Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 235 (Cemburunya Haidar)


__ADS_3

...📌Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


****


Zevana mulai bekerja di rumah sakit milik Fathan, ia masih menjadi dokter umum di rumah sakit milik Sahabat papanya ini. Ada rasa bahagia dan bersyukur bisa kembali di pelukan keluarganya setelah 5 tahun dirinya menghilang dan tak mengabari keluarganya sedikit pun.


Zevana melihat ponselnya yang berdering lalu ia tersenyum saat seseorang yang menjadi malaikat penolongnya menelepon.


"Halo Mas!" sapa Zevana dengan lambut.


"Saya sudah di depan rumah sakit di mana kamu bekerja, Zeva. Bisakah kamu menemui saya? Saya merindukan kamu dan Raiden," ujar seseorang tersebut dengan suara baritonnya yang sudah sangat Zevana hafal tentunya.


"A-apa? Kok cepat banget? Katanya 3 minggu lagi bisa kembali ke Jakarta setelah urusan yang di Swiss selesai," ujar Zevana dengan terkejut.


"Pekerjaan saya lebih cepat selesai dari perkiraan. Jadi, apakah Nona Zeva mau menemui saya saat ini?" tanya pria tersebut dengan terkekeh.


Zevana ikut terkekeh. "Sebentar aku akan menemui Tuan di luar," ujar Zevana.


"Ya sudah saya tutup ya!" ujar lelaki itu dengan lembut.


"Iya, Mas!"


Zevana keluar dari ruangannya. Untung saja pasiennya tidak banyak hari ini jadi dirinya bisa bertemu dengan pria yang sudah Raiden anggap sebagai papa pengganti Haidar karena saat Raiden lahir pun pria itulah yang mengazankan Raiden yang membuat Zevana waktu itu menangis karena sebenarnya ia ingin Haidar lah yang melihat wajah anak mereka untuk pertama kalinya bukan pria lain. Tapi Zevana tak berdaya apalagi lelaki itu sangat baik kepada dirinya.


Zevana berjalan menuju ke parkiran di mana lelaki itu sudah menunggu. Zevana tersenyum saat melihat lelaki itu bersandar di kap mobil dengan gaya yang bisa menarik perhatian kaum hawa. Tetapi tidak dengan Zevana karena di hatinya masih ada nama Haidar dan akan selalu Haidar di sana, Zevana tidak bisa membuka hatinya untuk pria lain karena karakter Zevana sekali mencintai maka akan memberikan seluruh hatinya bagaimanapun rasa sakitnya Zevana akan memerimanya. Bucin? Katakanlah dirinya memang seperti itu, tetapi yang jelas Zevana tidak mudah untuk jatuh cinta dan sekalinya jatuh cinta Zevana tidak bisa melupakannya walaupun orang yang ia cintai memperlakukan dirinya dengan sangat buruk bahkan fisik dan hatinya bisa terluka dalam bersamaan.


"Sudah lama Mas?" tanya Zevana dengan ramah.


"Dari 15 menit yang lalu. Saya sengaja menunggu karena takut kamu banyak pasien," ujar Indra dengan lembut.


Indra Kusuma lelaki berusia 35 tahun itu belum menikah sama sekali karena masa lalunya yang kelam. Indra ditinggal begitu saja dengan calon istrinya di saat hari pernikahan mereka yang membuat keluarga Indra dan Indra sendiri harus menanggung malu dengan apa yang sudah calon istrinya lakukan, dari saat itu Indra tak pernah lagi membuka hatinya untuk perempuan manapun. Tetapi di saat bertemu dengan Zevana, di saat wanita itu pingsan di jalanan dengan kondisi hamil membuat Indra merasa kasihan dan saat itulah Indra mulai membawa Zevana bersamanya hingga kebersamaan mereka membuat rasa cinta itu tumbuh di hatinya untuk Zevana apalagi saat melihat Zevana berjuang untuk melahirkan Raiden, ia seperti suami Zevana yang sangat cemas dan sangat menantikan jagoan Zevana tersebut lahir ke dunia.


Sudah beberapa kali Indra menyampaikan niat baiknya untuk menikahi Zevana tetapi wanita itu selalu beralasan untuk menolaknya, tetapi Indra tak pantang menyerah untuk mendapatkan hati Zevana yang juga dipatahkan oleh suaminya sendiri.

__ADS_1


Indra mendekat ke arah Zevana yang membuat jarak mereka semakin dekat. Dan tanpa di duga oleh Zevana, lelaki itu memeluknya dengan sangat erat.


Nyaman. Itulah yang Zevana rasakan saat Indra memeluknya tetapi kenyamanan yang ia rasakan bukan kenyaman sebagai wanita yang mencintai prianya tetapi sebagai kakak adik yang memang sudah lama Zevana tidak merasakan pelukan kedua kakak kembarnya.


"LEPAS! LO GAK BERHAK PELUK ISTRI GUE!" ujar Haidar dengan marah saat ia melihat Zevana dipeluk oleh pria lain di depan matanya. Awalnya kedatangan Haidar ke sini untuk bertemu dengan Zevana dan bicara baik-baik tentang masalah mereka yang memang belum selesai.


"Istri? Bagaimana yang di sebut istri kalau anda saja sudah menceraikan Zeva?" tanya Indra dengan terkekeh sinis. Ia tidak suka kebahagiaan bertemu Zevana di usik begitu saja oleh mantan suami Zevana. Bukankah Zevana sudah mengatakan jika mereka sudah bercerai kepada dirinya? Jadi, Indra tak bersalah jika pria itu mengharapkan Zevana untuk menjadi istrinya.


"Menceraikan Zeva? Hei bung surat cerai itu tidak pernah saya tanda tangani sampai sekarang. Jadi, Zeva itu masih istri saya dan kami masih sah sebagai suami istri," ujar Haidar dengan tajam.


Indra menatap Zevana dengan intens. "Kamu tahu masalah ini Zeva?" tanya Indra dengan tagas.


Zevana menggelengkan kepalanya. "Zeva gak tahu Mas!" jawab Zevana dengan jujur.


Mas?


Haidar terkekeh sedih merasa iri dengan panggilan mas yang Zevana berikan untuk pria lain bukan dirinya. Panggilan yang menurutnya sangat mesra sekali dan panggilan itu sering di sematkan untuk suami. Apakah Zevana sudah menikah dengan pria ini? Tidak! Pernikahan mereka tetap tidak sah karena Haidar masih menjadi suami sah dari Zevana.


"Zeva calon istri saya. Sebentar lagi kami kan menikah jadi saya minta baik-baik kepada anda untuk menceraikan Zevana dengan segara, kalau perlu saya bantu agar proses berjalan dengan cepat," ujar Indra dengan tsnang tetapi mampu menyulutkan api amarah di dalam diri Haidar.


"Ikut kakak!" ujar Haidar dengan dingin.


"Mau anda bawa kemana Zeva?" tanya Indra dengan tajam.


"Bukan urusan lo!" ujar Haidar yang membuat Zevana takut saat tanganya di tarik oleh Haidar dengan kuat.


"Dok, lepas!" ujar Zevana dengan lirih.


Haidar mendorong Zevana dengan cepat mssuk ke dalam mobilnya tak mempedulikan Indra yang mengetuk kaca mobilnya.


"Kembalikan Zevana!"


"Tidak akan!" ujar Haidar dengan dingin.


Haidar menjalankan mobilnya dengan cepat fan hampir saja Indra terserempet mobil Haidar yang membuat Zevana sangat takut.

__ADS_1


"Brengsek!" umpat Indra menatap kepergian mobil Haidar.


Indra ingin mengejarnya tetapi mobil Haidar melesat dengan cepat dan Indra tidak bisa begitu saja mengejar mobil Haidar karena ada mobil yang baru saja datang setelah mobil Haidar keluar dari perkarangan rumah sakit.


Sedangkan di dalam mobil Haidar. Zevana tampak diam kala melihat kemarahan Haidar.


"Sudah aku duga saat pertemuan kita kamu sengaja berbohong tidak mengenalku padahal kamu mengingatnya. Untuk apa semua itu kamu lakukan? Agar bisa menikah dengan lelaki itu ya? JAWAB ZEVA!" teriak Haidar yang membuat Zevana gemetar ketakutan.


Sadar jika Zevana ketakutan karena dirinya, Haidar menghembuskan napasnya dengan perlahan untuk mengontrol emosinya agar kembali stabil.


Haidar ingin menyentuh kepala Zevana dengan lembut tetapi reaksi Zevana membuat hati Haidar berdenyut sakit saat melihat istrinya menutup wajahnya dengan kedua tangannya pertanda jika Zevana takut diperlakukan kasar lagi oleh Haidar.


Jantung Zevana seakan berhenti berdetak saat melihat tangan Haidar naik. Ingatan bagaimana perlakuan kasar Haidar kepada dirinya membuat Zevana refleks menghindar dan menutup matanya dengan kedua tangannya.


"Z-zeva..." gumam Haidar dengan mata berkaca-kaca.


Tangan Haidar gemetar saat melihat reaksi istrinya. Traumakah Zevana terhadap dirinya sehingga Zevana memutuskan berpura-pura tidak mengenal dirinya.


Haidar menghentikan mobilnya di pinggir jalan setelah jalanan lenggang. Ia langsung memeluk Zevana dengan erat dan mereka akhirnya menangis bersama.


"Maaf!" gumam Haidar dengan terisak.


"I miss you, Zeva! Ternyata aku sangat membutuhkan kamu! Maafkan aku hiks.."


"I love you!" gumam Haidar mengecup kening Zevana dengan lembut.


"Hiks..hiks... Kakak bohong biar Zeva mau kembali ke apartemen itu, kan? Kakak gak mencintai Zeva!" gumam Zevana yang belum berani menatap wajah Haidar.


"Gak, Zeva! Kakak gak bohong! Kakak mencintai kamu! Kakak baru sadar saat kamu pergi dari hidup Kakak! Kamu masih menjadi istri Kakak, Zeva. Lelaki tadi tidak berhak atas kamu," ujar Haidar dengan cemburu.


"Kakak semakin merasa bersalah saat Kakak tahu kamu pergi dalam keadaan hamil. Please kembali bersama Kakak, Zeva. Kita gak akan kembali ke apartemen itu lagi karena apartemen itu yang sudah membuat kamu terluka, di apartemen itu terekam jelas kejahatan Kakak! Hiks Kakak minta maaf Zeva! Beri Kakak kesempatan kedua ya?!" mohon Haidar yang membuat Zevana terdiam.


Haidar menangkup wajah Zevana hingga mata mereka bertemu pandang. "Beri Kakak kesempatan untuk memperbaiki semuanya ya!" ujar Haidar dengan lirih.


Zevana bimbang tetapi hatinya tidak bisa di bohongi kalau dirinya masih sangat mengharapkan Haidar hingga tanpa sadar Zevana mengangguk yang membuat Haidar langsung memeluk Zevana dengan erat.

__ADS_1


"Terima kasih, Sayang!"


__ADS_2