
📌 Jangan lupa ramaikan part ini.
📌Ramaikan juga novel terbaru author ya.
...*...
...*...
...Happy reading...
***
Daniel menggendong Naura keluar dari mobil miliknya.
"DOKTER! SUSTER! TOLONG KEKASIH SAYA!" teriak Daniel tanpa sadar menyebut Naura sebagai kekasihnya.
Daniel membawa Naura ke rumah sakit milik Fathan yang sekarang sudah di pegang oleh Nevan. Ya, Nevan menjadi pemimpin rumah sakit ini dan juga menjadi dokter muda di rumah sakit milik papanya karena kemampuannya yang sudah tidak di ragukan lagi oleh dokter seniornya yang membuat Fathan mempercayakan rumah sakit ini kepada Nevan tetapi tidak melepaskan anaknya begitu saja, Fathan perlu memberikan pengajaran yang lebih dalam untuk anaknya hingga nanti ketika dia sudah tidak ada Nevan mampu mengemban tanggungjawab yang sangat besar.
Suster langsung mendorong brankar ketika Daniel berteriak. Daniel langsung menidurkan Naura dengan pelan di atas brankar, ia mengikuti langkah para suster untuk masuk ke dalam UGD.
"Maaf Tuan, anda harus menunggu di luar!" ujar suster yang membuat Daniel mengerang kesal.
Nevan datang dengan pakaian dokternya, ia tampak panik ketika Daniel yang datang. "Niel, siapa yang sakit? Bukan om Akbar, kan?" tanya Nevan dengan cemas.
"Bukan, Kak! Naura ada di dalam cepat periksa Naura, Kak! Wajahnya sangat pucat dan tubuhnya sangat dingin sekali," ujar Daniel dengan frustas.
"Lo tenang saja, Niel! Tunggu di sini," ujar Nevan dengan tegas dan segera masuk ke ruang UGD.
Daniel mengusap wajahnya dengan kasar. Ia duduk di kursi tunggu dengan perasaan yang campur aduk. Daniel mengambil ponselnya untuk menghubungi Ikbal dan kedua orang tuanya, setelah selesai Daniel bersandar di kursi.
"Naura, please jangan pergi lagi!" gumam Daniel dengan lirih.
Kali ini Daniel sangat takut kehilangan Naura, ia masih sangat mencintai Naura walaupun ia benar-benar kecewa dan sakit hati karena Naura tetapi tidak bisa di pungkiri jika Naura lah yang masih sangat ia cintai selama ini.
"Niel!" panggil Nevan dengan pelan.
"Gimana?" tanya Daniel dengan tak sabaran.
"Ke ruangan gue sekarang! Ada sesuatu yang harus gue beritahu ke lo!" ujar Nevan yang membuat Daniel mengangguk.
"Tapi Naura gak apa-apa, kan?" tanya Daniel dengan cemas.
"Keadaannya gak bisa di bilang baik-baik saja, Niel. Makanya gue mau kasih tahu ke lo," ujar Nevan dengan tegas yang membuat Daniel mengangguk dengan sendu dan khawatirnya.
Daniel masuk ke ruangan Nevan dan duduk di hadapan Nevan.
"Tekanan darah Naura sangat rendah, Niel. hanya 70/60 mmHg. Stress berlebihan yang membuat Naura seperti ini. Dan juga Naura terkena asam lambung yang membuat perutnya terasa sangat sakit, dan ada satu lagi yang membuat rasa sakitnya dua kali lipat," ujar Nevan menjelaskan.
"Apa, Kak? Katakan sekarang!" ujar Daniel dengan tak sabaran.
"Penyakit usus buntu. Kita harus melakukan operasi dengan cepat. Setelah sembuh perhatikan makanan Naura karena gue rasa makanan Naura selama ini tidak sehat, Niel. Sedikit saja lo terlambat tadi membawa Naura ke rumah sakit bisa saja nyawa Naura melayang," ujar Nevan dengan pelan yang membuat Daniel mendes*h menyesal seharusnya Daniel langsung melihat Naura semalam karena sejak semalam pikirannya sudah tidak enak tentang gadis itu.
"Lakukan yang terbaik buat Naura, Kak!" ujar Daniel pada akhirnya.
"Pasti. Setelah ini yang menangani Naura adalah dokter bedah langsung karena gue masih dokter umum," ujar Nevan yang membuat Daniel mengangguk mengerti.
__ADS_1
Daniel dan Nevan keluar dari ruangan tetapi mereka sudah di hadang oleh bumil yang sangat sensitif sekali. Siapa lagi jika bukan Delisha yang ditemani oleh Ikbal bahkan kedua orang tua Ikbal juga ada di sana memastikan apa yang dikatakan Ikbal tadi benar atau tidak, jangan lupakan Fiona dengan Akbar yang juga berada di sana. Mereka butuh penjelasan bagaimana Naura bisa berada di rumah sakit bersama dengan Daniel.
"Kak Daniel, Kakak apa kan Naura, hah? Kakak memarahinya ya? Kakak kasar sama Naura ya?" tanya Delisha dengan cerewet bahkan matanya sampai berkaca-kaca karena memikirkan kondisi sahabatnya. Ya, bagi Delisha, Naura masih menjadi sahabat terbaiknya sampai sekarang.
"Dek, kamu gak boleh marah-marah nanti ketiga bayi kamu gak suka loh!" ujar Daniel menenangkan adiknya.
"Kali ini ketiga anak Delisha mendukung perbuatan Delisha, Kak! Mereka gak terima jika tante mereka diperlakukan kasar oleh om-nya!" ujar Delisha dengan kesal.
"Sayang sabar ya kita dengarkan dulu penjelasan kak Daniel," ujar Ikbal mengelus perut Delisha dengan lembut.
"Daniel apa yang terjadi? Kenapa Naura bisa bersama dengan kamu?" tanya Tomi pada akhirnya karena bagaimanapun juga Naura tetap anak angkatnya.
Daniel menghela napasnya, kemudian ia menceritakan semuanya dari Naura yang kerja di kantornya, kehidupan Naura yang sangat berubah drastis hingga Daniel mendobrak pintu rumah Naura karena gadis itu tak kunjung ke kantornya untuk bekerja.
"Kenapa kamu tidak bilang ke Mami kalau Naura bekerja di perusahaan, Kak?" tanya Fiona tak habis pikir dengan anaknya.
"Maaf, Mi. Niat Daniel ingin membalaskan sakit hati dan kecewa Daniel ke Naura tetapi Daniel gak tahu kalau ujungnya akan seperti ini. Daniel menyesal, Mi! Sungguh!" jawab Daniel dengan sendu.
"Tante, Om, dan yang lainnya. Sebaiknya nanti saja dibicarakan semuanya karena Naura harus di operasi sekarang juga karena usus buntu yang diderita Naura," ujar Nevan menengahi.
"Iya, Van. Segera berikan penanganan yang baik untuk Naura ya!" ujar Tomi dengan tegas.
"Tentu, Om! Tim bedah rumah sakit adalah dokter yang terbaik. Om tenang saja ya!" ujar Nevan dengan tegas.
"Terima kasih, Nevan!"
***
Semua orang sudah menunggu di depan ruang operasi di mama Naura berada di dalamnya bersama dengan dokter bedah yang akan menangani Naura.
Daniel yang terlihat lebih merasa bersalah dan khawatir dengan keadaan Naura hanya bisa diam dengan gerakan tubuh yang amat gelisah. Sedangkan Delisha bersandar di dada suaminya karena Ikbal tak memperbolehkan Delisha kecapean, sungguh sangat posesif sekali Ikbal terhadap istrinya.
"Sabar. Dokter butuh waktu untuk itu," ujar Akbar dengan tegas.
"Tapi Daniel gelisah, Pi. Kata Nevan kalau Daniel telat membawa Naura ke rumah sakit tadi bisa-bisa nyawa Naura melayang," ujar Daniel dengan sendu.
"Niel, Om mau tanya. Saat kamu membawa Naura ke rumah sakit di mana Jesica?" tanya Tomi. Bukan apa-apa hanya saja Tomi heran sejak tadi karena Jesica tidak ada di sini.
"Gak tahu, Om. Naura hanya sendirian di rumahnya!" jawab Daniel.
"Dasar ibu tidak becus!" ujar Tomi dengan kesal.
"Sabar, Mas. Setelah ini kita cari tahu semuanya ya! Apa yang terjadi dengan Naura selama ini," ujar Claudia menenangkan suaminya.
"Mas kesal sekali dengan Jesica, Sayang. Jika benar dia menelantarkan Naura begitu saja, Mas bersumpah hidupnya tidak akan tenang lagi," ujar Tomi dengan menahan emosi.
"Iya, Mas! Sabar kita tanya Naura setelah keadaan Naura membaik," ujar Claudia dengan lembut.
Tomi hanya mengangguk, akhirnya tak ada lagi yang bersuara karena mereka sibuk dengan pikiran masing-masing menunggu Naura selesai operasi.
****
Operasi sudah dilakukan, Naura sudah berada di ruang perawatan. Gadis itu belum sadarkan diri karena pengaruh obat bius sebelum operasi.
Hanya Daniel yang berada di dalam ruangan Naura karena yang lainnya sedang makan siang. Mereka tak mau membuat bumil gemoy kelaparan apalagi itu akan menjadi cucu kesayangan mereka.
Daniel berjalan ke dalam kamar mandi karena ingin buang air kecil dan sekedar mencuci mukanya yang terasa lesu.
__ADS_1
Tak lama Naura membuka matanya dengan perlahan. "Ini dimana?" gumam Naura dengan lirih.
Apakah ini bukan dunia? Dirinya sudah meninggal kah?
Namun, setelah sadar jika ini di rumah sakit Naura mencoba bangun dari berbaringnya menatap sekelilingnya.
"Rumah sakit? Gak aku gak boleh di sini, biayanya sangat mahal aku gak punya uang sama sekali," gumam Naura dengan cepat.
"Awww...Ssstt.." Naura membuka baju pasiennya setelah merasakan perutnya nyeri.
"Bekas operasi yang masih di perban? Kenapa aku harus di operasi? Bagaimana aku membayar biaya rumah sakit? Aku harus kabur!" gumam Naura dengan lirih karena ia memikirkan biaya rumah sakit yang tentu saja tidak murah.
Naura melepaskan infus yang berada di tangannya. Ia turun dari brankar dan berjalan dengan pelan ingin keluar tetapi suara Daniel membuka gadis itu mematung dengan hebat.
"Mau kemana kamu? Selangkah saja kamu keluar dari ruangan ini maka kamu akan saya pecat!" ujar Daniel dengan dingin, sungguh Daniel sangat cemas saat melihat Naura melepaskan infusnya begitu saja dan berniat keluar.
"Kak, please biarkan Naura pergi! Naura gak sanggup bayar biaya rumah sakit ini, Kak! Kenapa Kakak bawa Naura ke rumah sakit?! Seharusnya biarkan saja Naura meninggal, Kak! Naura gak tahu harus apa di dunia ini! Please jangan buat Naura semakin tertekan!" ujar Naura dengan sesak.
"Ada apa ini? Astaghfirullah... Naura kenapa kamu tidak istirahat?" tanya Fiona dengan cemas.
Naura menelan ludahnya dengan kasar. Kenapa semua orang berada di sini?
"Tante, Naura harus pergi! Naura gak sanggup bayar biaya rumah sakit, Tante!"
"Nak, kamu istirahat dulu ya!"
Naura menggelengkan kepalanya. "Naura gak mau di sini, Tante! Naura mau nyusul Papa! Naura takut, Tante!"
"Naura!" panggil Tomi dengan sendu.
"P-papa..."
"Iya, Nak. Mama kamu kemana?"
Naura langsung menjatuhkan air matanya saat mendapatkan pertanyaan dari papa angkatnya.
"Kenapa mama kamu tidak ada di sini?"
"Hiks...hikss... Mama sudah tidak peduli lagi dengan Naura! Mama sudah menikah dengan pria kaya dan menelantarkan, Naura! B-bahkan... Bahkan saat Naura meminta tolong karena Naura kesakitan mama marah-marah. Mama sudah bahagia dengan keluarga barunya! Hiks..Naura...Naura sudah tidak dibutuhkan oleh, Mama! Naura mau nyusul papa ke surga! Naura takut sendirian! Naura gak mau di sini! Dunia terlalu menyakitkan buat Naura!" racau Naura dengan menangis yang membuat semua menatap sendu ke arah Naura.
Perlahan tapi pasti Daniel berjalan ke arah Naura setelah mengirimkan pesan kepada Nevan jika Naura ingin kabur.
"Naura mau pergi dari dunia ini! Naura sudah tidak sanggup hiks..."
Greppp...
Daniel memeluk Naura dari belakang. "Kamu butuh perawatan Naura!"
"Lepas, Kak! Naura gak butuh perawatan biarkan Naura mati!"
Nevan datang dengan cepat.
"Kakak mau ngapain? J-jangan disuntik biarkan Naura pergi! Tidak ada gunanya Naura hidup di dunia ini!"
Nevan menyuntikkan obat penenang untuk Naura agar Naura tidak memberontak yang bisa menyebabkan luka jahitan kembali terbuka.
Perlahan tubuh Naura melemas di dekapan Daniel. "Biarkan Naura pergi!" gumam Naura dengan lirih.
__ADS_1
Daniel memandang Naura dengan sendu. Ia benar-benar sedih melihat kondisi Naura yang seperti ini. Dengan perlahan Daniel menidurkan Naura di brankar kembali dan Nevan memasang infus Naura.
Kemarahan Tomi pada Jesica benar-benar sangat besar. Mungkin setelah ini Jesica tidak akan bisa hidup bahagia.