang tadi ia lihat.
Cup...
Dareel mengecup kening Mikaela dengan lembut. "Lama menunggu ya, Sayang? Maaf ya lama Deon minta mainan banyak banget penuh se-kopernya," ujar Dareel dengan lembut.
Deon tampak cemberut. "Papi jangan pelit sama Deon! Om Danish sama om Daniel aja gak pelit," ujar Deon yang membuat Dareel mendelik.
"Mana ada Papi pelit sama kamu, Deon! Buktinya Papi sudah belikan apa yang kamu mau padahal Papi baru saja sampai di rumah," ujar Dareel dengan kesal.
"Mi, kata Papi mainan ini sogokan biar Deon mau bantuin Papi supaya Mami gak ngambek lagi karena gak bisa rayakan anniversary pernikahan," ujar Deon dengan polosnya yang membuat Dareel mengerang kesal kepada anaknya.
"Deon, gak usah di sebutin kata sogokannya!" ujar Dareel dengan kesal.
"Kenapa? Kan Papi emang nyogok Deon! Tadi Papi bilang begitu pas di mobil," ujar Deon dengan mencibik kesal. Kenapa pula papinya harus marah? Kan Deon hanya berkata jujur.
Dareel menggendong Deon. "Bentar ya, Sayang. Mas harus mengungsikan Deon ke tempat papi dan mami sebentar," ujar Dareel.
"PAPI, DEON MAU DI RUMAH DULU! AAA MAMI TOLONG!" teriak Deon yang membuat Mikaela menggelengkan kepalanya ketika melihat kelakuan suami dan anaknya jika sudah bersama.
"Papi mau berduaan sama mami, anak kecil gak boleh ganggu!" ujar Dareel dengan kesal.
__ADS_1
"Papi nakal! Deon aduin semua ke grandpa biar Papi di pecat jadi anak," ujar Deon dengan kesal.
"Kamu yang Papi pecat jadi anak mau?" ujar Dareel.
"Jangan sekarang Deon belum habiskan duit Papi," ujar Deon yang membuat Dareel gregetan.
"DEON! Huh... Anaknya siapa sih kamu ngeselin banget," ujar Dareel berusaha sabar menghadapi anaknya. "Dari bentuk embrio sudah ajak Papi baku hantam," gumam Dareel yang masih di dengar oleh Deon.
"Embrio itu apa, Pi?" tanya Deon dengan penasaran.
"Kecebong!" jawab Dareel dengan asal.
"Mana ada Deon lahir dari kecebong!" ujar Deon tidak terima.
Dareel hanya menahan tawanya ketika sang anak protes. Dareel tetap melangkah membawa sang ansk ke rumah kedua orang tuanya.
Untung saja rumah kedua orang tuanya ada di depan memudahkan Dareel untuk mengungsikan anaknya agar tidak mengganggu kebersamaannya dengan Mikaela sebelum ia berangkat terbang lagi esok harinya karena Dareel sudah menghabiskan waktu bersama Deon tadi di mall milik Delisha.
"Mi, Dareel titip Deon sebentar ya," ujar Dareel menurunkan Deon dari gendongannya.
"Grandma, Papi nakal! Papi pelit sama Deon!" adu Deon memeluk kaki Fiona dengan erat.
"Kalian ini kenapa sih setiap bertemu selalu berantem?" ujar Fiona dengan menggelengkan kepalanya.
"Gara-gara Papi, Grandma!"
"Dih, kamu di sini dulu ya Deon. Papi sama Mami mau buatin kamu adik perempuan," ujar Dareel.
"Uwaaaa... Deon gak mau! Nanti duit Papi di ambil adik semua," ujar Deon yang membuat Dareel terbahak.
"Dareel, jangan gangguin anaknya mulu ah!" ujar Fiona menegur anaknya.
"Dadah Deon! Papi pulang ya!"
"Huwaaa... Jangan buat adik dulu mainan Deon belum banyak huwaaa.. Papiiiiii..."
"Hahahaha..."
"Grandma pecat saja Papi jadi anak hiks..."
Fiona mendelik ke arah Dareel. "Pulang sana kamu! Kasihan Mikaela yang terlalu lama menunggu biar Deon sama Mami," ujar Fiona dengan sabar.
"Iya, Mi! Titip ya Mi! Mau di apain aja terserah," ujar Dareel tertawa bahagia melihat wajah anaknya yang begitu lucu.
__ADS_1
"Papi durhaka!" teriak Deon menangis karena tak mau mempunyai adik terlebih dahulu.
"Jangan nangis lagi cucu Grandma. Kita ajak Grandpa beli main yuk," ujar Fiona menggendong cucunya ke dalam kamar miliknya.
"Yang banyak ya Grandma!" ujar Deon dengan wajah imutnya.
"Iya yang banyak!"
"Yeee... Grandma yang terbaik! Deon sayang Grandma!"
****
Dareel masuk ke dalam rumahnya kembali. Ia sudah tidak menemukan Mikaela di ruang tamu, bergegas Dareel menuju kamar mereka, dengan perlahan Dareel membuka pintu kamarnya, ia melihat Mikaela yang merebahkan dirinya di kasur.
Sebelum menghampiri istrinya, Dareel membuka pakaiannya terlebih dahulu tetapi semua itu tak luput dari penglihatan Mikaela. Mikaela bangun dari tidurnya dan bergegas membantu suaminya melepaskan baju seragam pilotnya.
Dareel menatap wajah istrinya yang terlihat sendu. "Maaf, Sayang. Maaf tidak bisa pulang merayakan aniversary kita yang ke enam. Mas harus terbang saat itu juga dan tak ada yang menggantikan," ujar Dareel merasa bersalah.
Mikaela menghela napasnya dengan pelan. Ia tahu resiko menjadi istri seorang kapten pilot tetapi tetap saja rasanya nyesek di hati.
"Iya gak apa-apa, Mas!" jawab Mikaela dengan lirih.
Mikaela menggantungkan pakaian suaminya. Dareel berjalan mendekati Mikaela dan memeluknya dari belakang.
"Jangan gini dong, Sayang. Mas merasa bersalah," ujar Dareel dengan sendu.
Dareel membalikkan badan Mikaela hingga kembali menghadap ke arahnya. Ia menarik dagu Mikaela dengan perlahan.
"Sebagai permintaan maaf besok kamu ikut terbang Mas ke Perancis ya. Kita rayakan anniversary kita di sana sekaligus honeymoon," ujar Dareel dengan lembut.
"Gimana sama Deon?"
"Tinggal sama Papi, Mami di rumah," ujar Dareel dengan entengnya.
"Gak mau! Deon harus ikut!" ujar Mikaela dengan cemberut.
"Yahh masa diajakin sih, Sayang!" ujar Dareel dengan lemas.
"Kalau Deon gak diajakin aku tetap ngambek sama Mas!"
"Iya-iya Deon ikut!" ujar Dareel dengan pasrah.
***
__ADS_1
๐Gimana perasaan kalian ketika baca part Deon. Cucu memegang tahta tertinggi di keluarga Akbar sebelum tahta itu direbut karena kedatangan para sepupunya ๐๐คช