Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 139 (Memar di Tubuh Delisha)


__ADS_3

...Jangan bingung dapat novel ini update tapi beda cover. Sengaja aku ganti hehe.....


...Jangan lupa ramaikan part ini ya....


...Happy reading...


****


Semangat baru bagi Delisha yang sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit semangatnya kian membara kala Ikbal menjadi salah satu orang yang juga sangat berarti untuk Delisha. Ikbal bagaikan kakak untuknya, kakak yang bisa membuatnya juga merasa nyaman. Pahlawan yang membuat Delisha selalu merasa bahagia ketika sedih menghampiri gadis itu karena Zayyen.


Delisha juga sudah sekolah seperti biasa. Gadis itu sudah ceria dan bahkan membuat guru dan teman-temannya pusing akibat tingkah Delisha. Tetapi walaupun begitu mereka merasa rindu ketika Delisha tidak sekolah.


"Delisha, lo kenapa gak sekolah dua hari?" tanya Naura teman sebangku Delisha.


Delisha menatap temannya tersebut. "Emang kenapa? Naura kangen Delisha ya? Emang sih Delisha itu orangnya ngangenin banget," ujar Delisha dengan sangat percaya dirinya yang membuat Naura mual.


"Huwekk...Gue gak kangen sama anak nyebelin kayak lo ya, Lisha! Mulut gue gak sengaja bertanya seperti itu! Ihh... Jangan kepedean ya!" ucap Naura mengibaskan rambutnya.


Delisha cekikikan. "Delisha baru aja liburan. Liburan yang sangat menyenangkan Naura!" ucap Delisha yang membuat Naura melotot dan membenarkan letak kursinya dan ia menghadap ke arah Delisha.


"Kali ini lo liburan ke negera mana lagi? Banyak bule ganteng gak?" tanya Naira dengan semangat dan matanya berbinar.


"Ke Belanda dong! Banyak bulenya sih tapi Delisha gak suka!" ujar Delisha dengan tampang polosnya.


Naura gregetan. "Kapan-kapan kalau lo liburan bilang ke gue ya! Gue mau ikutan. Lo tahukan gue pecinta bule dan berniat ingin mencari suami bule. Lo sebagai teman yang baik harus bisa mendukung gue untuk mencari suami bule," ujar Naura dengan menggebu.


Delisha tampak berpikir. "Naura mau ikut? Bayar sendiri tiket pesawatnya ya!" ujar Delisha mengulum senyumnya.


Naura terlihat masam. "Bayarin dong! Bilang sama Papi lo kalau gue sahabat lo mau ikut liburan ke luar negeri. Katanya anak sultan tapi bayarin pesawat gue aja gak bisa sih," ujar Naura.


"Ish..Kenapa sih banyak yang bilang kalau Delisha itu anak om Sultan? Delisha kasih tahu Naura ya, Delisha itu anak papi Akbar!" kesal Delisha dengan bersungut-sungut.


Naura menepuk jidatnya dengan kesal. Berbicara dengan Delisha bisa membuat darah tinggi di usia muda. "Terserah lo deh," ujar Naura dengan kesal.


Delisha mengulum senyumnya dalam hati ia sudah puas membuat sahabatnya kesal. "Nanti Delisha akan bilang sama Papi buat ajak Naura liburan juga ya," ujar Delisha yang membuat Naura tersenyum bahagia.


"Aaa..makasih anak om Akbar. Walaupun lo ngeselin banget tapi gue masih bisa tahan kok," ujar Naura memeluk Delisha dengan erat.

__ADS_1


Teman-teman sekelas Delisha sudah tahu bagaimana dua sahabat ini. Walau sering berantem tapi mereka akan baikan dengan cepat. Delisha juga sering mentraktir teman-teman sekelasnya, yang membuat mereka bahagia bisa berteman dengan Delisha, anak orang kaya tetapi tidak pelit sama sekali.


"Karena hari ini Delisha bahagia. Jam istirahat nanti Delisha akan mentraktir kalian semua! Delisha udah dapat kartu hitam lagi dan katanya harus bisa dihabiskan! Dari pada gak digunakan lebih baik kita makan-makan," ujat Delisha kepada teman-teman sekelasnya.


"Aa.. Delisha, i love you!"


"Gue suka yang gratisan kayak gini!"


"Delisha is the best!"


"Sering-sering aja kayak gini Delisha!"


Suara riuh teman-teman Delisha memenuhi ruangan kelas mereka. Untung saja guru belum datang jika tidak mungkin mereka akan dimarahi setelah ini.


***


Delisha memainkan tas sekolahnya sambil menunggu jemputannya yang belum datang. Mata Delisha berbinar saat ia melihat mobil Zayyen mendekat ke arahnya.


"Masuk!" ujar Zayyen menyuruh Delisha untuk masuk ke mobilnya.


Delisha dengan senang hati membuka pintu mobil Zayyen dan langsung masuk ke dalam mobil pria itu.


"Hhmmm..." gumam Zayyen dengan pelan dan mulai menjalankan mobilnya kembali setelah memastikan Delisha sudah duduk tenang di kursinya.


"Kak Zayyen gak sibuk? Asyik Delisha dijemput sama pacar Delisha! Senangnya!" ujar Delisha memeluk lengan Zayyen dengan erat.


"Bisa lepas gak? Gue gak bisa nyetir!" ucap Zayyen dengan datar.


"Gak bisa, Kak! Tangan Delisha udah ada lemnya jadi gak bisa dilepas gitu aja!" sahut Delisha dengan polosnya.


Zayyen mendengkus kesal. Melarang Delisha sama seperti menyuruh gadis itu dan akhirnya Zayyen membiarkan saja ketika Delisha memeluknya


"Kak, Delisha pikir kemarin Kakak akan jemput Delisha dari rumah sakit! Tahu gak Kak? Makanan di rumah sakit gak enak, nanti kalau Kakak udah jadi dokter dan Delisha sakit jangan kasih makanan rumah sakit ya! Telur gulung aja atau yang lain deh asal jangan dari rumah sakit," ucap Delisha dengan cerewetnya.


"Kak kita mau kemana? Delisha mau sama kakak seharian ini! Kakak gak sibuk, kan? Delisha mau sama Kakak hari ini ya! Boleh, kan?!" ujar Delisha menatap Zayyen dengan dalam.


Tangan Delisha menyentuh rahang Zayyen dengan pelan. "Delisha sayang Kakak!" ujar Delisha dengan tersenyum.

__ADS_1


Zayyen sama sekali tak menjawab. Ia merasakan debaran jantung Delisha yang sangat berbeda.


"Delisha!" panggil Zayyen dengan pelan.


"Kenapa Kak?" tanya Delisha dengan menatap manik mata Zayyen.


"Tidak ada!" ujar Zayyen mengurungkan niatnya.


Delisha asyik mengelus rahang Zayyen dan turun ke dada lelaki itu hingga gadis itu tertidur setelah Kecerewetannya yang membuat Zayyen kesal. Tangan Delisha terjatuh di paha Zayyen, lelaki itu melihatnya dan dengan perlahan membenarkan tangan Delisha hingga Zayyen tak sengaja melihat beberapa memar di tangan kekasihnya.


"Lo ngapain aja sih di sekolah sampai tangan lo memar gini?" ujar Zayyen dengan pelan.


Zayyen melihat wajah Delisha. Ia membenarkan rambut Delisha yang terlihat berantakan, ia melihat wajah lelah Delisha dibalik tidurnya. Tapi mengapa Delisha selalu terlihat ceria saat bersamanya? Apakah waktu bersamanya sangat berharga bagi gadis itu?


"Maaf sampai sekarang gue belum bisa menerima kehadiran lo!" gumam Zayyen dengan pelan.


***


Zayyen dengan perlahan menggendong Delisha setelah sampai ke apartemen miliknya. Mungkin hari ini ia akan menuruti ucapan Delisha yang menginginkan mereka bersama hari ini.


Zayyen juga sudah menghubungi Akbar untuk meminta izin membawa Delisha ke apartemennya. Zayyen sama sekali tak merasa keberatan saat menggendong Delisha, gadis ini sangat ringan sekali. Bahkan dalam perjalanan menuju kamarnya Zayyen menatap wajah Delisha yang sedang tertidur.


"Cantik!" gumam Zayyen tanpa sadar bahkan lelaki itu tersenyum tipis.


Zayyen membuka pintu apartemennya dengan perlahan. Lalu ia masuk ke dalam dan membawa Delisha langsung ke kamarnya, ia merebahkan tubuh Delisha dengan perlahan. Setelah membenarkan letak tidur Delisha, Zayyen mengambil tangan Delisha yang memar.


Zayyen mengambil obat memar yang berada di lacinya dan mengoleskan obat tersebut di tangan Delisha yang memar. Setelah selesai, Zayyen melepaskan sepatu dan kaos kaki Delisha dengan perlahan. Betapa terkejutnya Zayyen saat melihat memar itu ada di kaki Delisha.


Ada yang tidak beres dengan Delisha. Apakah gadis yang menjadi kekasihnya ini mendapatkan kekerasan fisik dari seseorang? Tapi rasanya tidak mungkin karena semua keluarga Delisha sangat menyayangi kekasihnya.


"Lo kenapa sih? Kenapa gue tiba-tiba khawatir sama keadaan lo gini?" tanya Zayyen dengan pelan.


Zayyen mulai kembali mengoleskan obat memar di kaki Delisha dengan pelan. Ia miringis saat melihat banyaknya memar di tubuh Delisha.


"Kak! Peluk!" gumam Delisha dengan mata tertutup.


Zayyen menurut, ia merebahkan tubuhnya di samping Delisha dan mulai memeluk gadis itu dengan pelan bahkan menepuk punggung Delisha juga dengan perlahan.

__ADS_1


"Lo cantik, lo juga baik, tapi maaf gue belum bisa mencintai lo! Gue masih berusaha! Maaf juga karena gue menerima lo untuk bisa melupakan Cika," gumam Zayyen di dalam hati sambil menatap wajah Delisha yang terlihat sangat tenang dan nyaman tertidur di pelukan Zayyen.


__ADS_2