Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 239 (Keputusan)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya....


...Happy reading...


***


Hari sudah berlalu dan hari ini tepat dimana Zevana harus mengambil keputusan apakah ia harus bercerai dengan Haidar dan memilih untuk menikah dengan Indra ataupun sebaliknya. Berulang Zevana mengambil napas dan mengeluarkannya dengan perlahan.


"Raiden!" panggil Zevana dengan lirih.


"Iya, Ma!" sahut Raiden dengan mata yang masih fokus menggambar apa yang berada di imajinasinya dan ia tuangkan di buku gambar miliknya.


"Kalau Mama berpisah dengan papa dan akan menikah dengan om ayah kamu gak marah, kan?" tanya Zevana dengan menatap anaknya serius.


Raiden langsung menjatuhkan pensil miliknya saat sang mama selesai berbicara. Raiden mengambil pensilnya langsung dan menekankan ke buku gambarnya dengan kuat hingga buku gambar itu sobek dan pensilnya patah. Tentu saja Zevana terkejut dengan apa yang Raiden lakukan.


"Raiden mau ke kamar Nenek!" ujar Raiden dengan pelan.


Raiden langsung berlari ke kamar Tiara dan juga Zidan dengan mata yang berkaca-kaca sekali berkedip saja air matanya sudah jatuh membasahi kedua pipinya.


Sedangkan Zevana mendes*h pelan. Kenapa lika-liku rumah tangganya seperti ini? Apakah ini karma yang ia dapatkan karena menjebak Haidar dulu?


"Maafkan Mama, Sayang! Keputusan Mama sudah bulat," ujar Zevana dengan lirih.


Sedangkan Raiden langsung masuk ke kamar Tiara setelah sang nenek membukakan pintu untuknya.


"Loh kenapa wajah cucu Nenek sedih gitu? Ada apa hmm?" tanya Tiara dengan lembut.


"Nenek, mama mau pisah sama Papa dan menikah dengan om ayah! Raiden gak setuju tapi Raiden gak bisa cegah Mama! Kalau nanti mama beneran nikah sama om ayah, Raiden ikut Nenek sama Kakek saja boleh?" tanya Raiden sendu.


"Loh kenapa? Raiden kan gak bisa jauh dari Mama? Om ayah juga baik sama Raiden, kan?" tanya Tiara dengan lembut.


"Raiden bukan gak sayang sama mama. Raiden memang gak bisa jauh dari mama tapi di sini mama dan om ayah yang bahagia Raiden enggak! Nanti kalau mama punya anak dari om ayah, Raiden takut om ayah dan mama gak sayang Raiden lagi. Raiden mau tinggal di sini saja atau tinggal sama papa," ujar Raiden dengan meneteskan air matanya yang membuat Tiara memeluk cucunya dengan erat. Begitu dewasa sekali pikiran Raiden kecil ini yang terkadang membuat Tiara dan yang lainnnya terenyuh.


"Kalau mama mau Raiden ikut dengan mama gimana?" tanya Tiara.


"Raiden tetap mau di sini. Nenek gak mau ya Raiden tinggal di sini? Nanti Raiden bilang ke papa saja biar Raiden tinggal sama papa atau tinggal bersama nenek Diana dan juga kakek Fahmi," ujar Raiden dengan sedih.


"Bukan begitu, Sayang. Kamu boleh tinggal di sini kapanpun kamu mau dan sampai kapanpun. Raiden masih punya kakek dan nenek jangan lupa om Zayden dan om Zayyen. Biar gak sedih lagi kita jemput om Zayyen di bandara yuk!" ujar Tuara yang di angguki oleh Raiden.

__ADS_1


"Zeva, apa keputusan kamu ini sudah bulat, Sayang? Mama tidak tega melihat Raiden bersedih seperti ini," gumam Tiara di dalam hati.


***


Zevana dan Haidar tampak diam satu sama lain, belum ada satu katapun yang keluar dari mulut keduanya hingga Haidar mencoba memulainya duluan.


"Apa keputusan kamu? Kamu tenang saja apapun keputusan kamu akan Mas terima," ujar Haidar yang membuat Zevana menghela napasnya dengan perlaham sebelum ia menatap mata Haidar dengan dalam.


"Aku mau kita cerai. Aku sudah memilih untuk menikah dengan mas Indra," ujar Zevana dengan pelan.


Deg...


Haidar tampak diam dengan hati yang berdenyut sakit saat ternyata Zevana memilih untuk melepaskan dirinya dan mengorbankan hati Raiden.


"T-tidak bisakah dipikirkan kembali, Zeva? Bukan Mas saja yang sakit tapi Raiden. Kamu tega buat anak kita bersedih?" tanya Haidar dengan lirih.


"Suatu saat Raiden akan mengerti, Mas. Tolong hargai keputusan aku," ujar Zevana dengan serak.


"Oke... Kalau ini keputusan kamu, Mas tidak bisa mencegahnya lagi. Nanti atau besok Mas akan memberikan surat perceraian kita. Di pengadilan nanti Mas tidak akan membuat perpisahan kita menjadi sulit. Nanti kalau sudah mau menikah dengan Indra kasih saja undangannya ke Mas," ujar Haidar dengan tersenyum kecut.


"Terima kasih, Mas!" ujar Zevana dengan tersenyum. Senyum yang sangat aneh bagi Haidar.


"Biar Mas antar pulang. Bagaimanapun sekarang kamu masih tanggungjawab Mas," ujar Haidar dengan tegas.


"Enggak usah, Mas. Mas Indra sudah menunggu di luar," ujar Zevana dengan canggung saat Haidar menggenggam tangannya.


"Ooo ya sudah," ujar Haidar dengan kecewa.


Zevana langsung melangkah pergi meninggalkan Haidar yang diam terpaku menatap kepergian Zevana.


Haidar merasa ada yang tidak beres dengan Zevana dan Indra. Ia merasa tidak tenang meninggalkan Zevana bersama dengan Indra dan pada akhirnya Haidar mengikuti Zevana dan juga Indra, ia harus memastikan jika Zevana baik-baik saja sampai ke rumah.


Haidar menatap Zevana dari kejauhan saat memasuki mobil Indra, saat di rasa Zevana dan Indra tak melihatnya Haidar juga melajukan mobilnya mengikuti mobil Indra.


"Mereka mau kemana? Ini bukan jalan menuju rumah papa Zidan," gumam Haidar yang penasaran.


Dengan pikiran yang bercamuk dan bertanya-tanya Haidar terus mengikuti mobil Indra hingga mobil Indra berhenti di sebuah mall.


"Apa mereka langsung mau memilih cincin pernikahan?" monolog Haidar yang membuat dadanya sesak sendiri.

__ADS_1


Setelah memastikan Indra dan Zevana keluar dari mobil. Haidar juga keluar dari mobilnya, rasa penasaran yang ia rasakan membuat Haidar ingin terus mengikuti keduanya. Entah mengapa Haidar merasa jika Indra itu tidak sebaik yang ia kira.


Ternyata Indra dan Zevana masuk ke sebuah toko perhiasan. Benar dugaan Haidar jika mereka langsung ingin memilh cincin pernikahan. Ahhh.. Dadanya terasa sesak sekali mengingat jika sebentar lagi Zevana bukanlah istrinya dan akan menikah dengan pria lain.


"Jagoan Papa. Kita adalah lelaki yang kuat, kan? Tapi mengapa kita tetap menangis dengan masalah ini?" gumam Haidar.


Haidar belum puas mengikuti Zevana dan juga Indra, walaupun sebenarnya hatinya sakit. Namun, rasa penasarannya saat ini lebih besar dari rasa sakitnya. Setelah selesai di toko perhiasan kini keduanya pergi ke cafe yang berada di dalam mall tentu saja dengan Haidar yang mengikuti mereka.


"Gimana cincinnya bagus, kan? Kamu sudah mengambil keputusan yang benar, Zeva. Ingat semua yang aku berikan kepadamu tidak gratis. Kamu pikir biaya kedokteran di Swiss murah apalagi menghidupi bayi Raiden hingga dia sebesar ini sekarang," ujar Indra yang membuat Zevana terdiam. Ia salah menilai kebaikan seseorang, andai dulu ia tidak bertemu dengan Indra.


Tangan Haidar terkepal dengan sangat erat ketika mendengar penuturan Indra yang seperti sangat merendahkan Zevana.


"Iya aku tahu!" ujar Zevana dengan pelan. Tangannya terkepal dengan erat, rasanya ia ingin pergi saja dari tempat ini.


"Jangan kamu hilangkan cincin ini ya! Harganya sangat mahal," ujar Indra.


Haidar sudah tidak tahan lagi, ia berdiri dari duduknya dan menghampiri Zevana dan juga Indra.


"Tidak pantas seorang pria mengungkit pemberiannya. Itu sama saja pria pencundang dan pria yang sangat pelit. Katanya mencintai Zevana tapi semua pemberiannya diungkit," ujar Haidar dengan tajam.


"Tidak usah ikut campur urusan saya!" ujar Indra dengan dingin.


Haidar terkekeh. "Tentu saja saya harus ikut campur karena Zevana masih istri saya. Saya akan membayar uang yang anda keluarkan untuk menghidupi istri dan anak saya. Katakan saja berapa? Lebih baik saya kehilangan uang dari pada istri saya! Saya tidak jadi melepaskan Zevana ke pria seperti anda," ujar Haidar dengan dingin.


"Anda tidak bisa mengambil Zevana dari saya! Dia sudah setuju untuk menikah dengan saya!" ujar Indra dengan tajam.


"Zeva, tolong bicara dengan jujur kamu mau menikah dengan Indra atau tidak?" tanya Haidar dengan tegas.


"Gak perlu takut katakan saja. Mas akan menggantikan uang yang sudah Indra keluarkan selama 5 tahun ini," ujar Haidar dengan lembut.


Dengan pelan Zevana menggelengkan kepalanya. "Aku terpaksa mau menikah dengan Mas Indra karena aku tidak bisa membayar semuanya," gumam Zevana yang akhirnya berkata jujur.


Haidar menyeringai. "Dengarkan? Zevana tidak mau menikah dengan anda! Katakan saja uang yang anda keluarkan berapa saya akan langsung membayarnya! Ini kartu nama saya, anda bisa datang ke kantor saya atau ke rumah sakit saya! 1 milyar? 2 milyar? 3 milyar atau 100 milyar? Katakan saja jangan sungkan karena uang segitu kecil bagi saya! Kami permisi!" ujar Haidar dengan menyeringai sombong menatap Indra yang mengepalkan kedua tangannya dengan erat.


"Oo iya saya kembalikan cincin mahal anda! Jangan sampai hilang nanti anda bangkrut," ujar Haidar dengan tenang.


Haidar menggenggam tangan Zevana dan melangkah pergi meninggalkan Indra yang terdiam.


"Brengsek!"

__ADS_1


__ADS_2