
...Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...Happy reading...
****
Brukk....
Tiara tampak kesal saat belanjaannya terjatuh karena ditabrak oleh seseorang. "Kalau jalan itu hati-ha...."
Tiara mengatupkan bibirnya langsung saat melihat wajah seseorang yang menjadi daftar orang yang sangat ia benci di dalam hidupnya, orang yang telah merusak kebahagiaan dengan berdalih kata sahabat.
Tiara tersenyum sinis, jiwa arogan yang ada pada diri Tika mencuat melihat wajah tak bersalah Sabrina bahkan wanita itu terlihat kaget melihat dirinya tetapi tak lama tersenyum manis ke arahnya. Bukankah Sabrina seperti serigala berbulu domba di hadapannya? Dan Tiara suka itu! Ia akan mengikuti permainan Sabrina hingga wanita itu akan bertekuk lutut di hadapannya dengan meminta ampun nanti, Tiara pastikan kejadian itu akan terjadi secara nyata. Kedua orang tuanya dan Sabrina harus membayar rasa sakit yang ia rasakan karena kehilangan anak-anaknya, karena mereka Tiara tidak bisa melihat dan merasakan tumbuh kembang anaknya.
"H-hai..." sapa Sabrina dengan wajah yang terlihat sangat amat canggung. Jika ada orang yang mendengar isi hati Sabrina pasti semua akan mengumpat ke arahnya.
"Hai... Senang bisa bertemu denganmu kembali," ujar Tiara dengan tenang.
Sorot matanya tidak bisa ditebak oleh Sabrina. "G-gue juga senang ketemu lo!" balas Sabrina dengan canggung.
"Gimana anak gue? Dia bahagiakan hidup sama lo?" tanya Tiara dengan tenang padahal di dalam hatinya ingin sekali mencekik Sabrina hingga wanita itu kehabisan napas.
"Gawat kalau Tiara sampai tahu anaknya sering gue marahi dan cubit, apalagi sampai dia tahu gue menikah dengan Zidan. Gue harus kabur dan bertemu dengan om Ezra dan tante Erlin, biar mereka yang mengurus Tiara lemah ini," ucap Sabrina di dalam hati.
"Anak lo baik, bahkan dia hidup bahagia dengan gue dan suami gue. Makasih ya berkat lo suami gue makin sayang banget sama gue," ujar Sabrina dengan tersenyum manis untuk menjalankan ektingnya di depan Tiara. Padahal nyatanya dirinya dan Zidan sudah bercerai sebulan yang lalu.
"Pembohong yang handal!" gumam Tiara dengan sinis tetapi sama sekali tidak didengar oleh Sabrina.
__ADS_1
"Ooo iya? Baguslah kalau begitu. Jaga anak gue ya, kalau gue tahu dia terluka karena lo, gue bakal...." Tiara tersenyum manis ke arah Sabrina dan mendekatkan bibirnya ke telunga wanita itu. "Bunuh lo dengan tangan gue sendiri!" ucap Tiara dengan sinis.
"Selamat bertemu kembali mantan sahabat T-E-R-B-A-I-K!" ucap Tiara penuh penekan di akhir kalimat. Setelah itu Tiara langsung meninggalkan Sabrina yang mengepalkam tangannya.
"Kurang ajar! Lihat saja nanti, aku yang selalu lebih unggul dari perempuan lemah itu," gumam Sabrina yang merasa tersindir dengan ucapan Tiara. Apakah Tiara sudah tahu kebenarannya? Ah... Rasanya tidak mungkin, perempuan seperti Tiara mengetahui kebusukannya dengan kedua orang tua Tiara yang memisahkan Tiara dengan Zidan.
Tiara menoleh ke arah Sabrina sebentar tangannya terkepal dengan erat dengan menatap tajam dan senyum yang teramat sinis. "Tunggu saja kematianmu Sabrina!" gumam alter ego Tiara dengan sangat sinis.
****
Dengan lingkaran mata yang sudah menghitam Fathan berdiam diri di kamar dengan kondisi kamar yang sangat berantakan, ia tidak tahu jika Cika masuk rumah sakit karena demam berdarah. Fathan sudah sangat frustasi karena kehilangan Tri, bahkan ia tidak mempedulikan pekerjaannya di rumah sakit, pikirannya hanya tertuju pada Tri. Sejak Tri tidak ada di rumah ini hatinya sangat terasa hampa.
Fathan menatap foto Tri yang tersenyum manis, tangannya mengusap foto itu dengan lembut. "Kamu di mana, Sayang? Kamu capek ya sama Mas? Boleh pergi kok, Sayang! Tapi cuma sebentar ya setelah itu kamu pulang!" ucap Fathan dengan terkekeh tak lama air matanya mengalir begitu saja, Fathan menangis segugukan memeluk foto Tri.
Tanpa di sadari oleh Fathan, mama Yesha masuk ke kamar Fathan tanpa suara. Ia ingin mengabarkan kepada Fathan jika Cika sedang dirawat di rumah sakit, tetapi mendengar ucapan Fathan membuat beliau terdiam.
"Tri sudah pergi! Gak usah terlalu memikirkan wanita itu, dia bisa menjaga dirinya sendiri!" ujar Mama Yesha dengan tenang.
Fathan menoleh ke arah sumber suara, ia menatap mamanya dengan tajam. "Keluar dari kamar Fathan, Ma!" teriak Fathan dengan keras. Setiap melihat wajah mamanya Fathan selalu terbawa emosi, ia sangat menyakini jika kepergian Tri karena mamanya. Fathan sangat yakin itu.
"PERGI, MA!" teriak Fathan dengan emosi.
Fathan berdiri dan mengambil vas bunga yang berada di atas meja.
Prank....
"KELUAR! AKU SAMA SEKALI TIDAK MEMBUTUHKAN KEHADIRAN MAMA DI SINI. YANG AKU BUTUHKAN HANUM, ISTRI FATHAN! MAMA DENGAR ITU, HAH?" teriak Fathan dengan bengis.
__ADS_1
Mama Yesha menatap Fathan ketakutan. Saat anaknya mengambil pecahan kaca dengan senyum yang sangat mengerikan berjalan ke arahnya membuat mama Yesha berjalan mundur dengan wajah yang amat sangat takut.
"S-sadar, Fathan! Ini Mama!" ucap Mama Yesha terbata.
"Aku tahu! Dan jika Mama masih ikut campur dengan rumah tanggaku, aku tidak segan-segan melukai Mama! Walau Mama adalah ibu kandungku sendiri!" ucap Fathan tersenyum sinis.
Akal sehatnya seakan hilang entah kemana dan yang bisa menyembuhkan adalah kehadiran Tri di dekatnya.
"F-fathan kamu jangan gila!" ucap Mama Yesha dengan takut.
"Hahaha... Aku gila karena Hanum pergi! Hiks...hiks... Istri Fathan pergi karena Mama!" ucap Fathan yang tertawa lalu tiba-tiba menangis. Siapa saja yang melihat Fathan pasti akan merasa kasihan karena tubuhnya yang sama sekali tidak terurus sejak kepergian Tri. Fathan seakan menutup diri dari siapa pun.
"Pergi atau kaca ini akan menggores wajah Mama!" ucap Fathan menodongkan kaca dengan ujung yang sangat runcing di hadapan mamanya.
"I-iya Mama pergi! Tapi kamu harus tahu jika Cika sekarang sedang sakit dam dirawat di rumah sakit karena demam berdarah!" uhar Mama Yesha dengan cepat. Setelah itu ia melangkah terburu-buru keluar dari kamar Fathan.
Buk....
Buk....
Fathan menumbuk tembok dengan tangannya sangat kencang tak peduli darah segar yang mengalir dari sela-sela tangannya.
"ITU SEMUA GARA-GARA MAMA!" teriak Fathan dengan keras dan tak lama tubuhnya jatuh ke lantai. Haruskah pernikahannya dengan Tri berakhir dengan seperti ini?
"Argghhh...."
Sesak yang menghimpit dadanya membuat Fathan berteriak dengan kencang. Kenapa tidak ada yang mengerti perasaannya yang terluka karena kepergian Tri? Kenapa tidak ada yang mengerti jika Fathan tidak ingin kehilangan lagi? Kenapa di dunia ini tidak ada yang mengerti perasaannya?
__ADS_1