Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 234 (Mengingat Semuanya)


__ADS_3

...📌Jangan lupa ramaikan part ini ya....


...Happy reading...


***


"Ayyyy!" teriak Zayden dengan keras saat bangun dari pingsannya.


"Astaga Zayden kenapa teriak-teriak," ujar Zidan dengan menggelangkan kepalanya.


"Pa, Ma, dimana Cika? Keadaan Cika bagaimana? Kepalanya banyak mengeluarkan darah Ma! D-dia mau ninggalin Zayden," ujat Zayden dengan gusar.


"Kamu kenapa? Kayaknya kepala kamu gak terbentur apa-apa?! Cuma pulang-pulang kamu langsung pingsan deh. Kamu mimpi? atau kamu ingat semuanya?" tanya Tiara dengan beruntun.


"Ma, jangan bercanda! Cika kecelakaan dan Zayden berusaha menolong Cika tapi kepala Cika terbentur trotoar yang membuat kepalanya mengeluarkan darah banyak, Ma. Z-zayden ingat semuanya, Ma! Zayden gak mimpi," ujar Zayden dengan cemas.


"Kamu ingat semuanya? Kamu gak bohong?" tanya Zidan dan Tiara bersamaan.


Zayden mengangguk. "Iya, Ma! Zayden gak mau pertunangan Zayden dan Cika dibatalin Ma! Mana Cika, Ma?" ujar Zayden dengan panik.


Zayden harus melihat keadaan Cika dan memastikan jika kekasihnya baik-baik saja.


"Mama masih bingung, Zayden! Cika kecelakaan? Kamu pulang-pulang dari rumah mas Fathan aja langsung pingsan di hadapan Mama. Tapi emang benar kalau Cika mau batalin pertunangan kalian karena sikap kamu itu. Tapi kalau kecelakaan... Atau jangan-jangan kamu mimpi ya?" tanya Tiara dengan bingung.


"Mama, Zayden mau Cika hiks.." ujar Zayden yang masih merasakan jika mimpi yang ia alami adalah sebuah kenyataan.


Zayden gak boleh kehilangan Cika, sudah ia pacari sejak kecil masa mau dilepaskan saat mereka dewasa? Zayden bangun dari kasurnya, ia langsung berlari keluar kamar yang membuat Zidan dan Tiara bingun.


"Otak anak kamu kenapa lagi, Mas?" tanya Tiiara dengan bingung.


"Mas juga bingung. Pulang-pulang buat panik orang serumah terus bangun-bangun omongannya ngelantur," ujar Zidan dengan mengedikkan bahunya.


Zayden tampak berlari dengan panik, ia ingin mencari Cika di rumah sakit tapi tubuhnya mematung saat Cika berada di rumahnya dengan keadaan sehat dan sedang berbincang dengan Zevana dan juga Raiden.


"Ayyy!"


Brukkk...


Zayden memeluk Cika dengan erat sampai keduanya terjunggal dan terjatuh di atas sofa yang membuat Zevana dan Raiden terkejut menatap Zayden yang sangat aneh.


"Hiks..hiks...kamu gak boleh pergi ninggalin aku! Masa aku sudah jadiin kamu pacar sejak kecil gak nikah saat dewasa sih," rengek Zayden yang tak malu di lihat Zevana dan juga Raiden.


"Ma, Om Zayden kenapa?" tanya Raiden yang melihat tingkah aneh om-nya.


"Kita ke kamar ya! Anak kecil gak boleh lihat," ujar Zevana menggendong anaknya ke kamar.


"Berat ih! lo turun ah!" ujar Cika dengan kesal.

__ADS_1


Sebenarnya Cika kesal dengan Zayden dan ingin memutuskan pertunangan mereka kemarin malam tetapi mendengar kabar jika Zayden pingsan niat itu ia urungkan sampai Zayden sadar.


"Lo? Iiih mulutnya minta dicium! Gak suka dipanggil lo!" rengek Zayden yang membuat Cika bingung.


"Lo kenapa sih? Awas ah tubuh lo berat! Kita gak ada hubungan apa-apa lagi, gue juga udah ngundurin diri dari kantor. Sana lo ketemu cewek-cewek gatel," ujar Cika dengan kesal, ia sudah bertekad untuk memberikan pelajaran pada pria yang sudah melupakan dirinya ini.


"Aaa gak mau...Ay gak boleh ngomong gue lo! Hiks aku mimpi kamu kecelakaan terus kepala kamu berdarah dan kamu ninggalin aku untuk selama-lamanya," ujar Zayden nangis kejer di pelukan Cika yang membuat Cika hampir saja menyemburkan tawanya.


"Awas! Gue emang mau batalin pertunangan kita. Toh untuk apa gue berjuang 5 tahun lebih kalau lo aja gak ingat gue! Capek gue!" ujar Cika dengan ketus.


"Aaa Ayang aku sudah ingat semuanya kamu jangan marah lagi hiks," rengek Zayden memeluk Cika tak ingin melepaskan Cika.


"Bohong!"


"Enggak bohong Ayang! Ayang mahhh," rengek Zayden dengan menangis yang membuat Cika menatap Zayden dengan dalam.


"Kepala kamu kebentur apa?" tanya Cika sedikit melunak.


"Hiiks aku pukul sendiri karena aku kesel gak bisa ingat kamu dan juga karena Nevan yang paksa aku buat ingat kenangan kita. Ayang jangan batalin pertunangan kita ya hiks.. Aku cuma mau nikah sama kamu hiks," ujar Zayden menatap Cika dengan wajah yang memerah karena menangis.


Sedangkan Zidan dan Tiara menatap interaksi Zayden dengan Cika menggelengkan kepalanya. "Zayden kita sudah kembali, Mas!" gumam Tiara dengan bahagia.


"Iya, Sayang!" sahut Zidan dengan tersenyum.


****


"Pokoknya aku gak akan luluh dengan mudah! Enak saja dia, sudah siksa aku begitu lama dengan tidak mengingat semua kenangan kami lalu setelah sadar dia merengek seperti anak kecil," dengus Cika dengan kesal.


Cika berusaha mengangkat tangan Zayden yang berada di perutnya tetapi tangan Zayden malah semakin erat memeluk dirinya yang membuat Cika kesal sendiri.


"Hiks..Ayang!" rengek Zayden yang semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Cika yang membuat gadis itu merinding.


"Gue gak bisa napas!" ujar Cika dengan kesal.


"Hiks...janji gak akan pergi ninggalin aku kalau pelukannya di lepas!" ujar Zayden.


"Males banget," ucap Cika memutar bola matanya dengan malas yang membuat Zayden merengek seperti anak kecil kembali.


"Gue males nikah sama lo mending gue nikah sama yang lain! Awas gue mau pulang," ujar Cika dengan ketus padahal di dalam hati ia bersorak senang kala Zayden-nya sudah kembali seperti dulu lagi.


"Aaa Ayang gak boleh nikah sama yang lain! Gak boleh pokoknya! Mempelai prianya harus aku! Titik!" ujar Zayden dengan merengek.


"Siapa lo ngatur-ngatur gue?" tanya Cika dengan datar.


"Aku calon suami kamulah! Mulut kamu mau aku cium sampai bengkak? Gak sopan banget manggil calon suami sendiri lo gue!" ujar Zayden dengan kesal.


"Dih pertunangan kita sudah dibatalin ya! Cincin juga sudah gue balikin ke lo!" ujar Cika dengan ketus.

__ADS_1


"Gak mau! Aku gak setuju! Cika cuma untuk Zayden dan Zayden cuma untuk Cika! Aku buat hamil kamu sekarang biar kamu gak bisa pergi dari aku," ujar Zayden dengan serius.


"Jangan macam-macam ya!"


"Cuma satu macam, ay! Bukannya kita sudah sering melakukan hal yang mengarah untuk buat anak ya? Tapi kenapa kamu sekarang kayak takut?" tanya Zayden yang naik ke atas tubuh Cika.


Cika menelan ludahnya dengan kasar saat wajah Zayden mendekat ke arahnya. Tapi belum sempat Zayden mendaratkan bibirnya Cika sudah menendang perut Zayden hingga Zayden meringis kesakitan.


"Argghh.. Sakit Ayang!"


"Bodo!"


"Ay mau kemana?" tanya Zayden dengan cemas.


"Pulang!"


"Gak boleh pulang!" rengek Zayden yang membuat Cika mendengkus kesal.


Tanpa kata Cika keluar dari kamar Zayden tetapi Zayden berhasil menghalangi Cika.


"Gue mau pulang! Gue makin benci sama lo!" ujar Cika dengan tajam.


"Ayang kalau marah makin cantik tapi lebih cantik gak marah-marah," ujar Zayden dengan lembut.


"Ayang-ayang kepala lo peyang!" kesal Cika yang membuat Zayden terkekeh.


"Nikah yuk, Yang! Sudah pengin punya anak yang mirip kita berdua," ujar Zayden.


"Gue ajakin nikah gak mau waktu itu jadi sudah kadaluwarsa," sahut Cika.


"Ayang jangan marah terus. Atau kita buat anak dulu baru nikah?"


"Otak lo makin geser!"


"Otak aku cuma di penuhi nama kamu Ayang!"


"Alay!"


"Nikah yuk!"


"Ogah!"


"Bikin anak yuk!"


Cupp...


"ZAYDENNN!"

__ADS_1


__ADS_2