Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 28 (Kekhawatiran Fathan)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya. Tinggalkan jejak kalian dengan memberikan bom like dan komentar ya....


...Terima kasih buat yang sudah mampir!...


...Happy reading...


*****


Waktu senggang Fathan isi dengan melihat ponselnya, niat hati ingin menghubungi sang istri namun tak kunjung dijawab membuat Fathan mengecek CCTV rumahnya dan betapa terkejutnya Fathan saat melihat sang mama datang dan langsung memarahi istrinya yang sedang duduk di sofa. Fathan mengepalkan tangannya dengan erat, emosinya sudah diubun-ubun membuat Fathan ingin sekali membanting ponselnya. Namun, ketukan pintu ruangannya berhasil sedikit mengalihkan emosinya.


Tokk..tok..


"Masuk!" ucap Fathan dengan dingin.


"Dok, Maaf menganggu. Ada ibu anda di depan memaksa untuk bertemu dengan anda," ucap suster dengan tidaj enak pasalnya Fathan baru beristirahat karena 15 menit lagi ada pemeriksaan pasien kembali.


"Suruh masuk saja!" ucap Fathan dengan raut wajah tidak bersahabat.


"B-baik, Dok!" ucap Suster tersebut dengan menelam ludahnya dengan kasar, pasti ada yang tidak beres dengan dokter Fathan terlihat dari wajahnya yang seperti memendam emosi.


Mama Yesha akhirnya masuk ke ruangan Fathan dengan wajah tersenyumnya.


"Mama mau apa?" tanya Fathan dengan dingin.


"Kenapa wajah kamu terlihat tidak suka dengan kedatangan Mama?" tanya Mama Yesha dengan ketus.


"Ini apa maksud Mama?" tanya Fathan tanpa basa-basi memberikan ponselnya yang sedang terputar CCTV.


Raut wajah mama Yesha berubah-ubah, ia menelan ludahnya dengan kasar saat melihat wajah tak bersahabat yang penuh amarah di wajah Fathan.


"JAWAB MA!" bentak Fathan dengan emosi.


"Kenapa kamu marah? Mama benar! Tri hanya seorang pengasuh anak kamu tetapi gayanya sok sebagai majikan di rumah kamu! Dari awal mama sudah tidak suka dengan Tri, wanita itu akan membawa pengaruh buruk kepada Cika!" ucap Mama Yesha dengan emosi pasalnya ia tida suka melihat Fathan membela pengasuh seperti Tri dari pada dirinya mama kandung Fathan. Benar-benar Fathan sangat keterlaluan! Apa yang dilihat Fathan dari Tri hingga Fathan membela pengasuh itu.


"Tapi tidak seperti itu caranya, Ma!" geram Fathan.


"Kamu membela pengasuh itu? Apa yang sudah wanita itu lakukan hingga kamu seperti ini? Kamu tidak pernah seperti ini dengan pengasuh Cika Sebelum-sebelumnya! Mama curiga jika Tri...."


"CUKUP MA!" Fathan kembali berkata dengan nada membetaknya.


"FATHAN KAMU KETERLALUAN SAMA MAMA! KAMU BERANI MEMBENTAK MAMA HANYA KARENA PENGASUH MURAHAN ITU?" geram Mama Yesha menatap tajam ke arah Fathan.

__ADS_1


"Tri bukan wanita murahan, Ma!" ucap Fathan dengan tegas.


"Sudahlah Ma jika tidak ada kepentingan di sini Mama silahkan keluar dari ruangan Fathan karena sebentar lagi Fathan akan memeriksa pasien," ujar Fathan dengan datar.


"Kamu....Hahhhhh... Malam ini pertunangan kamu dengan Tiara! Jangan terlambat datang di restoran XX jam 8 malam!" ucap Mama Yesha menghela napasnya dengan kasar. Walaupun dirinya merasa tidak terima jika Fathan lebih membela Tri dari pada dirinya tetapi mama Yesha tidak mau membuat mood Fathan semakin buruk, bisa-bisa Fathan tidak hadir di acara pertunangannya sendiri karena marah kepada dirinya.


"Mama tetap ingin menjodohkan aku dengan Tiara?" tanya Fathan dengan memicingkan matanya.


"Itulah sesuatu yang Mama tunggu-tunggu Fathan. Kamu tahu kan kedua mertua kamu itu sangat kaya," ucap Mama Yesha dengan mata berbinar.


"Oke... Fathan akan datang nanti malam!" ucap Fathan dengan datar. "Silahkan Mama keluar!" lanjut Fathan dengan datar.


"Baiklah. Jangan lupa datang nanti malam, Fathan!" ucap Mama Yesha dengan senang memperingati sang anak.


Fathan diam, ia memandang kepergian mamanya dengan datar. "Tidak akan semudah itu, Ma! Kita lihat saja nanti," ucap Fathan dengan tajam.


****


"Bi, dimana istri saya?" tanya Fathan dengan wajah tak bersahabat sama sekali.


"Loh Pak sudah pulang? Baru saya ingin menjemput non Cika karena bu Tri saya panggil-panggil tidak menjawab," ucap Bi Sumi dengan cemas.


"Iya, Pa!" ucap Cika dengan menurut. Gadis kecil itu langsung masuk ke kamarnya seorang diri karena ia menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan kedua orang tuanya sebab sejak menjemput dirinya tadi sang papa terlihat menahan amarahnya.


"Pak tadi..."


"Iya saya sudah tahu, Bi. Saya melihat langsung dari CCTV dan kedatangan mama ke rumah ini memarahi istri saya membuat saya benar-benar sangat emosi. Jika dia bukan mama saya mungkin saya sudah menghajarnya," ucap Fathan dengan penuh emosi.


Bagaimana tidak emosi, Fathan melihat langsung bagaimana sang mama memarahi Tri habis-habisan, dan mengatakan di depan Tri jika malam ini dirinya akan bertunangan dengan Tiara dan jelas Fathan menolak itu semua, lihat saja apa yang ia lakukan nanti di acara lamarannya sendiri.


"Maaf Pak. Bibi tidak bisa melakukan apapun, Bibi takut ibu marah dan memecat Bibi," ujar Bi Sumi dengan jujur.


"Tidak apa-apa, Bi. Saya ke kamar dulu," ucap Fathan dengan tegas.


Fathan langsung berjalan ke kamarnya dengan langkah yang sangat tergesa-gesa dan tidak sabaran, Fathan membuka pintu kamarnya dengan perlahan. Hatinya merasa lega melihat sang istri sedang berbaring di kasur, kekhawatirannya tadi membuat Fathan hampir mati karena sesak dan sakit hati melihat sang istri dimarahi oleh mamanya. Fathan berjalan ke arah ranjang dan duduk dengan perlahan di pinggir kasur, ia memperhatikan wajah Tri dengan dalam dan Fathan melihat jelas masih ada jejak air mata di sana.


Tangan Fathan terulur mengarah ke arah mata Tri yang terlihat membengkak, pasti Tri menangis hingga ketiduran seperti ini. "Mata kamu sampai bengkak begini, Sayang!" ucap Fathan lirih merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada sang istri sekarang. Belum pernah Fathan membuat istrinya menangis sampai seperti ini namun dengan teganya mamanya membuat Tri merasa hatinya sangat sakit.


"Eugh..." Tri melenguh karena merasa ada yang menyentuh matanya.


"Sstttt..." Tri memegangi kepalanya yang terasa sakit dengan mata yang sangat perih untuk dibuka.

__ADS_1


"Tidur saja lagi, Hanum!" ucap Fathan dengan lembut mengelus rambut Tri dengan penuh kasih sayang.


"Astaghfirullah aku lupa jemput Cika, Mas. Sudah jam berapa ini? Kenapa aku bisa ketiduran?" ucap Tri dengan panik yang membuat kepalanya semakin berdenyut sakit.


"Ssttt...."


"Tuh kan sudah Mas bilang kamu tidur saja. Melek saja susah gimana mau jemput Cika!" ucap Fathan dengan cemas.


"M-mas aku..." Tri tersadar akibat dirinya yang menangis hingga mata membengkak dan terasa sangat perih pasti membuat Fathan curiga.


"Jangan banyak bicara, Hanum! Sini peluk Mas dulu!" ucap Fathan dengan merentangkan tangannya. Dengan ragu Tri masuk ke pelukan Fathan dan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.


"Mas tidak akan bertanya jika kamu belum siap," ucap Fathan. Tri terkejut saat Fathan seperti paham akan ketakutannya saat ini.


"Cika..."


"Cika sudah pulang sama, Mas!" potong Fathan dengan cepat.


Fathan menangkup wajah Tri dengan kedua tangannya dan tanpa di duga oleh Tri...


Cup...


Cup....


Fathan mengecup kedua mata Tri dengan lembut. "Jangan nangis lagi Mas tidak suka melihat kamu seperti ini. Tujuan Mas menikahi kamu itu membuat kamu bahagia bukan bersedih seperti ini," ucap Fathan dengan tegas yang membuat Tri mengangguk patuh.


"Mas kok sudah pulang?" tanya Tri mengalihkan pembicaraan.


"Karena ada sesuatu yang lebih penting dari pekerjaan," ucap Fathan dengan tegas.


"Apa?" tanya Tri dengan wajah sedihnya.


"Kamu!" ucap Fathan dengan tulus.


"Peluk lagi sini!" ujar Fathan saat melihat keterdiam Tri karena ucapannya. Fathan kembali memeluk Tri dengan erat dan mengecup kening Tri dengan lembut.


"Mas ini suami kamu, kamu bisa cerita apapun kepada Mas yang mengganggu pikiran kamu, Hanum!" ucap Fathan dengan tegas.


"Iya, Mas!" ucap Tri yang sudah merasa nyaman dengan pelukan sang suami hingga ia merasa mengantuk kembali dan akhirnya tertidur di pelukan Fathan.


Fathan tetap memeluk Tri dan menatap wajah Tri dengan dalam. "Mama sudah keterlaluan!" gumam Fathan dengan geram. Apapun akan Fathan lakukan agar pertunangannya dengan Tiara batal, Fathan butuh bantuan Zidan untuk nanti malam karena hanya Zidan yang bisa membantunya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2