Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 65 (Menikah?)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya....


...Happy reading...


*****


"A-aduh..."


"A-aduhh!"


Fio terus meringis saat kakak iparnya terus mencubit pipinya dengan gemas.


"Fio yakin banget kalau keponakan Fio bakal mirip Fio!" ujar Fio dengan cemberut mengelus pipinya yang menjadi bahan cubitan kakak iparnya.


"Gak apa-apa anak Mbak mirip Fio. Kalau perempuan biar cantik kayak Fio, kalau laki-laki biar baik kayak Fio," ujar Tri dengan tersenyum bahagia karena memang adik iparnya sangat cantik sekali.


Fiona terkekeh. Pipinya memanas karena kakak iparnya mengatakan dirinya cantik. "Hehehe emang Fio cantik banget sih!" ujar Fiona dengan sangat pede.


Tri tertawa bahagia saat bersama dengan Fiona. Kepolosan Fiona membuat Tri harus membimbing adik iparnya agar tidak dimanfaatkan banyak orang seperti apa yang suaminya katakan.


"Kak Fathan bicara sama siapa, Mbak? Kok ada suara orang lain?" tanya Fiona yang mendengarkan suara kakaknya yang sedang berbicara dengan seseorang di ruang tamu.


Tri mengedikkan bahunya pertanda ia juga tidak tahu karena Fathan hanya berpamitan ke depan sebentar.


"Coba kita lihat," ucap Tri yang juga penasaran dengan siapa suaminya berbicara karena ia maupun Fiona tidak mendengar adanya tamu yang datang.


"Ayo, Mbak!" ucap Fiona dengan tersenyum menggandeng tangan Tri. Fiona juga gemas mengelus perut Tri yang tampak membuncit karena mengandung bayi kembar padahal usia kandungannya masih terbilang muda.


"Om Akbar!" panggil Fiona dengan mata yang berbinar.


Akbar dan Fathan yang terlibat pembicaraan penting melihat ke arah Fiona dan Tri dengan pandangan yang berbeda. Akbar menatap Fiona dengan tenang sedangkan Fathan menatap Tri dengan penuh cinta.


"Om Akbar kapan ke sini? Kok Fio gak dengar suara mobil Om Akbar sih?" tanya Fiona dengan cerewet.


"Fio jangan banyak tanya dulu! Kakak sama Akbar sedang berbicara penting. Kamu panggilkan bi Sumi suruh dia buat minum untuk kami berdua," ujar Fathan dengan tegas.

__ADS_1


Fiona mengerucutkan bibirnya kesal. Kakaknya mengganggu kesenangannya saja, padahal baru saja ia melihat wajah tampan Akbar yang sudah seminggu tidak ia temui karena Fiona sibuk menjaga papanya dengan mamanya sedangkan Akbar sibuk dengan pekerjaannya.


Dengan menghentakkan kakinya dengan kesal Fio menuju ke arah dapur di mana bi Sumi berada. "Bi, tolong buatkan minum untuk calon suami Fio ya!" ujar Fiona dengan tersenyum.


"C-calon suami Non?" tanya Bi Sumi dengan bingung.


Fiona yang tadinya kesal menjadi terkekeh geli melihat ekspresi wajah bi Sumi yang terlihat lucu. "Kenapa sih Bi kok kaget banget gitu?" tanya Fiona.


"Ya habisnya Non buat jantung bibi berhenti berdetak. Emang sejak kapan Non Fio punya pacar sih?" tanya Bi Sumi dengan tangan menuangkan air panas ke dalam gelas yang sudah berisi bjbuk kopi membuatkan minum untuk majikannya dan tamu majikannya.


"Yee Bibi ngejek Fio banget nih. Tunggu aja undangan Fio nanti," ujar Fiona dengan kesal.


Bi Sumi tersenyum geli. "Hehehe bukan begitu Non. Bibi doakan calon suami Non adalah orang yang baik, pengertian, dan bisa mengayomi Non Fio cantik," ujar Bi Sumi.


"Aamiin!!! Gitu dong, Bi. Sini minumnya Bi biar Fio yang bawa, oo iya camilan itu juga Bi masa cuma minum doang!" ujar Fio menunjuk ke arah makanan ringan yang berada di toples.


Bi Sumi mengangguk, ia mengambil makanan ringam yang berada di meja dan ia letakkan di nampan yang di pegang oleh Tiara.


"Biar Bi Sumi aja, Non!"


Bi Sumi menggelengkan kepalanya melihat keceriaan majikan kecilnya yang dulu selalu ia rawat sejak bayi. Namun, sejak Fiona memilih tinggal di Belanda dan saat Fathan menikah bi Sumi memilih bekerja bersama Fathan yang sangat baik, ia tidak ingin berlama-lama bersama dengan mama Yesha yang terkenal angkuh dan sombong.


"Semoga selalu bahagia, Non!" gumam Bi Sumi dengan pelan melihat kepergian Fiona dari dapur.


****


"Kok kamu yang bawa Fio?" tanya Tri saat melihat adik iparnya yang membawa minuman serta makanan ringan untuk suaminya dan Akbar.


"Gak apa-apa, Mbak. Biar bi Sumi istirahat," jawab Fiona dengan tersenyum manis.


Akbar melihat Fiona dengan menelan ludahnya dengan kasar. Seminggu tidak bertemu dengan Fiona kenapa gadis itu semakin terlihat sangat cantik?


"Di minum Om!" ujar Fiona dengan meletakkan cangkir berisi kopi di meja.


"Ya!" sahut Akbar dengan singkat.

__ADS_1


Deg...


Deg...


"Kenapa dengan jantungku? Kenapa detaknya sangat cepat saat melihat senyuman manis Fio? Ini aneh! Aku tidak bisa berlama-lama di sini, aku gak boleh jatuh cinta dengan Fio. Usia kami terlampau sangat jauh dan Fio lebih cocok jadi keponakanku bahkan terlihat seperti anakku!" gumam Akbar di dalam hati. Ia frustasi meyakinkan hatinya agar tidak jatuh cinta dengan Fiona.


"Ekhemm.. Saya dan Fathan sedang terlibat pembicaraan sangat penting. Apakah kalian berdua bisa meninggalkan kami sebentar?" tanya Akbar serius, ia harus bisa mengendalikan jantungnya ahar tidak terus berdetak sangat kencang.


Tri menatap ke arah suaminya yang di angguki oleh Fathan. "Baik, Pak. Saya dan Fio ke kamar ya!" ujar Tri mengerti tetapi tidak dengan Fiona.


"Fio mau di sini," gumam Fiona dengan lirih.


Akbar menghela napasnya. "Setelah saya selesai, saya akan membawa kamu untuk membeli eskrim. Kamu mau?" tanya Akbar dengan tenang.


Mata Fiona berbinar. "Mau, Om! Ya udah deh Fio dan Mbak Tri ke kamar dulu," ujar Fiona dengan berbinar. Ia kembali menggandeng tangan Tri agar kakak iparnya baik-baik saja. Fiona merasa engap sendiri yang melihat Tri susah berjalan.


Setelah kepergian Tri dan Fiona, Fathan dan Akbar kembali terlibat obrolan penting. "Kedua orang tuamu sepertinya belum sadar juga. Dia memanfaatkan Fiona dengan cara memeras tabungan Fiona untuk membayar biaya rumah sakit serta rumah yang ibu Yesha beli," ujar Akbar dengan dingin.


Fathan menghela napasnya dengan kasar. "Saya juga tidak habis pikir dengan mama saya yang terlalu berambisi seperti itu. Saya tidak mungkin terus menjaga Fiona dalam waktu 24 jam karena saya juga harus menjaga Cika dan Hanum. Anda tahu dari mana jika tabungan Fiona habis di ambil oleh mama saya?" tanya Fathan berusaha tenang.


"Rumah yang bu Yesha beli masih milik saya di kawasan Y. Saya memang menyuruh orang untuk berpura-pura menjadi pemilik rumah itu, dan orang itu juga gak sengaja mendengar jika bu Yesha berkata tidak sia-sia dia mempunyai anak bodoh seperti Fio," ujar Akbar menahan emosinya.


"Ya Tuhan, mama....!!!" ucap Fathan mengusap wajahnya dengan kasar. "Mama gak ada kapok-kapoknya padahal saya sudah berpura-pura bangkrut agar mama sadar semua kesalahannya," gumam Fathan dengan frustasi.


"Saya tidak bisa membiarkan Fiona dimanfaatkan oleh mama. Anak itu benar-benar polos sekali. Sepertinya ada dua kemungkinan Fiona kembali ke Belanda atau Fiona menikah dengan pria pilihan saya agar Fio ada yang menjaga, setidaknya ada yang mengawasi Fio di saat saya tidak bisa," ujar Fathan yang membuat Akbar terbatuk.


"Uhuk...uhuk...M-menikah?" tanya Akbar setelah batuknya berhenti.


Fathan mengangguk dengan mantap. "Setidaknya dengan cara menikah Fio ada yang menjaga," ujar Fathan dengan tegas. "Kenapa anda terlihat sangat terkejut?" tanya Fathan.


"Tidak apa-apa! Baguslah jika ada lelaki yang menjaga Fio. Saya harap dia adalah lelaki yang tepat!" ujar Akbar dengan tersenyum tipis walau dalam hatinya sekarang merasa tidak nyaman karena ucapan Fathan.


"Baiklah sepertinya pembicaraan kita selesai. Kalau begitu saya permisi, dan sepertinya saya tidak bisa mengantarkan Fio membeli es krim. Tapi anda tenang saja saya akan menyuruh seseorang untuk mengantarkan es krim ke rumah ini. Saya permisi!" ujar Akbar dengan cepat.


Fathan mengangguk, ia menatap kepergian Akbar setelah berjabat tangan dengannya.

__ADS_1


"Aneh!" gumam Fathan yang merasa aneh dengan Akbar.


__ADS_2