
...Jangan lupa ramaikan part ini ya...
...Happy reading...
****
"Cantik!"
"Delisha cantik!"
"Duh imutnya adek Danish!"
Sahabat Danish menganggu Delisha yang baru saja pulang sekolah. Memakai seragam SMA gadis itu ternyata sangat imut sekali bahkan senyuman mampu membuat para sahabat ketiga kakaknya menganga.
"Halo kak Sandy, kak Angga, kak Ikbal! Udah dari tadi di sini ya?" tanya Delisha dengan ramah.
"Udah dong cantik! Mata Kakak ngantuk lihat kamu langsung seger lagi nih! Kamu kayak minuman dingin yang menyejukkan hati kak Sandy!" ujar Sandy dengan tertawa.
Delisha langsung tertawa lepas mendengar penuturan sahabat kakaknya satu ini.
"Kamu gak cocok jadi anak SMA cocoknya jadi istrinya Kak Angga!" ujar Angga yabg memainkan kedua alisnya.
Ikbal hanya tersenyum mendengar penuturan sahabatnya karena dari Sandy, Angga. Ikbal lah yang sangat pendiam dan sangat dingin, lelaki itu seperti menyimpan rahasia. Latar belakang sebagai anak broken home membuat Ikbal seperti menutup diri. Anak tunggal dari kedua orang tua yang sangat kaya raya bahkan bahkan bersahabat dengan Akbar sejak lama.
"Kak Ikbal kenapa diam terus sih? Kak Ikbal bisu ya?" tanya Delisha mendekat ke arah Ikbal.
Deg...
"Jauh sedikit!" ujar Ikbal dengan datar mendorong tubuh Delisha sedikit menjauh darinya. Sungguh wangi tubuh Delisha benar-benar membuat jantungnya tak aman.
"Ganteng sih! Tapi bukan tipe Delisha ah!" ucap Delisha yang membuat Sandy dan Angga tertawa kencang memukul sofa. Sedangkan Ikbal hanya bisa menatap Delisha dengan datar, adik sahabatnya sangat berbeda. Banyak gadis yang mendekatinya karena ingin mendapatkan harta kekayaannya tetapi tidak dengan Delisha yabg terang-terangan berkata tidak menyukainya.
Danish datang dari kamarnya di susul dengan kedua kembarannya. Ketiganya mengeryit dengan bingung melihat Sandy dan Angga tertawa dengan kencang.
"Kenapa?" tanya Dareel dengan bingung.
"Hahaha sial! Adek lo jujur amat, Reel! Delisha bilang Ikbal ganteng tapi bukan tipe dia! Astaga dunia kiamat karena di kampus semua mahasiswi ingin dekat dengan Ikbal. Tapi ya gitu semenjak Erin..."
"Stop!!!" ujar Ikbal dengan tajam membuat Delisha sedikit terkejut.
Delisha memegang dadanya untuk mengatur napasnya yang mulai terasa sesak.
"Dek!"
"Gila lo! Jangan teriak di depan adek gue!" ujar Danish dengan marah.
Ikbal panik bahkan sangat panik, wajahnya ikut memucat saat melihat Delisha sesak napas.
"Maaf!" gumam Ikbal dengan pelan saat Danish, Daniel, dan Dareel membantu Delisha duduk.
"K-kak Ikbal kalau ngomong kayak kak Zayyen ih!" ujar Delisha berusaha untuk mengatur napasnya.
"Delisha maafin kalau kak Ikbal beliin Delisha telur gulung!" ujar Delisha dengan kesal.
"Telur gulung?" tanya Ikbal memastikan.
"Iya! Telur gulungnya yang banyak!"
"Sejuta cukup?" tanya Ikbal dengan serius membuat Sandy dan Angga melongo.
__ADS_1
"Cukup! Cukup banget! Delisha bisa berenang di telur gulung yang lo beli! Sultan emang beda ya tapi kan Delisha juga anak Sultan ya?!" ujar Angga yang bingung dengan ucapannya sendiri.
"Delisha bukan anaknya om Sultan! Delisha anaknya Papi Akbar! Sembarangan banget kak Angga ngomong!" ujar Delisha bersungut sebal.
"Bukan itu maksudnya, Cil! Sultan itu orang kaya!" ujar Angga menjelaskan.
"Iya Delisha tahu kalau om Sultan juga kaya tapi Delisha anaknya papi Akbar!" ujar Delisha dengan kesal.
Angga menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Sultan? Sultan siapa sih yang Delisha maksud? Kenapa malah dirinya yang terlihat o*n sekarang? Batin Angga frustasi.
"Adek ganti baju dulu ya! Terus langsung bobok siang!" ujar Danish dengan lembut. Ia tak mau para sahabatnya akan terkena serangan jantung mendadak akibat ulah adeknya.
"Gendong!" rengek Delisha.
"Astaga! Berasa punya anak gak sih kalian?" tanya Sandy dengan menggelengkan kepalanya.
Delisha menjulurkan lidahnya ke arah Sandy dan Angga saat Daniel yang menggendongnya dari arah depan.
"Gemes banget gue! Boleh gue bawa pulang gak adek lo? Kayaknya hidup gue bakal berwarna kalau ada Delisha!" ujar Angga berdecak kagum melihat Delisha. Walaupun manja Delisha sangat imut dsn menarik.
"Gak!" jawab Danish dan Dareel bersamaan.
"Posesif bener dah!"
"KAK IKBAL TELUR GULUNG DELISHA JANGAN LUPA! TELUR GULUNGNYA HARUS SUDAH ADA DI MEJA MAKAN!" teriak Delisha saat sudah mencapai lantai atas yang membuat Ikbal menatap datar ke arah Delisha.
"KALAU KAK IKBAL LUPA KAK IKBAL YANG DELISHA GULUNG!" ucap Delisha sekali lagi.
Ikbal tak menjawab, ia membuka ponselnya dan membuka aplikasi good food untuk memesan telur gulung secara online. Ikbal tak banyak bicara tapi tindakannya selalu nyata yang membuat semua gadis ingin mengenal lebih dekat bagaimana Ikbal. Ikbal sangat royal, mereka ingin menjadi pengganti pacar Ikbal.
****
Di sana ada Cika dan juga Delisha. Zayyen menatap Cika sekilas lalu tawa Delisha mencuri perhatiannya.
"Kak Zayyen!" Delisha langsung berlari ke arah Zayyen dan memeluk lengan pria itu dengan erat.
"Wanginya!" ucap Delisha dengan tersenyum manis.
"Baru pulang, Nak? Mandi dan makan malam ya!" ujar Tiara dengan lembut.
"Aku udah mandi dan makan di rumah mama Rose, Ma!" ujar Zayyen yang membuat senyuman Tiara memudar.
"Oo ya sudah kalau begitu. Sini duduk!" ujar Tiara dengan tersenyum hambar.
Zayyen yang tak mau mamanya semakin merasa bersedih akhirnya Zayyen duduk di samping Tiara dan Zidan.
Cika menatap Zayyen dalam diam. Zayden yang merasa suasana tempat ini semakin tak nyaman ia menarik kepada Cika hingga bersandar di dada bidangnya. Zayden membuat Cika lebih fokus ke layar ponselnya tak mempedulikan yang lainnya.
Zidan menggelengkan kepalanya. Dari tatapan Cika, Zayyen seperti merasa ada yang ingin Cika sampaikan kepadanya. Tetapi Zidan tak tahu itu apa.
Zevana merasa dirinya tak mempunyai pasangan hanya bisa cemberut dan menghela napasnya dengan sabar. Jomblo di antara orang tua dan kakak-kakaknya yang sudah mempunyai pasangan membuat hati Zevana miris melihat kemesraan mereka.
"Hargai yang jomblo dong!" rengek Zevana yang membuat Delisha tertawa.
"Zevana mau gak sama kak Ikbal? Dia ganteng loh! Cuma kadang bisu! Tapi baik," bisik Delisha tetapi masih bisa di dengar oleh Zayyen.
"Kak Ikbal yang kulkas 10 pintu itu ya? Anak dari pemilik kampus dimana kakak kembar kamu kuliah, kan?" tanya Zevana memastikan.
"Iya. Ganteng, kan?" ujar Delisha yang membuat Zayyen geram.
__ADS_1
Zevana menganggukkan kepalanya. "Ganteng sih! Tapi aku gak suka ah! Dia galak!" ujar Zevana yang mrmang pernah bertemu dengan Ikbal.
"Iya sih galak! Tapi galakan kak Zay... Kak Zayyen, Delisha mau dibawa kemana?" ucap Delisha dengan bingung pasalnya ia masih asyik cerita dengan Zevana
Zayyen menarik tangan Delisha agar ikut dengannya. "Ma, Pa. Zayyen ke kamar sebentar ya!" ujar Zayyen dengan lembut.
"Bilang aja Kakak cemburu ya, kan?" tuding Zevana yang sama sekali tak digubris oleh Zayyen.
"Jangan macam-macam kamu sama anak om Akbar!" teriak Zidan.
Zayden menutup telinga Cika agar Cika tak mendengar perkataan papanya. Cika mulai merasa risih dengan posisi mereka yang seperti ini apalagi di sini ada kedua orang tua Zayden dan adik Zayden yang melihat mereka. Tetapi Cika mau tak mau harus menuruti kemauan Zayden.
"Pa, Ma. Zayden juga mau antar Cika pulang! Mungkin Zayden gak pulang malam ini mau tidur di apartemen," ujar Zayden.
Zidan menghela napasnya. "Sampai kapan kalian begini? Papa sama Mama sudah tua, kami tidak mau kalian terus bermusuhan seperti ini!" ujar Zidan dengan tegas.
"Zayden pamit Pa, Ma!"
"Om, Tante, Cika pamit!"
"Iya, hati-hatinya!" ujar Tiara dengan tersenyum.
Setelah kepergian Zayden dan Cika. Zidan mengelus punggung istrinya. "Gak usah terlalu dipikirkan. InsyaAllah mereka akan berdamai!" ucap Zidan dengan lembut.
"Sampai kapan?" tanya Tiara dengan serak.
"Mama jangan nangis!" ujar Zevana yang memang tak bisa melihat mamanya menangis.
"Mama gak nangis, Sayang!" ucap Tiara menyeka air matanya.
Zevana memeluk mamanya dengan erat. Ia ikut merasakan apa yang mamanya rasakan.
***
Brak...
"Aduh sakit!" gumam Delisha saat Zayyen mendorongnya hingga terjatuh di kasur pria itu.
"Kakak kenapa bawa Delisha ke kamar? Gak sabar ya mau jadiin Delisha istri? Biar bisa dipegang-pegang," ujar Delisha dengan cekikikan mengabaikan rasa sakitnya akibat ulah Zayyen.
"Gue ngantuk! Lo kalau mau pulang, pulang sendiri!" ucap Zayyen.
"Yakin nyuruh Delisha pulang sendiri? Delisha sih gak yakin walaupun kakak jahat sama Delisha Kakak gak akan tega biarin Delisha pulang sendiri," cerocos Delisha yang membuat Zayyen kesal.
"Ayo!"
"Kemana?"
"Beli telur gulung!"
"Delisha masih kenyang! Tadi kak Ikbal beliin telur gulung banyak banget! Tapi kalau Kakak maksa ayo deh!"
"Gak jadi!" ucap Zayyen dengan kesal.
"Kok gak jadi sih?" protes Delisha.
"Gue capek! Ayo pulang! Lo ganggu gue!" ujar Zayyen dengan dingin.
"Kak Zayyen kenapa ya?" gumam Delisha dengan bingung.
__ADS_1